Home Ayo Bergerak!
editorial dari redaksi TurunTangan

298

Indonesia sedang mengalami darurat sampah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Komunitas Peduli Lingkungan Greeneration, Indonesia menghasilkan sampah rumah tangga tak kurang dari 175.000 ton per hari. Sebagian sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) dan laut karena  masyarakat dan pemerintah belum mampu mengolahnya dengan baik.

Mayoritas sampah yang terbuang di lautan adalah sampah plastik. Hasil riset Jenna R Jambeck di www.sciencemag.org pada 12 Februari 2015 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam dan Sri Langka.

Dalam riset tersebut, Indonesia disebut bertanggung jawab atas 3,2 juta ton sampah plastik yang mengambang di lautan. Biota laut, seperti plankton, ikan, dan burung-burung laut, bisa saja mengonsumsi sampah plastik itu. Padahal banyak orang Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari laut dan hasilnya. Jika ini terus menerus dibiarkan terjadi maka ancamannya adalah manusia itu sendiri. Zat-zat berbahaya yang terkandung dalam pastik mengurai dalam tubuh biota laut. Ketika masuk ke dalam tubuh manusia tentu dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Kerugian lain yang terjadi akibat sampah bagi manusia pernah melanda Indonesia pada 21 Februari 2005. Tumpukan sampah longsor dan menghapus dua kampung di daerah Bandung dari peta. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok tertimbung sampah yang berasal dari TPA Leuwi Gajah. Sekitar 157 orang terkubur dan ratusan keluarga kehilangan harta benda. Maka, untuk mengingatkan masyarakat akan bahayanya sampah, Kementrian Lingkungan Hidup menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Menyongsong HPSN, TurunTangan mengajak anak muda di seluruh Indonesia untuk mengatasi permasalahan sampah di daerahnya masing-masing. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti bersih-bersih lingkungan sekitar, memilah sampah organik dan anorganik, melakukan penyuluhan pengelolaan sampah yang baik kepada masyarakat, dan lain-lain.

Saat ini, sudah ada enam komunitas TurunTangan yang akan melakukan aksi sosial:  TurunTangan Lhokseumawe, Pidie, Langsa, dan Subulussalam dengan aksi bersih-bersih “Cleaning City”, TurunTangan Jakarta berkolaborasi dengan Rumah Belajar Rawamangun dan Komunitas Dongeng Indonesia akan membagikan tong sampah kepada warga Rawamangun Jakarta Timur, dan TurunTangan Bandung membuat prakarya dari sampah bareng anak-anak rumah susun.

Kamu bisa menginisiasi gerakan baru, menduplikasi gerakan yang sudah ada atau bergerak bersama relawan TurunTangan di enam daerah tersebut. Rangkul kanan kirimu, ajak mereka turun tangan menyelamatkan bumi  untuk masa depan yang lebih baik. Informasi lebih lanjut bisa kontak kami melalui email relawan@turuntangan.org.

Pejuang, bukan? Hadapi!

292

Sebagai makhluk sosial, kerap kali kita dihadapi oleh berbagai problematika kemanusiaan yang ada di Indonesia. Mulai dari pencemaran lingkungan, rendahnya kualitas guru, minimnya jumlah sekolah, kekerasan dan ketidakadilan sosial, sampai pelanggaran HAM. Memang sudah mulai banyak anak muda yang peka akan masalah kemanusiaan ini, namun kedepannya kebutuhan akan partisipasi unsur Civil Society Organization (CSO) akan sangat dibutuhkan. Masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan isu kemanusiaan. Masyarakat menjadi first responder yang mengatasi fase awal krisis kemanusiaan (Humanitarian Forum Indonesia, 2016).

Semangat kerelawanan menjadi modal sosial kita untuk mencegah dan menyelesaikan krisis kemanusiaan, karena ini merupakan gerakan ‘dari rakyat untuk rakyat’.

