Home Artikel Populer
Postingan paling populer

600

Relawan adalah seorang yang sukarela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan keahlian untuk menolong orang lain. Menjadi relawan juga tidak mendapatkan upah atau gaji atas apa yang telah disumbangkan. Meskipun begitu

menjadi relawan akan membuatmu lebih bahagia. Kamu akan sadar bahwa kebahagian tidak melulu soal uang.

Berikut tujuh alasannya.

1. Kamu akan mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya

Pemeriksaan kesehatan gratis

Relawan TurunTangan sedang membuka pemeriksaan kesehatan gratis bagi pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung

Selama ini kamu hanya melihat bagaimana relawan bekerja di layar televisi, membacanya di koran atau majalah dan mendengar cerita dari orang-orang. Tapi ketika kamu menjadi relawan kamu akan merasakannya secara langsung, baik suka maupun duka. Misalnya kamu akan merasakan pengalaman susahnya menyalurkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan kepada korban bencana alam.

2. Kamu mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan wawasan baru

Relawan TurunTangan Jakarta sedang berdiskusi

Relawan TurunTangan Jakarta sedang berdiskusi

Sebelumnya mungkin kamu hanya tahu tentang apa yang kamu pelajari di kampus. Saat kamu menjadi relawan, kamu akan mempelajari hal-hal baru ketika terjun ke lapangan. Bagaimana cara mendistribusikan bantuan dengan baik, menghadapi rintangan dan hambatan ketika di jalan, bercengkrama dengan penduduk lokal, dan tahu tentang daerah yang kamu datangi.

3. Teman kamu akan bertambah sangat banyak

IMG-20161128-WA0026

Relawan dari seluruh Indonesia bertemu di Gathering Nasional TurunTangan 2016 di Medan

Ketika menjadi relawan, kamu akan bertemu orang-orang baru dari berbagai latar belakang. Mau tidak mau kamu harus berkenalan dan bersosialisasi dengan mereka. Teman kamu pun akan bertambah sangat banyak. Apalagi kalau kamu menjadi relawan di berbagai kegiatan/organisasi.

4. Mengasah skill kamu

berita foto

Seorang relawan TurunTangan Jakarta yang memiliki hobi videografi sedang mengambil video

Biasanya dalam kegiatan kerelawanan, organisasi/komunitas akan membutuhkan beberapa orang dengan keahlian khusus. Misalnya menulis, memotret, dan mendesain poster. Kalau kamu mempunyai keahlian-keahlian tersebut, otomatis keahlianmu akan semakin terasah.

5. Menjadi relawan membuat karirmu semakin berkembang

Salah satu dari mereka ada yang bekerja di LSM ICW (Indonesia Corruption Watch) karena memiliki passion di politik

Mengejar Setya yang tak setia ini dipelopori oleh relawan TurunTangan Medan yang memiliki passion di politik. Sekarang dia menjadi staf LSM ICW (Indonesia Corruption Watch)

Saat menjadi relawan kamu akan bertemu dengan orang-orang baru. Ini akan membantumu untuk membangun jaringan. Kamu juga dipaksa untuk bekerjasama dengan orang lain dalam bentuk tim dan waktu yang sangat cepat.

6. Kalau kamu beruntung bisa ketemu jodoh lho!

Pasangan ini merupakan relawan TurunTangan Yogyakarta yang dipertemukan di TurunTangan

Pasangan ini merupakan relawan TurunTangan Yogyakarta yang dipertemukan di TurunTangan

Jadi relawan mempertemukanmu dengan banyak orang, teman dan sahabat baru. Baik laki-laki maupun perempuan. Bisa jadi salah satu dari mereka adalah jodoh kamu yang ditakdirkan oleh Tuhan.

 7. Memberi dampak nyata dan kesempatan berbagi

Relawan TurunTangan menghibur anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung

Relawan TurunTangan menghibur anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung

Kamu tertarik menjadi relawan pasti karena tertarik atau suka dengan kegiatannya. Sehingga kamu akan menjalaninya dengan hati bukan karena paksaan dan itu membuat kamu bahagia. Ada hal lain yang kamu lakukan di luar rutinitas sehari-hari yang kadang membosankan.

Selain itu kamu akan menyadari bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan yang patut dibagi dan disyukuri. Saat kamu memberi sesuatu kepada orang lain, secara tidak sadar kamu sudah membuat mereka bahagia. Dan kamu akan merasa bersyukur bahwa kamu lebih beruntung daripada orang-orang yang kamu bantu.

Jadi tunggu apalagi, sibukkan dirimu di berbagai kegiatan kerelawanan dari sekarang agar hidupmu semakin bahagia.

