Home Authors Posts by Yus Naeni

Yus Naeni
49 POSTS
Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

27

Jakarta, TurunTangan – Setiap 24 April diperingati Hari Angkutan Nasional. Peringatan tersebut sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa transportasi sangat penting bagi kehidupan. Transportasi berpengaruh dalam perekonomian dan pembangunan wilayah suatu negara.

Mayoritas masyarakat Indonesia masih mengandalkan transportasi umum untuk membantu mobilitasnya sehari-hari. Tak terkecuali dengan anak-anak muda. Beberapa harapan datang dari anak muda di hari Angkutan Nasional ini.

1.  Angkutan Umum Bebas dari Asap Rokok

http://nyarinama.blogspot.co.id

http://nyarinama.blogspot.co.id

Salah satu penyebab masyarakat enggan menggunakan transportasi publik dan memilih transportasi pribadi adalah angkutan umum tidak ramah lingkungan. Banyak penumpang yang merokok dan tentu hal tersebut membahayakan penumpang lain, khususnya anak-anak.

“Kalah harapan saya simpel. Tidak ada lagi yang merokok di angkutan umum. Kalau Bus Rapid Trans dan Kereta Rel Listrik (KRL)  sudah bebas asap rokok ya, tapi kalau di Angkutan Kota (Angkot) dan Kopaja masih banyak yang merokok. Jadi, semoga kedepannya tidak ada lagi yang merokok di angkutan umum baik penumpang maupun supir,” ujar Rizky Nur Amalia.

 

2.  Tidak Ngetem

https://www.liputan6.com

https://www.liputan6.com

Kebiasaan ngetem-nya angkot seringkali membuat sejumlah penumpang kesal. Biasanya angkutan umum akan ngetem cukup lama hingga angkot penuh.

“Harapannya sederhana, bagaimana caranya angkot jalan terus tidak ngetem kecuali di terminal,” ujar Afifa Ukhtiy.

Kebiasaan angkot ngetem juga berakibat pada kemacetan lalu lintas. “Setiap sore, stasiun Pasar Minggu macet. Karena mikrolet dan ojek memenuhi bahu-bahu jalan,” kata Anastasia.

 

 3.  Transportasi Umum yang Terintegrasi

IMG_3401

Tidak terintegrasinya transportasi umum menimbulkan kemacetan di sejumlah kota di Indonesia. Sehingga masyarakat enggan menggunakan transportasi umum dan memilih menggunakan transportasi pribadi. 

“Angkutan umum dapat terintegrasi oleh seluruh moda transportasi di kota agar semakin nyaman dan aman,” ungkap Andi Angger Sutawijaya.

 

 4.  Tidak Ugal-Ugalan dan Bebas Pengamen

https://megapolitan.kompas.com

https://megapolitan.kompas.com

Kasus ugal-ugalan angkot seringkali terjadi di berbagai wilayah. Bahkan tak jarang menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sebaiknya, pemerintah membuat peraturan kepada semua supir angkot untuk memperlakukan dengan baik para penumpang, salah satunya dengan mengendarai angkot dengan hati-hati.

“Di Kota Binjai dan sekitarnya, sikap supir angkot mayoritas brutal, ugal-ugalan dan tidak memikirkan pelayanan yang baik kepada penumpang. Untuk itu, saya berharap pemerintah bisa lebih peduli dan memberikan semacam training atau pelatihan kepada para supir angkot tentang bagaimana cara mereka memperlakukan penumpang,” ucap Sara.

Saat angkot melaju kencang, penumpang juga kerap dibuat tidak nyaman dengan penumpang jalanan yang memaksa bernyanyi walau dengan suara yang pas-pasan.

“Kalau naik angkot seperti Kopaja, aku enggak nyaman karena ugal-ugalan dan pengamen jalanan. Jadi harapannya angkot bisa tertib dan tidak ada pengamen jalanan lagi,” kata Ika Kartika.