Di Indonesia sendiri, masalah kemanusiaan masih menjadi isu yang patut diperhatikan. Menurut Human Rights Watch selama masa pemerintahan Presiden Jokowi belum ada peningkatan penegakkan HAM yang kuat. Kaum minoritas agama Indonesia masih diviktimisasi oleh kelompok Islam yang ekstremis dan hukum yang diskriminatif. Kita sebagai warga negara Indonesia menghadapi tantangan: menguatnya potensi intoleransi sosial keagamaan di antara warga Indonesia. Jika dibiarkan, potensi ini akan menciptakan aksi radikalisme atas nama agama — yang tentu, mengecam nilai kemanusiaan bangsa.

Berdasarkan data dari Setara Institute, sampai November 2015, ada 194 insiden kekerasan pada kaum minoritas agama yang terjadi di Indonesia. Angka tersebut sama dengan total kekerasan agama yang terjadi sepanjang 2014. Ini menunjukkan bahwa kekerasan agama merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia dan menjadi konsentrasi yang perlu kita perhatikan sebagai manusia yang ingin berbuat baik kepada sesama.

Tahun 2016, Amnesty International mencatat adanya serangan di gereja oleh sebuah kelompok berjumlah sekitar 200 orang di Aceh Singkil setelah pemerintah setempat memerintahkan pembongkaran 10 gereja di wilayah tersebut pada bulan Oktober. Kurang lebih 4,000 umat Kristiani melarikan diri ke Sumatera Utara, sementara pemerintah Aceh Singkil tetap melanjutkan pembongkaran rumah-rumah ibadah Kristen di sana. Ironisnya, kaum Muslim Syiah di Madura mengalami situasi yang lebih parah. Sejak 2012 mereka diserang oleh lebih dari 1000 militan Sunni yang menyerang desa mereka. Ratusan warga termasuk anak-anak terpaksa mengungsi di gelanggang olahraga karena kelompok militan Sunni.

Sistem pendidikan Indonesia juga tidak luput dari masalah. Padahal, kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Data menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah kualitasnya. Penelitian dari Boston Consultant Group tahun 2014 mengemukakan bahwa dari 100 anak yang bersekolah, hanya 25 yang berhasil mencapai standar minimum berhitung dan kecakapan aksara internasional. Anak-anak umur 15 tahun Indonesia empat tahun tertinggal dalam bidang sains dan matematika dari anakanak Singapura. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kuatitas dan kualitas guru, serta mental anak-anak yang masih seringkali mencontek — bahkan sampai membeli kunci jawaban UN.

Untuk menanggulangi masalah pendidikan, pola pikir pendidik juga perlu di ubah. Kita tidak lagi berbicara jam kerja pendidik, seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri Pendidikan RI, Anies Baswedan, bahwa seorang pendidik dikatakan berhasil bukan dari seberapa banyak ia telah mengajar, namun seberapa bagus performa seorang murid. Krisis kemanusiaan dalam bidang pendidikan bisa diatasi lewat kualitas performa pendidik di kelas untuk mendorong murid berpikir kritis.

Laporan World Bank (2015) memperkuat pemikiran tersebut. Bahwa bukan sertifikasi guru yang menjadi standar keberhasilan pendidik, namun indikator keberhasilan pendidik harus dilihat dari seberapa banyak hal yang dipelajari seorang murid di sekolah.

Kepekaan kita sebagai manusia atas isu-isu kemanusiaan seperti di atas jelas dibutuhkan oleh Indonesia dan juga dunia. Namun, apakah ‘sekedar’ tahu dan peka saja perlu? Kita masih memiliki tenaga dan waktu, potensi kita untuk membantu menyelesaikan semua masalah kemanusiaan agar semua orang mendapatkan porsi yang setara dan adil tentang kualitas hidup sangat besar.

Organisasi masyarakat sipil atau seringkali di sebut sebagai Non-Government Organization (NGO), bisa menjadi tempat kita untuk berkarya lewat gerakan kerelawanan. NGO adalah ruang publik yang menjadi salah satu organ vital dalam pelembagaan dan gerakan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, banyak NGO telah menginisiasi sekaligus memberi energi dalam rangka pemenuhan dan perlindungan HAM oleh institusi-institusi negara.

