Home Authors Posts by Neildeva Despendya

Neildeva Despendya
6 POSTS
Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini sejak Agustus bergabung dengan TurunTangan sebagai Social Media and Campaigner.

587

Sebagai makhluk sosial, kerap kali kita dihadapi oleh berbagai problematika kemanusiaan yang ada di Indonesia. Mulai dari pencemaran lingkungan, rendahnya kualitas guru, minimnya jumlah sekolah, kekerasan dan ketidakadilan sosial, sampai pelanggaran HAM. Memang sudah mulai banyak anak muda yang peka akan masalah kemanusiaan ini, namun kedepannya kebutuhan akan partisipasi unsur Civil Society Organization (CSO) akan sangat dibutuhkan. Masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan isu kemanusiaan. Masyarakat menjadi first responder yang mengatasi fase awal krisis kemanusiaan (Humanitarian Forum Indonesia, 2016).

Semangat kerelawanan menjadi modal sosial kita untuk mencegah dan menyelesaikan krisis kemanusiaan, karena ini merupakan gerakan ‘dari rakyat untuk rakyat’.

Di Indonesia sendiri, masalah kemanusiaan masih menjadi isu yang patut diperhatikan. Menurut Human Rights Watch selama masa pemerintahan Presiden Jokowi belum ada peningkatan penegakkan HAM yang kuat. Kaum minoritas agama Indonesia masih diviktimisasi oleh kelompok Islam yang ekstremis dan hukum yang diskriminatif. Kita sebagai warga negara Indonesia menghadapi tantangan: menguatnya potensi intoleransi sosial keagamaan di antara warga Indonesia. Jika dibiarkan, potensi ini akan menciptakan aksi radikalisme atas nama agama — yang tentu, mengecam nilai kemanusiaan bangsa.

Berdasarkan data dari Setara Institute, sampai November 2015, ada 194 insiden kekerasan pada kaum minoritas agama yang terjadi di Indonesia. Angka tersebut sama dengan total kekerasan agama yang terjadi sepanjang 2014. Ini menunjukkan bahwa kekerasan agama merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia dan menjadi konsentrasi yang perlu kita perhatikan sebagai manusia yang ingin berbuat baik kepada sesama.

Tahun 2016, Amnesty International mencatat adanya serangan di gereja oleh sebuah kelompok berjumlah sekitar 200 orang di Aceh Singkil setelah pemerintah setempat memerintahkan pembongkaran 10 gereja di wilayah tersebut pada bulan Oktober. Kurang lebih 4,000 umat Kristiani melarikan diri ke Sumatera Utara, sementara pemerintah Aceh Singkil tetap melanjutkan pembongkaran rumah-rumah ibadah Kristen di sana. Ironisnya, kaum Muslim Syiah di Madura mengalami situasi yang lebih parah. Sejak 2012 mereka diserang oleh lebih dari 1000 militan Sunni yang menyerang desa mereka. Ratusan warga termasuk anak-anak terpaksa mengungsi di gelanggang olahraga karena kelompok militan Sunni.

Sistem pendidikan Indonesia juga tidak luput dari masalah. Padahal, kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Data menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah kualitasnya. Penelitian dari Boston Consultant Group tahun 2014 mengemukakan bahwa dari 100 anak yang bersekolah, hanya 25 yang berhasil mencapai standar minimum berhitung dan kecakapan aksara internasional. Anak-anak umur 15 tahun Indonesia empat tahun tertinggal dalam bidang sains dan matematika dari anakanak Singapura. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kuatitas dan kualitas guru, serta mental anak-anak yang masih seringkali mencontek — bahkan sampai membeli kunci jawaban UN.

