Home Artikel Populer
Postingan paling populer

Makna kemerdekaan ialah bebas dalam segala hal yang menyangkut suatu bangsa. Beberapa orang mungkin telah merasakan kemerdekaan tetapi ada juga yang belum merasakannya. Masih banyak rakyat Indonesia yang belum merasakan pembangunan infrastruktur seperti terdapat di kota-kota besar. Terjerat didalam kemiskinan, membuat mereka ingin mengakhiri hidupnya.

Usia Indonesia yang sudah 69 tahun terbilang sudah tua tetapi, Indonesia belum mandiri karena masih tergantung dengan pihak asing. Sepertinya, sangat sulit menghilangkan ketergantungan tersebut. Apa mungkin kita sebagai bangsa yang memiliki sumber daya yang luar biasa kurang percaya diri? Minimal kita mengurangi import barang.

Ketika kita mau dan memiliki tekad yang kuat didalam diri pasti kita bisa. Dukungan dari seluruh rakyat Indonesia sangat perlu. Dalam memajukan produk-produk buatan dalam negeri. Beberapa barang hasil karya anak negeri sangat luar biasa bagus bahkan telah mencapai pasar luar negeri.

Alangkah baiknya jika kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan seluruh rakyat Indonesia terlebih dahulu. Ketika seluruh kebutuhan di dalam negeri telah terpenuhi maka kita dapat memasuki pasar luar negeri. Kita sebagai Generasi Muda yakin Indonesia akan maju dalam beberapa tahun ke depan dengan segala rintangan kita hadapi. Kita semua harus saling mendukung, menghargai. Belajarlah di sekolah, di kampus dengan sungguh-sungguh, semangat agar kita semua dapat menjadi tuan di Negeri sendiri.

Jangan pernah menyerah!!

Mohon Maaf jika menjelang detik-detik kemerdekaan ini, saya akan memposting beberapa kalimat #17an bernada agak ‘fals’. Harapannya turut menyumbangkan nada dalam orkestra ide, imajinasi, dan gagasan yang gemuruhnya akan melampaui zaman. Senang, jika saya diperkenankan memberi kesempatan sebagai pengirim nada dalam orkestra ini.

Anak muda Indonesia, kita adalah generasi muda yang memiliki semangat dan jiwa yang bergelora. lihat di sekeliling kita, banyak yang harus kita benah, banyak yang memerlukan pikiran, uluran tangan, Turun Tangan kita. Perjalanan hidup masih terbentang panjang dan penuh tantangan. Setiap hari ada lembaran baru untuk mencari dan menemui tantangan baru.

Jangan pernah putus asa! Setiap tetesan keringat kita dalam berkarya adalah harapan bagi orang di sekeliling untuk terus maju. Lihat masa depan dengan tegak dan penuh optimisme. lihat wajah orang tua kita, guru guru. Rasakan dan resapi betapa mereka membanggakan diri kita, kita adalah penyala harapan bagi mereka. Pada kita harapan itu ditautkan.

Buat rekan-rekan Generasiku usia 20-an. Tampaklah prestasi puncak tercapai pada usia empat puluhan, hal ini diamati dari prestasi-prestasi Pendiri dan Petinghi Republik Indonesia tercinta ini. Dan prestasi puncak sangat dipengaruhi dalam usia 20-an. Kita bisa raih prestasi puncak bila belajar, bekerja, dan hidup dengan semangat juang habis-habisan berdarah-darah. Ada waktu santai, nnmun tak ada waktu untuk berleha-leha memudarkan niat kita untuk belajar dan bekerja keras mengisi waktu hidup usia 20-an mencapai hasil perjuangan kelak.

Kini kita berusia dua puluhan. Bagaimana Indonesia jika kita capai pada usia 40-an? Kita sudah memasuki tahun 2032 – 2042, menjelang Indonesia merdeka 100 pada tahun 2045.

Selama kita sempat hidup dalam usia 20-an ini untuk kelak bila tiba kesempatan berharga dalam masyarakat, kita berbekal cukup membawa Indonesia keluar dari lubang ketertinggalan, kebanjiran, dan duka derita anak bangsa. Ke arah Indonesia makmur ekonominya, adil sejahtera kehidupan sosialnya dengan Tanaha Air Indonesia yang hijau, bersih, dan lestari. OH TAHUN 2045, 100 TAHUN INDONESIA MERDEKA.