Menjadi relawan di berbagai organisasi yang bergerak untuk menyelesaikan masalah sosial merupakan salah satu bentuk kontribusi kita sebagai manusia yang memanusiakan.

Posisi kita yang ‘hanya’ berstatus masyarakat sipil inilah yang justru memudahkan kita untuk melakukan pendekatan kemanusiaan. Salah satunya adalah dengan melakukan dialog yang bersifat grass root (dari akar rumput). Pendekatan ala rakyat ini menjadi pendekatan utama untuk memahami masalah apa yang terjadi di masyarakat, apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Pemetaan ini perlu agar kegiatan sosial yang kita lakukan tepat sasaran dan membawa dampak nyata.

Dengan begitu, kita tidak melulu mengandalkan aparatur atau institusi legal negara karena pendekatan elitis (top to down) seperti itu hanya melibatkan tokoh-tokoh elit. Akibatnya, tidak ada keterlibatan masyarakat sipil di sana dan hanya akan menelurkan solusi parsial dan sesaat saja. Konsensus perdamaian hanya terjadi pada level elitis dan tidak menyentuh level akar rumput yaitu masyarakat itu sendiri. Kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia harus berpartisipasi aktif dalam menciptakan dan membangun perdamaian. Inilah kontribusi yang bisa kita lakukan dengan ikut ambil bagian dengan terlibat di berbagai kegiatan sosial. Produktif dengan aksi sosial; mungkin ini yang bisa dijadikan filosofi hidup milenial di masa depan. Menjadi agen perubahan untuk menyelesaikan masalah krisis kemanusiaan.

Untuk kita, untuk Indonesia.

 

Teringat semangat TurunTangan pada momen awal pergerakan di mana setiap relawan di dorong untuk mendukung orang baik masuk politik. Orang-orang baik yang selama ini memilih untuk menjadi pembayar pajak yang baik, didorong untuk menjadi pengelola pajak yang baik.

Sebentar lagi Kita semua akan menghadapi pesta demokrasi daerah 5 tahunan yang dilaksanakan serentak di ratusan kota dan kabupaten serta provinsi di Indonesia. Tentunya dengan semangat mendorong orang baik masuk politik serta mewujudkan cita-cita TurunTangan untuk mewujudkan Indonesia yang dipenuhi pemimpin bersih dan berkompeten, Relawan TurunTangan harus ikut serta berpartisipasi dalam menyambut Pilkada Serentak 2017.

Beberapa pilhan partisipasi Relawan TurunTangan dalam menyambut Pemilihan Kepala Daerah ini adalah sebagai berikut :

1. Komunitas TurunTangan melakukan kajian terhadap rekam jejak, kompetensi dari para calon kepala daerah masing-masing. Jika setelah kajian para relawan, ada sosok yang layak untuk diusung, maka komunitas TurunTangan daerah tersebut didorong untuk mendeklarasikan dukungan terhadap sosok orang baik tersebut.

2. Jika tidak ada yang layak untuk diusung, maka Relawan TurunTangan didorong untuk jadi wasit, menjadi pengawal pilkada agar terjadi pemilihan yang bermartabat, jauh dari kecurangan dan muncul sebagai festival gagasan bukan jadi ajang kampanye primordial dan fitnah. Pada pilkada 2015, TurunTangan membuktikan partisipasi ini dengan menjadi bagian dari gerakan KawalPilkada.

3. Ikut mengisi survei pilkada TurunTangan dengan klik link –>http://bit.ly/surveipilkadaTT

4. Pilihan politik adalah Hak Asasi masing-masing individu, sehingga TurunTangan tidak membatasi dukungan politik seseorang terhadap masing-masing calon. Setiap relawan diperbolehkan untuk mendukung calon kepala daerah yang dikehendaki jika sesuai dengan visi dan misi serta pandangan poiltiknya.

Beberapa waktu lalu ada sebuah peristiwa politik di Ibukota DKI Jakarta. Anies Baswedan, pendiri dari Gerakan TurunTangan diberikan kepercayaan untuk maju menuju DKI 1. Semenjak itu banyak orang yang bertanya-tanya, dan menunggu apakah TurunTangan akan menjadi tim sukses dan mendukung Anies Baswedan atau tidak.