Untuk menanggulangi masalah pendidikan, pola pikir pendidik juga perlu di ubah. Kita tidak lagi berbicara jam kerja pendidik, seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri Pendidikan RI, Anies Baswedan, bahwa seorang pendidik dikatakan berhasil bukan dari seberapa banyak ia telah mengajar, namun seberapa bagus performa seorang murid. Krisis kemanusiaan dalam bidang pendidikan bisa diatasi lewat kualitas performa pendidik di kelas untuk mendorong murid berpikir kritis.

Laporan World Bank (2015) memperkuat pemikiran tersebut. Bahwa bukan sertifikasi guru yang menjadi standar keberhasilan pendidik, namun indikator keberhasilan pendidik harus dilihat dari seberapa banyak hal yang dipelajari seorang murid di sekolah.

Kepekaan kita sebagai manusia atas isu-isu kemanusiaan seperti di atas jelas dibutuhkan oleh Indonesia dan juga dunia. Namun, apakah ‘sekedar’ tahu dan peka saja perlu? Kita masih memiliki tenaga dan waktu, potensi kita untuk membantu menyelesaikan semua masalah kemanusiaan agar semua orang mendapatkan porsi yang setara dan adil tentang kualitas hidup sangat besar.

Organisasi masyarakat sipil atau seringkali di sebut sebagai Non-Government Organization (NGO), bisa menjadi tempat kita untuk berkarya lewat gerakan kerelawanan. NGO adalah ruang publik yang menjadi salah satu organ vital dalam pelembagaan dan gerakan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, banyak NGO telah menginisiasi sekaligus memberi energi dalam rangka pemenuhan dan perlindungan HAM oleh institusi-institusi negara.

Menjadi relawan di berbagai organisasi yang bergerak untuk menyelesaikan masalah sosial merupakan salah satu bentuk kontribusi kita sebagai manusia yang memanusiakan.

Posisi kita yang ‘hanya’ berstatus masyarakat sipil inilah yang justru memudahkan kita untuk melakukan pendekatan kemanusiaan. Salah satunya adalah dengan melakukan dialog yang bersifat grass root (dari akar rumput). Pendekatan ala rakyat ini menjadi pendekatan utama untuk memahami masalah apa yang terjadi di masyarakat, apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Pemetaan ini perlu agar kegiatan sosial yang kita lakukan tepat sasaran dan membawa dampak nyata.

Dengan begitu, kita tidak melulu mengandalkan aparatur atau institusi legal negara karena pendekatan elitis (top to down) seperti itu hanya melibatkan tokoh-tokoh elit. Akibatnya, tidak ada keterlibatan masyarakat sipil di sana dan hanya akan menelurkan solusi parsial dan sesaat saja. Konsensus perdamaian hanya terjadi pada level elitis dan tidak menyentuh level akar rumput yaitu masyarakat itu sendiri. Kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia harus berpartisipasi aktif dalam menciptakan dan membangun perdamaian. Inilah kontribusi yang bisa kita lakukan dengan ikut ambil bagian dengan terlibat di berbagai kegiatan sosial. Produktif dengan aksi sosial; mungkin ini yang bisa dijadikan filosofi hidup milenial di masa depan. Menjadi agen perubahan untuk menyelesaikan masalah krisis kemanusiaan.

Untuk kita, untuk Indonesia.

 

458

Mengabdikan diri untuk masyarakat tidak hanya soal membantu individu di dalamnya keluar dari masalah. Namun juga soal mempersiapkan amunisi untuk membangun negeri. Inilah yang ada dalam benak Agung Hardi, relawan penggerak aktif di project lingkungan ‘Bangun Jakarta’. Agung dan idealismenya yakin, bahwa untuk menjadikan Indonesia bangsa yang kuat, sektor agrarisnya perlu diperbaiki.

Makanan bukan hanya soal rasa, namun juga Indonesia

Kemampuan memimpin Agung sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. Agung dipercaya untuk menjadi ketua Karang Taruna di lingkungan tempat tinggalnya, Lenteng Agung. Pecinta buku-buku sosialis ini juga gemar memasak, bahkan ia bertekad untuk serius dalam bidang tata boga dengan masuk SMK di jurusan yang sama.

