Home Authors Posts by Yus Naeni

Yus Naeni
45 POSTS
Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

14

Tiga belas  tahun yang lalu, tepatnya 21 Februari 2005, telah terjadi bencana longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat. Bencana itu menyebabkan sekitar 150 orang meninggal dunia. Mayoritas korban adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung. Penyebab longsor diduga karena curah hujan yang sangat tinggi serta ledakan gas metana (CH4) yang terangkap dalam timbunan sampah.

Sebelumnya, di tahun 1992 juga terjadi bencana longsor di TPA Leuwigajah, namun tidak menimbulkan banyak korban seperti tahun 2005. Menyikapi hal ini, pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Pemerintah berharap peringatan HPSN dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya prinsip 3R (reduce, refuse, dan recycle) dalam pengelolaan sampah. Sehingga Indonesia bebas sampah di tahun 2020 dapat terwujud.

Permasalahan sampah di Indonesia telah menjadi mimpi buruk selama bertahun-tahun. Dikutip dari geotimes, Jakarta menghasilkan sampah 6.000 hingga 6.500 ton per hari. Di Pulau Bali, jumlah sampah mencapai 10.725 ton per hari. Sementara Kota Palembang, jumlah sampah naik tajam dari 700 ton per hari menjadi 1.200 ton per hari. Secara keseluruhan, jumlah total sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau 0.7 kilogram per orang atau sekitar 67 juta ton per tahun.

Sebagian sampah yang dihasilkan tersebut merupakan sampah plastik yang terbawa dari parit kota lalu bermuara ke sungai. Kemudian, sungai-sungai itu membawa sampah dan segala zat pencemar ke laut. Akibatnya, sampah terbawa oleh ombak lautan untuk mencapai pantai.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal science pada 13 Februari 2015 mengungkap Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik di lautan terbesar kedua setelah China. Kondisi ini tentu membahayakan masyarakat Indonesia mengingat laut menjadi sumber kehidupan. Laut menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup yang menjadi sumber makanan bagi masyarakat Indonesia seperti rumput laut, kerang, dan ikan. Apabila permasalahan sampah tidak segera diatasi, maka akan terjadi kerusakan ekosistem laut yang mengakibatkan sumber makanan tersebut lama kelamaan akan habis. Dan apabila dikonsumsi juga bisa memicu penyakit mematikan seperti kanker.

 

KLHK Agendakan ‘Tiga Bulan Bersih Sampah’

Dalam memperingati HPSN 2018 yang mengusung tema “Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah”, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya mewujudkan pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Untuk itu, di tahun ini HPSN akan diaktualisasikan dalam kerja bersama “Tiga Bulan Bersih Sampah” yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Gerakan yang disingkat TBBS itu, berfokus untuk secara konkret melaksanakan kebersihan di tempat-tempat umum. Pelaksanaanya akan dilakukan dalam tiga bulan ke depan, dari 21 Januari hingga 22 April. Untuk mewujudkannya, KLHK merangkul seluruh stakeholder, instansi dan lembaga, kepala daerah, komunitas dan aktivis lingkungan. Mereka bahkan menobatkan aktor Jefri Nichol sebagai Duta Sahabat Anak Peduli Lingkungan 2018 untuk mengajak anak muda peduli terhadap lingkungan dengan menanam mangrove di 10 kota.

“Saya mohon dukungannya untuk melaksanakan tiga bulan bersih sampah. Dimulai 21 Januari esok hingga 21 April,” ujar Menteri KLHK Siti Nurbaya pada Gala Diner bersama aktivis lingkungan, komunitas, intansi dan lembaga di Arboretrum, KLHK, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/1).

 

Relawan TurunTangan Peduli Masalah Sampah

Sejak tahun 2016, relawan TurunTangan gencar menyuarakan Indonesia Bebas Sampah 2020 kepada masyarakat melalui aksi nyata. Kegiatan bersih-bersih baik itu di pantai, hutan maupun pusat kota, seringkali dilakukan oleh relawan TurunTangan, tak hanya menjelang peringatan HPSN saja.