Selepas kabar tersebut, pengelola gerakan TurunTangan menggali informasi dari para relawan di seluruh Indonesia. TurunTangan bukan tentang Anies Baswedan sebagai pendiri, bukan tentang jadi kendaraan politik. TurunTangan dimiliki oleh 50.000 Relawan di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2017, Pilkada tidak hanya ada di DKI, ada ratusan daerah yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi serupa. Tentunya sebagai sebuah gerakan yang bersifat nasional, turuntangan.org tidak dapat berpihak pada satu daerah saja. Sehingga untuk Pilkada di DKI,turuntangan.org menyatakan diri bersikap netral, tidak berpihak pada salah satu calon yang akan maju bertarung.

TurunTangan #tetapbergerak mendorong setiap warga negara untuk turun tangan langsung, menjadi bagian dari solusi. Ada atau tidak adanya pilkada, para relawan di setiap daerah akan tetap bahu membahu dengan berbagai gerakan sosial yang telah dirancang dan dijalankan. Penyebutan turuntangan.org oleh calon kepala daerah manapun, bukan berasa dari pengelola gerakan.

Salam

 

Pengelola Gerakan TurunTangan

#tetapbergerak

248

Rabu (17/8) Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan-nya yang ke-71. Jalan By Pass Rawamangun yang biasanya padat dengan kendaraan mendadak lengang. Riuh suara klakson berganti dengan sorak sorai warga yang menyaksikan perlombaan.

Beberapa meter dari tempat perlombaan itu ada kolong jembatan yang tak kalah ramainya. Wajah riang anak-anak berseliweran. Ditemani para kakak-kakak relawan dari berbagai komunitas, mereka mendekorasi langit-langit kolong jembatan yang berjelaga akibat asap bakaran sampah warga yang mayoritas pemulung dan buruh cuci pakaian itu dengan balon merah putih.

Para relawan yang baru datang langsung berinisiatif mengambil tugas apapun yang bisa dikerjakan. Mulai dari menyusun agenda acara, menghitung jumlah hadiah, hingga meniup balon. Kegiatan hari ini mungkin sederhana, namun penuh makna. Kibaran sang dwi warna yang ditarik anak-anak hingga ke ujung tiangnya mengirimkan pesan bahwa mereka siap jadi bagian dari Indonesia ketika 100 tahun merdeka.

Pesan yang sama dikirimkan dari belasan tempat lain dimana relawan TurunTangan beraktivitas. Bandung bersama para penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak. Medan bersama para veteran dan budayawan, Ambon di tempat pengolahan sampah. Dan kota-kota lainnya yang tak kalah khidmatnya.

Memang demikian adanya, republik ini dibangun dan dipertahankan melalui “iuran kolosal” seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang Bung Karno ceritakan dalam biografinya, “Aku melihat pemimpin-pemimpin, ribuan, puluhan ribu, meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita, aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang di rel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan. Bahkan aku pernah menerima surat daripada seorang Indonesia yang keesokan harinya akan naik tiang penggantungan. Dalam surat itu dia mengamanatkan kepada saya sebagai berikut: ‘Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini’.”

Iuran waktu, tenaga, bahkan nyawa diberikan karena rasa percaya yang mengikat mereka erat-erat dan menggerakkan mereka untuk bergotong royong mewujudkan cita-cita bersama. Saat itu Indonesia menjadi sebuah gerakan, semua ikut merasa memiliki dan bertanggungjawab mempertahankannya. Tidak hanya saat merebut kemerdekaan, Republik yang masih ‘bayi’ ini pun dipertahankan dengan semangat gotong royong segenap komponen bangsa yang dikenal dengan sishankamrata (sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta). Sistem yang dijadikan strategi resmi di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman ini menitikberatkan kemanunggalan antara Tentara Nasional Indonesia dengan rakyatnya sehingga persenjataan modern dan tentara terlatih Belanda pun dibuat kewalahan. Kemudian kita tahu pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya lewat konferensi Meja Bundar.

