Home Authors Posts by TurunTangan

TurunTangan
76 POSTS
Ayo TurunTangan untuk Indonesia! Kirimkan karyamu ke blog@turuntangan.org!

357

Di Indonesia, menjadi relawan bagai sebuah trend beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang yang mulai menyadari bahwa permasalahan yang ada di Indonesia itu milik setiap warga negara, di mana setiap orang bisa menjadi bagian dari solusi. Cara mereka terlibat untuk menemukan solusi tersebut adalah dengan menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial. Seperti halnya dilakukan A. Ramdani (43), Kepala Sekolah SDIT Citra Nuansa Cileungsi yang aktif di TurunTangan Jakarta.

Ayah empat anak itu telah memberi inspirasi kepada anak muda. Dengan segala kesibukannya menjadi kepala keluarga dan pimpinan sekolah, ia masih mau membagi waktunya untuk kegiatan sosial.

Ramdani tentu tidak dibayar. Dia adalah relawan nol rupiah yang layak disebut ‘pahlawan’ masa kini. Entah sudah berapa kali ia terjun ke masyarakat. Bahkan pernah jauh-jauh pergi ke Majane, Sulawesi Barat, untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru di daerah tersebut. “Tahun 2015 saya ikut RUBI (Ruang Berbagi Ilmu Indonesia Mengajar) di Majene,” ungkapnya usai mengikuti pelatihan relawan TurunTangan Jakarta di Rumah Relawan TurunTangan, Minggu (14/8).

Di kalangan relawan, Ramdani dikenal sebagai sosok orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seringkali bertanya meskipun banyak pengalaman dan wawasan yang dimiliki. “Awalnya ingin belajar, lama-kelamaan keluar fakta-fakta yang tidak kami tahu,” ujar Herry Dharmawan, penggagas salah satu project TurunTangan Jakarta, Kelas Negarawan Muda (KNM).

Tidak bisa melanjutkan kuliah usai menamatkan pendidikannya di pondok pesantren, membuat Ramdani menjadi pembelajar seumur hidup. Baginya, belajar dilakukan di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Entah dengan membaca buku, ikut organisasi, hadir di seminar-seminar gratis, sampai ikut pengajian.

Sejak kecil Ramdani senang membaca buku. Saat SD, ia sering pergi ke Pasar Senen untuk mencari buku, majalah, dan koran bekas untuk dibaca. Ketika SMA, ia menjadi pengurus organisasi di bidang komunikasi, tugasnya menyampaikan informasi melalui sound system dan majalah dinding. Ini membuat bahasa Arab dan Inggris Ramdani terasah, sekaligus ia juga mendapatkan ilmu baru ketika membuat mading.

Lulus dari pesantren, ia tidak bisa melanjutkan kuliah lantaran tak ada biaya. Namun semangat untuk belajar tak pernah padam. Untuk menggantikan rasa ingin kuliah dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar gratis dan pengajian. “Untuk mengerti sesuatu enggak harus kuliah. Misalnya punya passion, sekedar ingin tahu dan mendalami bisa belajar dari seminar-seminar,” katanya.

Ramdani bergabung dengan TurunTangan Jakarta sejak akhir 2014. Setelah itu bergabung dengan KNM, project ini bermanfaat untuk mendukung proses belajar mengajar PPKn di sekolah yang ia pimpin. “Yang namanya guru itu harus belajar. Apa yang saya dapat di TurunTangan dan KNM selalu saya bagikan ke para guru di sekolah,” ujar orang yang sudah 25 tahun menjadi pendidik ini.

Prinsip belajar bagi Ramdani adalah bisa menggali ilmu di mana saja dan tidak dibatasi. Semua sudah tersedia di alam. Tuhan memberikan kelebihan pada tiap-tiap makhluk hidup. Semua saling bersinergi dan memberi manfaat satu sama lain. “Belajar bisa dari siapa pun. Di TurunTangan misalnya, saya bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Ada dari teknik, ekonomi dan lain-lain. Saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari mereka dan itu bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Beberapa kali, ia membawa anak dan istrinya mengikuti kegiatan TurunTangan. Seperti pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional dan rapat kerja KNM. Sebab TurunTangan dinilai sebagai tempat yang berisi kegiatan dan orang-orang positif. “Saya ingin anak-anak dan istri juga bisa belajar sesuatu di TurunTangan,” pungkasnya.