887

“Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan.” - Anies Baswedan

Bangsa Indonesia lahir dari sebuah perjuangan panjang dan peran serta berbagai kalangan,  salah satu elemen terpenting yang membidani lahirnya bangsa ini adalah pemuda.

Saat ini Sumpah Pemuda telah memasuki usia yang ke -88 sejak diikrarkan dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 lalu. Kongres ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan Jong Ambon. Pengamat dari pemuda Tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie juga hadir kala itu.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.  Untuk itu sudah seharusnya, Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa pernah ada pemuda yang berani dan bersatu demi meraih kemerdekaan Indonesia. Bukan lagi sekadar sebuah peringatan yang digaungkan dalam sebuah orasi,  kemudian tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan.

Saya teringat beberapa kisah pemuda yang tercatat oleh sejarah dunia. Mereka adalah para pelopor,  penggerak dan penempuh jalan terjal lagi mendaki, salah satunya adalah Malalah Yusafzay. Pemuda yang lahir pada 12 Juli 1997 ini merupakan seorang murid sekolah dan aktivis pendidikan dari kota Mingora di Distrik Swat  Provinsi Pakistan. Ia seorang tokoh muda yang berani ambil bagian dan turun tangan dalam memperjuangkan hak-hak wanita dalam bidang pendidikan di tengah penindasan rezim Taliban. Malalah berani berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan pada tahun 2008. “Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!” seruan pertamanya di depan televisi dan radio.

Terlepas dari makna Sumpah Pemuda, di dunia ini tidak akan pernah kekurangan tokoh-tokoh muda sebagai penggerak dan pejuang keadilan untuk meraih kemerdekaan. Baik kemerdekaan dalam meraih hak hidup sebagai bangsa yang bebas dari penjajahan maupun mendapatkan kehidupan yang layak dan sama dalam perlakuan.  Dapat kita bayangkan jika spirit para tokoh hebat seperti Tan Malaka,  Sjahrir, Moh Hatta ataupun Sukarno dapat menginspirasi kita di zaman sekarang ini,  dan bisa terus kita jaga “kehadirannya” dalam bentuk pemikiran cemerlang, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang mampu berdiri tegak depan bangsa-bangsa dunia.

Bangsa Indonesia yang saat ini sedang memasuki masa, di mana bonus demografi dan demokratisasi menjadi modal untuk menjadi bangsa yang kuat. Maka dapat kita ikarkan bahwa Sumpah Pemuda adalah sumpah kita sampai hari ini.

Semoga Allah meridhoi perjalanan negara-bangsa kita.

 

519

Pemilu adalah puncak dari pesta demokrasi dan ajang perubahan rezim setelah lima tahun berkuasa dalam bernegara. Meskipun begitu banyak masyarakat, khususnya pemuda yang menganggap pemilu sebagai sesuatu yang tidak menarik dan membosankan.

Dalam data Komisi Pemilihan Umum pada 2015 pemilih muda hanya 20 persen dari persentasi nasional. Angka ini tergolong besar sehingga menjadi magnet bagi para calon untuk membuat strategi khusus dalam memikat pemilih muda.

Sayangnya, strategi yang dibuat oleh calon masih menganggap pemuda sebagai objek bukan subjek yang sejatinya dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan. Alhasil, pemuda hanya ingat pemilu saat hari-H pencoblosan bukan proses dari awal pecalonan hingga terpilih dan berjalannya pemerintahan.

Masalah tersebut diperparah dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan baik oleh calon maupun panitia penyelenggara saat pemilihan berlangsung. Berdasarkan laporan dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) pada 2016, pada Pilkada 2015 ditemukan serangan fajar atau politik uang, pelanggaran terpasangnya alat peraga kampanye di ruang publik dan banyak pemilih yang belum terdaftar. Pada pra-pelaksana pemilu banyak ditemukan mobilisasi massa untuk pengajian dan tulisan-tulisan bernada SARA. Hal itu menimbulkan keresahan di masyarakat yang berujung pada ketegangan sosial yang berujung pada bentrokan massa. Bentuk kampanye tersebut tentu tidak menarik bagi anak muda karena dipandang kuno atau ketinggalan zaman.

Ramlan Surbakti dalam bukunya “Memahami Politik” membedakan dua kategori partisipasi politik dalam konteks pemilu yaitu partisipasi pasif dan partisipasi aktif (substantif). Partisipasi pasif adalah kegiatan memilih oleh partisan karena dimobilisir oleh individu atau kelompok tertentu dalam rangka meraih suara partisan, sementara partisipasi aktif adalah kegiatan memilih partisan yang didasarkan oleh kesadaran bahwa pilihannya dapat menyalurkan aspirasi partisan. Keduanya sama-sama dalam kerangka partisipasi politis kelompok atau individu, tetapi keduanya memiliki perbedaan pada tataran prinsip daripada realitas. Bahkan tidak jarang partisan aktif turut serta dalam proses pengawasan suara dengan cara yang memungkinkan dilakukan.