Pernahkah terlintas apa yang terjadi jika seluruh rakyat Indonesia mencukupkan diri untuk menyerahkan segala ihwal kemerdekaan pada Bung Karno dan Bung Hatta? Atau membiarkan Pak Dirman bergerilya hanya dengan satu paru-paru yang tersisa? Yang terjadi justru sebaliknya, segenap komponen bangsa ikut merasa memiliki masalah dan turun tangan secara sukarela dengan semua bidang keahlian mereka. Pejuang angkat senjata, petani menyumbangkan hasil buminya, guru menanamkan jiwa kebangsaannya hingga para ibu yang melepas dengan doanya.

Lantas bagaimana pengejawantahan semangat tersebut di era kiwari ini? Semangat pengorbanan yang kadang tak dapat dicerna akal logika seringkali kita temukan dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan.

Barangkali kita baru akan memahami semangat gotong royong generasi pendiri bangsa, jika dan hanya jika, kita menjauh dari urun angan di dunia maya lalu mendekat pada kerja-kerja nyata.

Kita semua pernah menjadi saksinya. Dalam gerakan TurunTangan ini kita pernah terkagum-kagum dengan semangat seorang pemuda yang harus menempuh lebih dari 4 jam perjalanan setiap minggu hanya untuk berbincang dengan kepala desa perihal ekonomi warga pasca-bencana. Dalam kegiatan TurunTangan ini kita terheran-heran mengapa ada seorang kepala sekolah yang rela “turun jabatan” melakukan edukasi politik bersama anak-anak muda yang bahkan seumuran anak pertamanya. Dalam gerakan TurunTangan ini kita mungkin sering bertanya-tanya darimana asalnya para mahasiswa yang hanya makan Indomie saat berjibaku bersama skripsi di akhir bulan, bisa ikut urunan dana untuk mempersiapkan upacara 17-an. Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir!

“Jikalau saya peras Pancasila yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!”, tegas Bung Karno dalam Pidato kelahiran Pancasilanya yang monumental 1 Juni 1945.

Ya, alangkah hebatnya mereka yang mampu menghayati nilai inti Indonesia hingga 71 tahun kemerdekaan ini. Memilih secara sadar untuk menjadi bagian dari meninggi-kuatkan sendi-sendi kehidupan bangsa, bukan bagian dari yang membuatnya keropos. Melihat apa yang pernah dan akan dilakukan oleh para relawan TurunTangan,

kita patut bersyukur & optimis bahwa bangsa ini masih memiliki pejuang-pejuang berhati tulus yang berusaha menjadi bagian dari solusi, bukan sekedar mencaci maki.

Kita tahu masalah di bangsa ini demikian banyak. Tentu tidak bisa berharap satu atau dua orang menyelesaikan semua masalah itu. Mari jadikan perayaan kemerdekaan ini bukan sekadar pengingat gelora perjuangan. Tidak pantas rasanya terus menerus merayakan kemerdekaan sambil berbisik memohon maaf bagi mereka yang belum sejahtera hidup di bawah kolong jembatan, belum tercerdaskan karena hidup termarjinalkan. Mari bangun kesadaran baru bahwa kita akan terus berusaha memenuhi janji dan ikut melunasinya bersama-sama!

Ayo #JadiRelawanTT

Caranya adalah :

  1. Isi Form bit.ly/JadiRelawanTT –> Setelah mengisi email di link ini, Kamu akan mendapatkan Profile TurunTangan.
  2. Daftar di http://www.turuntangan.org/daftar. Dalam tautan ini, Kamu perlu mengisi form yang cukup banyak, jadi sediakan waktu yang agak panjang untuk mendaftar ya.
  3. Cari komunitas TurunTangan di daerahmu. Ikut bergabung bersama mereka untuk bergerak. Jika daerahmu belum ada Komunitas TurunTangan di daerahmu. Kamu dan teman-temanmu bisa jadi pendirinya. Tata Caranya klik di tautan di sini
  4. Ikuti Project yang ada di bawah TurunTangan atau bisa juga inisiasi project serupa di Project TurunTangan
  5. Jangan lupa untuk Ikuti akun media sosial TurunTangan. Twitter,Instagram : @turuntangan . Facebook di http://facebook.com/TurunTanganorg

jadirelawan-01

 

Ayo jadi Relawan !!

