Home Ayo Bergerak! Ayo Peduli Masalah Sampah di Indonesia!

115

Tiga belas yang lalu, tepatnya 21 Februari 2005, telah terjadi bencana longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat. Bencana itu menyebabkan sekitar 150 orang meninggal dunia. Mayoritas korban adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung. Penyebab longsor diduga karena curah hujan yang sangat tinggi serta ledakan gas metana (CH4) yang terangkap dalam timbunan sampah.

Sebelumnya, di tahun 1992 juga terjadi bencana longsor di TPA Leuwigajah, namun tidak menimbulkan banyak korban seperti tahun 2005. Menyikapi hal ini, pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Pemerintah berharap peringatan HPSN dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya prinsip 3R (reduce, refuse, dan recycle) dalam pengelolaan sampah. Sehingga Indonesia bebas sampah di tahun 2020 dapat terwujud.

Permasalahan sampah di Indonesia telah menjadi mimpi buruk selama bertahun-tahun. Dikutip dari geotimes, Jakarta menghasilkan sampah 6.000 hingga 6.500 ton per hari. Di Pulau Bali, jumlah sampah mencapai 10.725 ton per hari. Sementara Kota Palembang, jumlah sampah naik tajam dari 700 ton per hari menjadi 1.200 ton per hari. Secara keseluruhan, jumlah total sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau 0.7 kilogram per orang atau sekitar 67 juta ton per tahun.

Sebagian sampah yang dihasilkan tersebut merupakan sampah plastik yang terbawa dari parit kota lalu bermuara ke sungai. Kemudian, sungai-sungai itu membawa sampah dan segala zat pencemar ke laut. Akibatnya, sampah terbawa oleh ombak lautan untuk mencapai pantai.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal science pada 13 Februari 2015 mengungkap Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik di lautan terbesar kedua setelah China. Kondisi ini tentu membahayakan masyarakat Indonesia mengingat laut menjadi sumber kehidupan. Laut menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup yang menjadi sumber makanan bagi masyarakat Indonesia seperti rumput laut, kerang, dan ikan. Apabila permasalahan sampah tidak segera diatasi, maka akan terjadi kerusakan ekosistem laut yang mengakibatkan sumber makanan tersebut lama kelamaan akan habis. Dan apabila dikonsumsi juga bisa memicu penyakit mematikan seperti kanker.

KLHK Agendakan ‘Tiga Bulan Bersih Sampah’

Dalam memperingati HPSN 2018 yang mengusung tema “Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah”, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya mewujudkan pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Untuk itu, di tahun ini HPSN akan diaktualisasikan dalam kerja bersama “Tiga Bulan Bersih Sampah” yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Gerakan yang disingkat TBBS itu, berfokus untuk secara konkret melaksanakan kebersihan di tempat-tempat umum. Pelaksanaanya akan dilakukan dalam tiga bulan ke depan, dari 21 Januari hingga 22 April. Untuk mewujudkannya, KLHK merangkul seluruh stakeholder, instansi dan lembaga, kepala daerah, komunitas dan aktivis lingkungan. Mereka bahkan menobatkan aktor Jefri Nichol sebagai Duta Sahabat Anak Peduli Lingkungan 2018 untuk mengajak anak muda peduli terhadap lingkungan dengan menanam mangrove di 10 kota.

“Saya mohon dukungannya untuk melaksanakan tiga bulan bersih sampah. Dimulai 21 Januari esok hingga 21 April,” ujar Menteri KLHK Siti Nurbaya pada Gala Diner bersama aktivis lingkungan, komunitas, intansi dan lembaga di Arboretrum, KLHK, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/1).

Relawan TurunTangan Peduli Masalah Sampah

Sejak tahun 2016, relawan TurunTangan gencar menyuarakan Indonesia Bebas Sampah 2020 kepada masyarakat melalui aksi nyata. Kegiatan bersih-bersih baik itu di pantai, hutan maupun pusat kota, seringkali dilakukan oleh relawan TurunTangan, tak hanya menjelang peringatan HPSN saja.

Beberapa waktu lalu, TurunTangan Palu menggelar aksi bersih-bersih di Sungai Palu. Melansir media online Sultengraya.com, 5 Februari 2018, Koordinator kegiatan Nofriansyah menyampaikan, aksi bersih-bersih Sungai Palu tersebut merupakan upaya untuk menginspirasi warga Kota Palu  untuk peduli terhadap permasalahan lingkungan, khususnya sampah yang berserakan di tepian Sungai Palu.

“Kami miris dengan banyaknya pemberitaan terkait masih kotornya kawasan sungai di Kota Palu akibat tumpukan sampah. Untuk itu, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama turun tangan menjaga kebersihan lingkungan sungai Palu,” ujarnya, Minggu (4/2).

Relawan TurunTangan Palu akan kembali menggelar aksi peduli sampah pada 25 Februari. Kegiatannya berupa workshop, talkshow, dan aksi susur sampah di Sungai Pondo, dengan mengusung tema “Bergerak untuk Palu Bebas Sampah”. Mereka bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Palu, Pemerintah Kota (Pemkot) dan seluruh lurah Kecamatan Mantikulore, Palu.

“Kami bekerjasama dengan mereka agar bisa mengajak masyarakat untuk ikut aksi yang nantinya seluruh masyarakat Palu bisa membuang sampah pada tempatnya,” ujar Mita, Humas TurunTangan Palu.

Sementara itu, Relawan TurunTangan Medan melakukan aksi peduli lingkungan “Fit and Take Your Trash” di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (11/2). Leader Project Herman Pane mengatakan tujuan dilaksanakan kegiatan untuk menjaga kebersihan lingkungan. “Kepedulian masyarakat akan lingkungan masih minim. Kami berharap melalui kegiatan ini orang-orang lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Herman yang dikutip dari Tribunnews Medan, 11 Februari 2018.

Sedangkan TurunTangan Lhokseumawe, setiap tahun mengadakan kegiatan Lhokseumawe Clean City (LCC). Mereka mengajak pelajar, mahasiswa, komunitas dan seluruh masyarakat Lhokseumawe untuk mengikuti kegiatan bersih-bersih Kota Aceh ini.

Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

Komentar