Beberapa waktu lalu, TurunTangan Palu menggelar aksi bersih-bersih di Sungai Palu. Melansir media online Sultengraya.com, 5 Februari 2018, Koordinator kegiatan Nofriansyah menyampaikan, aksi bersih-bersih Sungai Palu tersebut merupakan upaya untuk menginspirasi warga Kota Palu  untuk peduli terhadap permasalahan lingkungan, khususnya sampah yang berserakan di tepian Sungai Palu.

“Kami miris dengan banyaknya pemberitaan terkait masih kotornya kawasan sungai di Kota Palu akibat tumpukan sampah. Untuk itu, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama turun tangan menjaga kebersihan lingkungan sungai Palu,” ujarnya, Minggu (4/2).

Relawan TurunTangan Palu akan kembali menggelar aksi peduli sampah pada 25 Februari. Kegiatannya berupa workshop, talkshow, dan aksi susur sampah di Sungai Pondo, dengan mengusung tema “Bergerak untuk Palu Bebas Sampah”. Mereka bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Palu, Pemerintah Kota (Pemkot) dan seluruh lurah Kecamatan Mantikulore, Palu.

“Kami bekerjasama dengan mereka agar bisa mengajak masyarakat untuk ikut aksi yang nantinya seluruh masyarakat Palu bisa membuang sampah pada tempatnya,” ujar Mita, Humas TurunTangan Palu.

Sementara itu, Relawan TurunTangan Medan melakukan aksi peduli lingkungan “Fit and Take Your Trash” di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (11/2). Leader Project Herman Pane mengatakan tujuan dilaksanakan kegiatan untuk menjaga kebersihan lingkungan. “Kepedulian masyarakat akan lingkungan masih minim. Kami berharap melalui kegiatan ini orang-orang lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Herman yang dikutip dari Tribunnews Medan, 11 Februari 2018.

Sedangkan TurunTangan Lhokseumawe, setiap tahun mengadakan kegiatan Lhokseumawe Clean City (LCC). Mereka mengajak pelajar, mahasiswa, komunitas dan seluruh masyarakat Lhokseumawe untuk mengikuti kegiatan bersih-bersih Kota Aceh ini.

47

Perkembangan teknologi yang terus melesat, tidak menjamin mempengaruhi budaya masyarakat secara keseluruhan. Walau budaya sifatnya dinamis, masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya di daerahnya masing-masing. Salah satunya Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Di Provinsi Banten yang tak jauh dari ibukota, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki jamban. Mereka memilih BAB di sungai dan kebun secara turun temurun. Menyadari BAB sembarangan akan berdampak pada kesehatan, Aina Fisabila membuat EMCEKAQU, program yang fokus pada pemberantasan pembuangan air besar di area terbuka di Banten.

Aina – begitu ia akrab disapa – merupakan relawan Gerakan Banten Mengajar (GBM) bacth 1. GBM sendiri adalah salah satu project TurunTangan Banten yang mengajak semua pihak untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Banten. Relawan pengajar yang lolos seleksi ditempatkan di Desa Lebak dan Pandeglang selama dua minggu. Di tahun 2015, Aina mendapatkan tugas untuk mengajar di Desa Cibitung, Pandeglang. Saat penempatan, Aina menginap di salah satu rumah warga yang tidak memiliki jamban. Untuk buar air kecil dan BAB, Aina terpaksa menumpang di puskesmas yang lokasinya cukup jauh dari rumah tersebut.

Setelah mengajar, Aina bersama relawan GBM lainnya melakukan assesment dari rumah ke rumah. Betapa terkejutnya, Aina mendapatkan fakta, tidak ada satupun masyarakat di desa tersebut yang memiliki jamban. Sejak dulu, masyarakat BAB sembarangan di sungai dan kebun. “Alasan warga tidak punya jamban karena berpenghasilan rendah,” ujar mahasiswa keperawatan Universitas Indonesia ini.