 

Ayo #BikinKomunitasTT

Untuk mendirikan Komunitas TurunTangan, tata caranya adalah :

  1. Cari minimal 5 orang yang bersepakat untuk mendirikan TurunTangan
  2. Buat media sosial komunitas mu, (Twitter, Facebook, Instagram) dengan username : turuntangan_(Kota/Kab)
  3. Buat Kegiatan Sederhana sebagai peringatan hari lahir komunitasmu
  4. Mention Akun TurunTangan pusat dan kirim dokumentasi ke relawan@turuntangan.org

Jangan lupa untuk daftarkan dirimu dan teman-temanmu di http://bit.ly/JadiRelawanTT

 

bikinkomunitas-02

“Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetep gagah? saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ganti baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggungjawab, yang mereka akan bayar sampai titik manapun…” potongan orasi Munir dalam intro Rima Ababli – Homicide

12 tahun yang lalu, Munir Said Thalib, Seorang pejuang Hak Asasi Manusia harus diakhiri hidupnya oleh alat negara. Di maskapai kebanggaan anak negeri bernomor GA-974 kursi 40 G , Ia diarsenik oleh seseorang yang terbukti di pengadilan berhubungan dengan intelejen. Sampai hari ini hanya pion yang masuk penjara, sang raja masih berlindung di ketiak penguasa, menyelamatkan dirinya sendiri.

Munir berjuang untuk mereka yang tidak punya kesempatan melawan. Munir membela Marsinah, Tanjung Priok, Semanggi 1 dan 2, Penculikan Aktivis, Muhadi, supir yang dituduh menembak Polisi. Munir juga mendirikan KontraS (Komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan). Munir mengejar keadilan, keadilan bagi mereka yang dikorbankan oleh kekuasaan. Munir berada di sisi Hak Asasi Manusia. Kamu berada di mana?

Munir berjuang untuk mereka yang tidak punya kesempatan melawan.

Perlukah anak muda bela Munir? Perlukah anak muda kenal dengan Munir? Munir adalah seseorang yang memperjuangkan kebebasan. Munir memperjuangkan negara yang tidak boleh menghilangkan nyawa anak bangsanya hanya karena dia berbeda. Munir membela anak bangsa yang berani berkata benar. Berkaca pada masa lalu, mereka harus mati dan hilang atas nama stabilisasi nasional.

munir

Jika kita tidak peduli tentang Munir, mungkin saja sekelompok anak muda yang menebar caci maki karena youtube lebih baik dari TV, kabarnya tidak akan kita ketahui lagi. Alasannya? Karena tidak elok dengan adat ketimuran. Jika kita melupakan perjuangan Munir, bisa jadi mereka yang menyebut Pancasila sebagai Thogut sudah disemen dalam tong dan dilempar ke tengah laut. Di mana Munir? Jika masih ada, Dia pasti akan berada di sisi mereka yang ditindas negara.

Munir adalah lambang tentang kebenaran. Lambang seorang yang berani membongkar mitos. Mitos tentang negara yang tidak pernah salah dan tentara yang tidak pernah kalah. Munir berada di barisan depan, peretak tembok penghalang. Dia adalah wajah penegakan Hak Asasi Manusia.  Negara boleh tidak menganggap kerja kerasnya, tapi jangan sampai generasi muda juga melakukan hal serupa. Anak muda hari ini punya satu tugas besar untuk menjelaskan kepada anak mereka dan anak-anak dari anak mereka bahwa ada seorang pejuang Hak Asasi Manusia yang harus dibunuh oleh negara. Di masa depan, para pewaris tongkat perjuangan harus diingatkan, bahwa mengambil nyawa rakyat untuk kekuasaan adalah sebuah tindakan pengecut yang tidak boleh dilakukan.