Selain pembelajar, Ramdani juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Selalu datang tepat waktu setiap kegiatan apapun. Pendidikan yang didapat di pesantren untuk menghargai waktu menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang muda-muda ini jadi malu setiap Pak Ram jadi orang pertama di tiap kegiatan,” timpal Herry menutup wawancara.

389

Project TurunTangan di bidang sosial dan lingkungan, Bangun Jakarta (Bajak) mengunjungi Sanggar Satu Untuk Semua di kawasan TPA Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat (13/8). Kunjungan dilakukan dalam rangka memberikan edukasi menanam itu gampang kepada anak-anak sanggar.

Program Management Officer Bajak, Dimitri Dwi Putra, mengatakan bahwa kunjungan Bajak ke TPA Bantar Gebang ini karena ajakan dari Aliansi Remaja Indonesia (ARI). Bajak diminta untuk berbagi ilmu mengenai mudahnya berkebun di kota untuk memberdayakan diri penduduk di sekitar. Permintaan ARI bukan tanpa alasan. Pasalnya, selama ini masyarakat Bantar Gebang seringkali makan makanan sisa yang ada di tumpukan sampah. “Melalui kegiatan ini diharapkan Bajak dapat berkontribusi dalam membantu perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan lahan yang ada,” ujar Dimitri.

Keesokannya, Minggu (14/8), Bajak juga melakukan pelatihan menanam yang diikuti oleh relawan Bajak dan TurunTangan Jakarta di Rumah Relawan TurunTangan. “Setiap akhir pekan Bajak mengadakan pelatihan menanam mulai dari menyemai sampai memanen,” tutupnya.

328

TurunTangan Banten melepas 23 relawan pengajar yang akan bertugas di tiga desa di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Puluhan relawan itu merupakan relawan pengajar Gerakan Banten Mengajar (GMB) batch dua.

Steering Committe GMB, Fauzan Arrasyid, mengatakan bahwa para relawan tersebut akan ditempatkan di Desa Kutakarang, Kiarajangkung, dan Cikaruh. “Di desa itu, relawan akan mengajar di SD Negeri Kutakarang 1, SD Negeri Kutakarang 2, SD Negeri Kutakarang 3, SD Negeri Cikiruh, dan SD Negeri Kiarajangkung,”  ujarnya usai acara pelepasan relawan Pengajar GMB di SD Ruhul Amin, Ciputat, Tangerang Selatan, Jum’at (5/8).

Menurut Fauzan, Cibitung dipilih sebagai lokasi penampatan karena di kecamatan itu terdapat banyak sekolah yang kondisinya memprihatinkan. “Di Pandeglang ada banyak kecamatan, namun kami memilih Cibitung karena di situ banyak siswa yang putus sekolah dan rasio guru dengan siswa tidak sebanding,” kata mahasiswa magister Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ia berharap agar saat usai bertugas nanti, para relawan pengajar dapat meneruskan program GMB dengan ‘mendonasikan’ ide dan gagasan untuk Indonesia yang lebih baik. “Berikan hadiah ide-ide dan gagasan untuk Indonesia melalui gerakan yang bisa diinisasi di manapun kalian berada,” pesan Fauzan untuk seluruh relawan pengajar.

Tujuan para relawan mengikuti gerakan ini sangat mulia. Mereka ingin turut terlibat menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Seperti yang diungkapkan salah satu relawan pengajar Muhammad Reno. “Saya ingin berbagi pengalaman dan semangat kepada anak-anak di sana dan merubah paradigma masyarakat Cibitung bahwa pendidikan sangat penting serta bisa meningkatkan kesejahteraan hidup,” ujar mahasiswi UIN Syarif Hidyatullah ini.