Pemuda terbukti pernah melakukan banyak tindakan-tindakan heroik di masa lalu. Sebagai penerus bangsa, mereka idealnya mampu memberikan partisipasi dan kontribusi, tidak hanya sekedar urun angan. Konsep dukung orang baik maju pemilu sudah baik walaupun masih kurang berdampak nyata. Perlu ada sebuah keberpihakan. Sehingga pemuda harus memiliki sikap, entah dia memihak atau independen, tetapi mereka harus konsisten dengan apa yang mereka katakan dan kerjakan. “Pemuda harus adil sejak dalam pikiran”, begitu kata Pramoedya Ananta Toer.

Integritas pemuda dapat dibuktikan saat pesta demokrasi ini. Dimulai dengan menjaga demokrasi agar dapat menghasilkan pemimpin yang berintegritas dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Pemuda harus menjadi partisipasi aktif agar kampanye lebih menarik dan menawarkan pembaruan ide. Banyak yang dapat dilakukan pemuda saat momen pemilu baik sebagai organisasi ataupun individu. Saat berorganisasi dan berkolaborasi dengan organ pemuda lainnya, pemuda dapat hadir dan menyebarkan informasi mengenai ide, program, latar belakang calon kepada rakyat secara massif. Lebih bagus lagi apabila dapat memuat sebuah kontrak politik dengan calon sehingga tolak ukur kinerja calon dapat diukur. Apabila tidak ditepati, kontrak politik ini bisa menjadi bukti bahwa pemimpin tersebut tidak amanah dan tidak layak dipilih kembali. Melalui individu, pemuda dapat menyampaikan pada lingkungan keluarga dan peer group mengenai calon dengan cara yang disesuaikan.

Pilkada 2017 merupakan momen bersejarah. Pemuda generasi 45 punya Kemerdekaan, generasi 66 punya Tritura, generasi 74 punya Malari, generasi 98 punya Reformasi, di era demokrasi sekarang, pemuda mempunyai platform bersama untuk pengawalan pemilu yang bisa diwariskan untuk generasi masa depan.

Tidak penting siapa yang punya nama, yang lebih penting kita punya kesempatan dalam momen ini untuk menunjukan kekuatan pemuda yang berintegritas dan mampu memenuhi janji kemerdekaan. Jadi pilih yang mana mau jadi penonton atau mencetak sejarah?

 

Teringat semangat TurunTangan pada momen awal pergerakan di mana setiap relawan di dorong untuk mendukung orang baik masuk politik. Orang-orang baik yang selama ini memilih untuk menjadi pembayar pajak yang baik, didorong untuk menjadi pengelola pajak yang baik.

Sebentar lagi Kita semua akan menghadapi pesta demokrasi daerah 5 tahunan yang dilaksanakan serentak di ratusan kota dan kabupaten serta provinsi di Indonesia. Tentunya dengan semangat mendorong orang baik masuk politik serta mewujudkan cita-cita TurunTangan untuk mewujudkan Indonesia yang dipenuhi pemimpin bersih dan berkompeten, Relawan TurunTangan harus ikut serta berpartisipasi dalam menyambut Pilkada Serentak 2017.

Beberapa pilhan partisipasi Relawan TurunTangan dalam menyambut Pemilihan Kepala Daerah ini adalah sebagai berikut :

1. Komunitas TurunTangan melakukan kajian terhadap rekam jejak, kompetensi dari para calon kepala daerah masing-masing. Jika setelah kajian para relawan, ada sosok yang layak untuk diusung, maka komunitas TurunTangan daerah tersebut didorong untuk mendeklarasikan dukungan terhadap sosok orang baik tersebut.

2. Jika tidak ada yang layak untuk diusung, maka Relawan TurunTangan didorong untuk jadi wasit, menjadi pengawal pilkada agar terjadi pemilihan yang bermartabat, jauh dari kecurangan dan muncul sebagai festival gagasan bukan jadi ajang kampanye primordial dan fitnah. Pada pilkada 2015, TurunTangan membuktikan partisipasi ini dengan menjadi bagian dari gerakan KawalPilkada.

3. Ikut mengisi survei pilkada TurunTangan dengan klik link –>http://bit.ly/surveipilkadaTT

4. Pilihan politik adalah Hak Asasi masing-masing individu, sehingga TurunTangan tidak membatasi dukungan politik seseorang terhadap masing-masing calon. Setiap relawan diperbolehkan untuk mendukung calon kepala daerah yang dikehendaki jika sesuai dengan visi dan misi serta pandangan poiltiknya.