Anak muda jangan terhipnotis oleh sidang seorang biasa dengan sianida dan membawa jadi topik pembicaraan di keseharian. Seakan pembunuhan yang lebih menyesakkan dada yang tidak pernah ada di Indonesia. Munir yang telah berjuang tanpa akhir, jangan dianggap martir. Sehingga Para pelakunya bagai asap, bisa dilihat tapi tidak pernah bisa kita tangkap.

Kini giliran Kita, sebagai insan muda apakah kita akan duduk diam saja? Atau akan terus bergerak #MenolakLupa? Pemuda harus #MerawatIngatan bahwa ada seorang pejuang HAM yang belum diberikan tempat yang layak oleh negara. Negara yang kita cintai masih menyimpan dosa terhadap pejuang kemanusiaan.

#MunirAdadanBerlipatGanda

#MenolakLupa

#12TahunMunir

#MerawatIngatan

251

Selama satu bulan ini seluruh umat muslim di dunia menjalankan ibadah puasa. Tak hanya menahan lapar dan haus, puasa ramadhan menjadi waktu di mana umat muslim bertarung melawan egonya, meningkatkan empati dan belajar berbagi.

Seperti yang dilakukan oleh para relawan TurunTangan Medan. Mereka turun ke jalan menggalang donasi untuk pengungsi Sinabung dan bersama dengan komunitas yang ada di Medan melakukan Sahur on The Road berbagi makanan sahur bagi orang-orang yang membutuhkan.

Di Lhokseumawe, para relawan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Budiani (Paud Aruni) menggalang dana, “Berbagi hati Rp. 20.000 untuk 1 nasi kotak”. Hasil donasi yang dikumpulkan dibelikan nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar Lhokseumawe.

Sementara di Jakarta, ada program Bangun Jakarta di mana setiap Minggu para relawan berkumpul untuk berococok tanam. Juga program Tebar Inspirasi yang membuka Gerai Baca di pelataran Rumah Relawan TurunTangan untuk meningkatkan minat baca anak-anak.

Masih banyak kegiatan yang dilakukan oleh para relawan TurunTangan selama bulan suci ini. Ini menandakan bahwa para relawan TurunTangan konsisten bergerak di manapun dan kapanpun.

Hari ini kita telah sampai di penghujung bulan suci Ramadan. Setelah sebulan kita berpuasa, kita mengakhiri bulan penuh berkah ini dengan merayakan Idul Fitri, hari kemenangan kita semua.

Semoga apa yang dilakukan oleh para relawan di atas tak berhenti sampai di sini dan akan diaktualisasikan terus menerus oleh relawan TurunTangan se-Indonesia.

Selamat merayakan hari kemenangan …

Pejuang, bukan? Hadapi!

486

Tertarik untuk mengembangkan sebuah website? Atau mendorong sebuah gerakan dan inisiatif melalui sebuah website? TurunTangan membuka kesempatan untuk menjadi staff IT di Pengelola Gerakan TurunTangan. Bersama kami, kamu akan belajar bagaimana menyelaraskan gerakan sosial dengan bahasa program.

Kirim CV beserta Essay ke relawan@turuntangan.org dengan format #OPREKTT_PMO Politik _NAMA LENGKAP sebelum 5 Juni 2016

Keterangan lebih lanjut bisa dilihat dibawah sini. Pertanyaan terkait rekrutmen dapat menghubungi relawan@turuntangan.org

 

openrecruitment-04

463

Tertarik dengan politik? ingin memperbaiki politik di Indonesia? TurunTangan memberikan kesempatan untuk bergabung bersama Pengelola Gerakan TurunTangan sebagai Project Management Officer Bidang Politik. Bersama Kami, Kamu akan belajar tentang politik Indonesia dan bagaimana ambil bagian menjadi salah satu solusi untuk membenahi politik Indonesia.

Kirim CV beserta Essay ke relawan@turuntangan.org dengan format #OPREKTT_PMO Politik _NAMA LENGKAP sebelum 5 Juni 2016

Keterangan lebih lanjut bisa dilihat dibawah sini. Pertanyaan terkait rekrutmen dapat menghubungi relawan@turuntangan.org

openrecruitment-06

 

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]