Di Cibitung, masyarakat tinggal di rumah-rumah panggung. Dengan penghasilan perharinya, rata-rata Rp50.000. Meskipun begitu, warga mampu memenuhi kebutuhan tersiernya seperti kendaraan bermotor, handphone, televisi, dan parabola. Pemerintah juga pernah membangunkan toilet umum. Namun hanya bertahan dua tahun, setelah itu tidak pernah terpakai lagi. “Kesimpulannya bukan karena penghasilan rendah dan tidak ada fasilitas, tapi karena kebiasaan,” katanya.

Sejak saat itu, Aina berpikir untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Penting bagi mereka memiliki jamban karena BAB sembarangan bisa menimbulkan berbagai penyakit, khususnya diare, penyakit pembunuh nomor satu pada anak-anak. Aina juga membaca-baca informasi dan jurnal di internet, ia mendapatkan fakta bahwa  Indonesia berada diurutan kedua setelah India sebagai negara yang memiliki sanitasi buruk.

Dia kemudian mendapatkan ide untuk membuat EMCEKAQU. Program ini bergerak untuk membangun sanitasi dan kebersihan di daerah terpencil yang belum memiliki MCK, khususnya di Banten. “Gerakan ini akan fokus pada sosial dan edukasi. Jadi harapannya nanti warga punya keinginan memiliki jamban dari diri mereka sendiri,” kata Aina yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan kampus ini, seperti project officer Istana Belajar Anak Banten dan Wakil Kepala Departemen Kajian Aksi dan Strategis BEM FIK UI.

Program ini sudah berjalan selama satu tahun. Aina dibantu oleh empat temannya yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatannya mereka menggunakan modul pemerintah yaitu sanitasi total berbasis masyarakat dengan datang  langsung berbicara pada masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Serta datang ke forum-forum kecil seperti majelis taklim, arisan, pengajian dan posyandu. Setelah masuk ke forum-forum kecil baru mengadakan pertemuan desa. “Kami pernah menggunakan teknik pemicuan. Masyarakat dikumpulkan di lapangan, lalu ada simulasi. Dari situ mereka sadar telah menumpuk kotoran  mereka di sekitar rumahnya,” tuturnya.

Selama satu tahun, Aina merasa, program ini belum terlihat impact-nya. Tapi setidaknya sudah ada satu warga yang membuat cubluk, sebuah lubang untuk buang air kecil dan BAB dengan kedalaman dua meter. “Cubluk adalah alat untuk melokalisasi BAB. Warga bisa BAB di sana dan tak ke mana-mana,” katanya.

Selain itu, setelah adanya Gerakan EMCEKAQU, masyarakat punya kesadaran mempunyai air bersih. Sebelumnya dari 50 kepala keluarga (kk) hanya lima pompa air sendiri menjadi 12 kk yang memiliki pompa air.

Aina dan tim pernah menyempatkan melakukan brainstorming dan observasi potensi desa tersebut. Hasilnya, mereka menemukan para ibu-ibu suka sekali membuat rengginang. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk memfasilitasi para ibu-ibu untuk memproduksi rengginang dan membantu menjualnya. Hasil penjualan rengginang ditabung untuk membuat jamban. “Kita tak hanya menyuruh tapi membantu fasilitasi. Dananya digunakan untuk membuat jamban,” katanya.

Berkat EMCEKAQU, Aina mendapatkan banyak penghargaan. Program ini diikutsertakan pada berbagai ajang perlombaan, konferensi dan beasiswa. EMCEKAQU pernah mendapatkan anugerah tiga besar best social project oleh Indonesia Filantropis di Indonesia Filantropis Festival, hibah kewirausahaan mahasiswa dari Universitas Indonesia, juara tiga dari Ayamin Plus-Nama Foundation, diikutsertakan pada ASEAN Youth Iniciative Conference, dan menjadi delegasi local leader pada forum Indonesia lokal muda. Aina juga menjadi Duta Sanitasi Internasional perwakilan Indonesia satu-satunya di Belgia pada 17 November lalu. Dia bersama pemuda-pemudi dari sembilan negara di antaranya Rwanda, Pakistan, Uganda, Kenya, Nigeria, El Salvador, India, Peru dan Guetamala mempersentasikan project-nya, mengikuti workshop peningkatan sanitasi, community engagement, dan social enterprise.

