Home Profil Relawan Aina Fisabila: Berantas BAB Sembarangan di Banten hingga Belgia

47

Perkembangan teknologi yang terus melesat, tidak menjamin mempengaruhi budaya masyarakat secara keseluruhan. Walau budaya sifatnya dinamis, masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya di daerahnya masing-masing. Salah satunya Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Di Provinsi Banten yang tak jauh dari ibukota, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki jamban. Mereka memilih BAB di sungai dan kebun secara turun temurun. Menyadari BAB sembarangan akan berdampak pada kesehatan, Aina Fisabila membuat EMCEKAQU, program yang fokus pada pemberantasan pembuangan air besar di area terbuka di Banten.

Aina – begitu ia akrab disapa – merupakan relawan Gerakan Banten Mengajar (GBM) bacth 1. GBM sendiri adalah salah satu project TurunTangan Banten yang mengajak semua pihak untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Banten. Relawan pengajar yang lolos seleksi ditempatkan di Desa Lebak dan Pandeglang selama dua minggu. Di tahun 2015, Aina mendapatkan tugas untuk mengajar di Desa Cibitung, Pandeglang. Saat penempatan, Aina menginap di salah satu rumah warga yang tidak memiliki jamban. Untuk buar air kecil dan BAB, Aina terpaksa menumpang di puskesmas yang lokasinya cukup jauh dari rumah tersebut.

Setelah mengajar, Aina bersama relawan GBM lainnya melakukan assesment dari rumah ke rumah. Betapa terkejutnya, Aina mendapatkan fakta, tidak ada satupun masyarakat di desa tersebut yang memiliki jamban. Sejak dulu, masyarakat BAB sembarangan di sungai dan kebun. “Alasan warga tidak punya jamban karena berpenghasilan rendah,” ujar mahasiswa keperawatan Universitas Indonesia ini.

Di Cibitung, masyarakat tinggal di rumah-rumah panggung. Dengan penghasilan perharinya, rata-rata Rp50.000. Meskipun begitu, warga mampu memenuhi kebutuhan tersiernya seperti kendaraan bermotor, handphone, televisi, dan parabola. Pemerintah juga pernah membangunkan toilet umum. Namun hanya bertahan dua tahun, setelah itu tidak pernah terpakai lagi. “Kesimpulannya bukan karena penghasilan rendah dan tidak ada fasilitas, tapi karena kebiasaan,” katanya.

Sejak saat itu, Aina berpikir untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Penting bagi mereka memiliki jamban karena BAB sembarangan bisa menimbulkan berbagai penyakit, khususnya diare, penyakit pembunuh nomor satu pada anak-anak. Aina juga membaca-baca informasi dan jurnal di internet, ia mendapatkan fakta bahwa  Indonesia berada diurutan kedua setelah India sebagai negara yang memiliki sanitasi buruk.

Dia kemudian mendapatkan ide untuk membuat EMCEKAQU. Program ini bergerak untuk membangun sanitasi dan kebersihan di daerah terpencil yang belum memiliki MCK, khususnya di Banten. “Gerakan ini akan fokus pada sosial dan edukasi. Jadi harapannya nanti warga punya keinginan memiliki jamban dari diri mereka sendiri,” kata Aina yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan kampus ini, seperti project officer Istana Belajar Anak Banten dan Wakil Kepala Departemen Kajian Aksi dan Strategis BEM FIK UI.

Program ini sudah berjalan selama satu tahun. Aina dibantu oleh empat temannya yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatannya mereka menggunakan modul pemerintah yaitu sanitasi total berbasis masyarakat dengan datang  langsung berbicara pada masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Serta datang ke forum-forum kecil seperti majelis taklim, arisan, pengajian dan posyandu. Setelah masuk ke forum-forum kecil baru mengadakan pertemuan desa. “Kami pernah menggunakan teknik pemicuan. Masyarakat dikumpulkan di lapangan, lalu ada simulasi. Dari situ mereka sadar telah menumpuk kotoran  mereka di sekitar rumahnya,” tuturnya.

Selama satu tahun, Aina merasa, program ini belum terlihat impact-nya. Tapi setidaknya sudah ada satu warga yang membuat cubluk, sebuah lubang untuk buang air kecil dan BAB dengan kedalaman dua meter. “Cubluk adalah alat untuk melokalisasi BAB. Warga bisa BAB di sana dan tak ke mana-mana,” katanya.

Selain itu, setelah adanya Gerakan EMCEKAQU, masyarakat punya kesadaran mempunyai air bersih. Sebelumnya dari 50 kepala keluarga (kk) hanya lima pompa air sendiri menjadi 12 kk yang memiliki pompa air.

Aina dan tim pernah menyempatkan melakukan brainstorming dan observasi potensi desa tersebut. Hasilnya, mereka menemukan para ibu-ibu suka sekali membuat rengginang. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk memfasilitasi para ibu-ibu untuk memproduksi rengginang dan membantu menjualnya. Hasil penjualan rengginang ditabung untuk membuat jamban. “Kita tak hanya menyuruh tapi membantu fasilitasi. Dananya digunakan untuk membuat jamban,” katanya.

Berkat EMCEKAQU, Aina mendapatkan banyak penghargaan. Program ini diikutsertakan pada berbagai ajang perlombaan, konferensi dan beasiswa. EMCEKAQU pernah mendapatkan anugerah tiga besar best social project oleh Indonesia Filantropis di Indonesia Filantropis Festival, hibah kewirausahaan mahasiswa dari Universitas Indonesia, juara tiga dari Ayamin Plus-Nama Foundation, diikutsertakan pada ASEAN Youth Iniciative Conference, dan menjadi delegasi local leader pada forum Indonesia lokal muda. Aina juga menjadi Duta Sanitasi Internasional perwakilan Indonesia satu-satunya di Belgia pada 17 November lalu. Dia bersama pemuda-pemudi dari sembilan negara di antaranya Rwanda, Pakistan, Uganda, Kenya, Nigeria, El Salvador, India, Peru dan Guetamala mempersentasikan project-nya, mengikuti workshop peningkatan sanitasi, community engagement, dan social enterprise.

Menutup wawancara, Aina berharap melalui program EMCEKAQU bisa membuat Indonesia bebas BAB sembarang di tahun 2030. Serta makin banyak anak muda yang fokus di bidang sanitas dan air bersih. “Saat ini mayoritas anak muda fokus di bidang pendidikan. Sedikit sekali anak muda yang terlibat di sanitasi, padahal sanitasi dan air bersih itu penting dan masuk SDGs,” tutupnya.

 

Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

Komentar