Beberapa waktu lalu ada sebuah peristiwa politik di Ibukota DKI Jakarta. Anies Baswedan, pendiri dari Gerakan TurunTangan diberikan kepercayaan untuk maju menuju DKI 1. Semenjak itu banyak orang yang bertanya-tanya, dan menunggu apakah TurunTangan akan menjadi tim sukses dan mendukung Anies Baswedan atau tidak.

Selepas kabar tersebut, pengelola gerakan TurunTangan menggali informasi dari para relawan di seluruh Indonesia. TurunTangan bukan tentang Anies Baswedan sebagai pendiri, bukan tentang jadi kendaraan politik. TurunTangan dimiliki oleh 50.000 Relawan di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2017, Pilkada tidak hanya ada di DKI, ada ratusan daerah yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi serupa. Tentunya sebagai sebuah gerakan yang bersifat nasional, turuntangan.org tidak dapat berpihak pada satu daerah saja. Sehingga untuk Pilkada di DKI,turuntangan.org menyatakan diri bersikap netral, tidak berpihak pada salah satu calon yang akan maju bertarung.

TurunTangan #tetapbergerak mendorong setiap warga negara untuk turun tangan langsung, menjadi bagian dari solusi. Ada atau tidak adanya pilkada, para relawan di setiap daerah akan tetap bahu membahu dengan berbagai gerakan sosial yang telah dirancang dan dijalankan. Penyebutan turuntangan.org oleh calon kepala daerah manapun, bukan berasa dari pengelola gerakan.

Salam

 

Pengelola Gerakan TurunTangan

#tetapbergerak

Ayo #JadiRelawanTT

Caranya adalah :

  1. Isi Form bit.ly/JadiRelawanTT –> Setelah mengisi email di link ini, Kamu akan mendapatkan Profile TurunTangan.
  2. Daftar di http://www.turuntangan.org/daftar. Dalam tautan ini, Kamu perlu mengisi form yang cukup banyak, jadi sediakan waktu yang agak panjang untuk mendaftar ya.
  3. Cari komunitas TurunTangan di daerahmu. Ikut bergabung bersama mereka untuk bergerak. Jika daerahmu belum ada Komunitas TurunTangan di daerahmu. Kamu dan teman-temanmu bisa jadi pendirinya. Tata Caranya klik di tautan di sini
  4. Ikuti Project yang ada di bawah TurunTangan atau bisa juga inisiasi project serupa di Project TurunTangan
  5. Jangan lupa untuk Ikuti akun media sosial TurunTangan. Twitter,Instagram : @turuntangan . Facebook di http://facebook.com/TurunTanganorg

jadirelawan-01

 

Ayo jadi Relawan !!

 

Ayo #BikinKomunitasTT

Untuk mendirikan Komunitas TurunTangan, tata caranya adalah :

  1. Cari minimal 5 orang yang bersepakat untuk mendirikan TurunTangan
  2. Buat media sosial komunitas mu, (Twitter, Facebook, Instagram) dengan username : turuntangan_(Kota/Kab)
  3. Buat Kegiatan Sederhana sebagai peringatan hari lahir komunitasmu
  4. Mention Akun TurunTangan pusat dan kirim dokumentasi ke relawan@turuntangan.org

Jangan lupa untuk daftarkan dirimu dan teman-temanmu di http://bit.ly/JadiRelawanTT

 

bikinkomunitas-02

“Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetep gagah? saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ganti baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggungjawab, yang mereka akan bayar sampai titik manapun…” potongan orasi Munir dalam intro Rima Ababli – Homicide

12 tahun yang lalu, Munir Said Thalib, Seorang pejuang Hak Asasi Manusia harus diakhiri hidupnya oleh alat negara. Di maskapai kebanggaan anak negeri bernomor GA-974 kursi 40 G , Ia diarsenik oleh seseorang yang terbukti di pengadilan berhubungan dengan intelejen. Sampai hari ini hanya pion yang masuk penjara, sang raja masih berlindung di ketiak penguasa, menyelamatkan dirinya sendiri.

Munir berjuang untuk mereka yang tidak punya kesempatan melawan. Munir membela Marsinah, Tanjung Priok, Semanggi 1 dan 2, Penculikan Aktivis, Muhadi, supir yang dituduh menembak Polisi. Munir juga mendirikan KontraS (Komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan). Munir mengejar keadilan, keadilan bagi mereka yang dikorbankan oleh kekuasaan. Munir berada di sisi Hak Asasi Manusia. Kamu berada di mana?

Munir berjuang untuk mereka yang tidak punya kesempatan melawan.