Menutup wawancara, Aina berharap melalui program EMCEKAQU bisa membuat Indonesia bebas BAB sembarang di tahun 2030. Serta makin banyak anak muda yang fokus di bidang sanitas dan air bersih. “Saat ini mayoritas anak muda fokus di bidang pendidikan. Sedikit sekali anak muda yang terlibat di sanitasi, padahal sanitasi dan air bersih itu penting dan masuk SDGs,” tutupnya.

 

197

Relawan TurunTangan Banjarmasin menunjukkan komitmennya untuk terus mendorong masyarakat gemar membaca. Melalui program Tikar Baca yang diinisiasi empat bulan lalu, relawan menggelar ratusan buku di Kalsel Book Fair 2017 di Lapangan Murdjani, Banjarbaru, Jumat-Minggu (31 Maret-9 April).

Berbeda dari stand lainnya yang menyuguhkan berbagai buku untuk dijual, stand Tikar Baca justru memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk membaca buku tanpa dipungut biaya. “Buku-buku yang kami sajikan tidak ada yang dijual, masyarakat bebas baca buku gratis di tempat,” ujar Koordinator TurunTangan Banjarmasin Dede.

Dari hasil pantauan, banyak masyarakat khususnya anak-anak yang mengunjungi stand Tikar Baca. Bukan karena bisa membaca gratis saja, tetapi dekorasi stand yang unik menarik perhatian mereka untuk berkunjung. “Yang datang lebih banyak anak-anak bersama orang tua mereka. Tapi anak mudanya banyak juga,” kata Dede.

Keikutsertaan Tikar Baca dalam Kalsel Book Fair, mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Walikota Banjarmasin, wakil walikota Banjarbaru, anggota DPR-RI perwakilan Kalimantan Selatan, dan anggota DPRD Tanah bumbu menyatakan dukungannya. Sejumlah akademisi, pengusaha dan sastrawan pun mendukung penuh Tikar Baca dalam upayanya meningkatnya minat baca masyarakat Banjarmasin. “Generasi literasi adalah pewaris masa depan, karena membaca adalah pintu menguasi ilmu pengetahuan,” ujar Walikota Banjarmasin Ibnu Sina yang tertulis di poster yang diunggah di instagram @turuntanganbjm.

Pada akhirnya, kehadiran Tikar Baca pada book fair juga menggerakkan masyarakat untuk menyumbangkan buku-buku baik bekas maupun baru. “Banyak yang kasih sumbangan buku juga, tapi masih kurang buku bacaan untuk anak-anak,” ungkap Dede.

Untuk itu Dede sangat berharap, akan semakin banyak masyarakat yang mau mendonasikan buku kepada TurunTangan Banjarmasin.

218

Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) setiap tanggal 25 Maret. Peringatan Earth Hour sudah memasuki satu dekade di seluruh dunia dan sembilan tahun di Indonesia.

Perayaan Earth Hour tak terbatas hanya dengan mematikan lampu penerangan di ikon-ikon kota. Setiap masyarakat bisa ikut berpartisipasi mematikan lampu dan alat elektronik selama satu jam, dimulai pukul 20.30-21.30, di mana pun mereka berada.

Aksi mematikan lampu tersebut dilakukan untuk mengingatkan masyarakat akan perubahan iklim yang terjadi di dunia. Salah satu cara menunda pemanasan global dan krisis lingkungan adalah menghemat energi. Dalam waktu satu jam saja, mampu mengistirahatkan pembangkit listrik dan menghemat energi sekian MWh. Seperti yang dirasakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Yogyakarta pada perayaan Earth Hour kemarin, mereka mencata terjadi penghematan energi sebesar 264 MWh atau 7,58 persen dibanding penggunaan biasa.