Ayo #JadiRelawanTT

Caranya adalah :

  1. Isi Form bit.ly/JadiRelawanTT –> Setelah mengisi email di link ini, Kamu akan mendapatkan Profile TurunTangan.
  2. Daftar di http://www.turuntangan.org/daftar. Dalam tautan ini, Kamu perlu mengisi form yang cukup banyak, jadi sediakan waktu yang agak panjang untuk mendaftar ya.
  3. Cari komunitas TurunTangan di daerahmu. Ikut bergabung bersama mereka untuk bergerak. Jika daerahmu belum ada Komunitas TurunTangan di daerahmu. Kamu dan teman-temanmu bisa jadi pendirinya. Tata Caranya klik di tautan di sini
  4. Ikuti Project yang ada di bawah TurunTangan atau bisa juga inisiasi project serupa di Project TurunTangan
  5. Jangan lupa untuk Ikuti akun media sosial TurunTangan. Twitter,Instagram : @turuntangan . Facebook di http://facebook.com/TurunTanganorg

jadirelawan-01

 

Ayo jadi Relawan !!

 

Ayo #BikinKomunitasTT

Untuk mendirikan Komunitas TurunTangan, tata caranya adalah :

  1. Cari minimal 5 orang yang bersepakat untuk mendirikan TurunTangan
  2. Buat media sosial komunitas mu, (Twitter, Facebook, Instagram) dengan username : turuntangan_(Kota/Kab)
  3. Buat Kegiatan Sederhana sebagai peringatan hari lahir komunitasmu
  4. Mention Akun TurunTangan pusat dan kirim dokumentasi ke relawan@turuntangan.org

Jangan lupa untuk daftarkan dirimu dan teman-temanmu di http://bit.ly/JadiRelawanTT

 

bikinkomunitas-02

403

Sejak kecil, ketika mendengar kata Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)  adalah suatu tempat yang sangat menyeramkan karena diisi oleh orang orang yang pernah melakukan kejahatan. Penulis sendiri sebelumnya belum pernah membayangkan bahkan melihat seperti apa Lapas? Bagaimana bentuk ruangannya? Dan apa saja fasilitas yang diterima oleh narapidana?

Yang ada pada bayangan penulis sebelum melihat langsung ke dalam Lapas seperti di film The Shawshank Redemption dimana Lapas adalah tempat dimana penjagaannya yang sangat ketat terlebih penjaganya yang tegas, galak dan tak neko neko meskipun pada akhirnya dipenjara karena membunuh narapidana. Tapi realitas di media saat ini, Lapas sepertinya sudah nyaman dengan keramahan para sipir penjaga terutama bagi Lapas para koruptor atau narkoba.

Lalu bagaimana keadaaanya dengan Lapas anak? Lapas anak atau anak pidana menurut UU Nomor 12 Tahun 1995 “Anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lapas. Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun”. Menjadi anak pidana adalah suatu masalah bagi negeri ini, anak – anak yang harusnya berisikan hari-harinya belajar dan bermain untuk membangun karakter harus berada di balik jeruji besi. Lalu, mengapa anak bisa melakukan tindakan kejahatan? Apakah itu merupakan murni kesalahan dirinya? Kami meyakini bahwa hal tersebut adalah karena lingkungan disekitarnya.

Penulis bersama TurunTangan Bandung melihat bahwa hal ini terdapat kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Dari apa yang mereka terima kami sangat mengkhawatirkan kecintaan mereka terhadap Negara. Apalagi di hari kemerdekaan seharusnya diisi oleh hal yang menggembirakan bagi mereka. Dimana anak – anak pada umumnya mengisi kemerdekaan dengan lomba – lomba yang menanamkan wujud kecintaan mereka pada Indonesia.

Setelah kami melakukan upacara bersama anak Lapas. Kami melihat sesuatu berbeda. Kami melihat berbagai proses yang harus dijalani oleh para anak pidana. Mereka sangat antusias untuk mengikuti kegiatan upacara kemerdekaan. Bukan pada upacaranya, tetapi pada isi upacaranya. Karena bagi mereka setiap upacara kemerdekaan ada remisi bagi anak pidana yang berkelakuan baik.dan hal itu yang sangat ditunggu – tunggu bagi mereka.

Sebelum  saya dan TurunTangan Bandung masuk dan dapat berkomunikasi dengan anak pidana, kami harus melewati berbagai penjagaan dan syarat – syarat, beberapa syarat tersebut adalah kami tidak boleh membawa telepon genggam, tidak boleh membawa minuman alkohol dan tidak membawa dompet. Ketika itu kami tidak membawa kamera sehingga tidak ada moment yang bisa kami abadikan.

