Home Authors Posts by Yus Naeni

Yus Naeni
49 POSTS
Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

314

Seringkali kita menjumpai paku yang menancap di pohon. Padahal penggunaan paku, sekrup atau baut untuk menempelkan sesuatu di pohon dapat menggangu pertumbuhan pohon. Dalam jangka panjang, pohon-pohon tersebut bisa melemah, akan mudah tumbang dan cepat mengalami kematian.

Kematian pohon di ruang publik yang tidak segera ditangani akan membahayakan manusia yang beraktivitas di sekitarnya. Menyelamatkan pohon dari paku bukan hanya menyelamatkan pohon dari kematian, tapi juga akan menyelamatkan kehidupan, mengingat pohon menghasilkan oksigen bagi makhluk hidup.

Menyadari hal tersebut TurunTangan Medan rutin melakukan razia paku pohon di sekitaran Jalan Juanda Medan. Aksi yang sudah dilakukan sebanyak tiga kali ini juga dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia yang jatuh pada 21 November.

Razia ini menyisir seluruh pohon sepanjang jalan itu. Para relawan mencabut paku liar bekas papan kampanye mau pun reklame. “Mari sama-sama lestarikan Kota Medan dengan tidak memasang spanduk/brosur di pohon,” begitu  caption yang tertulis di Instagram TurunTangan Medan beberapa waktu lalu.

290

TurunTangan mendorong warga perkotaan untuk mengembangkan perkebunan mandiri di perumahan masing-masing yang dikelola secara kelompok melalui gerakan Bangun Jakarta (Bajak).

Program urban farming yang dilaksanakan sejak dua bulan lalu di Kelurahan Lenteng Agung dan kantor Federasi serikat Panasonic Gobel, Pasar Rebo telah menghasilkan sayur-sayuran organik siap panen.

Ada dua macam sayur organik yang dipanen, yakni sawi dan salada. Cabai dan Tomat yang ditanam sebentar lagi juga akan panen.

Koordinator Bajak Ajeng mengatakan warga Lenteng Agung dan karyawan Panasonic tak dibiarkan begitu saja setelah pelatihan. Para relawan melakukan pendampingan secara offline maupun online. Antusias peserta untuk menanam sendiri di rumah masing-masing memang sangat tinggi. Terbukti dari ramenya grup whatsapp di mana peserta berbagi foto hasil tanaman mereka dan saling berbagi solusi tentang hambatan mereka pada saat menanam di rumah.

“Kami terus memantau perkembangan tanaman jangka panjang. Mereka juga tertarik buat belajar teknik penanaman lain seperti hidroponik dan vertikultur,” kata Ajeng.

328

Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia. TurunTangan Binjai membuat project Passioniversity, sebuah program yang bertujuan menggali, membentuk, dan mengasah passion (minat dan bakat) anak.

Passioniversity dilaksanakan satu kali dalam seminggu di sekretariat TurunTangan Binjai yang berlokasi di Jalan Mt. Haryono No. 235 Pasar V Jati Karyawa Tandem.

Koordinator TurunTangan Binjai Latifah Hanim Lubis mengatakan setelah minat dan bakat anak terasah, mereka akan mengembangkan passion personality profesional. Yang nantinya bisa menjadi profesi alternatif ketika akademis tidak bisa menjadi tangga satu-satunya mencari lapangan pekerjaan. “Dengan passion-nya mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” Kata Hanim.

Nantinya mereka akan didorong untuk mampu tampil di depan dan menamkan nilai-nilai bahwa anak muda harus berada di depan bukan menjadi follower. Di akhir tahun, mereka juga akan diberikan ruang dan panggung passioniversity untuk menunjukkan passion yang sudah dipelajari kepada masyarakat. “Panggung passioniversity bertujuan untuk menyadarkan para orang tua bahwa anak-anak mempunyai cita-cita yang harus diwujudkan dan usaha yang harus diapresiasi,” jelas Hanim.

TurunTangan Binjai yakin melalui project ini bisa memaksimalkan potensi anak-anak Binjai. “Kami sadar ini bukan kerja singkat, tapi kami yakin bisa,” ujar Hanim.

Selain itu, TurunTangan Binjai juga membuat project Creative Women yang rencananya akan dimulai pada 11 Maret ini. Kalau Passioniversity untuk anak-anaknya, Creative Women diperuntukkan untuk ibu-ibunya. Para ibu akan diberikan capacity building untuk menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya. “Kalau cita-cita si anak sudah keren tapi orang tuanya tidak sejalan dengan mereka, tetap tidak akan terealisasi mimpinya. Makanya orang tuanya harus keren,” tutup Hanim.

360

Khalisa Qairen Sakhi (1) asal Bireun, sudah berbulan-bulan tergolek lemah. Benjolan sebesar bola tenis di mata kanannya membuatnya lebih banyak diam karena membatasi pergerakannya.

Anak pasangan Abu Bakar dan Sri Wahyuni ini divonis menginap kanker mata oleh dokter 10 bulan lalu. Awalnya mata memerah, terjadi pembengkakan dan semakin membesar. Kini sel-sel kanker itu telah menjalar ke otak, sehingga dokter menyatakan penyakit Khalisa sudah sulit untuk di sembuhkan.

Meskipun begitu, kedua orang tua Khalisa tetap optimis. Anaknya masih bisa sembuh. Mereka membawa Khalisa ke Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital Medan untuk menjalani pengobatan.

Tahun lalu, pengobatan Khalisa ditanggung oleh sebuah yayasan budha. Sempat membaik, tetapi akhir tahun lalu kambuh lagi dan langsung mengganas dua kali lipat.

Saat ini, satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah kemoterapi. Seperti yang diketahui biaya untuk sekali kemo cukup besar. Sehingga Khalisa membutuhkan bantuan kita semua.

