Home Artikel Populer Belajar Konsisten dari Kamisan

Kamis, 21 Januari 2016 di depan istana negara, sudah 9 tahun lamanya para ibu berdiri mengenakan pakaian hitam-hitam, diam dengan satu tuntutan yang tidak pernah berubah. Menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini. Cukup panjang daftar kasus pelanggaran HAM yang akan dengan mudah didapatkan dari mesin pencari yang ada di Internet.

Saya mengenal lebih dalam para pejuang kamisan saat ikut dalam Aksi Kamisan Sumpah Pemuda bersama project Kelas Negarawan Muda. Saat proses persiapan penyelenggaraan Kamisan, Ibu Sumarsih memaksakan untuk hadir, padahal pertemuan diselenggarakan sampai larut malam. Semangat itu terasa akan sehingga tidak ada alasan bagi kami, para relawan Kelas Negarawan Muda untuk mundur dari Kamisan.

Selepas sumpah pemuda, karena alasan kesibukan yang bertepatan dengan kamisan, saya belum pernah lagi hadir disana. Meskipun hati ini tetap ingin hadir disana. Ah, pekerjaan memang selalu jadi alasan pembenaran. Sampai pada akhirnya ada kabar bahwa Kamisan akan digusur menjauh dari Istana.

Kamisan akan digusur menjauh dari istana yang merupakan objek vital negara. Undang-Undang membenarkan hal tersebut, namun tampakanya tidak akan ada ancaman berarti dari pada ibu yang berdiri dan para anak muda yang setia menemani. Saya tahu dan percaya, mereka yang menemani tidak punya pikiran untuk melakukan macam-macam karena hal itu akan mengkhianati perjuangan yang dilakukan oleh para ibu di Kamisan.

2 Kamisan sebelum 21 Januari, para ibu diusir oleh polisi yang berjaga disekitar istana. Hari-hari setelah Pergub DKI Jakarta diberlakukan, para ibu harus berhadapan dengan para aparat yang jumlahnya lebih banyak dari para ibu, tapi para ibu bergeming dan tetap yakin akan garis perjuangan yang mereka pilih. Tetap berdiri didepan istana negara setiap hari kamis, menuntut kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dikaukan atas nama negara kepada orang-orang yang mereka cintai.

 

#9thKamisanMelawan

“Digusur kami tetap berdiri, diabaikan kami tetap mencari”, 9 tahun para ibu berdiri menuntut sang penguasa negeri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. 9 tahun para ibu itu “digantung” oleh para penguasa, berkali-kali penghuni istana berganti rupa, tetap saja ujungnya belum terlihat dimana. 9 tahun itu waktu yang sangat lama, mereka tidak mau berhenti, mereka akan tetap berdiri dan mencari.

Sepenggal Jingga dari Efek Rumah Kaca,

Rindu kami seteguh besi
Hari demi hari menanti
Tekad kami segunung tinggi
Takut siapa? semua hadapi

Marah Kami
Senyala api
Di depan istana berdiri

Yang hilang menjadi katalis
Disetiap kamis
Nyali berlapis

Yang ditinggal
Takkan pernah diam
Mempertanyakan kapan pulang ?

9 tahun berdiri, 427 kamisan berjalan, 3285 hari. Konsisten saja masih kurang nampaknya menggambarkan pejuang di aksi kamisan. Jika ada satu tingkat kata yang lebih tinggi dari konsisten, maka para ibu layak menyandangnya. Semoha dia yang diistana bersedia untuk menengok dan bertemu langsung pada ibu.

Terima Kasih kepada para ibu yang memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada alasan berhenti dari apa yang kita jalani. Ketika negara mengambil separuh dari jiwa dan memperlakukannya tidak sebagaimana mestinya, maka pasrah itu bukan jawaban.

Saya sudah meninggalkan hati saya disini, meskipun saya tidak selalu hadir tapi saya akan tetap kembali.

Wahai para pemuda yang menyebut dirinya agen perubahan bangsa, Tidak pernahkah hatimu tergerak untuk ikut membela. Selama kasusnya belum terbuka, kita semua punya peluang untuk merasakan hal yang sama. Apakah ketika saat itu tiba, kita baru akan meminta iba padahal saat Ini kita berusaha memalingkan muka.

Angga Putra Fidrian,Kepala Humas TurunTangan. Pelajar politik yang senang mendorong rekan-rekannya belajar mengenai politik. Percaya bahwa politik yang kotor harus ada yang mau berkotor-kotor membersihkan. Korespondensi email melalui angga.putrafidrian@gmail.com. Kunjungi juga www.anggaputrafidrian.com

Komentar