Perlukah anak muda bela Munir? Perlukah anak muda kenal dengan Munir? Munir adalah seseorang yang memperjuangkan kebebasan. Munir memperjuangkan negara yang tidak boleh menghilangkan nyawa anak bangsanya hanya karena dia berbeda. Munir membela anak bangsa yang berani berkata benar. Berkaca pada masa lalu, mereka harus mati dan hilang atas nama stabilisasi nasional.

munir

Jika kita tidak peduli tentang Munir, mungkin saja sekelompok anak muda yang menebar caci maki karena youtube lebih baik dari TV, kabarnya tidak akan kita ketahui lagi. Alasannya? Karena tidak elok dengan adat ketimuran. Jika kita melupakan perjuangan Munir, bisa jadi mereka yang menyebut Pancasila sebagai Thogut sudah disemen dalam tong dan dilempar ke tengah laut. Di mana Munir? Jika masih ada, Dia pasti akan berada di sisi mereka yang ditindas negara.

Munir adalah lambang tentang kebenaran. Lambang seorang yang berani membongkar mitos. Mitos tentang negara yang tidak pernah salah dan tentara yang tidak pernah kalah. Munir berada di barisan depan, peretak tembok penghalang. Dia adalah wajah penegakan Hak Asasi Manusia.  Negara boleh tidak menganggap kerja kerasnya, tapi jangan sampai generasi muda juga melakukan hal serupa. Anak muda hari ini punya satu tugas besar untuk menjelaskan kepada anak mereka dan anak-anak dari anak mereka bahwa ada seorang pejuang Hak Asasi Manusia yang harus dibunuh oleh negara. Di masa depan, para pewaris tongkat perjuangan harus diingatkan, bahwa mengambil nyawa rakyat untuk kekuasaan adalah sebuah tindakan pengecut yang tidak boleh dilakukan.

Anak muda jangan terhipnotis oleh sidang seorang biasa dengan sianida dan membawa jadi topik pembicaraan di keseharian. Seakan pembunuhan yang lebih menyesakkan dada yang tidak pernah ada di Indonesia. Munir yang telah berjuang tanpa akhir, jangan dianggap martir. Sehingga Para pelakunya bagai asap, bisa dilihat tapi tidak pernah bisa kita tangkap.

Kini giliran Kita, sebagai insan muda apakah kita akan duduk diam saja? Atau akan terus bergerak #MenolakLupa? Pemuda harus #MerawatIngatan bahwa ada seorang pejuang HAM yang belum diberikan tempat yang layak oleh negara. Negara yang kita cintai masih menyimpan dosa terhadap pejuang kemanusiaan.

#MunirAdadanBerlipatGanda

#MenolakLupa

#12TahunMunir

#MerawatIngatan

390

“For to be free is not merely to cast off one’s chain, 

but to live in away that respects

and enhances a freedom of others.”  (Nelson Mandela)

 

Diceritakan, saat itu pasukan berangkat dari Langsa menaiki kereta sampai ke Besitang. Terlebih dahulu dilaksanakan latihan kemiliteran selama lima hari. Selama sebulan lebih di Tanjung Pura menghadapi pertempuran sengit melawan Belanda, tentara yang masih diberi nama Tentara Mujahiddin menghadang pasukan Belanda yang ingin masuk.

Perang yang berlangsung di sebuah sungai,  sungainya besar, jika Belanda ingin menyeberang harus menaiki rakit. Karen Titi Belawi sudah terlebih dahulu kami putuskan, agar tentara Belanda tak mudah masuk. Perang menghadang konvoi tentara Belanda yang hendak masuk ke Aceh disambut dengan perlawanan sengit dari tentara Mujahiddin, sedangkan di Langsa tetap dilakukan penjagaan ketat oleh tentara Mujahiddin sebagai pertahanan garis kedua.

Begitulah sepenggal cerita seorang veteran perang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan yang menyiksa bangsa ini, Kasim Idris, Veteran perang yang tinggal di pedalaman hutan Gayo di Kabupaten Aceh Timur, tepatnya di Kampung Bukit Selmak Dusun Arul Kiro, Kecamatan Bireun Bayen Aceh Timur.

Kemerdekaan,  yang telah berusia 71 tahun ini,  menorehkan banyak goresan,  warna- warni cerita dalam setiap tahun perayaannya.  Setiap bertambah usia  kemerdekaa bangsa ini,  sangat penting kita pertanyakan,  apakah benar bahwa bangsa ini telah merdeka dalam arti yang sesunguhnya jika dikaitkan dengan cita-cita kemerdekaan yang telah dicanangkan dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yaitu membentuk pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kisah Kasim Idris di atas,  veteran Aceh, yang telah berusia sembilan puluh tahun lebih, menampilkan bagaimana tokoh pejuang tersebut telah memberikan kontribusi nyata dalam meraih kemerdekaan dengan segenap jiwa raganya. Namun ia kini hidup jauh dari apa yang telah dijanjikan dalam cita-cita kemerdekaan tersebut. Dan mungkin masih banyak lagi kisah-kisah kehidupan para veteran perang kemerdekaan hingga saat ini, dan mereka- boleh dikatakan- belum dapat menikmati hasil dari jerih payah perjuangan mereka merebut kemerdekaan sekian puluh tahun yang lalu.