Belajar soal lika-liku makanan dan proses pembuatannya membuka mata Agung tentang Indonesia. Lewat makanan, Agung tahu bahwa citarasa nusantara begitu mewah. Ya, makanan Indonesia begitu kaya akan rasa dan sejarah. Agung menjelaskan hubungan antara memasak dan mencintai Indonesia. “Dengan memasak, kita belajar proses. Mengolah bahan baku, jenis bahan baku, asal bahan baku itu dari mana…  Sebagai warga negara Indonesia, kita jadi tahu Andaliman (sejenis cabai) dari Medan, di Maluku itu penghasil merica, orang Papua itu unik karena makanan pokoknya sagu. Ketika kita mengolah bahan baku, kita akan tahu budaya asli daerah tersebut. Pulau Jawa terkenal dengan makanan manis, Pulau Sumatera kaya akan rempah. Esensi dalam satu piring itu beragam, membuka wawasan,” tukasnya bersemangat.

Jangan manja, mulai mandiri pangan!

Agung sadar akan kekayaan Indonesia ini saat ia mengikuti seminar di mana pembicara tersebut seorang petani. Pelajaran yang Agung dapat banyak, bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang kuat bila rakyatnya memiliki ketahanan pangan.

“Kenapa Cina dan Korea bisa hits banget sekarang? Jawabannya simpel: ketahanan pangan! Indonesia bukan negara hi-tech, nenek moyang kita telah mewariskan budaya agraris. Kenapa tidak kita teruskan?”

Agung menjelaskan ia menjadi relawan aktif di Bangun Jakarta karena visinya sama: mewujudkan ketahanan pangan. Baginya, inilah yang mahal. Contohnya, Jakarta masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan karena sumber daya manusianya fokus pada okupasi lain, jarang ada yang sadar pentingnya menanam.

“Jika kita terus-terusan mengandalkan pemerintah dari impor pangan, kita hanya akan menjadi bangsa yang manja. Padahal, nenek moyang kita mewariskan budaya agraris dan maritim. Urban farming setidaknya memberikan life skill untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ketahanan pangan jelas menjadi indikator terpenting.”

Agung ingin ada perubahan di masyarakat, di mana masyarakat menjadi sadar akan pentingnya menanam di kota. “Saya paling takut ketika rakyat miskin diperbudak untuk kerja keras hanya untuk makan. Harga pangan tinggi, kita disuruh kerja dalam keadaan seperti itu. Padahal solusinya itu ya… Menanam!”

“Kalau mau kita maju, yuk kita mandiri di segala macam hal. Misalnya mandiri pangan, menanam sendiri. Harapan kedepan kita jangan naif, jujur aja kalau ada masalah disekitar kita dan jangan bergantung sama pemerintah. Kita bisa kerjain sendiri kok, ini esensi dari turun tangan bukan?” tegasnya.

 

392

Baru-baru ini, sosial media @turuntangan diwarnai oleh kampanye digital baru yang digagas oleh TurunTangan bersama Indorelawan bernama #ManfaatJadiRelawan. Kampanye digital berupa short video ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) kepada anak muda untuk segera mewujudkan aksi baik, salah satunya ikut kegiatan kerelawanan.

Kampanye digital ini terdiri dari 8 episode, menceritakan pengalaman berbagai relawan project sosial di Indonesia serta manfaat apa saja yang mereka rasakan. Mulai dari ketemu jodoh sampai membantu perkembangan karier. Oh iya, buat kamu yang suka sama pemikiran Adjie Silarus, penulis buku “Sadar Penuh Hadir Utuh”, nanti akan ada video beliau juga lho! Pokoknya di kampanye ini, kita jadi tahu hal positif apa saja yang bisa kita dapat saat menjadi relawan. Rangkaian short video #KampanyeJadiRelawan bisa kamu saksikan di sosial media @turuntangan dan Youtube @indorelawan setiap Rabu pukul 20.00 WIB sampai akhir November 2016.