Kitalah orang-orang yang merdeka. Saya percaya, impian ini akan terwujud, bukan karena lahir manusia-manusia unggul tetapi karena kejahilan dan kejahatan, kelicikan dan intoleransi ada batasnya dan sudah tiba pada batasnya!
Sehubungan dengan isu yang berkembang detik ini, saya mempunyai harapan bahwa Indonesia akan mengutamakan dialog sebagai cara yang bermartabat dalam membangun persahabatan dan persatuan, memelihara keunikan dari setiap budaya, agama, dan menyelesaikan berbagai konflik.

Mari kita memulainya sekarang untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Dengan niat yang tulus seraya memohon kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa, saya sangat berkeyakinan bahwa berkat Tuhan akan melimpah kepada kita semua.

HADAPI!!!

Begitu banyak janji kemerdekaan yang pernah diucapkan para pejuang Indonesia terdahulu. Mungkin tak banyak dari kita yang ingat dan tahu, termasuk saya. Tapi apakah hal itu menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berkarya untuk Indonesia? Seharusnya tidak!

Janji kemerdekaan dan apapun yang pernah terucap oleh para “pendiri” negara ini adalah tanggung jawab kita, yang masih melihat bendera merah putih naik ke puncaknya, untuk menuntaskannya. Mungkin tidak perlu dengan turun dalam basis militer, jika memang kita tidak sanggup. Tapi, dengan berkarya, apapun, yang kita suka dan bisa.

Jadi, yang bisa saya katakan dan juga akan lakukan:
Temukan passion-mu!
Asah lebih tajam!
Niatkan untuk Indonesia!

Percayalah, dan saya juga percaya. Selama niat itu ada untuk Indonesia, semangat juga akan tumbuh cepat dengan sendirinya. Dengan semangat yang membara, seperti yang dimiliki para pejuang dahulu, Indonesia akan hidup sebagai bangsa yang lebih kuat dan lebih indah.

Terima Kasih Para Pahlawan Indonesia. Semangatmu akan terus hidup di hati kami.

Terima Kasih para pejuang politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia. Terima kasih karena sudah rela berjuang di tengah orang-orang yang hanya mencari keuntungannya sendiri, tetapi mengatasnamakan sebagai wakil kami semua.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-69!

Teruslah berkarya bangsanya, tetap berusaha membawa kebaikan untuk Indonesia!

MERDEKA!

Republik ini didirikan dengan banyak tujuan, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. 17 Agustus 2014 adalah tepat 69 tahun Republik ini berdiri. Angka yang sebenarnya menunjukkan bahwa Republik ini tlah lama berdiri. Cukup tua untuk ukuran seorang manusia. Lalu, apakah tujuan-tujuan Negara ini didirikan sudah benar-benar terlunasi sebagai sebuah janji?

Salah satu janji yang harus dilunasi adalah Indonesia menjadi bagian dunia dengan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai sebuah Negara, Indonesia akan bergantung dan digantungi oleh Negara lain di dunia. Baik dalam lingkup regional maupun dalam lingkup yang lebih luas.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini di dunia adalah gencarnya serangan Israel terhadap Palestina yang berpusat di jalur Gaza. Serangan-serangan tersebut menimbulkan banyak korban jiwa, dari luka ringan, luka berat hingga korban tewas. Anak-anak dan wanita dikabarkan menjadi jumlah korban terbanyak dalam serangan tersebut. Lalu bagaimana Negara-negara lain menanggapi peristiwa ini? Termasuk Indonesia.

Melihat dari jasa masa lalu dari Palestina, sesungguhnya Palestina merupakan salah satu Negara yang pertama kali mendukung kemerdekaan Indonesia. Palestina menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Maka bagaimana kita membalas jasa mereka? Kenyataannya, terlepas dari apakah ini merupakan perbuatan balas budi atau tidak. Rakyat Indonesia dari berbagai kalangan baik anak-anak, remaja maupun dewasa berlomba-lomba mengumpulkan dana untuk rakyat Palestina. Jika seluruh lembaga yang mengumpulkan donasi disatukan, maka pasti akan sangat banyak jumlahnya. Secara ekonomi, sepertinya hal ini cukup membantu untuk meringankan beban rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Nyatanya, tak hanya mengumpulkan dana berupa uang. Rakyat Indonesia juga melakukan kegiatan lain. Menggelar doa bersama dan melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Negara yang mendukung agresi Israel ke Palestina merupakan hal lain yang dilakukan rakyat Indonesia dalam menunjukkan rasa empati dan simpati terhadap rakyat Palestina. Rasanya, ini tak lagi hal tentang balas budi, namun ini murni rasa persaudaraan.

