Home Profil Relawan Ambisi Menjadi Bangsa Kuat Lewat Pangan

458

Mengabdikan diri untuk masyarakat tidak hanya soal membantu individu di dalamnya keluar dari masalah. Namun juga soal mempersiapkan amunisi untuk membangun negeri. Inilah yang ada dalam benak Agung Hardi, relawan penggerak aktif di project lingkungan ‘Bangun Jakarta’. Agung dan idealismenya yakin, bahwa untuk menjadikan Indonesia bangsa yang kuat, sektor agrarisnya perlu diperbaiki.

Makanan bukan hanya soal rasa, namun juga Indonesia

Kemampuan memimpin Agung sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. Agung dipercaya untuk menjadi ketua Karang Taruna di lingkungan tempat tinggalnya, Lenteng Agung. Pecinta buku-buku sosialis ini juga gemar memasak, bahkan ia bertekad untuk serius dalam bidang tata boga dengan masuk SMK di jurusan yang sama.

Belajar soal lika-liku makanan dan proses pembuatannya membuka mata Agung tentang Indonesia. Lewat makanan, Agung tahu bahwa citarasa nusantara begitu mewah. Ya, makanan Indonesia begitu kaya akan rasa dan sejarah. Agung menjelaskan hubungan antara memasak dan mencintai Indonesia. “Dengan memasak, kita belajar proses. Mengolah bahan baku, jenis bahan baku, asal bahan baku itu dari mana…  Sebagai warga negara Indonesia, kita jadi tahu Andaliman (sejenis cabai) dari Medan, di Maluku itu penghasil merica, orang Papua itu unik karena makanan pokoknya sagu. Ketika kita mengolah bahan baku, kita akan tahu budaya asli daerah tersebut. Pulau Jawa terkenal dengan makanan manis, Pulau Sumatera kaya akan rempah. Esensi dalam satu piring itu beragam, membuka wawasan,” tukasnya bersemangat.

Jangan manja, mulai mandiri pangan!

Agung sadar akan kekayaan Indonesia ini saat ia mengikuti seminar di mana pembicara tersebut seorang petani. Pelajaran yang Agung dapat banyak, bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang kuat bila rakyatnya memiliki ketahanan pangan.

“Kenapa Cina dan Korea bisa hits banget sekarang? Jawabannya simpel: ketahanan pangan! Indonesia bukan negara hi-tech, nenek moyang kita telah mewariskan budaya agraris. Kenapa tidak kita teruskan?”

Agung menjelaskan ia menjadi relawan aktif di Bangun Jakarta karena visinya sama: mewujudkan ketahanan pangan. Baginya, inilah yang mahal. Contohnya, Jakarta masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan karena sumber daya manusianya fokus pada okupasi lain, jarang ada yang sadar pentingnya menanam.

“Jika kita terus-terusan mengandalkan pemerintah dari impor pangan, kita hanya akan menjadi bangsa yang manja. Padahal, nenek moyang kita mewariskan budaya agraris dan maritim. Urban farming setidaknya memberikan life skill untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ketahanan pangan jelas menjadi indikator terpenting.”

Agung ingin ada perubahan di masyarakat, di mana masyarakat menjadi sadar akan pentingnya menanam di kota. “Saya paling takut ketika rakyat miskin diperbudak untuk kerja keras hanya untuk makan. Harga pangan tinggi, kita disuruh kerja dalam keadaan seperti itu. Padahal solusinya itu ya… Menanam!”

“Kalau mau kita maju, yuk kita mandiri di segala macam hal. Misalnya mandiri pangan, menanam sendiri. Harapan kedepan kita jangan naif, jujur aja kalau ada masalah disekitar kita dan jangan bergantung sama pemerintah. Kita bisa kerjain sendiri kok, ini esensi dari turun tangan bukan?” tegasnya.

 

Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini sejak Agustus bergabung dengan TurunTangan sebagai Social Media and Campaigner.

Komentar