Pukul 7.30 semua anak pidana sudah berkumpul di lapangan. Raut wajah sumringah dan semnagat tampak terlihat, meskipun cahaya matahari pagi waktu itu cukup bersinar cerah yang membuat dahi harus mengernyitkan keringat. Jam menunjukan 7.50 kami semua sudah berbaris rapi dan siap melakukan upacara bendera. Tetapi tampak petugas yang masih melakukan persiapan upacara. Untuk petugasnya adalah petugas dari penjaga Lapas dan 2 orang dari anak pidana.

Matahari sudah mulai terlihat penuh, upacara dimulai dengan masuknya pemimpin upacara dan pembina upacara yaitu Pembina Lapas Anak Sukamiskin. Rangkaian acara terlewati, 2 orang dari anak pidana harus membacakan Janji Narapidana yang harus diulangi oleh seluruh narapidana, kemudian hal yang ditunggu-tunggu tiba di mana petugas Lapas membacakan remisi pemotongan masa tahanan yang disambut meriah oleh para anak pidana. Meskipun tidak disebutkan remisi kepada seluruh anak pidana, tetapi kami melihat kegembiraan mereka dalam mendengarkan kabar baik tersebut. Kabar yang hanya mereka dapati ketika hari raya dan kemerdekaan. Mungkin makna kemerdekaan bagi mereka adalah merdekanya mereka dari belenggu jeruji besi dan merdeka dari lingkungan yang menjerumuskan mereka kembali menjadi anak pidana.

Upacara selesai, semua barisan dibubarkan. Para anak pidana berlarian untuk masuk ke kamar sekadar beristirahat dan sarapan, mungkin energy mereka terkuras dengan upacara bendera yang disinari oleh terik matahari. Kami pun mulai bersitirahat dan berbincang dengan beberapa petugas. Beberapa menit setelah itu kami melihat ada tiga orang anak yang sudah berpakaian rapi namun sederhana.  Tampak di wajahnya gugup bercampur senang. Ternyata mereka adalah anak pidana yang bebas.

Kami ketika itu langsung bertanya pada mereka, kemana mereka akan pergi. Ada yang mengatakan ingin pulang ke kampong halaman, ada pula yang kebingungan harus melakukan apa. Tidak ada orang tua atau pihak keluarga yang menjemputnya, ketika kami menanyakan mengapa, merekapun menjawab merasa “dibuang” oleh keluarganya karena selama berada di Lapas, mereka tidak pernah dijenguk oleh orang tua mereka.

Kekhawatiran itu berlanjut ketika mereka merasa ketakutan akan penerimaan lingkungan sekitarnya ketika mereka sudah keluar dari jeruji besi. Padahal kami meyakini bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bukan murni kesalahan mereka, tetapi kurangnya pengawasan orang tua dan lingkungan yang menyebabkan mereka seperti itu. Namun dibalik ke khawatiran mereka, kami melihat ada optimisme dalam jiwa mereka. optimisme dalam bermasyarakat. Ada yang ingin buka usaha service handphone, ada juga yang ingin meneruskan sekolah dan ingin melanjutkan cita-cita mereka. Yang paling penting adalah Kemerdekaan bagi mereka dapat menghirup udara bebas dan melakukan aktifitas masyarakat seperti layaknya orang normal. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari mereka.

329

Bangsa ini  sesungguhnya dibangun atas imajinasi. Tak  ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa puluhan ribu pulau dengan beragam suku dan bahasa bisa menyatu di bawah sebuah bendera yang sama.

Namun tak hanya berhenti berangan-angan, imajinasi itu tak kenal henti untuk diperjuangkan. Perang fisik yang semula bersifat kedaerahan digantikan dengan perang gagasan. Kemudian kita tahu para pemimpin besar politik pergerakan mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan.

Dan kini setelah 71 tahun usai masa revolusi, kami, sekumpulan anak muda kembali berimajinasi. Kami bermimpi agar politik dimaknai kembali sebagai arena perjuangan terhormat di mana orang-orang di dalamnya berjiwa dan berperilaku negarawan.