 

 5.  Pemerintah Mengatur Jalur Khusus Angkutan Umum

http://www.itdp-indonesia.org

http://www.itdp-indonesia.org

Jumlah angkot yang cukup banyak dan belum memiliki trayek khusus mengakibatkan jalanan semakin sesak. Karena mengejar sewa, jalanan bertambah semrawut sehingga membuat penumpang semakin tidak nyaman.

“Harapanku, pemerintah membuat aturan-aturan atau membuat jalur khusus bagi angkutan umum, agar lebih rapi seperti jalur trans jakarta,” Herman Pane.

 

 

 

46

Bagi yang mengikuti Gathering Nasional (Gathnas) TurunTangan 2017 di Banjarmasin, pasti tak asing dengan perempuan satu ini. Dia adalah Latifah Hanim Lubis, koordinator TurunTangan Binjai yang sempat mendapatkan gelar Galuh di Gathnas TurunTangan 2017 lalu.

Siapa sangka di balik tingkahnya yang konyol, Hanim – begitu ia disapa – adalah pendiri gerakan TurunTangan Binjai. Keprihatinannya terhadap anak-anak muda Binjai yang dinilainya pasif, membuatnya tergerak untuk mendirikan TurunTangan Binjai pada 28 Oktober 2016. Hanim menilai TurunTangan adalah gerakan positif, baik, dan tempat untuk mengajak orang banyak terlibat aktif dalam sebuah perubahan.

Sebelum di gerakan TurunTangan, Hanim sudah berkecimpung di kegiatan sosial. Kurang lebih 12 tahun lamanya. Ia sangat concern dengan masalah pendidikan, kesehatan dan perempuan. Maka, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Binjai sangat gencar melakukan edukasi deteksi dini penyakit kanker serta pelatihan menggosok gigi dan cuci tangan yang baik. Di pendidikan, TurunTangan Binjai pernah melaksanakan kegiatan Passioniversity yaitu kelas untuk membangun minat dan bakat anak-anak serta pernah menggelar Pagelaran Seni (Peran) Binjai 2017.

Hanim juga pernah menggagas project Creative Women yaitu pelatihan bagi perempuan untuk menjadi ibu hebat bagi anak-anaknya. “Pelatihan ini, sebelumnya diperuntukkan bagi ibu-ibu kelurahan dan sekarang beranjak ke ibu-ibu wali murid di salah satu SD,” ujar perempuan yang saat ini memiliki kesibukan menjadi seorang istri dan mengelola panti rehabilitasi narkoba di bawah Kementrian Sosial (Kemensos).

Untuk project yang dijalankan di sekolah tersebut telah di jalankan pada awal tahun ajaran baru 2018. Para relawan memberikan pemahaman kepada orang tua murid tentang pola asuh yang sesuai dengan fase perkembangan setiap anak. Selain itu, project  ini juga memberikan metode komunikasi kreatif yang bisa dibangun dalam keluarga dan membangun kreativitas entrepreneur buat si ibu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mandiri.

Hanim menjelaskan alasannya kenapa sekolah yang dipilih. Menurutnya jika pelaksanaanya dilakukan di sekolah dapat memudahkan mereka dalam menghimpun orang tua melalui komunitas komite sekolah. Dengan adanya kekuatan instruksi arahan dari Kepala Sekolah, memudahkan dalam mengundang ibu-ibu wali murid untuk hadir dan berkumpul. “Project ini kedepannya akan menjadi program sekolah yang berkelanjutan,” katanya.

Di Hari Kartini ini, Hanim berpesan kepada semua perempuan Indonesia untuk menyudahi sikap ‘powerless’ atas label ketidakberdayaan gender perempuan, karena perempuan enggak melulu soal lemah hati namun sudah saatnya berkarya!

59

Rizka Amalia Shofa, perempuan kelahiran 25 September 1993 ini telah bergabung dengan TurunTangan sejak akhir 2013. Pertama kali Rizka aktif di TurunTangan Yogyakarta dan saat ini aktif di tataran nasional.