Sepupu Khalisa merupakan relawan TurunTangan Binjai. Mengetahui hal tersebut, TurunTangan Binjai tergerak membantu Khalisa dengan membuka donasi dan sampai sekarang masih dibuka. “Kanker bukan penyakit seperti demam yang sekali berobat bisa sembuh. Butuh banyak biaya jadi tidak bisa hanya sekali bikin penggalangan dana lalu selesai. Jadi tidak akan berhenti sampai ada vonis Khalisa sembuh,” ujar Koordinator TurunTangan Binjai, Latifah Hanim Lubis.

Menurut Hanim, beberapa relawan TurunTangan Binjai adalah pendamping anak-anak penderita kanker. Sehingga tak hanya membuka donasi, mereka pun sering menjenguk Khalisa di rumah sakit. “Dokter bilang Khalisa sulit disembuhkan. Tapi orang tuanya tetap berusaha. Siapa yang tega membiarkan semangat orang tua yang punya ikhtiar sebesar itu,” ujarnya.

Hanim melanjutkan, sejak lima tahun mendampingi anak-anak penderita kanker, banyak penderita yang meninggal dunia karena usaha yang dilakukan belum maksimal. Banyak orang tua yang langsung pasrah padahal anak-anak juga punya hak untuk diperjuangkan. “Bertemu dengan orang tua Khalisa yang berjuang seperti ini, membuat kami tergerak untuk berjuang juga,” kata Hanim.

Bagi yang tergerak ingin membantu Khalisa dapat menyalurkan bantuan ke rekening Mandiri Syariah 7710203037 atas nama Sara Desfi Siregar. Untuk perkembangan kesehatan Khalisa dapat dilihat di instagram @turuntangan_binjai.

 

508

Indonesia sedang mengalami darurat sampah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Komunitas Peduli Lingkungan Greeneration, Indonesia menghasilkan sampah rumah tangga tak kurang dari 175.000 ton per hari. Sebagian sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) dan laut karena  masyarakat dan pemerintah belum mampu mengolahnya dengan baik.

Mayoritas sampah yang terbuang di lautan adalah sampah plastik. Hasil riset Jenna R Jambeck di www.sciencemag.org pada 12 Februari 2015 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam dan Sri Langka.

Dalam riset tersebut, Indonesia disebut bertanggung jawab atas 3,2 juta ton sampah plastik yang mengambang di lautan. Biota laut, seperti plankton, ikan, dan burung-burung laut, bisa saja mengonsumsi sampah plastik itu. Padahal banyak orang Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari laut dan hasilnya. Jika ini terus menerus dibiarkan terjadi maka ancamannya adalah manusia itu sendiri. Zat-zat berbahaya yang terkandung dalam pastik mengurai dalam tubuh biota laut. Ketika masuk ke dalam tubuh manusia tentu dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Kerugian lain yang terjadi akibat sampah bagi manusia pernah melanda Indonesia pada 21 Februari 2005. Tumpukan sampah longsor dan menghapus dua kampung di daerah Bandung dari peta. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok tertimbung sampah yang berasal dari TPA Leuwi Gajah. Sekitar 157 orang terkubur dan ratusan keluarga kehilangan harta benda. Maka, untuk mengingatkan masyarakat akan bahayanya sampah, Kementrian Lingkungan Hidup menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Menyongsong HPSN, TurunTangan mengajak anak muda di seluruh Indonesia untuk mengatasi permasalahan sampah di daerahnya masing-masing. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti bersih-bersih lingkungan sekitar, memilah sampah organik dan anorganik, melakukan penyuluhan pengelolaan sampah yang baik kepada masyarakat, dan lain-lain.

Saat ini, sudah ada enam komunitas TurunTangan yang akan melakukan aksi sosial:  TurunTangan Lhokseumawe, Pidie, Langsa, dan Subulussalam dengan aksi bersih-bersih “Cleaning City”, TurunTangan Jakarta berkolaborasi dengan Rumah Belajar Rawamangun dan Komunitas Dongeng Indonesia akan membagikan tong sampah kepada warga Rawamangun Jakarta Timur, dan TurunTangan Bandung membuat prakarya dari sampah bareng anak-anak rumah susun.

Kamu bisa menginisiasi gerakan baru, menduplikasi gerakan yang sudah ada atau bergerak bersama relawan TurunTangan di enam daerah tersebut. Rangkul kanan kirimu, ajak mereka turun tangan menyelamatkan bumi  untuk masa depan yang lebih baik. Informasi lebih lanjut bisa kontak kami melalui email relawan@turuntangan.org.

Pejuang, bukan? Hadapi!

1147

Hari Relawan Sedunia atau International Volunteer Day (IVD) dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations pada 5 Desember 1985, sebagai ucapan terima kasih kepada relawan atas usaha mereka. Peringatan Hari Relawan Sedunia kemudian diperingati oleh mayoritas penduduk dunia, termasuk Indonesia. Menyambut hari penting bagi relawan tersebut, beberapa waktu lalu TurunTangan Jakarta membuat tantangan untuk para relawan: berbagi cerita unik dan kesannya ketika menjadi relawan di Instagram.

Yuk, simak cerita mereka. Yang belum pernah ikut kegiatan kerelawanan, habis baca dijamin tertarik ikut kegiatan kerelawanan. Yang sudah ikut, makin cinta sama dunia kerelawanan.

Adini Aprilia, TurunTangan Binjai: Banyak Hal Positif yang Didapat

P1100963 copy

Sudah dua tahun aku menggeluti dunia kerelawanan, dunia partisipasi nol rupiah ini. Dan sekarang aku ditanya “bagaimana kesan selama menjadi relawan?”

Jadi relawan itu, sesuatu. Banyak banget manfaat yang bisa didapatkan. Susah untuk dijelaskan. Kalau bahasanya orang karo sih ‘laterkataken’ atau ‘payah bilang lah’. Soalnya banyak banget hal-hal positif yang aku dapat selama jadi relawan. Bisa dapat ilmu baru apalagi tentang sosial, lebih tahu kondisi sosial masyarakat Indonesia, meningkatkan rasa simpati, bisa kemana-mana, dan dapat teman baru. Hal-hal itu, bikin hati jadi lebih bahagia. Dan yang terpenting, mengajarkan aku untuk lebih bersyukur dan bertanggung jawab dengan kewajiban sendiri.