Kelas Negarawan Muda (KNM) diinisiasi sebagai edukasi politik melalui pelajaran kewarganegaraan dengan cara yang lebih asyik : diskusi, bedah film, simulasi demonstrasi, kunjungan tokoh dan sebagainya.

Kami menikmati setiap proses di KNM sembari terus menanamkan nilai-nilai karakter negarawan dalam diri kami. Belajar berpikir terbuka melalui diskusi rutin yang kami lakukan setiap rabu dan menumbuhkan nasionalisme dalam diri dengan membahas tokoh-tokoh negarawan. Tak ketinggalan, semangat kerelawanan mengajarkan kami pentingnya berintegritas.

Dalam proses ini pula, semangat optimis kami muncul. Kami percaya, bangsa ini akan (kembali) dipimpin oleh negarawan yang cinta pada tanah tempat kelahirannya.

Belum lama upaya yang kami jalankan, belum besar dampak yang mereka hasilkan. Namun kami akan tetap bertahan. Karena sudah terlalu banyak orang yang menginginkan perubahan, tapi terlalu sedikit yang mau memulainya.

Dirgahayu Ke-71 Republik Indonesia!

450

Perkembangan dan pembangunan suatu daerah, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, ataupun bidang lainnya, sangat bergantung pada pemimpinnya. Maka sudah seharusnya orang yang memegang pucuk kepemimpinan daerah adalah orang yang memang mumpuni: berkompeten, berkomitmen, dan berintegritas.

Itulah kenapa pemilihan kepala daerah adalah momen yang sangat krusial. Partisipasi masyarakat tentu sangat dibutuhkan dalam proses demokrasi ini. Karena itu pada pilkada kali ini, kami persembahkan sebuah gerakan: UNTUK BANTEN.

Untuk Banten adalah gerakan nonprofit berbasis kerelawanan yang dibentuk untuk membantu menyukseskan dan mengawasi proses pemilihan kepala daerah provinsi Banten yang akan dilaksanakan tahun 2017; untuk memastikan bahwa proses ini bukanlah ajang adu kekuatan atau uang, tetapi adalah pertandingan ide, gagasan dan kualitas putra-putri terbaik bangsa.

Melalui website, Untuk Banten akan menyediakan informasi tentang calon-calon gubernur dan wakil gubernur serta berita seputar proses pemilihannya. Masyarakat Banten nantinya bisa membandingkan calon satu dengan calon lainnya sebagai bahan pertimbangan sebelum memilih.

Nantinya Untuk Banten juga akan mengadakan roadshow di bulan Desember-Januari ke sekolah-sekolah di Banten untuk SPP (Sosialisasi Pemilih Pemula).

Kamu ingin berpartisipasi?
Kamu ingin berkontribusi?
Kamu ingin ikut turun tangan untuk Banten?
Ayo bergabung bersama kami!

Berikut adalah tim-tim yang bisa dipilih:

1. Publikasi
Tim Publikasi terbagi menjadi dua divisi: divisi kreatif dan divisi media. Divisi Kreatif bertanggung jawab untuk desain dan konten #UntukBanten. Divisi Media bertugas untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan media dan publikasi, seperti media sosial dan media partner.

2. Acara
Bertugas untuk mempersiapkan dan menjalankan SPP (Sosialisasi Pemilih Pemula) di sekolah-sekolah di Banten, serta menggelar kerja sama dengan stakeholders.

3. Data
Tim Data bertanggung jawab untuk mencari dan mengumpulkan data dan statistik untuk keperluan #UntukBanten.

4. Koordinator Daerah
Banten terdiri dari 4 kabupaten dan 4 kotamadya. Koordinator Daerah nantinya akan bekerja sama dengan Tim Acara untuk SPP (Sosialisasi Pemilih Pemula) di daerah tersebut. Koordinator Daerah juga bertugas untuk merangkul relawan di daerahnya untuk menjalankan kegiatan yang akan dilaksanakan di daerah tersebut.

Pendaftaran: tinyurl.com/untukbanten2017

Kami tunggu kalian. Ayo turun tangan #UntukBanten!

372

PORTALSATU-Dua relawan Turun Tangan Lhokseumawe mendapat kesempatan mengikuti pelatihan penggerak TurunTangan ang di angkatan pertama di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta pada 28 Juli 2016.