Tentu saja, Rizka telah menjadi saksi sejarah bagaimana gerakan TurunTangan hidup dari fase ke fase. Melewati berbagai dinamika TurunTangan yang kadang naik turun. Namun, ia tak pernah berhenti karena meyakini TurunTangan bukanlah sekadar program, tetapi riil pergerakan yang akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di gerakan TurunTangan, Rizka pernah terlibat dalam project sosial dan edukasi politik seperti reresik pantai, ngonthel tombo tresno, Diskusi Asyik Sosial dan Politik (Diskotik) dan Gerakan Sarapan Pagi (GSP).

Setelah menyelesaikan pendidikan magister manajemen dan kebijakan pendidikan islam di Universitas Islam Negeri Kalijaga Yogyakarta, Rizka menggagas ide buku Kolabora(k)si. Buku tersebut menceritakan 13 relawan TurunTangan dari berbagai daerah. Mereka menemukan nilai-nilai kebaikan di gerakan ini yang kemudian mengubah hidupnya masing-masing. “Ada hal yang ditemukan ketika menjadi relawan, dan hal itu mendarah daging sampai sekarang. Nah, dengan buku Kolabora(k)si ini kami ingin berbagi bagaimana kami menemukan nilai-nilai itu. Dan bagaimana nilai-nilai itu masih terpakai sampai sekarang,” ujar penulis novel Hot Chocolate dan Mooncake ini.

Rizka berharap siapapun yang membaca buku tersebut, tak hanya terinspirasi tapi juga menemukan tumpukan semangat untuk terus bergerak. Bukan hanya untuk relawan TurunTangan saja, tetapi relawan di gerakan apapun dan di mana pun, yang sering merasa bergerak di jalan yang sepi. Merasa sendirian. “Enggak kok, Guys. Sebetulnya kita sedang gerak ramai-ramai untuk negeri yang kita pijak hari ini. Jangan berhenti, ya!,” pesannya yang kini juga sibuk menjalani profesi sebagai Pembicara Publik.

Rizka adalah gambaran perempuan Indonesia yang kini telah setara dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama untuk berkontribusi. Perempuan menjadi penentu sebesar apa kontribusi rakyat kepada bangsanya. Sebab, perempuan merupakan ‘sekolah’ pertama bagi anaknya. “Kalau mau menumbuhkan generasi penerus yang kontributif, perempuan harus mau ikut berkontribusi. Bagaimana bisa punya anak powerful dan kontributif kalau ibunya hanya diam saja. Jadi mari berkontribusi,” katanya.

56

Keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di daerah tempat tinggalnya yang terjerat narkoba, tawuran dan free sex , menggerakkan Fenty Asnath mendirikan Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw). Berbekal ilmu yang ia dapat ketika mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, Fenty memulai misinya menjauhkan anak-anak dari aktivitas negatif tersebut dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih positif.

“Aku pernah aktif di Rumah Belajar di daerah Kalibata. Setiap hendak ke sana, anak-anak di sekitar rumah menyapaku. Mereka hanya sibuk bermain. Aku bertanya pada diri sendiri, apa ini adil? Aku kontribusi di tempat lain padahal anak-anak di sini perlu dibantu,” papar perempuan berdarah Ambon yang resmi menjadi relawan TurunTangan pada 2014 ini.

Suatu hari Fenty membaca informasi program Muda Membangun di laman TurunTangan.org. Ia kemudan tertarik dan menyampaikan idenya mendirikan rumah belajar bagi anak-anak Rawamangun. Kala itu, Darul Syahdanul sebagai project leader Muda Membangun menyarankan Fenty berbicara kepada ketua RT, RW dan warga. Ternyata mereka mendukung niat baik ini, bahkan memberikan tempat untuk kegiatan belajar mengajar Rumbelraw.

Rumah belajar yang terletak di Gang Pemuda 3A, Rawamangun, Jakarta Timur itu, kini telah berusia empat tahun. Bahkan telah memiliki puluhan relawan pengajar dan ratusan murid yang menorehkan prestasi. Dua bulan lalu, anak-anak Rumbelraw memborong piala pada perlombaan yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Deputi Bidang Perlindungan Anak bekerja sama dengan USDOJ/ICITAP Indonesia pada kegiatan “Perlindungan Anak dan Masalah Sosial”.