Manfaat perayaan Earth Hour disadari oleh relawan TurunTangan Banten. Mereka membuat nge-DAB (nge-Dukung Aksi untuk Bumi). Yaitu mengajak anak-anak muda dan komunitas yang ada di Banten untuk ikut terlibat dalam mengurangi dan menghemat energi listrik selama 60 menit.

Acara dimulai dengan mematikan lampu serentak pada pukul 20.30-21.30 di area Bintaro Jaya Xchange Mall. Lalu peserta dan masyarakat diajak menyalakan lilin. Perayaan ini juga diisi dengan pertunjukkan musikalisasi puisi, musik akustik, perkusi tradisional dari beberapa komunitas yang hadir.

Aksi ini menarik perhatian warga. Mereka terlihat antusias dan ikut serta dalam perayaan. “Kami berharap apa yang kami lakukan dapat berdampak baik dan seluruh masyarakat tergerak untuk ikut turun tangan mengurangi global warming bersama-sama,” ujar Koordinator TurunTangan Banten Yana Handayana.

386

Setelah sukses mengadakan diskusi Generasi Melek Politik  (GMP) satu bulan lalu, TurunTangan kembali mengadakan diskusi GMP, Sabtu (27/5) di @america, Mal Pacific Place Lantai 3, Jakarta.

18767611_673021159561653_7326896231473366073_n

Mengusung tema “Ready to Get Political: Why Does It Matter for the Youth”,  acara tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, Ekonom dan Politikus Faisal Basri, Pengamat Hubungan Internasional Suzie Sudarman, dan Social Media Influencer Marco Ivanos.

18700117_673021162894986_1378653838307997554_n

Diskusi GMP bertujuan untuk membuat generasi milenial tidak lagi apatis terhadap politik. “Apatisme politik milenial terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman politik,” ujar Social Media and Campaigner Neildeva Despendya.

18765982_673020036228432_7445834100156985141_n

GMP sendiri merupakan gerakan edukasi politik untuk anak muda. Kegiatannya diawali dengan diskusi-diskusi santai yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga, salah satunya yaitu QLUE, sebuah platform untuk masyarakat agar dapat memberikan laporan apapun secara langsung kepada pemerintah maupun swasta.

WhatsApp Image 2017-05-27 at 22.21.25

“Semoga anak muda semakin melek politik. Memahami mengapa peran mereka dibutuhkan, kenapa harus bergerak dan berkontribusi dalam gerakan di sekitarnya,” kata Neildeva, berharap.

344

Turun tangan tidak harus dengan aksi di jalan. Bisa dilakukan banyak cara salah satunya mendampingi para pelajar sekolah agar berprestasi dan melakukan kegiatan positif. Seperti yang dilakukan oleh TurunTangan Pekanbaru yang melakukan pendampingan persiapan lomba terhadap siswa-siswi SMA Negeri 1 Pekanbaru.

Sekolah tersebut mengikuti Pekan Kontitusi (Pekon) yakni suatu kegiatan yang dirancang oleh Pusat Study Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, program yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan berupa debat konstitusi, cerdas cermat, karya tulis, pidato konstitusi berbahasa inggris antar SMA se-Sumatera.

TurunTangan Pekanbaru mulai mendampingi SMA Negeri 1 Pekanbaru sejak November 2016 hingga Februari 2017, dimulai dari pelatihan sebelum keberangkatan dan pada saat perlombaan. “Proses pendampingan kami mulai dari substansi materi, etika komunikasi hingga mental psikologis,” ujar Relawan TurunTangan Pekanbaru Irhamni.

TurunTangan Pekanbaru membuat klub debat di sekolah tersebut pada tahun 2013. Relawan mengajarkan debat kepada anggota klub dengan pendekatan filosofi kekuatan kata-kata. Suatu kalimat akan berakhir di saat mulut mulut berhenti berbicara sebagai penegas tanda baca titik. Makna kalimat bergaung tanpa batas ruang dan waktu. Membuat orang lain belok ke kiri, ke kanan, jalan di tempat, mundur atau melakukan perubahan dalam hidupnya.

