Home Authors Posts by Yus Naeni

Yus Naeni
49 POSTS
Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

493

“Politik itu kotor, jahat dan penuh intrik.”

Mayoritas masyarakat Indonesia berpikir demikian ketika mendengar kata politik. Stigma ini menjalar ke semua kalangan, termasuk anak muda. Alhasil, anak muda di Indonesia cenderung apatis, tak peduli dan masa bodoh.

8

Kelas Negarawan Muda (KNM) mencoba untuk mengembalikan citra baik politik di kalangan pemuda dengan menginisiasi Olimpiade Negarawan Muda (ONM) di Aula Graha Utama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (28/4/2016).

 IMG_3046 - Copy

Kompetesi pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarnageraan (PPKn) ini diikuti oleh perwakilan siswa-siswi 20 sekolah SMA se-Jabodetabek. Para peserta diajak untuk memahami politik secara utuh dan menyadari politik tidak untuk dijauhi karena lekat di kehidupan sehari-hari.

 IMG_0293 - Copy

 

Foto-foto: Fauzan Martak, Relawan TurunTangan Jakarta dan Kelas Negarawan Muda

 

383

Selama satu bulan ini seluruh umat muslim di dunia menjalankan ibadah puasa. Tak hanya menahan lapar dan haus, puasa ramadhan menjadi waktu di mana umat muslim bertarung melawan egonya, meningkatkan empati dan belajar berbagi.

Seperti yang dilakukan oleh para relawan TurunTangan Medan. Mereka turun ke jalan menggalang donasi untuk pengungsi Sinabung dan bersama dengan komunitas yang ada di Medan melakukan Sahur on The Road berbagi makanan sahur bagi orang-orang yang membutuhkan.

Di Lhokseumawe, para relawan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Budiani (Paud Aruni) menggalang dana, “Berbagi hati Rp. 20.000 untuk 1 nasi kotak”. Hasil donasi yang dikumpulkan dibelikan nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar Lhokseumawe.

Sementara di Jakarta, ada program Bangun Jakarta di mana setiap Minggu para relawan berkumpul untuk berococok tanam. Juga program Tebar Inspirasi yang membuka Gerai Baca di pelataran Rumah Relawan TurunTangan untuk meningkatkan minat baca anak-anak.

Masih banyak kegiatan yang dilakukan oleh para relawan TurunTangan selama bulan suci ini. Ini menandakan bahwa para relawan TurunTangan konsisten bergerak di manapun dan kapanpun.

Hari ini kita telah sampai di penghujung bulan suci Ramadan. Setelah sebulan kita berpuasa, kita mengakhiri bulan penuh berkah ini dengan merayakan Idul Fitri, hari kemenangan kita semua.

Semoga apa yang dilakukan oleh para relawan di atas tak berhenti sampai di sini dan akan diaktualisasikan terus menerus oleh relawan TurunTangan se-Indonesia.

Selamat merayakan hari kemenangan …

Pejuang, bukan? Hadapi!

383

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, TurunTangan Malang mengadakan kegiatan “Mari Membaca”, Sabtu (21/05/2016) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Mujtaba, Pujon Kidul, Malang, Jawa Timur. Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah binaan Ruang Sinau, Project TurunTangan Malang.

Kegiatan diawali dengan penjelasan pentingnya membaca oleh relawan TurunTangan Malang. Setelah itu siswa-siswi MI Al Mutjaba diajak untuk keluar kelas menyambut kedatangan mobil Rumah Pintar Universitas Brawijaya (UB) yang membawa ratusan buku bacaan. “Kami membagi siswa-siswi MI Al Mutjaba ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh satu relawan untuk membaca buku bersama,” kata Koordinator Umum TurunTangan Malang Bryansa Bilina.

Ketika melihat buku-buku itu, mereka terlihat sangat antusias. Tanpa disuruh, masing-masing siswa-siswa MI Al Mutjaba mengambil satu hingga dua buku. Setelah mengambil buku yang mereka inginkan, relawan tetap mendampingi para siswa membaca di sekitar halaman sekolah. Sekitar 30 menit kemudian para siswa diajak kembali ke aula sekolah.