Memang benar adanya apa yang dikatakan oleh Mas Anies Baswedan bahwa kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya. Rakyat Indonesia telah membuktikannya dalam hal ini. Semua ini terjadi hanya apabila terciptanya “Persatuan”. Maka tak salah bahwa salah satu sila dalam Pancasila adalah Persatuan Indonesia.

Republik ini akan kuat dan maju apabila semua elemen masyarakat bersatu. Menjunjung tinggi rasa ke-Bhinneka-an demi terwujudnya Indonesia yang tertib.

Namun bila kita merujuk akan penyelesaian yang dilakukan oleh PBB dengan upaya mendiskusikan hal tersebut, saya rasa kurang tepat. Karna Penjajahan tidak didiskusikan namun dihapuskan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”. Indonesia harus turut serta untuk menghapus segala bentuk penjajahan di muka bumi, demi terciptanya kesejahteraan serta ketertiban dunia.

Agresi Israel ke Palestina hanyalah satu contoh peristiwa, masih ada konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan maupun Rusia dengan Ukraina. Indonesia tak boleh berleha-leha, tak boleh berpangku tangan. Sesuai dengan Janji Kemerdekaan maka Indonesia, Indonesia saya, Indonesia kamu, Indonesia kalian, Indonesia kita semua wajib turut serta melaksanakan ketertiban dunia. Ini Janjiku, Janji Bangsaku.

Di zaman penjajahan, ada seorang anak asli Indonesia berusia sekolah dasar sedang berjalan bersama beberapa teman sekolahnya yang keturunan Belanda. Anak ini memang cukup beruntung bisa bersekolah di sekolah Belanda. Anak ini menganggap dia sama dengan teman-temannya. Teman-temannya pun merasa begitu. Sampai suatu saat, mereka akan masuk ke sebuah restoran. Di depan pintu restoran itu, ada tulisan menggunakan bahasa Belanda, yang artinya “Anjing Dilarang Masuk”. Lalu anak tersebut dengan 3 orang temannya yang keturunan Belanda akan masuk ke dalam restoran tersebut. Sampai di pintu masuk, pelayan restoran memberhentikan anak ini dan melarangnya masuk. Ketiga temannya berhasil masuk. Ia terpaksa pulang dengan perasaan terhina, bingung, sedih, dan membawa banyak pertanyaan.

Sesampainya di rumah, ia bertanya pada ayahnya mengapa ia tidak boleh masuk padahal teman-temannya bisa masuk. Ia bercerita pada ayahnya, kalau mereka biasa belajar dan bermain bersama, tidak ada yang berbeda. Lalu dengan sabar ayahnya menjelaskan mengenai perbedaan antara dia dan teman-temannya. Sang anak bingung, kesal, dan tidak bisa menerima mengapa perbedaan warna kulit bisa membedakan perlakuan seseorang dengan yang lainnya. Lalu ayahnya berpesan, “Yang bisa membuat kamu diperlakukan sama atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan teman-temanmu yang keturunan Belanda atau keturunan manapun, hanya satu, yaitu otakmu. Kepandaian seseorang bisa mengalahkan warna kulit apapun.”

Jika dibandingkan 69 tahun yang lalu, di mana belum ada internet dan alat-alat pemberi informasi instan seperti sekarang, dengan menggunakan akal sehat, anak muda pada zaman kemerdekaan dulu memerlukan waktu yang lebih banyak untuk mempelajari suatu hal dibandingkan anak muda zaman sekarang. Jangankan zaman kemerdekaan dulu, waktu zaman saya SD saja mau cari informasi tentang pahlawan Nasional harus ke perpustakaan sekolah, cari bukunya, cari halamannya, baru bisa dapat informasinya. Kalau sudah ketemu, harus fotokopi dulu, belum lagi pakai antre fotokopinya. Sedangkan sekarang, tinggal buka Google atau Wikipedia, tidak sampai 10 detik langsung tersedia seluruh informasinya. Maka bayangkan ketika jaman penjajahan dulu, buku saja jarang.