Fenty telah memberikan contoh, lewat impian yang sederhana, perempuan bisa menyalakan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Untuk itu, ia berpesan kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk terus bermimpi, belajar dan bertanggung jawab sehingga bisa melahirkan generasi Indonesia yang hebat.

114

Tiga belas yang lalu, tepatnya 21 Februari 2005, telah terjadi bencana longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat. Bencana itu menyebabkan sekitar 150 orang meninggal dunia. Mayoritas korban adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung. Penyebab longsor diduga karena curah hujan yang sangat tinggi serta ledakan gas metana (CH4) yang terangkap dalam timbunan sampah.

Sebelumnya, di tahun 1992 juga terjadi bencana longsor di TPA Leuwigajah, namun tidak menimbulkan banyak korban seperti tahun 2005. Menyikapi hal ini, pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Pemerintah berharap peringatan HPSN dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya prinsip 3R (reduce, refuse, dan recycle) dalam pengelolaan sampah. Sehingga Indonesia bebas sampah di tahun 2020 dapat terwujud.

Permasalahan sampah di Indonesia telah menjadi mimpi buruk selama bertahun-tahun. Dikutip dari geotimes, Jakarta menghasilkan sampah 6.000 hingga 6.500 ton per hari. Di Pulau Bali, jumlah sampah mencapai 10.725 ton per hari. Sementara Kota Palembang, jumlah sampah naik tajam dari 700 ton per hari menjadi 1.200 ton per hari. Secara keseluruhan, jumlah total sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau 0.7 kilogram per orang atau sekitar 67 juta ton per tahun.

Sebagian sampah yang dihasilkan tersebut merupakan sampah plastik yang terbawa dari parit kota lalu bermuara ke sungai. Kemudian, sungai-sungai itu membawa sampah dan segala zat pencemar ke laut. Akibatnya, sampah terbawa oleh ombak lautan untuk mencapai pantai.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal science pada 13 Februari 2015 mengungkap Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik di lautan terbesar kedua setelah China. Kondisi ini tentu membahayakan masyarakat Indonesia mengingat laut menjadi sumber kehidupan. Laut menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup yang menjadi sumber makanan bagi masyarakat Indonesia seperti rumput laut, kerang, dan ikan. Apabila permasalahan sampah tidak segera diatasi, maka akan terjadi kerusakan ekosistem laut yang mengakibatkan sumber makanan tersebut lama kelamaan akan habis. Dan apabila dikonsumsi juga bisa memicu penyakit mematikan seperti kanker.

KLHK Agendakan ‘Tiga Bulan Bersih Sampah’

Dalam memperingati HPSN 2018 yang mengusung tema “Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah”, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya mewujudkan pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Untuk itu, di tahun ini HPSN akan diaktualisasikan dalam kerja bersama “Tiga Bulan Bersih Sampah” yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Gerakan yang disingkat TBBS itu, berfokus untuk secara konkret melaksanakan kebersihan di tempat-tempat umum. Pelaksanaanya akan dilakukan dalam tiga bulan ke depan, dari 21 Januari hingga 22 April. Untuk mewujudkannya, KLHK merangkul seluruh stakeholder, instansi dan lembaga, kepala daerah, komunitas dan aktivis lingkungan. Mereka bahkan menobatkan aktor Jefri Nichol sebagai Duta Sahabat Anak Peduli Lingkungan 2018 untuk mengajak anak muda peduli terhadap lingkungan dengan menanam mangrove di 10 kota.

“Saya mohon dukungannya untuk melaksanakan tiga bulan bersih sampah. Dimulai 21 Januari esok hingga 21 April,” ujar Menteri KLHK Siti Nurbaya pada Gala Diner bersama aktivis lingkungan, komunitas, intansi dan lembaga di Arboretrum, KLHK, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/1).

Relawan TurunTangan Peduli Masalah Sampah

Sejak tahun 2016, relawan TurunTangan gencar menyuarakan Indonesia Bebas Sampah 2020 kepada masyarakat melalui aksi nyata. Kegiatan bersih-bersih baik itu di pantai, hutan maupun pusat kota, seringkali dilakukan oleh relawan TurunTangan, tak hanya menjelang peringatan HPSN saja.