Sebagaimana yang dikatakan Nelson Mandela tentang arti kemerdekaan di atas,  ”untuk menjadi merdeka tidak sekedar melepaskan belenggu seseorang,  tetapi memberinya kehidupan dengan cara  menghormati dan meninggikan kemerdekaan orang lain”.  Bangsa ini telah lepas dari belenggu penjajah,  telah lepas dari segala bentuk penindasan oleh bangsa asing. Namun setelah pernyataan kemerdekaan yang dibacakan melalui proklamasi kemerdekaan itu,  kemudian lebih dari setengah abad kemerdekaan itu dilewati,  apakah negeri ini telah mendapatkan kehidupan yang merdeka sepenuhnya? Apakah janji kemerdekaan telah terlunasi? Rasanya jika lihat secara fakta,  bangsa ini belum benar-benar hidup dalam arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Wilayah  republik yang begitu luas dan kaya raya ini belum mampu memberikan kehidupan kepada rakyatnya yang merdeka. Bahkan untuk para pejuang yang masih hidup tersisa,  pelaku sejarah,  para patriot bangsa,  mereka belum merasakan nikmatnya hidup sebagai bangsa merdeka,  berdaulat, adil dan makmur.

Tentunya banyak hal yang kita kerjakan sebagai generasi muda bangsa,  banyak hak yang harus dipenuhi, oleh para pemimpin negeri ini. Diantaranya adalah hak untuk hidup sejahtera karena bangsa ini adalah bangsa yang luar biasa kaya sumber daya alamnya.  Bangsa ini adalah bangsa yang berdaulat.  Hak untuk mendapat pendidikan yang cukup dan baik,  karena bangsa ini memiliki tidak sedikit orang-orang yang cerdas dan berkualitas.

Kini,  dalam usianya yang ke-tujuh puluh satu, bangsa ini,  terutama kita sebagai generasi penerus para pejuang kemerdekaan,  haruslah mau dan berani mengambil bagian,  memenuhi janji-janji kemerdekaan,  mau bekerja,  berbuat, ambil tanggungjawab dan turun tangan.

546

Pengembangan dan pembangunan desa merupakan hal yang begitu penting bagi sebuah negara, khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pasalnya, desa merupakan penopang kehidupan sebuah negara dimana mayoritas produsen pangan berasal dari desa, contohnya adalah Desa Tuik, Kecamatan Kelapa dikutip dari bangkapos.com, dimana Desa Tuik sejak tahun 2015 sudah tidak lagi perlu khawatir untuk antre raskin (beras miskin), karena desa berhasil membuat sebuah terobosan dengan mengalokasikan sawah untuk warga miskin, sehingga mereka bisa mengkonsumsi berkualitas seperti yang dikonsumsi pada umumnya masyarakat.

Namun tidak semua desa dapat melakukan terobosan seperti yang dilakukan Desa Tuik, hal ini terlihat dari tingginya tingkat urbanisasi yang menjadi ciri gagalnya pembangunan desa. Pasalnya urbanisasi dapat dikatakan sebagai sebuah kemunduran disaat hal ini terjadi karena gagalnya pembangunan wilayah pedesaan, dan hilangnya mata pencaharian masyarakat desa dikarenakan terjadinya dekapitalisasi ekonomi desa. Indonesia memang mengalami urbanisasi yang sangat tinggi bahkan tingkat urbanisasi penduduk di Indonesia pada 2010 hingga 2035 diperkirakan mencapai 66,6 persen hal ini disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana pada tahun 2014 yang dilansir dari Antaranews.com. Hal ini juga dibuktikan oleh survei yang telah dilakukan oleh Price Waterhouse Cooper di mana pada 2014, tingkat populasi urbanisasi Indonesia sebesar 51,4 persen.

Kemunduran ini semakin terlihat, dengan terjadinya penurunan jumlah lahan sawah. Dikutip dari cnnindonesia.com, Deputi Bidang Statistik Distribusi Barang dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan penurunan jumlah produksi padi kemungkinan besar disebabkan oleh berkurangnya luas lahan panen sebanyak 41.612 hektare menjadi 13,79 juta hektare dari sebelumnya 13,83 juta hektare. Tak hanya kekurangan jumlah lahan, jumlah petani juga setiap harinya semakin menurun menurut sensus yang dilakukan pada tahun 2003 dan 2013 jumlah petani turun cukup drastis dari 31 juta ke 26 juta. Mengutip pemikiran H.S Dillon yang dituangkan dalam buku “An Indonesian Reinasance” dimana ia mengatakan bahwa jantungnya sebuah negara bangsa ialah pertanian yang ada di pedesaan, namun data di atas membuktikan bahwa negara telah gagal dalam mengelola desa dan memaksimalkan potensi desa.