Enggak tahu ya, jadi relawan itu kan banyak memberi, baik materi, tenaga, bahkan waktu. Tapi kalau dirasakan, sepertinya malah aku yang banyak menerima. Senang rasanya saat melihat orang lain tertawa karena kita.

Ada pengalaman paling berkesan saat menjadi relawan. Saat mengunjungi pengungsi bencana Sinabung, ketemu anak umur 4 tahun namanya Desti. Melihat dia ketawa dan dia memelukku erat di gendongan, membuat aku terharu sekali. Jadi sebenarnya pepatah “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah” itu benar. Dan aku sudah membuktikannya.

Jadi, giliran kamu kapan? Yuk, jadi relawan. Karena relawan tidak dibayar bukan karena tidak bernilai, namun karena tak ternilai.

Christian Herlando, TurunTangan Malang: Belajar Bersyukur

1b180d144e8844aea4c6d82679e1125d_16113013Menjadi relawan merupakan salah satu cara bagaimana kita dapat bersyukur. Melalui kegiatan- kegiatan positif kerelawanan salah satunya menolong orang lain. Kita dapat belajar, bahwa hidup tidak sekedar untuk membahagiakan diri sendiri.

Bergabung dengan teman – teman TurunTangan Malang menyadarkan saya bahwa masih banyak orang baik yang mau peduli terhadap sesamanya. Menjadi relawan bukan suatu hal yang mudah, tetapi dengan bersama – sama, kita dapat membuat sebuah perubahan besar. Karena kami generasi yang tidak tinggal diam dan mendiamkan adanya sebuah permasalahan.

Ini kami, pemuda yang terus TurunTangan, bergerak dan berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.

Lia Maisarah, TurunTangan Lhokseumawe: Jadi Lebih Bersemangat dan Punya Tujuan

9cd06ff3fd035a11fc8f232ce9e4fde3_16122706

Berawal dari keisengan dan rasa penasaran, saya mencoba mendaftar menjadi relawan, yang saat itu memang sedang open recruitment.  Awalnya saya berfikir untuk apa saya bersusah payah hanya demi jadi seorang relawan yang hanya buang-buang waktu saya saja. Namun, seiring waktu bersama dengan relawan yang lain bahwa menjadi relawan adalah pilihan bukan paksaan.

Di saat saya dalam kesusahan mereka mampu merangkul saya untuk terus semangat dan pantang menyerah. Selalu sesuai dengan semboyan TurunTangan, pejuang bukan? Hadapi! Saya sadar, bahwa di luar sana banyak anak-anak yang mengalami keterbatasan dalam pendidikan, namun tak pernah mengeluh dan padam semangatnya. Mereka selalu terlihat ceria dan gembira dan dengan bangga menceritakan cita-citanya.

Dengan semangat mereka jadi pembelajaran saya untuk bisa tetap semangat. Sehingga, niat awal saya yang cuma-cuma kini bisa menjadi berguna dan terarah. Saya punya tujuan dan punya mimpi untuk bisa membantu adik-adik yang memiliki keterbatasan pendidikan, untuk terus berjuang. Saat ini, demi bisa berbagi dengan adik-adik hujan badai dan panas terik sekalipun bahkan tak lagi menyurutkan semangat saya.

Relawan adalah mereka yang dengan sukarela membantu orang tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Dengan pengalaman yang luar biasa, yang bahkan belum tentu mampu kita dapatkan di bangku perkuliahan ataupun ketika kehidupan sehari-hari. Karena bagi relawan mampu mendapatkan senyum saja dan doa dari orang yang mereka bantu adalah hal yang sangat luar biasa, yang bahkan takkan mampu jika kita menilainya dalam bentuk rupiah.

Al-Maidah, TurunTangan Medan: Mendapatkan Inspirasi Baru

1518350_388385734691865_3330943133149814893_n

Pengalamanku ketika menjadi relawan Kelas Inspirasi Deli Serdang.  Awalnya tidak pernah menyangka bahwa sekolah yang akan menjadi target Hari Inspirasi adalah sekolah “marginal” yang jaraknya lumayan jauh dari kota Medan. Yakni, SDN 106156 Klumpang Kebun, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Perjalanan menuju sekolah benar-benar butuh perjuangan, kondisi hujan rintik-rintik sehingga mengakibatkan jalanan licin dan sebagian banjir. Setelah beberapa waktu sempat salah jalan sehingga beberapa relawan nyasar di perkebunan tebu-tebu tak berpenghuni. Hingga akhirnya menemukan beberapa rumah kemudian bertanya kepada warga. Pertama sekali sampai di sekolah, pandangan kami dikejutkan dengan halaman sekolah yang banjir. Siswa-siswi sekolah itu banyak yang tidak hadir. Bahkan guru-guru juga bingung dengan kedatangan kami di sekolah mereka.

Walau situasi dan kondisi tidak mendukung, tetapi kami tetap bersemangat untuk masuk kelas, berbagi cerita, pengalaman, inspirasi untuk mewujudkan mimpi anak negri. Mirisnya, ketika ditanya banyak dari anak-anak yang tidak tahu apa cita-cita mereka, tugas kami hanya memberikan pemahaman serta penjelasan mengenai cita-cita yang sesuai dengan diri anak-anak. Sampai di penghujung Hari Inspirasi, kami memberikan kertas kecil untuk anak-anak menuliskan cita-cita mereka yang kemudian ditempelkan di pohon cita-cita yang telah kami sediakan. Hingga akhir acara, diisi dengan menerbangkan balon sebagai simbolis bahwa cita-cita mereka setinggi langit.

Hari Inspirasi “Sehari mengajar, seumur hidup menginspirasi” adalah momen yang tak akan pernah terlupakan karena sepertinya bukan anak-anak yang terinspirasi tetapi kami para relawan yang sangat terinspirasi dan terharu dengan kondisi anak-anak di sekolah tersebut. Bahkan, jika diberi kesempatan untuk kembali diamanahkan pada Hari Inspirasi, kami para relawan akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Karena pengalaman dan cita-cita itu ditumbuhkan bukan dicari. Pejuang bukan? Hadapi!