Beberapa waktu lalu, TurunTangan Palu menggelar aksi bersih-bersih di Sungai Palu. Melansir media online Sultengraya.com, 5 Februari 2018, Koordinator kegiatan Nofriansyah menyampaikan, aksi bersih-bersih Sungai Palu tersebut merupakan upaya untuk menginspirasi warga Kota Palu  untuk peduli terhadap permasalahan lingkungan, khususnya sampah yang berserakan di tepian Sungai Palu.

“Kami miris dengan banyaknya pemberitaan terkait masih kotornya kawasan sungai di Kota Palu akibat tumpukan sampah. Untuk itu, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama turun tangan menjaga kebersihan lingkungan sungai Palu,” ujarnya, Minggu (4/2).

Relawan TurunTangan Palu akan kembali menggelar aksi peduli sampah pada 25 Februari. Kegiatannya berupa workshop, talkshow, dan aksi susur sampah di Sungai Pondo, dengan mengusung tema “Bergerak untuk Palu Bebas Sampah”. Mereka bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Palu, Pemerintah Kota (Pemkot) dan seluruh lurah Kecamatan Mantikulore, Palu.

“Kami bekerjasama dengan mereka agar bisa mengajak masyarakat untuk ikut aksi yang nantinya seluruh masyarakat Palu bisa membuang sampah pada tempatnya,” ujar Mita, Humas TurunTangan Palu.

Sementara itu, Relawan TurunTangan Medan melakukan aksi peduli lingkungan “Fit and Take Your Trash” di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (11/2). Leader Project Herman Pane mengatakan tujuan dilaksanakan kegiatan untuk menjaga kebersihan lingkungan. “Kepedulian masyarakat akan lingkungan masih minim. Kami berharap melalui kegiatan ini orang-orang lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Herman yang dikutip dari Tribunnews Medan, 11 Februari 2018.

Sedangkan TurunTangan Lhokseumawe, setiap tahun mengadakan kegiatan Lhokseumawe Clean City (LCC). Mereka mengajak pelajar, mahasiswa, komunitas dan seluruh masyarakat Lhokseumawe untuk mengikuti kegiatan bersih-bersih Kota Aceh ini.

259

Perkembangan teknologi yang terus melesat, tidak menjamin mempengaruhi budaya masyarakat secara keseluruhan. Walau budaya sifatnya dinamis, masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya di daerahnya masing-masing. Salah satunya Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Di Provinsi Banten yang tak jauh dari ibukota, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki jamban. Mereka memilih BAB di sungai dan kebun secara turun temurun. Menyadari BAB sembarangan akan berdampak pada kesehatan, Aina Fisabila membuat EMCEKAQU, program yang fokus pada pemberantasan pembuangan air besar di area terbuka di Banten.

Aina – begitu ia akrab disapa – merupakan relawan Gerakan Banten Mengajar (GBM) bacth 1. GBM sendiri adalah salah satu project TurunTangan Banten yang mengajak semua pihak untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Banten. Relawan pengajar yang lolos seleksi ditempatkan di Desa Lebak dan Pandeglang selama dua minggu. Di tahun 2015, Aina mendapatkan tugas untuk mengajar di Desa Cibitung, Pandeglang. Saat penempatan, Aina menginap di salah satu rumah warga yang tidak memiliki jamban. Untuk buar air kecil dan BAB, Aina terpaksa menumpang di puskesmas yang lokasinya cukup jauh dari rumah tersebut.

Setelah mengajar, Aina bersama relawan GBM lainnya melakukan assesment dari rumah ke rumah. Betapa terkejutnya, Aina mendapatkan fakta, tidak ada satupun masyarakat di desa tersebut yang memiliki jamban. Sejak dulu, masyarakat BAB sembarangan di sungai dan kebun. “Alasan warga tidak punya jamban karena berpenghasilan rendah,” ujar mahasiswa keperawatan Universitas Indonesia ini.