Masyarakat desa dewasa ini dianaktirikan, membuat kebanyakan masyarakat desa kini beralih menjadi buruh kasar hal ini dikarenakan industri dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan juga memberikan hasil yang lebih pasti, pasalnya dikutip dari okezone.com bahwa upah buruh tani hanya mencapai Rp. 40.000 setiap harinya, sedangkan upah buruh konstruksi dua kali lipat dari itu atau mencapai Rp. 80.000 setiap harinya, hal ini merupakan salah satu pemicu yang membuat buruh tani lebih memilih dan beralih profesi ke buruh konstruksi. Kekeringan juga memicu banyak petani beralih dikutip dari tempo.co salah seorang petani bernama Dayat asal Kabupaten Bandung Barat memilih beralih profesi “Sudah susah mendapatkan pasokan air yang cukup, dipaksakan untuk menanam sayuran, resikonya terlalu besar,” katanya.

Meskipun begitu, perhatian pemerintah di tahun 2016 ini telah meningkat. Dana Desa dapat dikatakan sebagai contoh nyata keperdulian pemerintah akan pentingnya pembangunan desa sebagai penopang kemajuan ekonomi republik. Tetapi sesungguhnya dana desa sendiri tidak dapat dikatakan sebagai solusi akan stagnasi dan degradasi pembangunan desa, pasalnya seperti yang kita ketahui bahwa penggunaan dana desa harus diawasi agar tidak menjadi ladang korupsi bagi pemimpin daerah ataupun kepala desa yang menjabat. Dikutip dari antaranews.com, Ndiame Diop seorang ahli ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia berpendapat bahwa penyaluran dana desa harus diperbaiki, apalagi menurutnya mengingat anggaran desa telah meningkat lebih dua kali lipat menjadi Rp46 triliun di 2016 dari Rp20,7 triliun pada 2015. Selain masalah distribusi, Diop menilai, pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas aparatur desa untuk mengelola insentif anggaran tersebut. Hal inilah tentunya yang menjadi masalah dari dana desa yang sesunggunya digelontorkan pemerintah untuk menjadi dana pembangunan desa seperti yang telah diatur pada Pasal 19, PP No. 60/2014.

Karena itulah pembangunan desa sesungguhnya harus dimulai dengan cara “people driven development”, tidak dapat lagi pemerintah mengandalkan Trickle Down Effect yang nyatanya tidak berhasil menciptakan perubahan yang signifikan. Kini pemerintah harus mengembangkan kebijakan ataupun solusi yang berlandaskan Growth through equity. People driven development yang dimaksud di sini meminjam pemikiran H.S Dillon dimana menurutnya setiap kebijakan yang diambil, kelembagaan yang dibangun, dan teknologi yang dirakit maupun diambil alih dari luar harus didorong oleh kebutuhan dan kemampuan rakyat yang diupayakan terus berkembang, dimana artinya manusialah yang menjadi landasan dan tujuan pembangunan.

Sedangkan apa  yang dimaksud dengan  growth through  equity di sini ialah berdasarkan pemikiran H.S Dillon dimana ia mengatakan bahwa pembangunan harus mengusahakan suatu tahapan yang benar. Equity dalam hal ini menurutnya adalah persamaan warga negara yang paling dasar seperti pelayanan kesehatan, kecukupan makanan dan gizi, dan akses ke pendidikan. Pasalnya dengan adanya kesamaan atau equity inilah lantas mereka yang tadinya berada di bawah dapat perlahan-lahan secara bertahap naik level, dan menghasilkan pertumbuhan atau growth.

 

580

Ada sebuah portal gerakan Internasional dengan domain www.globalcitizen.org. Adakah yang menarik dari portal tersebut? Global Citizen adalah sebuah platform internasional yang didalamnya terdapat kumpulan aktivitas-aktivitas dari anggotanya diseluruh dunia. Tujuan gerakan itu adalah menyelesaikan extreme poverty (kemiskinan ekstrim).

Global citizen  mendorong partisipasi publik dalam usaha mengurangi kemiskinan ekstrim. Mereka melihat bahwa kemiskinan ekstrim hanya akan bisa diselesaikan dengan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, swasta, akademisi dan warga negara biasa. Bagian yang cukup penting dari gerakan ini adalah mengedepankan advokasi daripada charity.