Di akhir acara perwakilan dari Rumah Pintar UB memberikan sedikit pengetahuan mengenai membaca. Setelah itu, para siswa diminta untuk menceritakan buku yang telah mereka baca. “Kami juga menyumbangkan beberapa buku dari donatur dan diserahkan secara simbolis kepada sekolah,” ujar mahasiswi Universitas Negeri Malang yang akrab dipanggil Lina ini.

518

Sama seperti Lina, Dini Rahmafathi juga telah berbung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. Alasan bergabung saat itu, ingin mencari kegiatan di luar organisasi kampus. Saat mencari informasi di twitter, wanita yang akrab disapa Dini ini mendapati informasi oprec TurunTangan Malang. Tak menunggu lama, Dini segera mendaftarkan diri.

First impression TurunTangan itu social movement dan enggak nyangka kalau dilatar belakangi tokoh yang saya kagumi, Pak Anies Baswedan. Maka saya tertarik,” ungkapnya.

Beberapa kegiatan TurunTangan Malang yang pernah diikuti yakni Pustaka Tamasya, Jelajah Ngalam, Buku untuk Ranupane, Ruang Sinau dan Ambalwarsa. Tapi baginya, hanya Ruang Sinau dan Jelajah Ngalam yang sangat berkesan.

Jelajah Ngalam adalah kunjungan wisata di sekitar Kota Malang, dimana setiap peserta diharuskan membuat deskripsi tempat wisata yang dikunjungi. Dari kegiatan ini, peserta mengetahui bahwa Malang mempunyai wisata edukasi yang bagus dan belum banyak diketahui masyarakat. Selain itu juga belajar sejarah mengenai candi-candi yang ada di Malang. “Ternyata masing-masing candi punya cerita sendiri,” katanya.

Sementara Ruang Sinau, meskipun tidak ikut secara intens, tapi sangat berkesan karena bisa membuat siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Roudhatul Jannah Jobung, Malang juara lomba menari di acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Malang. “Yang bikin haru lagi, saat penutupan Ruang Sinau, mereka berinisiatif membuat penampilan buat kami,” ujarnya.

Terpilih sebagai Wakorum TurunTangan Malang, Dini mengaku senang. Meskipun sedang sibuk menyusun skripsi dia ingin tetap berkontribusi di TurunTangan Malang. Rencananya, Dini ingin membuat gerakan baru lagi dan mempertahankan gerakan yang sudah ada. Untuk itu, ia berharap relawan memiliki komitmen untuk terus bergerak. “Meski judulnya ‘relawan’ tapi mereka harus komitmen untuk terus bergerak,” katanya.

Biodata

Nama lengkap : Dini Rahmafathi

Nama Panggilan : Dini

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 23 Juni 1994

Kuliah : Universitas Brawijaya

Kegiatan : Volunteer di Pusat Studi Layanan Disabilitas UB, Volunteer Sosialisasi

Ruang Berbagi Ilmu, Sekertaris Eksternal Forum Mahasiswa Peduli Inklusi

UB, Wakorum TurunTangan

 

497

Bryansa Bilina, akrab dipanggil Lina, telah bergabung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. TurunTangan Malang yang terlihat sebagai komunitas yang aktif bergerak dengan beragam latar belakang anggotanya, menjadi daya tarik bagi Lina. Maka, Desember akhir 2014 Lina segera mendaftarkan diri menjadi relawan TurunTangan Malang.

Ada banyak kegiatan yang telah diikuti. Antara lain, Ruang Sinau, diskusi malam hari, Ambalwarsa, Jelajah Ngalam, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak kegiatan yang diikuti, Ruang Sinau yang paling berkesan. “Ruang Sinau adalah pengalaman mengajarku. Jadi sangat berkesan,” ujar mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi PGSD ini.

Lina mengaku tidak menyangka akan terpilih sebagai Korum TurunTangan Malang. Pasalnya banyak relawan yang lebih senior dibandingkan dia. Kini, ia mulai berpikir bagaimana membuat TurunTangan Malang menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Saya sedang berpikir bagaimana caranya TurunTangan Malang menjadi komunitas yang bukan menunggu tetapi memulai untuk bergerak. Bukan butuh kuantitas tapi kualitas relawannya,” paparnya.