Fauzan Martak, TurunTangan Jakarta: Kaya Pengalaman

IMG-20161128-WA0032

Tulisan ini enggak ada hubungannya sama anak muda yang merasa dirinya menjadi relawan saat momen untuk mendukung sosok. Tulisan saya ini tertuju untuk para anak muda yang sabtu dan minggunya dihabiskan untuk peduli dan berkontribusi nyata akan permasalahan bangsanya.

Berbicara mengenai relawan hari ini, menurut saya, relevan dengan gaya hidup anak muda Indonesia masa kini. Kenapa? Karena banyak anak muda Indonesia yang mulai sadar akan cerita perjuangan para pahlawan yang dulu memperjuangkan bangsanya, yaitu Indonesia.

Selama saya sekolah dan belajar sejarah enggak ada cerita, para pahlawan yang memilih berjuang dengan alasan karena perjuangan lagi jadi tren di luar negeri, lagi viral di negara A, dan lagi booming di negara B.

Alasan para pejuang memilih untuk berjuang, karena mereka sadar, bahwa bangsanya lagi dijajah. Hanya, mereka enggak memilih untuk berdiam diri atas permasalahan bangsanya. Mereka memilih untuk menjadi relawan tanpa pamrih dan ikhlas untuk menjadi bagian sejarah perubahan untuk memerdekan bangsanya.

Dua tahun sudah saya menjadi relawan. Keluarga, saudara, teman banyak yang menanyakan, “Alasan apa yang membuat saya jadi relawan? Kenapa mau menghabiskan waktu kamu, cuma buat aktifitas 0 rupiah?” Sulit menjelaskan, kalo mereka enggak ikut berpatisipasi dan merasakan langsung aktivitas kerelawanan. Paling jawaban simpelnya, “Biar masa muda enggak dihabiskan buat gabut, pacaran atau kenikmatan dunia semata seperti dugem, nge-mall, nge-bigo, dan lain-lain.”

Kalau anak muda sudah berikhtiar untuk menjadi bagian dari solusi dengan niat tulus, komitmen enggak akan jadi murah, waktu enggak ada yang enggak produktif, dan kelak akan menjadi orang yang kaya bukan dari segi materi melainkan pengalaman dan cerita yang dapat dibagikan ke para anak dan cucu kita. Yuk, menjadi bagian anak muda dengan sensasi rakyat asli Indonesia terdahulu. Yang siap berjuang untuk bangsa dan negaranya … Pejuang bukan? Hadapi!

Tika We, KNM: Belajar Kerja Tim

KNM Tingkatkan Wawasan Kebangsaan 1

Kelas Negarawan Muda (KNM) pernah melakukan kunjungan ke kediaman Agum Gumelar. Dari Beliau kami belajar tentang kerja tim dan menghormati keputusan pemimpin tapi enggak ABS (Asal Bapak Senang). Teorinya gampang, waktu dipraktikin di komunitas kerelawanan… Ngeri-ngeri sedap!

Itulah kenapa aku betah di dunia kerelawanan, ya biar terus belajar kerja tim yang bener-bener tanpa pamrih. Kerasa banget, kerja sama relawan nol rupiah enggak bisa pakai iming-iming jabatan apalagi uang, karena mereka hadir untuk mendukung gagasan positif.  Jadi kalau mau survive otak musti diputer terus!

Alvi Kusuma, KNM: Ketemu Jodoh Baik

Belajar PPKN Asyik bersama Kelas Negarawan Muda (1)

Awalnya gabung di kegiatan kerelawanan cuman sesederhana “gue musti cari kesibukan, biar bisa secepatnya move on dari mantan.” Kata “kerelawanan” emang jauh dari dunia gue yang notabene mahasiswi farmasi dengan rute kelas-laboratorium-indekos, kelas-laboratorium-indekos. Tapi, setelah menerjunkan diri ke dunia ini, gue merasa diri “gue kemana aja selama ini?”

Manfaat jadi relawan yang gue rasain banyak banget. Kegiatan kerelawanan memberikan gue banyak hal. Ya ilmu baru, teman baru, keluarga baru. Di sini gue tahu bahwa ternyata masih banyak orang yang mau peduli sama orang lain. Di kala banyak pemuda lain yang hanya mikirin dirinya sendiri “asal gue happy“, putus asa sama bangsanya lalu memaki, di dunia kerelawanan gue menemukan orang-orang luar biasa yang mau repot-repot mikirin dan bertindak sesuatu untuk memperbaiki nasib orang lain pun mencerahkan masa depan bangsanya.  Satu nilai yang gue petik dari dunia kerelawanan ini, bahwasanya ketika lo bikin orang lain bahagia, lo juga akan bahagia atas kebahagiaan orang itu!

Dan di dunia kerelawanan, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik pula. Termasuk jodoh yang baik.

Dini Rahmafathi, TurunTangan Malang: Terhindar dari Depresi

TurunTangan Malang (2)

Relawan? Volunteer?

Konsep relawan bagi saya itu bukanlah se-RELA-nya ataupun se-SUKA-nya melainkan ia yang RELA waktu,tenaga,pikiran maupun materinya diberikan secara utuh karena ada rasa memiliki dan kesamaan visi di dalamnya.

Tiga tahun tergabung diberbagai kegiatan sosial kerelawanan mengajarkan pada saya bahwa bukan mereka yang butuh kita, tetapi kitalah yang membutuhkan mereka. Percaya enggak percaya, menjadi relawan menghindarkanmu dari depresi loh.

Ada yang pernah mengatakan “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang telah kau berikan pada negara.” Relawan? ia haruslah hadir di tengah-tengah permasalahan yang sejatinya belum mampu di selesaikan pemerintah kita. Sosial, Pendidikan, lingkungan, budaya, anak jalanan. Apapun itu, semoga menjadi ladang amal bagimu kawan.