Dalam portal tersebut, Global Citizen menyatakan bahwa donasi uang yang diberikan oleh individu adalah sesuatu yang penting, tapi untuk menyelesaikan kemiskinan ekstrim kita juga membutuhkan pemerintah dan pebisnis untuk memainkan peranan mereka, mengubah kebijakan, praktik dilapangan dan mengacari keuntungan untuk diri sendiri.

Contoh nyata adalah saat Gavi, aliansi vaksin yang memiliki target untuk menyelamatkan 6 juta orang dalam 5 tahun kedepan dan membutuhkan US$7,5 juta di akhir 2015. Global Citizen dan berbagai rekanannya berkerjasama memanggil pemerintah dan pebisnis untuk mewujudkan hal ini. Pada Januari, pemimpin dunia hadir dan berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk memberikan vaksi kepada jutaan anak di dunia.

Tidak hanya tentang Gavi yang berhasil dalam misinya memberikan vaksin di dunia namun banyak cerita gerakan yang berhasil melalui advokasi, mengajak setiap elemen masyakat untuk ikut bergerak menyelesaikan masalah. Bukan hanya mendorong melalui donasi.

Saat ini, di Indonesia sudah banyak gerakan-gerakan masyarakat sipil yang berusaha ambil bagian menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia. Setiap warga negara punya kewajiban untuk membersihkan halamannya sendiri ketika halaman itu kotor, bukan menyuruh atau menunggu orang lain membersihkannya. Namun, apakah rakyat akan selamanya menyapu halaman kotor tersebut? Bukankah selain menyapu, mencegah ada hal-hal yang akan membuat halaman kembali kotor adalah hal yang penting?

Advokasi tidak hanya tentang mengubah kebijakan, tapi juga tentang mengajak pihak yang memiliki kekuatan lebih besar dari warga negara biasa untuk hadir, ikut serta menyelesaikan masalah. Ini adalah salah satu alasan kenapa TurunTangan hadir di Indonesia. TurunTangan hadir tidak hanya untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapan mata, tapi juga tentang bagaimana mendorong masyarakat untuk peduli politik, mendorong orang baik untuk masuk politik, jadi pengambil kebijakan dan pengelola pajak yang benar. Partisipasi pemerintah dan perusahaan tentunya akan membuat sebuah gerakan menjadi lebih kuat dan lebih bermanfaat.

Berkaca pada perjuangan yang dilakukan oleh aktivis lingkungan sehingga keluarlah kebijakan kantong plastik berbayar yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Perjuangan Greeneration Foundation, Diet Kantong Plastik serta aktivis lainnya  tidak sebentar dan mudah. Perjuangannya melelahkan dan “berdarah-darah” tapi hasil yang diraih besar dan bermanfaat.

Gerakan yang bersifat charity tetap penting. Kehadiran para profesional memberikan inspirasi kepada siswa SD agar mereka mampu memliki cita-cita yang besar dan tinggi, melanjutkan sekolah tetap harus dilakukan, namun berjuang akan fasilitas pendidikan menjadi lebih baik serta memperbesar kesempatan  bagi anak-anak yang terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan tidaklah kalah penting.

Mengelola rumah belajar untuk memberikan kesempatan belajar kepada mereka yang kurang beruntung sangat penting dilakukan, karena tanpa rumah belajar alternatif mereka akan kehilangan kesempatan belajar. Sayangnya, mendorong kebijakan pemerintah untuk membenahi akses pendidikan juga sama pentingnya dengan mengajak perusahaan kontribusi langsung untuk anak-anak tersebut.

Insiatif yang dilakukan oleh setiap warga negara adalah hal yang baik, partisipasi setiap orang untuk menyelesaikan masalah yang ada di negeri ini adalah hal yang harus didorong terus. Kehadiran setiap orang dalam permasalahan di Indonesia harus terus disebarkan seluas-luasnya sampai pada satu titik setiap orang akan bertanya tentang bagian mana lagi yang harus dibantu, karena setiap orang telah berdiri di posisinya untuk mengambil peran dari setiap masalah.

Partisipasi aktif setiap warga negara yang masif dalam mengawasi pengambilan kebijakan akan mengurangi kesempatan pemerintah untuk tidak melakukannya tugasnya dengan baik. Hasil akhirnya adalah janji-janji kemerdekaan yang dicanangkan para pendiri bangsa bisa dilunasi oleh generasi penerus kemerdekaan. Jadi selain bergerak untuk menyelesaikan masalah, penting untuk mengajak pihak-pihak yang lebih kuat untuk bergerak bersama dan mengetuk pengambil kebijakan untuk mencegah munculnya kembali masalah tersebut.

 

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]