Di Cibitung, masyarakat tinggal di rumah-rumah panggung. Dengan penghasilan perharinya, rata-rata Rp50.000. Meskipun begitu, warga mampu memenuhi kebutuhan tersiernya seperti kendaraan bermotor, handphone, televisi, dan parabola. Pemerintah juga pernah membangunkan toilet umum. Namun hanya bertahan dua tahun, setelah itu tidak pernah terpakai lagi. “Kesimpulannya bukan karena penghasilan rendah dan tidak ada fasilitas, tapi karena kebiasaan,” katanya.

Sejak saat itu, Aina berpikir untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Penting bagi mereka memiliki jamban karena BAB sembarangan bisa menimbulkan berbagai penyakit, khususnya diare, penyakit pembunuh nomor satu pada anak-anak. Aina juga membaca-baca informasi dan jurnal di internet, ia mendapatkan fakta bahwa  Indonesia berada diurutan kedua setelah India sebagai negara yang memiliki sanitasi buruk.

Dia kemudian mendapatkan ide untuk membuat EMCEKAQU. Program ini bergerak untuk membangun sanitasi dan kebersihan di daerah terpencil yang belum memiliki MCK, khususnya di Banten. “Gerakan ini akan fokus pada sosial dan edukasi. Jadi harapannya nanti warga punya keinginan memiliki jamban dari diri mereka sendiri,” kata Aina yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan kampus ini, seperti project officer Istana Belajar Anak Banten dan Wakil Kepala Departemen Kajian Aksi dan Strategis BEM FIK UI.

Program ini sudah berjalan selama satu tahun. Aina dibantu oleh empat temannya yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatannya mereka menggunakan modul pemerintah yaitu sanitasi total berbasis masyarakat dengan datang  langsung berbicara pada masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Serta datang ke forum-forum kecil seperti majelis taklim, arisan, pengajian dan posyandu. Setelah masuk ke forum-forum kecil baru mengadakan pertemuan desa. “Kami pernah menggunakan teknik pemicuan. Masyarakat dikumpulkan di lapangan, lalu ada simulasi. Dari situ mereka sadar telah menumpuk kotoran  mereka di sekitar rumahnya,” tuturnya.

Selama satu tahun, Aina merasa, program ini belum terlihat impact-nya. Tapi setidaknya sudah ada satu warga yang membuat cubluk, sebuah lubang untuk buang air kecil dan BAB dengan kedalaman dua meter. “Cubluk adalah alat untuk melokalisasi BAB. Warga bisa BAB di sana dan tak ke mana-mana,” katanya.

Selain itu, setelah adanya Gerakan EMCEKAQU, masyarakat punya kesadaran mempunyai air bersih. Sebelumnya dari 50 kepala keluarga (kk) hanya lima pompa air sendiri menjadi 12 kk yang memiliki pompa air.

Aina dan tim pernah menyempatkan melakukan brainstorming dan observasi potensi desa tersebut. Hasilnya, mereka menemukan para ibu-ibu suka sekali membuat rengginang. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk memfasilitasi para ibu-ibu untuk memproduksi rengginang dan membantu menjualnya. Hasil penjualan rengginang ditabung untuk membuat jamban. “Kita tak hanya menyuruh tapi membantu fasilitasi. Dananya digunakan untuk membuat jamban,” katanya.

Berkat EMCEKAQU, Aina mendapatkan banyak penghargaan. Program ini diikutsertakan pada berbagai ajang perlombaan, konferensi dan beasiswa. EMCEKAQU pernah mendapatkan anugerah tiga besar best social project oleh Indonesia Filantropis di Indonesia Filantropis Festival, hibah kewirausahaan mahasiswa dari Universitas Indonesia, juara tiga dari Ayamin Plus-Nama Foundation, diikutsertakan pada ASEAN Youth Iniciative Conference, dan menjadi delegasi local leader pada forum Indonesia lokal muda. Aina juga menjadi Duta Sanitasi Internasional perwakilan Indonesia satu-satunya di Belgia pada 17 November lalu. Dia bersama pemuda-pemudi dari sembilan negara di antaranya Rwanda, Pakistan, Uganda, Kenya, Nigeria, El Salvador, India, Peru dan Guetamala mempersentasikan project-nya, mengikuti workshop peningkatan sanitasi, community engagement, dan social enterprise.