Selain minim informasi, zaman perjuangan zaman yang penuh tekanan. Mulai dari penjajahan, perang, kematian, dan lain-lain. Kalau dipikir-pikir, mana sempat berfikir untuk belajar, menuntut ilmu, atau sekolah tinggi, karena waktu habis untuk memikirkan bagaimana agar bisa selamat dari penjajah. Namun, alangkah anehnya di tengah kondisi yang minim informasi dan penuh penjajahan, malah banyak intelektual Indonesia yang punya keahlian di atas rata-rata.

Seperti Agus Salim yang mahir bicara 7 bahasa Internasional tanpa pernah menginjak negara asal bahasa tersebut.

Sekarang sudah tahun 2014. Informasi tersedia berhamburan, bahkan kelebihan dari yang kita butuhkan. Logikanya, kalau jaman tanpa internet dan penuh penjajah Agus Salim bisa belajar 7 bahasa, paling tidak sekarang banyak anak Indonesia yang bisa 7 bahasa, kalau tidak bisa melebihi. Tapi, nyatanya, berapa banyak dari kita yang bisa mahir bicara 5 bahasa? Padahal fasilitas dan segala informasi telah tersedia. Alasan mengapa hal itu tidak terjadi bisa berbagai macam. Bisa masalah kemauan, masalah seberapa pentingnya menurut kita, atau karena tidak ada tekanan.

Saat ini negara kita (seharusnya) sudah merdeka. Sudah tidak ada tekanan dari penjajah dan perang dalam bentuk fisik dari negara lain. Logikanya, anak muda saat ini memiliki waktu yang lebih banyak dan situasi kondisi yang lebih nyaman untuk bisa memikirkan mengenai masa depan negaranya dan bagaimana membangun bangsa.

Informasi yang berhamburan dan tidak ada tekanan seharusnya membuat kita, anak muda Indonesia semakin semangat tanpa terbeban untuk mencari dan mempelajari hal-hal baru demi kemajuan bangsanya. Namun nyatanya kedua faktor ini telah memberikan kenyamanan untuk kita. Tidak adanya tekanan dan kenyamanan pasti akan membuat seorang terlena dan lupa. Ketika kita terlena dan lupa, kita pun akan lupa apa yang seharusnya kita perjuangkan untuk bangsa ini. Bangsa yang dipenuhi dengan anak muda yang terlena dengan kenyamanan lebih sulit maju di masa depan karena mereka sudah cukup senang dengan kondisi yang seperti ini. Pada masa sekarang ini, perasaan tertekan dan cemas sangat dibutuhkan agar kita mampu bersaing dengan bangsa lain. Cemas dengan kemajuan bangsa, masa depan bangsa, masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita.

Seperti sang anak yang dilarang masuk ke restoran dan dipermalukan di depan teman-temannya, sebuah tekanan menjadi pacuan dan motivasi dirinya untuk mengerahkan segala usaha dan upaya agar bisa keluar dari tekanan tersebut dengan menyaingi dan melawan para penjajah, yaitu menggunakan otaknya. Perasaan tertekan sangat perlu karena akan memunculkan kegigihan yang besar yang membuat kita berpikir dan bertindak lebih besar, dibandingkan jika tidak mendapatkan tekanan.

Jangan terlalu lama dalam suatu kenyamanan, carilah suatu hal yang menurutmu perlu diperjuangkan.

Dalam proses memperjuangkan hal tersebut, kamu akan mendapatkan banyak tekanan yang akan membuatmu melakukan dan mengalami hal-hal luar biasa yang tidak pernah disangka sebelumnya.

Dan tiga puluh tahun kemudian, anak ini berhasil menjadi professor dan salah satu orang terpandang di kelas dunia.

Tulisan ini adalah tulisan dari Jezzie Setiawan yang merupakan cucu dari pahlawan nasional KH. Agus Salim

relawan turun tangan jakarta

Janji ini bukan sekedar janji, karena janji ini penuh tanggung jawab. Harus sangat di apresiasikan untuk bangsa kita. Maka dari itu saya berjanji kepada bangsa ini untuk selalu berpegang teguh menjaga perdamaian menjunjung tinggi martabat indonesia.