Mereka adalah Koordinator TurunTangan Lhokseumawe Heru Tesar Ichsan dan Divisi Sumber Daya Manusia Khairul Imam . Selain dari Lhokseumawe, acara ini diikuti perwakilan penggerak TurunTangan dari seluruh wilayah Indonesia.

Heru Tesar Ichsan, kepada portalsatu.com mengatakan, dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan sejumlah pembekalan seperti project management, problem solving, kelas menulis, media relation, community management, administrasi TurunTangan hingga indikator keberhasilan dalam mendesain sebuah proyek yang diikuti 12 TurunTangan Regional di Indonesia.

“Pelatihan Penggerak TurunTangan adalah kegiatan perdana yang laksanakan oleh Yayasan Turun Tangan. Dalam pelatihan ini, masing-masing perwakilan TurunTangan Regional dihadirkan dalam satu forum untuk saling berbagi cerita mengenai kegiatan yang dilakukan masing-masing daerah di seluruh Indonesia,” kata Heru melalui siaran pers, Minggu, 31 Juli 2016.

Untuk wilayah Sumatera katanya dihadiri oleh TurunTangan Aceh, Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Palembang.

“Menjadi kebanggan bagi Aceh dikarenakan pada tahun 2015 telah memiliki dua regional TurunTangan. TurunTangan Lhokseumawe terbentuk satu tahun yang lalu dengan inisiatornya saya sendiri yang berasal dari Lhokseumawe,” katanya.

Project Manager Penggerak TurunTangan Angga Putra menambahkan, pelatihan Penggerak ini dilaksanakan dengan tujuan mengumpulkan teman-teman penggerak dari seluruh Indonesia untuk disamakan persepsi dan saling berbagi mengenai kegiatan-kegiatan TurunTangan Regional.

“Kami harapkan setelah kegiatan ini, teman-teman TurunTangan Lhokseumawe bisa bergerak lebih baik ke depannya dan terus menebar inspirasi kepada masyarakat kota Lhokseumawe untuk ikut TurunTangan menebar kebaikan bagi orang banyak,” ujarnya.

Sumber: Portal Satu

444

Dalam pergaulan sehari-hari, sering kita jumpai celetukan-celetekuan anak muda yang mengaku anti politik. Muak dengan tingkah laku politikus yang kotor, begitu dalih mereka. Padahal, jika kita ibaratkan tanah air ini adalah rumah kita, maka sekotor apapun rumah itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk membersihkan.

Defisit politikus yang berjiwa negarawan adalah sebuah masalah. Tapi, membiarkan itu tetap menjadi masalah tanpa berinisiatif memikirkan solusi, adalah masalah lain yang lebih berbahaya bagi generasi mendatang.

Untuk itulah, Kelas Negarawan Muda (KNM) diinisiasi sebagai solusi dari keresahan beberapa anak muda terhadap masalah di atas. KNM diinisiasi dalam bentuk edukasi politik yang dituangkan melalui pelajaran Kewarganegaraan yang dikemas dengan metode yang asyik: diskusi, bedah film, simulasi demonstrasi, kunjungan tokoh, dan lain-lain. Kini, sudah satu setengah tahun KNM menerapkan edukasi politik ini di SMA Labschool, Kebayoran Jakarta.

Ke depannya KNM ingin terus melakukan terobosan-terobosan baru yang akan mewarnai pendidikan politik bagi anak muda di Indonesia dan terus melihat KNM bergerak, melakukan regenerasi relawan, dan melahirkan calon negarawan untuk bangsa ini.

Jadi apa kamu siap untuk turun tangan menyiapkan generasi muda negarawan Indonesia? Yuk, bergabung menjadi relawan KNM angkatan keempat dengan mengisi data diri di formulir online di bawah ini: bit.ly/OPRECKNM4

Ayo jadi bagian dari sedikit yang siap turun tangan untuk Indonesia!

 

Narahubung:

Anindya: 085718247757

Informasi selengkapnya mengenai KNM:

bit.ly/Negarawan

FB: Kelas Negarawan Muda

IG: kelasnegarawanmuda

Twitter: @KelasNegarawan

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]