Filosofi itulah yang akhirnya mengantarkan SMA Negeri 1 Pekanbaru menjadi juara 1 lomba karya tulis konstitusi, juara 2 lomba debat konstitusi dan juara umum pada Pekon.

253

Seringkali kita menjumpai paku yang menancap di pohon. Padahal penggunaan paku, sekrup atau baut untuk menempelkan sesuatu di pohon dapat menggangu pertumbuhan pohon. Dalam jangka panjang, pohon-pohon tersebut bisa melemah, akan mudah tumbang dan cepat mengalami kematian.

Kematian pohon di ruang publik yang tidak segera ditangani akan membahayakan manusia yang beraktivitas di sekitarnya. Menyelamatkan pohon dari paku bukan hanya menyelamatkan pohon dari kematian, tapi juga akan menyelamatkan kehidupan, mengingat pohon menghasilkan oksigen bagi makhluk hidup.

Menyadari hal tersebut TurunTangan Medan rutin melakukan razia paku pohon di sekitaran Jalan Juanda Medan. Aksi yang sudah dilakukan sebanyak tiga kali ini juga dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia yang jatuh pada 21 November.

Razia ini menyisir seluruh pohon sepanjang jalan itu. Para relawan mencabut paku liar bekas papan kampanye mau pun reklame. “Mari sama-sama lestarikan Kota Medan dengan tidak memasang spanduk/brosur di pohon,” begitu  caption yang tertulis di Instagram TurunTangan Medan beberapa waktu lalu.

232

TurunTangan mendorong warga perkotaan untuk mengembangkan perkebunan mandiri di perumahan masing-masing yang dikelola secara kelompok melalui gerakan Bangun Jakarta (Bajak).

Program urban farming yang dilaksanakan sejak dua bulan lalu di Kelurahan Lenteng Agung dan kantor Federasi serikat Panasonic Gobel, Pasar Rebo telah menghasilkan sayur-sayuran organik siap panen.

Ada dua macam sayur organik yang dipanen, yakni sawi dan salada. Cabai dan Tomat yang ditanam sebentar lagi juga akan panen.

Koordinator Bajak Ajeng mengatakan warga Lenteng Agung dan karyawan Panasonic tak dibiarkan begitu saja setelah pelatihan. Para relawan melakukan pendampingan secara offline maupun online. Antusias peserta untuk menanam sendiri di rumah masing-masing memang sangat tinggi. Terbukti dari ramenya grup whatsapp di mana peserta berbagi foto hasil tanaman mereka dan saling berbagi solusi tentang hambatan mereka pada saat menanam di rumah.

“Kami terus memantau perkembangan tanaman jangka panjang. Mereka juga tertarik buat belajar teknik penanaman lain seperti hidroponik dan vertikultur,” kata Ajeng.

245

Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia. TurunTangan Binjai membuat project Passioniversity, sebuah program yang bertujuan menggali, membentuk, dan mengasah passion (minat dan bakat) anak.

Passioniversity dilaksanakan satu kali dalam seminggu di sekretariat TurunTangan Binjai yang berlokasi di Jalan Mt. Haryono No. 235 Pasar V Jati Karyawa Tandem.

Koordinator TurunTangan Binjai Latifah Hanim Lubis mengatakan setelah minat dan bakat anak terasah, mereka akan mengembangkan passion personality profesional. Yang nantinya bisa menjadi profesi alternatif ketika akademis tidak bisa menjadi tangga satu-satunya mencari lapangan pekerjaan. “Dengan passion-nya mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” Kata Hanim.