Menutup wawancara, Aina berharap melalui program EMCEKAQU bisa membuat Indonesia bebas BAB sembarang di tahun 2030. Serta makin banyak anak muda yang fokus di bidang sanitas dan air bersih. “Saat ini mayoritas anak muda fokus di bidang pendidikan. Sedikit sekali anak muda yang terlibat di sanitasi, padahal sanitasi dan air bersih itu penting dan masuk SDGs,” tutupnya.

 

277

Relawan TurunTangan Banjarmasin menunjukkan komitmennya untuk terus mendorong masyarakat gemar membaca. Melalui program Tikar Baca yang diinisiasi empat bulan lalu, relawan menggelar ratusan buku di Kalsel Book Fair 2017 di Lapangan Murdjani, Banjarbaru, Jumat-Minggu (31 Maret-9 April).

Berbeda dari stand lainnya yang menyuguhkan berbagai buku untuk dijual, stand Tikar Baca justru memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk membaca buku tanpa dipungut biaya. “Buku-buku yang kami sajikan tidak ada yang dijual, masyarakat bebas baca buku gratis di tempat,” ujar Koordinator TurunTangan Banjarmasin Dede.

Dari hasil pantauan, banyak masyarakat khususnya anak-anak yang mengunjungi stand Tikar Baca. Bukan karena bisa membaca gratis saja, tetapi dekorasi stand yang unik menarik perhatian mereka untuk berkunjung. “Yang datang lebih banyak anak-anak bersama orang tua mereka. Tapi anak mudanya banyak juga,” kata Dede.

Keikutsertaan Tikar Baca dalam Kalsel Book Fair, mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Walikota Banjarmasin, wakil walikota Banjarbaru, anggota DPR-RI perwakilan Kalimantan Selatan, dan anggota DPRD Tanah bumbu menyatakan dukungannya. Sejumlah akademisi, pengusaha dan sastrawan pun mendukung penuh Tikar Baca dalam upayanya meningkatnya minat baca masyarakat Banjarmasin. “Generasi literasi adalah pewaris masa depan, karena membaca adalah pintu menguasi ilmu pengetahuan,” ujar Walikota Banjarmasin Ibnu Sina yang tertulis di poster yang diunggah di instagram @turuntanganbjm.

Pada akhirnya, kehadiran Tikar Baca pada book fair juga menggerakkan masyarakat untuk menyumbangkan buku-buku baik bekas maupun baru. “Banyak yang kasih sumbangan buku juga, tapi masih kurang buku bacaan untuk anak-anak,” ungkap Dede.

Untuk itu Dede sangat berharap, akan semakin banyak masyarakat yang mau mendonasikan buku kepada TurunTangan Banjarmasin.

280

Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) setiap tanggal 25 Maret. Peringatan Earth Hour sudah memasuki satu dekade di seluruh dunia dan sembilan tahun di Indonesia.

Perayaan Earth Hour tak terbatas hanya dengan mematikan lampu penerangan di ikon-ikon kota. Setiap masyarakat bisa ikut berpartisipasi mematikan lampu dan alat elektronik selama satu jam, dimulai pukul 20.30-21.30, di mana pun mereka berada.

Aksi mematikan lampu tersebut dilakukan untuk mengingatkan masyarakat akan perubahan iklim yang terjadi di dunia. Salah satu cara menunda pemanasan global dan krisis lingkungan adalah menghemat energi. Dalam waktu satu jam saja, mampu mengistirahatkan pembangkit listrik dan menghemat energi sekian MWh. Seperti yang dirasakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Yogyakarta pada perayaan Earth Hour kemarin, mereka mencata terjadi penghematan energi sebesar 264 MWh atau 7,58 persen dibanding penggunaan biasa.

Manfaat perayaan Earth Hour disadari oleh relawan TurunTangan Banten. Mereka membuat nge-DAB (nge-Dukung Aksi untuk Bumi). Yaitu mengajak anak-anak muda dan komunitas yang ada di Banten untuk ikut terlibat dalam mengurangi dan menghemat energi listrik selama 60 menit.