Dan saya pun berjanji sebagai Relawan TurunTangan akan terus berperan serta dalam mengawal politik di Negri ini.

Dirgahayu Indonesia ke – 69, Indonesia harus tetap makmur dan sejahtera.

MERDEKA!

Pejuang Bukan? HADAPI!

Ada orang yang penuh kritik dengan alasan kritis. Namun pesan yang sampai menjadi pesimis.

Ada orang yang penuh kritik dengan berlomba bersolusi. Dan pesan yang sampai menjadi optimis.

Yang mana perspektif yang akan kita ambil?

Jika kita tarik benang sejarah, saat-saat di mana tenaga rakyat dikuras tanpa kompromi, ada sebagian rakyat menganggap menjadi budak adalah nasib yang paten. Namun ada pula sebagian orang yang percaya penjajahan bukan nasib, melainkan sebuah pilihan. Dijajah atau berontak.

Ada beberapa yang digariskan sebagai pahwlawan. Beberapa revolusioner. Beberapa yang terdidik. Mereka ambil perspektif beda dengan menularkan optimisme bahwa Indonesia bisa pula merdeka. Mereka ambil jalan terjal, diasingkan. Pada akhirnya, atas nama bangsa, Indonesia optimis bisa merdeka.

Ada pahlawan yang dibukukan, namun lebih banyak pahlawan yang tak dibukukan. Mereka tak tanya akan dapat apa, keluarga nya akan dapat apa, golonganya akan dapat apa ‘jika’ Indonesia merdeka kemudian. Mereka sama-sama berjuang karena kecintaan terhadap Indonesia.

Perenungan menjadi butuh ketika bursa pemimpin-pemimpin negeri dibuka. Jangan tanya “Jika aku menjadi menteri aku akan dapat apa? Partaiku akan dapat apa? Keluarga dan golonganku akan dapat apa?” Bukan dengan mental seperti itu Indonesia ini dibangun.

Kerelaan dan ketulusanlah yang menghantar darah menjadi Indonesia.

Mengapa masih ada yang mengutuk Indonesia? Mengkritik tanpa bersolusi. Menghujat jika tak sependapat. Ribut soal perubahan sambil mengasosiasikan ada orang yang akan merubah.

Sungguh tak sekalipun saya mendengar ada seorang pengusaha sukses yang dulunya pesimis nan loyo lalu sukses. Saya memilih optimis meski tren bad news is a good news.

Ketika sebagian pemuda ribut-ribut dijalan menuntut turunya dana pendidikan, ada pemuda yang malah sibuk menyiapkan buku untuk mengajar di pelosok-pelosok.

Ketika sebagian orang menggunakan lebih banyak waktu dijalan, ada orang beramai-ramai menanam seribu pohon di jalan.

Ketika sebagian orang kecewa dengan Timnas Indonesia, ada anak bangsa menang di kejuaran fisika tingkat dunia.

Ketika ada yang marah saat harga BBM naik, beberapa petani tetap berladang meski harga pupuk selalu mahal.

Ketika banyak orang berkoar listrik mati sekitar satu dua jam, beberapa anak di kepulauan Riau selalu menyalakan lilin saat belajar dimalam hari.

Terimakasih, meski sebagian mengutuk masa depan Indonesia, sekolah-sekolah masih padat, pasar juga ramai, para pekerja masih berbondong-bondong ke kantor, nelayan hendak pergi menjual ikan, dan prajurit-prajurit di perbatasan masih gagah menjaga wilayah Indonesia.

Pesta demokrasi sudah selesai. Tapi perjuangan dalam mengawal proses demokrasi ini tidak habis sampai 2014 saja. Yang namanya demokrasi akan terus berlanjut sampai kapanpun.

Saya paham betul dari 36 ribu lebih relawan ada dua kubu yang berbeda. Masing-masing punya pandangan tersendiri soal siapa yang layak menjadi presiden Republik Indonesia yang ke -7. Di antara Anda pasti ada banyak yang diam-diaman dengan teman, nyinyir-nyinyiran, saling unfollow satu sama lain, atau bahkan saling block akun twitter karena beda pandangan.

Pepatah pinggir jalan mengatakan di setiap pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Ada yang senang dan kecewa. Tapi pilpres telah selesai. Siapapun yang menjadi jagoan Anda, “posisi” kita hari ini sama: sebagai oposisi pemerintahan yang baru.