Untuk menjalankan tujuannya, Lina sudah membuat rencana untuk manajemen relawan-relawan yang mempunyai bakat khusus untuk mengembangkan TurunTangan Malang dan membuat mereka nyaman di TurunTangan Malang. “Rencana project-nya masih abu-abu. Intinya mau membenahi internal dulu,” jelasnya.

Lina berharap, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Malang dapat semakin turun tangan khususnya di Kota Malang dan bisa membawa perubahan meskipun perubahan kecil.

Biodata

Nama Lengkap : Bryansa Billina

Nama Panggilan : Lina

Tempat, tanggal lahir : Semarang, 31 Agustus 1995

Kuliah : Universitas Negeri Malang Jursan KSDP Program Studi PGSD

Organisasi yang diikuti : TurunTangan Malang dan Tabrak Warna Malang

Hobi : Mencari kebahagiaan

Moto : Yang mendengar belum tentu memahami, tapi yang memahami pasti mendengar

 

521

Muhammad Arsyad Siregar bergabung dengan TurunTangan sejak Januari 2014. Pada 23 Januari kemarin, dia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Medan.

Arsyad tidak pernah menyangka akan mendapatkan amanah ini. Ada perasaan bahagia bercampur sedih. Mengingat koordinator sebelumnya cukup baik dalam membawa TurunTangan Medan hingga sekarang. “Ada beban berat dikarenakan harus menjaga gerakan ini tetap berkembang maju,” katanya.

Arsyad lahir di Medan, 15 Desember 1990. Merupakan alumni Teknik Industri, Universitas Sumatera Utara (USU) dan kini telah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Medan. Meskipun kini tengah sibuk bekerja, dia sangat bersemangat memajukan TurunTangan Medan.

Banyak rencana yang telah disiapkan yaitu menjalankan project yang belum terlaksana pada periode sebelumnya dan menjaga Gerakan TurunTangan Medan tetap konsisten di rel edukasi politik dan sosial. “Ada lebih dari 20 project yang rencananya bakal dilaksanakan dan saat ini masih dalam tahap seleksi,” tuturnya.

Untuk edukasi internal relawan sendiri, lanjut Arsyad, TurunTangan Medan berencana mengadakan diskusi internal secara berkelanjutan. Setidaknya sebulan sekali dengan materi dan pembicara yang berbeda-beda. “Rencananya mau diberi nama project “Rumah Negarawan”. Misalnya bulan ini mengenai korupsi dan transparansi anggaran. Bulan depan mengenai isu HAM, dan lain-lain,” ujarnya.

Arsyad menilai, TurunTangan Medan cukup dikenal di Kota Medan. Bahkan, semakin hari jumlah relawannya semakin banyak. Total jumlah relawan TurunTangan saat ini telah mencapai 120 orang. Sayangnya, jumlah project masih sedikit dan banyak project yang tidak tepat sasaran. “Ke depannya perlu dievalusi mengenai pematangan konsep sebuah project, tidak hanya asal eksekusi, tetapi harus memiliki indikator kesuksesan sebuah project sebelum project tersebut dijalankan,” ungkapnya.

Dia sangat berharap semakin banyak pemuda di Kota Medan yang bergerak dan bergabung dengan TurunTangan Medan. Semantara untuk TurunTangan sendiri, dia berharap semakin berkembang di berbagai kota di seluruh Indonesia. “Semoga dapat terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik antar TurunTangan di setiap kota. Sehingga muncul project-project atau aksi mengenai isu nasional yang dapat dikerjakan secara bersama sama  seperti aksi “Indonesia untuk KPK” kemarin,” tutupnya.

 

423

Wiwit Tri Rahayu atau sering disapa Wiwit, menjadi satu-satunya Koordinator TurunTangan daerah perempuan saat ini. Perjalanan Wiwit menuju puncak di TurunTangan Surabaya bisa dibilang cukup singkat. Dia baru saja bergabung dengan TurunTangan pertengahan 2015 lalu dan terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya pada November 2015.

Pada pemilihan Koordinator TurunTangan Surabaya saat itu, Wiwit bersaing dengan dua calon lainnya. Semua calon diminta untuk berkampanye. Perempuan kelahiran Trenggalek, 8 Juni 1995 ini, mengusung visi, “Terwujudnya relawan yang solid sebagai penguat dalam kontrol perubahan, pengenalan, dan pemberdayaan Surabaya.” Dan misi, “Menumbuhkan kapabilitas dan solidaritas melalui kaderisasi relawan, memberikan memberikan kajian yang berhubungan dengan arah gerakan (sosial, pendidikan, politik), mengadakan agenda berorientasi Surabaya, dan membangun hubungan internal dan eksternal ntuk memenuhi kepentingan.”