Indah Putri, Rumbelraw: Hidup Lebih Bahagia

IMG-20150707-WA0003

Di Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw) aku bertemu dengan banyak anak-anak. Mengenal mereka dapat vitamin B lho! Vitamin apa itu? Bahagia.

Dari mereka aku belajar bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana melihat senyum dan tawa mereka yang semangat datang pagi untuk belajar meski hari minggu. Sesederhana sapaan mereka, sesederhana salam mereka dan hormat mereka. Tawa mereka itu candu yang mendorong datang disetiap minggunya.

Mengenal Relawan yang lain adalah pelajaran. Pelajaran yang tak ternilai harganya dan pengalaman yang terus bertambah tanpa biaya sepersen pun. Datang dan pergi dalam hal kerelawanan adalah hal wajar. Tapi Relawan selalu punya ruang saat kembali dan berbagi ilmunya ketika kembali datang.

Anindya Dyah, KNM: Keluarga Baru       

18 copy

Kelas Negarawan Muda pernah ada yang membuat Olimpiade Negarawan Muda (OSM). Ide OSM muncul dari seorang relawan yang memiliki keresahan melihat krisis negarawan di Indonesia. Tercetuslah untuk membuat miniatur project yg mampu diaplikasikan oleh adik-adik SMA, dan akhirnya didukung oleh seluruh teman-teman yang lain atas idenya.

Ada yang rela menginap di lokasi atau menumpang rumah kawan. Ada pula yang datang pagi buta hingga mengagetkan yang sedang tertidur, padahal baru tidur barangkali satu jam dua jam. Ada yang rela mondar-mandir mencari peralatan yang jauh dari pinggir kota ke tengah kota. Bahkan ada yang rela mencutikan diri dari kegiatannya.

Canda tawa tangis marah, kesal, repot, lelah, bahagia, dan lega menghiasi perencanaan juga saat kegiatan ini berlangsung. Kesempatan berharga dan tak ternilai seperti ini, bisa aku dapatkan karena berkumpul dengan mereka.

Mereka, yang bahkan sering tak mau disebut-sebut, sebab mereka melakukan semua karena hati yang tergerak, pakai hati dan memang senang melakukannya tanpa pamrih. Tapi mereka itulah, yang sering kalian sebut relawan.

“Relawan yang tidak ternilai bukan karena tidak berharga, tapi karena memang tidak ternilai.” Sebutan relawan itu tidak bisa dibeli, kalian harus melewati dan merasakannya langsung dan itu luar biasa!

Ada kepuasan tersendiri saat kalian bisa melakukan kegiatan positif di luar kegiatan rutinitas yang beragam latar belakangnya yang terkadang membuat jengah. Kegiatan yang independen tanpa lembaga kantor atau kampus, bebas, asik, seru, penuh kreasi dan yang paling penting … ada manfaatnya!

Falin Nur Alisa, Rumbelraw: Obat Lelah

Rumah Belajar Rawamangun

Anak-anak itu ajaib. Bisa di bayangkan gimana capek, lelah dan payahnya badan habis naik turun gunung. Waktu itu habis dari Gunung Guntur, baru sampai indekos jam 1 pagi lebih, tidur baru jam 2-an pagi.

Capeknya nauzubillah. Pagi bangun sudah berasa remah-remah badannya. Berhubung mau tidur lagi sudah enggak bisa, ya sudah saya nekat naik Go-Jek buat ke Rumbelraw. Padahal awalnya sudah minta Lizin buat enggak ikut ngajar dan istirahat. Tapi saat ketemu adik-adik Rumbelraw, sejenak bener-bener lupa sama rasa capek, pegal, dan remuknya badan. Bener-bener lupa!

539

Relawan adalah seorang yang sukarela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan keahlian untuk menolong orang lain. Menjadi relawan juga tidak mendapatkan upah atau gaji atas apa yang telah disumbangkan. Meskipun begitu

menjadi relawan akan membuatmu lebih bahagia. Kamu akan sadar bahwa kebahagian tidak melulu soal uang.

Berikut tujuh alasannya.

1. Kamu akan mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya

Pemeriksaan kesehatan gratis

Relawan TurunTangan sedang membuka pemeriksaan kesehatan gratis bagi pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung

Selama ini kamu hanya melihat bagaimana relawan bekerja di layar televisi, membacanya di koran atau majalah dan mendengar cerita dari orang-orang. Tapi ketika kamu menjadi relawan kamu akan merasakannya secara langsung, baik suka maupun duka. Misalnya kamu akan merasakan pengalaman susahnya menyalurkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan kepada korban bencana alam.

2. Kamu mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan wawasan baru

Relawan TurunTangan Jakarta sedang berdiskusi

Relawan TurunTangan Jakarta sedang berdiskusi

Sebelumnya mungkin kamu hanya tahu tentang apa yang kamu pelajari di kampus. Saat kamu menjadi relawan, kamu akan mempelajari hal-hal baru ketika terjun ke lapangan. Bagaimana cara mendistribusikan bantuan dengan baik, menghadapi rintangan dan hambatan ketika di jalan, bercengkrama dengan penduduk lokal, dan tahu tentang daerah yang kamu datangi.

3. Teman kamu akan bertambah sangat banyak

IMG-20161128-WA0026

Relawan dari seluruh Indonesia bertemu di Gathering Nasional TurunTangan 2016 di Medan

Ketika menjadi relawan, kamu akan bertemu orang-orang baru dari berbagai latar belakang. Mau tidak mau kamu harus berkenalan dan bersosialisasi dengan mereka. Teman kamu pun akan bertambah sangat banyak. Apalagi kalau kamu menjadi relawan di berbagai kegiatan/organisasi.

4. Mengasah skill kamu

berita foto

Seorang relawan TurunTangan Jakarta yang memiliki hobi videografi sedang mengambil video

Biasanya dalam kegiatan kerelawanan, organisasi/komunitas akan membutuhkan beberapa orang dengan keahlian khusus. Misalnya menulis, memotret, dan mendesain poster. Kalau kamu mempunyai keahlian-keahlian tersebut, otomatis keahlianmu akan semakin terasah.