Bukankah tujuan mendukung salah satu capres karena kita ingin Indonesia berubah? Tugas kita untuk mencapai perubahan masih panjang dan lebih berat: mengawal pemerintahan yang baru sekritis mungkin.

Perubahan tidak akan pernah terjadi kalau kita hanya bisa nyinyir dengan hanya modal emosi, saling unfollow, atau bahkan saling block akun twitter kawan sendiri

Perubahan akan terjadi kalau kita mau menciptakannya dengan berkarya. Siapapun bisa ikut turun tangan untuk menciptakan perubahan.

Kalau Anda punya tenaga yang kuat, sisihkan tenaga Anda untuk menjadi relawan suatu gerakan yang memiliki visi besar dalam menciptakan perubahan.

Kalau Anda bisa membuat lagu atau bernyanyi, buatlah lagu yang membuat orang-orang semangat dan tergerak untuk sama-sama turun tangan menciptakan perubahan.

Kalau Anda bisa menulis, tulislah pesan positif kepada orang banyak agar semua tergerak untuk menciptakan perubahan.

Kalau kamu punya twitter dan facebook, jadilah aktivis di dunia maya. Sebarkan hal-hal positif untuk orang banyak.

Dan masih banyak lagi jalan yang bisa ditempuh untuk mendatangkan perubahan.

Daripada terus-menerus berselisih, kenapa tidak berkolaborasi untuk menciptakan perbubahan saja? Terlalu lama kita berselisih paham, terlalu banyak pula waktu yang terbuang– yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Pejuangan kita belum selesai, dan garis finish masih sangat amat panjang.

Akhir kata, seperti biasa, saya punya satu pertanyaan untuk teman-teman relawan yang cukup dijawab di dalam hati:

Pejuang, bukan?

Jika ia menjadi presiden dan ia menjadi wakil presiden kehidupan kita akan begini baik. Bayangkan jika pasangan itu yang akan memimpin negeri, mereka hanya akan buat hidup kita begitu buruk. Tidak begitu, justru pasangan yang kamu dukung saya yakin akan buat bangsa ini hancur.

Bagitulah obrolan bernada tinggi yang sering kita temui akhir-akhir ini.

Kini, ada dua pilihan yang buat banyak orang bersebrangan. Banyak orang saling serang agar terlihat layak menang. Mereka ngotot. Kengototan yang amat sangat tak terkendali itu adalah luapan dari keinginan dirinya sendiri untuk menang agar bisa jumawa di depan “lawan”. Mungkin begitu? Padahal, pernahkah direnungkan, ini soal menuju kemenangan rakyat Indonesia. Seluruhnya. Tak hanya soal kemenangan logika dan perasaan diri serta golongan sendiri.

Kini, banyak ruang baru tercipta di dunia maya. Ruang sesak dengan obrolan-obrolan sekenanya, debat semaunya. Kebanyakan argumentasi emosional, tak berdasar dan kadang dengan kata-kata kasar. Semua memang bebas bicara. Apa saja, silahkan. Ada hak bicara, ada juga hak menilai isi pembicaraan.

Perdebatan secara terbuka terjadi tak hanya di dunia maya, bahkan di rumah anak bisa bertengkar dengan orang tua lantaran beda pilihan presiden dan wakil presiden. Di tempat umum, bicara dengan supir taxi pasti menyinggung pemilihan presiden. Di mana-mana politik dibincangkan.

Ini bukan pertanda bencana, tapi ini proses menuju suatu tempat yang entah apa namanya. Yang jelas ini proses untuk sebuah perubahan wajah bangsa. Segala yang terjadi di tahun politik ini adalah proses Indonesia menuju lebih dewasa. Kadang menjadi dewasa memang harus alami banyak ujian yang rumit. Jalani saja.

9 Juli 2014

Perubahan menuju kemajuan bangsa ini adalah harapan seluruh warganya. Semua berharap sama, Indonesia yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkan harapan itu ada pendekatan berbeda yang ditawarkan kedua pasang calon presiden dan wakil presiden. Keduanya sama cintanya pada negeri ini. Keduanya punya cara masing-masing untuk wujudkan harapan itu. Kamu mungkin sepaham dengan Prabowo Subianto & Hattarajasa yang kamu yakini akan mewujudkan harapan itu dengan cara itu. Sementara yang lain mungkin merasa sepaham dengan Joko Widodo & Jusuf Kalla yang ia yakini akan mewujudkan harapan itu dengan cara ini. Menghargai perbedaan adalah suatu keindahan.