Visi dan misi itu berhasil mengantarkan Wiwit pada tampuk kepemimpinan. Berdasarkan hasil musyawarah mufakat anggota TurunTangan Surabaya, ia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya selama satu tahun kedepan.

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Airlangga ini, menceritakan awal mula bergabung dengan TurunTangan. Dimatanya, TurunTangan adalah komunitas yang memiliki concern menyelesaikan masalah yang sesuai dengan minatnya. Selain itu, TurunTangan adalah komunitas yang terbuka untuk siapapun yang ingin menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“TurunTangan membuat saya bisa bergerak lebih luas dalam membantu menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitar,”

katanya.

Sehingga saat terpilih menjadi koordinator, Wiwit langsung menyiapkan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Poin pengenalannya, TurunTangan Surabaya mampu menumbuhkan rasa cinta dan mengangkat Surabaya sebagai kota yang layak untuk dikunjungi. “Nanti Insya Allah akan ada sambang Surabaya, yaitu kegiatan yang mengajak relawan dan beberapa anak jalanan untuk mengunjungi beberapa tempat penting atau bersejarah di Surabaya. Mirip dengan edu wisata,” jelasnya yang memiliki motto “every star has its own light.”

Agar rencananya terlaksana, banyak hal yang mesti dibenahi. Menurutnya, saat ini TurunTangan Surabaya butuh pelatihan tentang leadership, personal branding relawan, dan team work. Solusinya, setiap tahun minimal sekali akan mengadakan workshop terkait hal tersebut. “Ini penting banget karena banyak sekali sebenernya relawan yang ingin gabung dan kami TurunTangan Surabaya ingin memberikan bekal-bekal substansial kepada para relawan agar tidak hanya gabung namun juga turut berkontribusi,” paparnya.

 

481

Seperti yang kita ketahui, TurunTangan Aceh fokus bergerak di bidang pendidikan. Mayoritas kegiatannya yakni mengajar ke sekolah-sekolah. Justru karena ini, membuat Maisal Rahmadi Aka, bisa bergabung dengan TurunTangan Aceh. Maisal, demikian biasanya dia dipanggil, bergabung dengan TurunTangan Aceh tepatnya pada pertengahan 2014 lalu saat TurunTangan Aceh membuka Program TurunTangan Aceh Mengajar.

“Saat dicari tenaga pengajar pada program TurunTangan Aceh Mengajar 1, saya ikut interview untuk menjadi pengajar bahasa inggris,” tutur Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UNIAR) ini.

Selama ini Maisal juga aktif di sanggar tari dan musik tradisi di Sanggar Geunaseh, Aceh, sehingga TurunTangan Aceh meluluskannya sebagai pengajar budaya. Kecintaannya terhadap dunia mengajar, pria yang gemar membaca ini, tidak mempermasalahkan tidak diterima menjadi pengajar bahasa inggris.

“Saya ingin mengajar. Mau dibayar atau pun tidak yang penting mengajar,”

katanya.

Pria kelahiran, Banda Aceh, 28 Mei 1996 ini mengaku belajar banyak hal ketika bergabung dengan TurunTangan. Seperti mengerti arti kepedulian dan tidak diam begitu saja melihat permasalahan di sekitar.

“Kepedulian itu soal aksi, sekecil apapun aksi itu. Dan itu yang selalu para relawan TurunTangan lakukan,”

ujarnya. Satu kalimat yang sangat memotivasinya, “Jangankan tanyakan apa yang bisa saya dapat dari tanah kelahiran saya, tapi tanyakan apa yang dapat saya berikan untuk tanah kelahiran saya.”