Acara dimulai dengan mematikan lampu serentak pada pukul 20.30-21.30 di area Bintaro Jaya Xchange Mall. Lalu peserta dan masyarakat diajak menyalakan lilin. Perayaan ini juga diisi dengan pertunjukkan musikalisasi puisi, musik akustik, perkusi tradisional dari beberapa komunitas yang hadir.

Aksi ini menarik perhatian warga. Mereka terlihat antusias dan ikut serta dalam perayaan. “Kami berharap apa yang kami lakukan dapat berdampak baik dan seluruh masyarakat tergerak untuk ikut turun tangan mengurangi global warming bersama-sama,” ujar Koordinator TurunTangan Banten Yana Handayana.

479

Setelah sukses mengadakan diskusi Generasi Melek Politik  (GMP) satu bulan lalu, TurunTangan kembali mengadakan diskusi GMP, Sabtu (27/5) di @america, Mal Pacific Place Lantai 3, Jakarta.

18767611_673021159561653_7326896231473366073_n

Mengusung tema “Ready to Get Political: Why Does It Matter for the Youth”,  acara tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, Ekonom dan Politikus Faisal Basri, Pengamat Hubungan Internasional Suzie Sudarman, dan Social Media Influencer Marco Ivanos.

18700117_673021162894986_1378653838307997554_n

Diskusi GMP bertujuan untuk membuat generasi milenial tidak lagi apatis terhadap politik. “Apatisme politik milenial terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman politik,” ujar Social Media and Campaigner Neildeva Despendya.

18765982_673020036228432_7445834100156985141_n

GMP sendiri merupakan gerakan edukasi politik untuk anak muda. Kegiatannya diawali dengan diskusi-diskusi santai yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga, salah satunya yaitu QLUE, sebuah platform untuk masyarakat agar dapat memberikan laporan apapun secara langsung kepada pemerintah maupun swasta.

WhatsApp Image 2017-05-27 at 22.21.25

“Semoga anak muda semakin melek politik. Memahami mengapa peran mereka dibutuhkan, kenapa harus bergerak dan berkontribusi dalam gerakan di sekitarnya,” kata Neildeva, berharap.

428

Turun tangan tidak harus dengan aksi di jalan. Bisa dilakukan banyak cara salah satunya mendampingi para pelajar sekolah agar berprestasi dan melakukan kegiatan positif. Seperti yang dilakukan oleh TurunTangan Pekanbaru yang melakukan pendampingan persiapan lomba terhadap siswa-siswi SMA Negeri 1 Pekanbaru.

Sekolah tersebut mengikuti Pekan Kontitusi (Pekon) yakni suatu kegiatan yang dirancang oleh Pusat Study Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, program yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan berupa debat konstitusi, cerdas cermat, karya tulis, pidato konstitusi berbahasa inggris antar SMA se-Sumatera.

TurunTangan Pekanbaru mulai mendampingi SMA Negeri 1 Pekanbaru sejak November 2016 hingga Februari 2017, dimulai dari pelatihan sebelum keberangkatan dan pada saat perlombaan. “Proses pendampingan kami mulai dari substansi materi, etika komunikasi hingga mental psikologis,” ujar Relawan TurunTangan Pekanbaru Irhamni.

TurunTangan Pekanbaru membuat klub debat di sekolah tersebut pada tahun 2013. Relawan mengajarkan debat kepada anggota klub dengan pendekatan filosofi kekuatan kata-kata. Suatu kalimat akan berakhir di saat mulut mulut berhenti berbicara sebagai penegas tanda baca titik. Makna kalimat bergaung tanpa batas ruang dan waktu. Membuat orang lain belok ke kiri, ke kanan, jalan di tempat, mundur atau melakukan perubahan dalam hidupnya.

Filosofi itulah yang akhirnya mengantarkan SMA Negeri 1 Pekanbaru menjadi juara 1 lomba karya tulis konstitusi, juara 2 lomba debat konstitusi dan juara umum pada Pekon.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]