Jika telah ada hasilnya nanti, menang tak menang yang kamu dukung tak jadi soal. Semua harapan kita sama bukan? Setelah 9 Juli 2014 lanjutkanlah kepedulian kita terhadap hal semacam ini karena kita warga negara yang harus punya usaha dan peran nyata untuk Indonesia. Usaha dan peran yang dimulai dengan menumbuhkan lalu memelihara kesadaran diri sendiri untuk ambil bagian dalam perubahan negeri melalui bidang dan kebiasaan yang dijalani sehari-hari. Kesadaran dan harapan yang terpelihara itu akan menular. Percayalah..

Assalammualaikum Wr. Wb.

Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua.

Bagaimana kabar teman-teman relawan di masing-masing regional? Semoga tulisan ini menemui teman-teman dengan kabar baik dan tidak dalam kesusahan.

Perkenalkan sekali lagi, saya Raka, salah satu relawan Turun Tangan asal Kota Malang. Saat ini saya sedang fokus untuk bagaimana semangat ‘turun tangan’ tetap ada setidaknya di Turun Tangan Malang, tempat saya besar dan berproses selama ini.

Saat ini, saya sadari kita sedang dalam sebuah perjalanan besar untuk menemukan pemimpin baru yang tepat. Saya juga tidak mau munafik, sampai saat ini saya pribadi masih kecewa dengan tidak majunya Anies Baswedan dalam ‘putaran final’ pemilihan presiden Indonesia 2014. Namun, show must go on. Perjalanan menentukan pemimpin sudah hampir tiba tahap akhir. Kini, Indonesia hanya tinggal memilih, Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK yang dikehendaki memegang kendali tertinggi dalam 5 tahun ke depan.

Kembali ke Turun Tangan, berkaitan dengan pemilihan presiden. Jika kita mau jujur, asal gerakan Turun Tangan yang mendukung sosok Anies Baswedan sebagai seorang calon presiden seakan ‘berhenti sesaat’ ketika calon yang kita dukung tidak dapat melanjutkan prosesnya dan beralih menjadi juru bicara Jokowi-JK. Kita terpecah dalam pilihan, mungkin juga dalam hubungan. Ada yang mengikuti Mas Anies untuk mendukung Jokowi-JK, ada pula yang memilih bersebrangan untuk mendukung Prabowo-Hatta. Jika kalian tanya posisi saya ada di mana? Saya tidak ada dikeduanya. Hingga kemarin, saya belum menentukan pilihan untuk berpihak dan mendukung calon yang mana.

Namun, dari banyak diskusi panjang dengan banyak teman, dengan melihat semua kemungkinan dan aspek yang terkait kepemimpinan Indonesia, saya sudah menentukan pilihan. Insya Allah saya mantap dengan pilihan itu.

Namun, bukan itu yang menjadi fokus tulisan ini. Saya tidak akan memublish dan berkoar-koar dengan pilihan saya ini. Saya akan menyimpan pilihan saya dalam hati dan biarkan hanya saya, Tuhan, dan bilik suara pada tanggal 9 Juli nanti yang tahu. Saya tidak akan mendukung pilihan saya sama dengan cara saya mendukung Anies Baswedan menjadi calon presiden. Tidak akan.

Kenapa?

Pertama, buat saya kedua calon yang sudah pasti bertarung memperebutkan posisi presiden tidak ada yang setidaknya selevel dengan Anies Baswedan. Itu menurut saya. Saya tidak melarang anda untuk setuju dengan pendapat saya. Ini negara demokrasi dan saya menyukai adanya perbedaan.

Kedua, ini alasan saya yang paling penting, mungkin sedikit menyentil teman-teman yang sudah “berdiri di sisi yang tepat” dan teman-teman yang mau “menyelamatkan Indonesia”. Saya tidak akan menyebarkan pilihan saya karena saya mau berusaha untuk “berdiri di sisi yang netral untuk menyelamatkan Turun Tangan”.