Pada November lalu, Maisal terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Aceh menggantikan Rahmad Hidayat Munandar. Anak keempat dari empat bersaudara ini bercerita, sebelumnya, dia sudah dipercaya untuk meng-handle beberapa acara sampai diberi amanah untuk menjadi Ketua Divisi SDM. Hingga kemudian diutus menghadiri Gathering Nasional (Gathnas) di Jogja tahun lalu. Di acara tahunan ini, dia bertemu dengan orang-orang hebat dan merasa minder. Sehingga ketika ditunjuk menjadi koordinator TurunTangan Aceh, dirinya sempat menolak. Salah seorang sahabatnya mengatakan, “Jangan pernah menolak saat ditunjuk sebagai pemimpin, yang membuat seorang pemimpin itu hebat bukan karena dia hebat, tapi orang-orang dibelakangnya.”

“Akhirnya saya menerima amanah ini dan terus membenahi diri untuk menjadi pemimpin yang berintegritas,” tuturnya.

Maisal mempunyai banyak rencana, agara TurunTangan Aceh semakin maju. Dia akan meningkatkan SDM melalui capacity building, menampung ide-ide relawan dan menjadwalkan untuk dilaksanakan setiap rinci. Sehingga, kegiatan TurunTangan Aceh akan lebih terstruktur dalam pelaksanaannya. “Sebelumnya TurunTangan Aceh tidak ada sistem divisi. Jadi, pembagian kepanitian diatur saat aksi. Sekarang ini sudah ada divisi SDM, sekretariat, humas, dan tim kreatif. Sehingga, segala tugas lebih terstruktur,” paparnya.

 

490

Heru Tesar Ichsan adalah Koordinator Lhokseumawe. Lahir di Lhokseumawe, 4 November 1994, dia bergabung dengan TurunTangan pada saat mengikuti “Travelling dan Berbagi” yang diadakan oleh TurunTangan Aceh, 2 Mei 2015 lalu. Heru, demikianlah dia biasa dipanggil, merasakan kedamaian ketika mengikuti kegiatan tersebut. Seperti motonya “Berguna bagi orang banyak”,  dia senang bisa berbagi dengan orang banyak.

“Ada rasa bahagia ketika berbagi dengan orang banyak,”

kata finalis Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Aceh 2015 ini.

Setelah kegiatan itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh ini, masuk ke dalam kepengurusan TurunTangan Aceh. Karena terkendala jarak yang cukup jauh, dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, tepat 17 Agustus 2015, dia memberanikan diri membentuk TurunTangan Lhokseumawe.  “Saya tidak pernah mengira bisa membentuk TurunTangan Lhokseumawe. Usaha saya mengajak dan merangkul teman-teman terdekat saya berbuah hasil,” kata Delegasi Aceh untuk Dream Maker Youth Camp 2015 ini.

Saat itu, TurunTangan Lhokseumawe memiliki komite yang jumlahnya 10 orang. Ke-10 orang ini langsung memilihnya menjadi Koordinator TurunTangan Lhokseumawe. Kini, TurunTangan Lhokseumawe memiliki empat divisi yakni Divisi SDM, Divisi ADM, Divisi PUBDOK, dan Divisi Humas, dengan dibantu oleh tiga Project Officer (PO), yakni PO Lhokseumawe Cerdas, PO Lhokseumawe Sehat, dan PO Lhokseumawe Bergegas. “Sampai saat ini jumlah anggota TurunTangan Lhokseumae ada 40 relawan dan beberapa simpatisan,” ujarnya.

Di bawah kepemimpinan Heru, TurunTangan Lhokseumawe sudah menjalankan berbagai program. Diantaranya Lhokseumawe Berbagi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Pidie yang pada saat itu terkena musibah banjir, Lhokseumawe Cerdas di SDN 9 Kota Lhokseumawe, Lhokseumawe Sehat di MTS Muhammadiyah, dan Lhokseumawe Bergegas yang nantinya akan ke SMA sederajat untuk mempromosikan budaya. “Kami punya program prioritas, mengunjungi kediaman salah satu relawan untuk mempererat. Program itu kami beri nama Sawee Relawan dan akan jadi program rutin bulanan,” papar Heru.

Meskipun sudah banyak program yang dibuat, Heru mengatakan masih banyak yang harus diperbaiki. Mulai dari sistem kepengurusan, administrasi relawan, dan pembenahan kapasitas relawan. “Di tahun 2016, Insya Allah TurunTangan Lhokseumawe akan lebih giat lagi berbuat kebaikan untuk orang banyak,” demikian Heru berharap.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]