Nantinya mereka akan didorong untuk mampu tampil di depan dan menamkan nilai-nilai bahwa anak muda harus berada di depan bukan menjadi follower. Di akhir tahun, mereka juga akan diberikan ruang dan panggung passioniversity untuk menunjukkan passion yang sudah dipelajari kepada masyarakat. “Panggung passioniversity bertujuan untuk menyadarkan para orang tua bahwa anak-anak mempunyai cita-cita yang harus diwujudkan dan usaha yang harus diapresiasi,” jelas Hanim.

TurunTangan Binjai yakin melalui project ini bisa memaksimalkan potensi anak-anak Binjai. “Kami sadar ini bukan kerja singkat, tapi kami yakin bisa,” ujar Hanim.

Selain itu, TurunTangan Binjai juga membuat project Creative Women yang rencananya akan dimulai pada 11 Maret ini. Kalau Passioniversity untuk anak-anaknya, Creative Women diperuntukkan untuk ibu-ibunya. Para ibu akan diberikan capacity building untuk menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya. “Kalau cita-cita si anak sudah keren tapi orang tuanya tidak sejalan dengan mereka, tetap tidak akan terealisasi mimpinya. Makanya orang tuanya harus keren,” tutup Hanim.

287

Khalisa Qairen Sakhi (1) asal Bireun, sudah berbulan-bulan tergolek lemah. Benjolan sebesar bola tenis di mata kanannya membuatnya lebih banyak diam karena membatasi pergerakannya.

Anak pasangan Abu Bakar dan Sri Wahyuni ini divonis menginap kanker mata oleh dokter 10 bulan lalu. Awalnya mata memerah, terjadi pembengkakan dan semakin membesar. Kini sel-sel kanker itu telah menjalar ke otak, sehingga dokter menyatakan penyakit Khalisa sudah sulit untuk di sembuhkan.

Meskipun begitu, kedua orang tua Khalisa tetap optimis. Anaknya masih bisa sembuh. Mereka membawa Khalisa ke Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital Medan untuk menjalani pengobatan.

Tahun lalu, pengobatan Khalisa ditanggung oleh sebuah yayasan budha. Sempat membaik, tetapi akhir tahun lalu kambuh lagi dan langsung mengganas dua kali lipat.

Saat ini, satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah kemoterapi. Seperti yang diketahui biaya untuk sekali kemo cukup besar. Sehingga Khalisa membutuhkan bantuan kita semua.

Sepupu Khalisa merupakan relawan TurunTangan Binjai. Mengetahui hal tersebut, TurunTangan Binjai tergerak membantu Khalisa dengan membuka donasi dan sampai sekarang masih dibuka. “Kanker bukan penyakit seperti demam yang sekali berobat bisa sembuh. Butuh banyak biaya jadi tidak bisa hanya sekali bikin penggalangan dana lalu selesai. Jadi tidak akan berhenti sampai ada vonis Khalisa sembuh,” ujar Koordinator TurunTangan Binjai, Latifah Hanim Lubis.

Menurut Hanim, beberapa relawan TurunTangan Binjai adalah pendamping anak-anak penderita kanker. Sehingga tak hanya membuka donasi, mereka pun sering menjenguk Khalisa di rumah sakit. “Dokter bilang Khalisa sulit disembuhkan. Tapi orang tuanya tetap berusaha. Siapa yang tega membiarkan semangat orang tua yang punya ikhtiar sebesar itu,” ujarnya.

Hanim melanjutkan, sejak lima tahun mendampingi anak-anak penderita kanker, banyak penderita yang meninggal dunia karena usaha yang dilakukan belum maksimal. Banyak orang tua yang langsung pasrah padahal anak-anak juga punya hak untuk diperjuangkan. “Bertemu dengan orang tua Khalisa yang berjuang seperti ini, membuat kami tergerak untuk berjuang juga,” kata Hanim.

Bagi yang tergerak ingin membantu Khalisa dapat menyalurkan bantuan ke rekening Mandiri Syariah 7710203037 atas nama Sara Desfi Siregar. Untuk perkembangan kesehatan Khalisa dapat dilihat di instagram @turuntangan_binjai.

 

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]