Mungkin kali ini akan banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya. Sekali lagi, anda bebas berpendapat. Ketika Anies Baswedan memutuskan untuk menjadi juru bicara Jokowi-JK, banyak yang berpendapat bahwa kita Turun Tangan menjadi simpatisan Jokowi-JK. Jika melihat dari strategi ke-ilmuan politiknya yang memang seperti itu. Namun, kita membatahnya dengan timbul perbedaan pilihan.

Anies Baswedan juga dengan di banyak kesempatan menyatakan bahwa pilihan beliau untuk mendukung Jokowi-JK adalah bukan pilihan Turun Tangan. Kita, Turun Tangan tetap netral dan tetap berusaha untuk mengawal pesta demokrasi ini hingga selesai. Terbukti dengan masih ada beberapa kegiatan untuk memfasilitasi masyarakat dalam menentukan pilihan presidennya.

Saya pribadi, membantah keras bahwa Turun Tangan bukan lah simpatisan Jokowi-JK. Saya adalah buktinya. Saya relawan Turun Tangan dan saya hingga kemarin malam belum menentukan pilihan. Mungkin di luar sana ada relawan Turun Tangan yang memilih mendukung Jokowi-JK karena ada Mas Anies di sana, tapi tidak sedikit pula yang mendukung Jokowi-JK dengan alasan yang lain, dan banyak juga yang memilih untuk mendukung Prabowo-Hatta.

Selain itu, semenjak Turun Tangan ‘terpecah’ menjadi beberapa pilihan perbedaan, gerakan ini seakan ‘melempem’. Jika saya boleh memberikan perumpamaan, seperti kerupuk warung yang ada di dalam kaleng selama 5 hari. Ada, tapi seakan menjadi pilihan yang lain. Bukan seperti Turun Tangan yang semenjak Oktober 2013 banyak orang banggakan dan elukan. Semangat yang ada bukan semangat untuk tetap “turun tangan” menjadi berusaha untuk tetap solutif, tapi semangat untuk sekedar mempertahankan gerakan Turun Tangan untuk tetap ‘eksis’ di masyarakat dan membuktikan kita bukan lah sekedar ada ketika Anies Baswedan mencalonkan diri menjadi presiden.

Itu mengapa saya tidak mem-publish secara terang-terangan atas pilihan presiden saya. Saya disini “berdiri di sisi yang tepat” untuk “menyelamatkan Turun Tangan” dari semua stigma negatif dan penilaian yang sudah saya kemukakan di atas. Berulang kali saya sempat berucap, saya ikut gerakan Turun Tangan bukan cuma soal sosok Anies Baswedan dan saya buktikan hingga sekarang.

Saya di sini, tetap ada untuk ‘turun tangan’. Tetap berusaha untuk solutif dan menyebarkan virus ‘turun tangan’ ke berbagai aspek

Walaupun saya sudah menentukan pilihan, saya akan tetap berusaha objektif terhadap kedua pasang calon presiden. Saya akan tetap kritis untuk memperlihatkan bahwa Turun Tangan ini ada bukan cuma soal Anies Baswedan.

Untuk teman-teman yang sedang sibuk di ‘sisi’ lain.

Saya hargai apapun keputusan teman-teman semua. Saya senang melihat teman-teman banyak yang ikut partisipasi aktif di pesta demokrasi terbesar kita. Namun, apapun pilihan teman-teman itu, jangan pernah lupa bahwa kalian pernah berjuang bersama di satu rumah. Kalian pernah bergandeng dan berteriak bersama atas dasar satu nama. Iya, Turun Tangan.

Hingga selesai 9 Juli nanti atau hingga teman-teman siap untuk kembali, saya menunggu teman-teman semua di rumah kita dulu. Saya masih di sini kok, di sisi yang dulu pernah kita perjuangkan bersama.

Masih ingat dengan pintu depan dan ruang tamu kita? Pintu depan yang merupakan semangat tanpa mengeluh dan ruang tamu kita yang merupakan rasa untuk memiliki masalah

Untuk kini, selamat berjuang untuk teman-teman di masing-masing tempat kita berdiri saat ini. Semoga sukses.

Cepat pulang, saya tunggu kalian di rumah.

Rumah kita, Turun Tangan.

Salam hangat dari mahasiswa yang sedang memikirkan judul skripsi.

Raka Eka Pramudito.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]