425

Modernisasi melahirkan banyak teknologi digital baru yang memudahkan masyarakat. Teknologi digital juga bisa melahirkan berbagai ide brilian untuk menyelesaikan problem-problem yang ada di masyarakat. Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi “The Digital Energy of Asia” di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Oktober ini, TurunTangan diajak berkolaborasi untuk mendukung gerakan nasional #1000StartUpDigital. Kedepannya, diharapkan relawan-relawan TurunTangan bisa ikut andil untuk mendukung gerakan ini. Dengan menjadi peserta tahap ignition, menjadi volunteer, dan lain-lain. Gerakan nasional #1000StartUpDigital ini membutuhkan banyak kolaborasi dari berbagai elemen di masyarakat. Untuk kepo lebih lanjut, kunjungi 1000startupdigital.id, sekarang!

334

Indonesia sedang menghadapi persoalan dalam mempersiapkan diri agar gemilang di kancah global. TurunTangan Malang menyadari kebutuhan persaingan global bukan hanya sekedar nilai dalam bentuk angka, namun kepemilikan kualitas diri yang lengkap sehingga siswa dapat memahami minat dan bakatnya.

Mereka menginisiasi Ruang Sinau 3 yang memberikan ruang bagi siswa SDN 2 Donowari Karangploso untuk mendalami potensi non-akademik lewat kegiatan ekstrakulikuler setiap hari Sabtu. Selama ini SD 2 Donowari Karangploso tidak menyediakan kegiatan ekstrakulikuler. Padahal dari hasil survey relawan TurunTangan Malang siswa-siswa di sekolah tersebut memiliki bakat non-akademik yang bisa dikembangkan.

Di Ruang Sinau 3, relawan TurunTangan Malang yang disebut tutor, mengajarkan siswa menari tarian tradisional, bermain sepak bola, bermain voli, teknis dasar menggambar, bahasa inggris, paduan suara, dan lain-lain.

540

Relawan Bangun Jakarta (Bajak) akhirnya turun ke lapangan. Setelah sekitar enam bulan dilatih untuk belajar teknik urban farming menggunakan polybag, para relawan project lingkungan TurunTangan ini kemudian datang ke RW 08 Jalan Kompos, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (2/10). Kedatangan mereka dalam rangka pelatihan menanam di kota, mengajarkan warga RW 08 caranya menanam pangan seperti cabai.

Peserta yang datang mulai dari anak-anak, remaja Karang Taruna, sampai ibu-ibu PKK. Mereka tampak bersemangat ketika melakukan aksi menanam ini. Peserta di bagi ke beberapa kelompok, masing-masing kelompok memiliki satu mentor yang mengajar dan memantau perkembangan hasil tanam mereka sampai tahap panen nanti.

Bajak telah secara resmi mendapat izin dari RW setempat untuk melaksanakan pelatihan menanam tersebut. Warga bahkan sangat antusias, mengingat mereka juga merasakan dampak dari kenaikan kebutuhan pokok seperti cabai yang menjadi bumbu utama masakan khas Indonesia.

Urgensi Bajak untuk melakukan pelatihan menanam adalah menumbuhkan budaya mandiri pangan sehingga warga ikut berkontribusi mewujudkan ketahanan pangan yang kuat untuk Indonesia. Jakarta sendiri masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan karena sumber daya manusianya fokus pada okupasi lain, jarang ada yang sadar pentingnya menanam.

Programme Management Officer Environment Dimitri Dwi Putra mengatakan pelatihan ini diharapkan mampu membantu warga dalam segi ekonomi. Kedepannya, warga didorong agar mampu memproduksi hasil pangan mereka sendiri dan kemudian bisa dijual. “Selain memberdayakan diri mereka sendiri, juga bisa menciptakan Indonesia yang mandiri pangan,” ujarnya.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]