5. Menjadi relawan membuat karirmu semakin berkembang

Salah satu dari mereka ada yang bekerja di LSM ICW (Indonesia Corruption Watch) karena memiliki passion di politik

Mengejar Setya yang tak setia ini dipelopori oleh relawan TurunTangan Medan yang memiliki passion di politik. Sekarang dia menjadi staf LSM ICW (Indonesia Corruption Watch)

Saat menjadi relawan kamu akan bertemu dengan orang-orang baru. Ini akan membantumu untuk membangun jaringan. Kamu juga dipaksa untuk bekerjasama dengan orang lain dalam bentuk tim dan waktu yang sangat cepat.

6. Kalau kamu beruntung bisa ketemu jodoh lho!

Pasangan ini merupakan relawan TurunTangan Yogyakarta yang dipertemukan di TurunTangan

Pasangan ini merupakan relawan TurunTangan Yogyakarta yang dipertemukan di TurunTangan

Jadi relawan mempertemukanmu dengan banyak orang, teman dan sahabat baru. Baik laki-laki maupun perempuan. Bisa jadi salah satu dari mereka adalah jodoh kamu yang ditakdirkan oleh Tuhan.

 7. Memberi dampak nyata dan kesempatan berbagi

Relawan TurunTangan menghibur anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung

Relawan TurunTangan menghibur anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung

Kamu tertarik menjadi relawan pasti karena tertarik atau suka dengan kegiatannya. Sehingga kamu akan menjalaninya dengan hati bukan karena paksaan dan itu membuat kamu bahagia. Ada hal lain yang kamu lakukan di luar rutinitas sehari-hari yang kadang membosankan.

Selain itu kamu akan menyadari bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan yang patut dibagi dan disyukuri. Saat kamu memberi sesuatu kepada orang lain, secara tidak sadar kamu sudah membuat mereka bahagia. Dan kamu akan merasa bersyukur bahwa kamu lebih beruntung daripada orang-orang yang kamu bantu.

Jadi tunggu apalagi, sibukkan dirimu di berbagai kegiatan kerelawanan dari sekarang agar hidupmu semakin bahagia.

437

Sejak 2014, setiap tahun, TurunTangan mengadakan Gathering Nasional (Gathnas), acara akbar yang bertujuan mempertemukan relawan TurunTangan se-Indonesia untuk menularkan semangat, ide, dan pergerakan di setiap daerah. Tahun ini Medan menjadi tuan rumah. Itu sesuai kesepakatan pada Gathnas relawan TurunTangan di Yogyakarta tahun lalu.

Gathnas 2016  dilaksanakan di LPMP Medan, Jalan Bunga Raya No. 96 Asam Kumbang. Selama empat hari dari 23-27 November. Mengangkat tema, “Semangat Kolaborasi, Sehati untuk Negeri”,  acara ini terbuka untuk umum dan terdiri dari diskusi panel dan pengabdian masyarakat.

Kamis, 24 November

Hari ini adalah hari kedatangan para relawan. Informasi dari media sosial, relawan TurunTangan Aceh dan Lhokseumawe berangkat pada Rabu malam menggunakan bus. Jumlah mereka cukup banyak, ada puluhan. Setelah menempuh perjalanan semalaman, mereka tiba pada Kamis siang dan langsung digiring oleh panitia menuju Wisma LPMP. Selama tiga hari mereka akan menginap di sini. Sementara itu relawan dari luar Medan lainnya menggunakan jalur udara dengan waktu tiba yang beragam. Ada yang sehari sebelum acara, Kamis pagi, siang dan malam, bahkan keesokan harinya.

Malam hari, relawan yang sudah datang dikumpulkan di aula. Acara pun dimulai dengan sesi perkenalan antar relawan dengan cara unik.  Sebuah games yang diiringi dengan dentuman musik. Semua tampak menikmati dan gembira. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai agenda kegiatan dan tata tertib Gathnas.

Jum’at, 25 November

Kira-kira satu jam setelah sholat subuh, panitia membangunkan peserta satu per satu. Mereka bawa sarapan sembari mengingatkan untuk segera bersiap-siap karena acara segera dimulai. Pagi itu ada kelas wawasan lingkungan dari Antonio Sipayung SP, seorang research and advocacy staff for foresty and plantation sector Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Pukul 8.00 WIB kelas dimulai. Antonio menjelaskan tentang kebijakan pemerintah yang harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Dia tidak sepakat dengan konsep pembangunan yang merusak ekosistem, seperti reklamasi di Jakarta dan Bali. “Pembangunan yang merusak lingkungan sebenarnya pembangunan untuk siapa, pemerintah berpihak kepada siapa. Para pemuda khususnya mahasiswa, seharusnya sadar kepada siapa kita harus berpihak,” ujar Antonio.

Lalu dia mengutip pendapat Tan Malaka tentang pemuda. “Bila kaum muda yang belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita cita sederhana, maka pendidikan itu lebih baik tidak diberikan sama sekali.”

Bersamaan dengan kelas itu, Head of Programme TurunTangan Chozin Amirullah memberi wawasan mengenai peran pemuda sebagai agen perubahan sosial, untuk ikut ambil bagian, terlibat menyelesaikan masalah yang ada di negaranya.

Usai kelas itu, dilanjutkan dengan seminar “Barat Timur Tetap Bergerak”. Pada sesi ini perwakilan dari lima daerah memaparkan project-nya. Ditambah pemaparan project dari TurunTangan pusat. Adapun project-project itu adalah Kelas Negarawan Muda (TurunTangan Jakarta), Swara DPR (TurunTangan Bandung), Olimpiade Sekolah Rakyat (TurunTangan Surabaya), Banjarmasin City Scale Mapping (TurunTangan Banjarmasin), Ruang Sinau (TurunTangan Malang), dan Science, Technology, Engineering and Mathematic, disingkat STEM (TurunTangan Pusat) .

Karena terbuka untuk umum, seminar Barat Timur Tetap Bergerak dihadiri oleh puluhan pemuda dari berbagai komunitas yang ada di Medan. Dan seluruh peserta merasakan banyak manfaat mengikuti seminar ini sebab mereka jadi tahu bahwa banyak cara untuk berkontribusi bagi negeri salah satunya membuat gerakan sederhana untuk menyelesiakan permasalahan di sekitarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan kelas tranparansi dan gerakan media online. Kelas transparansi disampaikan oleh Lia Toriana yang menjabat sebagai Manajer Youth Department Transparency International Indonesia. Lia mengatakan kasus korupsi di Indonesia cukup memprihatinkan. Harus banyak orang yang mau turun tangan untuk memberantasnya. “Kalau korupsinya berjemaah, melawannya tidak bisa sendiri. Untuk itu butuh komunitas,” kata Lia.

Kelas media online disampaikan oleh Alfatih Timur. Ia sempat menjadi relawan TurunTangan, kemudian menggagas crowdfunding platform KitaBisa.com. Relawan belajar mengenai bagaimana menggerakkan orang melalui media online. Dalam membuat campaign gerakan diperlukan pengetahuan yang baik agar bisa menggerakkan orang.

Dari Alfatih relawan tahu, hal yang menarik donatur untuk berdonasi adalah kasus di bidang kesehatan seperti orang sakit dan perlu segera dilakukan pengobatan atau operasi.  Serta kasus pendidikan seperti mahasiswa yang terancam DO karena tidak mampu membayar uang SPP lantaran tidak ada biaya.

Bidang kerelawanan yang bersifat sosial memang kurang menarik donator. Diperlukan strategi dalam membuat campaign: membuat narasi gerakan semenarik mungkin, singkat, padat dan jelas. “Jangan terlalu panjang, gunakan gambar dan video yang menarik simpati para donator. Cantumkan gerakan sosial tersebut ditujukan kepada siapa, lebih baik tertuju jelas seperti alumni kampus, warga kota Jakarta, alumni himpunan mahasiswa, atau lembaga yang terafiliasi dengan gerakan kita,” papar Alfatih.

Siapa penyelenggara kegiatan pun menjadi penting, maka nama baik komunitas harus dijaga agar donatur percaya dan mau tergerak untuk mendonasikan dananya disetiap kegaitan sosial relawan.

Menjelang sholat maghrib, kelas selesai. Peserta dipersilahkan kembali ke kamarnya masing-masing. Acara kemudian dilanjutkan dengan refleksi TurunTangan 2016. Setiap relawan diberi kesempatan untuk menyampaikan kritik dan sarannya kepada TurunTangan pusat untuk kemajuan TurunTangan selanjutnya.

Sabtu, 26 November

Pagi ini seluruh relawan melakukan senam pagi. Melenturkan otot-otot yang kaku sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Sinabung. Sesuai jadwal, peserta akan dibawa ke lokasi kamp pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung untuk melakukan pengabdian masyarakat.

Gunung Sinabung adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo. Memiliki ketinggian 2.451 meter. Gunung ini tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada 2010. Letusan terakhir terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sampai sekarang masih menetapkan status siaga terhadap Sinabung. Pemerintah menghimbau warga untuk meninggalkan zona merah dalam radius 4 km dari kawah yang dinyatakan sebagai wilayah tertutup. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi di beberapa lokasi kamp pengungsian. Salah satunya warga Desa Mardinding yang mengungsi di kamp pengungsian di Desa Terong Peren, Kecamatan Inderket, Kabupaten Karo.

Dua tahun lalu, relawan TurunTangan Medan sempat melakukan aksi sosial di Desa Mardinding. Tidak hanya menyalurkan bantuan berupa sembako, mereka juga membuat rumah belajar dan rumah jamur untuk membantu perekonomian warga. Kegiatan tersebut akhirnya berhenti. Pemerintah merelokasi Desa Madinding lantaran Gunung Sinabung terus batuk-batuk.

Pengabdian masyarakat ini menjadi contoh bagi relawan TurunTangan lainnya untuk ikut terlibat aktif menyelesaikan masalah yang ada di daerahnya seperti yang dilakukan oleh relawan TurunTangan Medan.

Perjalanan menuju Gunung Sinabung cukup lancar. Kabupaten Karo menyambut peserta dengan pemandangan alam yang memukau. Hutan lebat, sungai, dan perkebunan. Angkuhnya Gunung Sinabung yang masih mengeluarkan abu vulkanik nampak dari kejauhan. Menurut, relawan TurunTangan Medan, Azhar, saat itu status Gunung Sinabung memang sedang awas.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya peserta tiba di lokasi kamp pengungsian. Anak-anak pengungsi keluar berhamburan, seolah menyambut kedatangan peserta saat itu. Rupanya, mereka sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka ke rumah belajar di desa sebelah. Setiap sore, anak-anak Desa Mardinding mengikuti les tambahan. Pendidikan menjadi nomor satu bagi warga Desa Mardinding. Meski kondisi yang sangat terbatas, tak pernah menyurutkan semangat belajar anak-anak.

Peserta dibagi ke dalam tiga tim: medik, trauma healing anak-anak dan orang tua. Seluruh relawan sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Mereka membawa niat tulus membantu pengungsi untuk bisa bangkit dari penderitaan yang mereka alami. Warga pun menyambut kedatangan mereka.

Tim medik membuka pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Tim trauma healing anak-anak, mengajak anak-anak bermain games dan bernyanyi bersama. Tim trauma healing orang tua berbaur dengan para orangtua, mendengar keluhnya, sesekali memijat kaki dan tangannya.

Dari mengobrol dengan warga, terkuak masyarakat mulai stres dalam menjalani kehidupan di kamp pengungsian. Satu tahun lebih, mereka tinggal di barak-barak seadanya. Pemerintah daerah pernah menjanjikan Hunian Sementara (Huntara). Namun, sampai saat ini pembangunan Huntara belum juga dimulai. “Sosialisasinya sudah lama, tapi sampai sekarang Huntara belum juga dimulai,” ujar Devianti Boru Sembiring. Kepala Desa Mardinding Jepri Sangat berharap segera mendapat kabar soal hunian tersebut.

Jepri mengatakan jumlah warga Desa Mardinding yang mengungsi ada sebanyak 940 jiwa yang terdiri dari 268 kepala keluarga. Selain hunian, warga Desa Mardinding membutuhkan dermawan yang bersedia menjadi orangtua asuh bagi anak-anak mereka agar tidak putus sekolah. “Semangat belajar anak-anak di sini tinggi. Kami sangat mendukung tapi kami tidak ada biaya, sehingga kami berharap ada orang yang bersedia menjadi orangtua asuh agar mereka bisa sekolah tinggi,” kata Jepri.

Cuaca Karo sore itu sedang tidak baik. Langit tertutup awan tebal dan gerimis. Sahdu dan haru, itu kesan yang dirasakan. Pengabdian masyarakat membekas di hati relawan. Mereka pun pulang dengan membawa rasa syukur dan tergerak untuk terus turun tangan membantu sesama.

Sekembalinya dari Karo, acara dilanjutkan dengan pentas seni, pemilihan tuan rumah Gathnas 2017 dan api unggun.

Minggu, 27 November

Di hari penutupan Gathnas 2016, Founder Nyvara Foundation Adri, datang dan berbagi cerita kepada seluruh peserta tentang bagaimana membuat dan menjalankan gerakan yang pernah ia inisiasi.

Setelah itu, ada pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dan penyerahan sertifikat kepada perwakilan relawan dari setiap daerah. Relawan juga diminta mengungkapkan kesan-kesannya ikut Gathnas selama empat hari.

“Sebelum ke sini, di perjalanan benar-benar ingin cari ilmu dan pengalaman dari teman-teman relawan. Sepanjang perjalanan berdiskusi apa yang harus terjawab di sini. Pertanyaan kami harus terjawab. Karena kami merintis sehingga perlu. Di Gathnas ini, saya dapat hampir 90 persen jawaban atas pertanyaan itu seperti media sosial. Sampai ketemu di Gathnas 2017,” kesan relawan TurunTangan Binjai, Andini Aprilia.

 

317

Gempa berkekuatan 6, 5 Skala Richter (SR) mengguncang Provinsi Aceh pada Rabu (07/11) pagi. Ratusan meninggal dunia dan puluhan rumah rusak. Sementara warga yang selamat mengungsi di beberapa lokasi. Tak ingin berpangku tangan, relawan TurunTangan seluruh Indonesia melakukan aksi sosial dengan menggalang dana dari membuka donasi, turun ke jalan, sampai membuka posko.

Social Media and Campaigner TurunTangan Neildeva Despendya mengatakan aksi yang dilakukan setiap daerah berbeda-beda dan akan berlangsung sampai 17 Desember 2016. Di Banjarmasin, relawan TurunTangan melakukan penggalangan dana dengan cara mengamen di Kawasan Menara Pandang Banjarmasin, Jum’at (9/12). Di Lhokseumawe, relawan menggalang dana dengan menjual puding di jalan. Kemudian di Medan, relawan TurunTangan menggalang dana di Simpang Juanda Medan. Lalu di Malang, relawan menggalang dana di depan Dieng Plaza Malang. Sementara di Aceh, relawan TurunTangan membuka posko peduli Pidie Jaya dan Aceh Singkil.

Aksi penggalangan dana juga dilakukan di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan dan Yogyakarta serta akan disusul oleh beberapa daerah lainnya, seperti Jakarta, Bandung, dan Binjai. “Relawan TurunTangan Jakarta akan melakukan penggalangan dana Minggu besok di Taman Suropati,” ujar Neildeva.

Rencananya dana yang terkumpul akan disalurkan kepada relawan TurunTangan Aceh. Nantinya relawan TurunTangan Aceh yang akan menyerahkan langsung kepada korban bencana gempa. “Mereka tak hanya menyerahkan donasi saja tapi juga sembako dan melakukan trauma healing kepada korban bencana di kamp pengungsian,” katanya.

TurunTangan juga membuka donasi kemanusiaan gempa Aceh melalui rekening BCA Yayasan TurunTangan di 00 6322 6677. “Kami berharap masyarakat tergugah untuk membantu korban bencana Aceh melalui TurunTangan. Selagi kita mampu, mari saling membantu,” tutup Neildeva.

330

Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) mengadakan Pameran Foto dan Video di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta, Minggu-Jum’at (23-28/10). Kegiatan yang bertajuk “Kami Poetra dan Poetri Indonesia” ini digelar untuk mengapresiasi rekaman lensa dan cahaya puluhan relawan dokumentator komunitas ini.

KIJP merupakan perkumpulan relawan yang terdiri dari profesional yang peduli terhadap pendidikan dasar anak di kepulauan Indonesia dengan cara berbagi, menginspirasi, membangun cita-cita dan karakter. Seluruh kegiatan KIJP mengarah kepada satu tujuan yaitu kemajuan anak-anak di pulau yang memiliki tantangan dalam mendapatkan akses untuk meraih masa depan yang lebih baik.

TurunTangan  sebagai wadah bagi pemuda untuk melunasi janji kemerdekaan dengan ikut andil dalam menyelesaikan masalah yang ada di sekitar, salah satunya permasalahan pendidikan, mendukung pameran foto dan video tersebut. “Baik TurunTangan maupun KIJP memiliki visi dan misi yang sama dalam pendidikan,  untuk itu kami mendukung kegiatan KIJP dengan menjadi media partner,” ujar Social Media and Campaigner TurunTangan Neildeva Despendya.

Adapun yang dilakukan oleh TurunTangan adalah menyebarluaskan informasi kegiatan tersebut kepada masyarakat melalui sosial media. “Karena kebaikan akan menyebar lebih luas lagi jika kita berkolaborasi,” tambah Neil.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]