Home Catatan Relawan
Catatan catatan pengalaman relawan Turun Tangan di lapangan.

57

Saya sempat berpikir, bagaimana saya memulai semuanya dari nol tanpa memikirkan sesuatu yang dapat membahayakan diri saya saat itu. Pikiran saya berkecamuk ketika saya mengikuti sebuah forum dan saat itu saya masuk kedalam ruang diskusi mengenai social project.

Di dalam ruang diskusi tersebut, saya sempat terdiam dan hanya mendengarkan bagaimana anak-anak muda lain bercerita tentang kegiatan yang dilakukannya sehari-hari bersama masyarakat. Malu, itu yang saya rasakan saat itu. Ketika mereka sudah berbuat banyak untuk bangsa ini, sementara saya belum pernah sama sekali.

“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang banyak,” celetuk salah seorang leader kegiatan kala itu. “Sejauh ini, apa yang sudah kamu berikan untuk Indonesia dan Aceh itu sendiri? Adakah kamu hidup memikirkan orang lain? Atau hanya memikirkan dirimu sendiri dan tak memulai itu semua dari awal,” lanjutnya.

Saya tersentak, bagaikan disambar petir di siang hari.

Selesai dari kegiatan tersebut, hidup saya diwarnai dengan rasa gelisah dan mulai berkecamuk untuk mulai melakukan hal-hal positif. Semampu saya. Mulai berpikir, “apa hal menarik dalam diri saya yang bisa digali dan dicurahkan untuk membantu orang lain?” Saya cukup komunikatif namun pemalu, saya mahir desain grafis namun kurang kreatif, dan saya punya bakat berkumpul namun kurang rasa untuk menyamakan

Akhirnya kesempatan itu muncul.

Pada tahun 2015 tepat pada tanggal 17 Agustus,  saya mendirikan sebuah komunitas di bidang sosial dan pendidikan. Komunitas itu bernama TurunTangan Lhokseumawe. Dibantu oleh Ayu Fitria, Nur Intan Sari Ritonga dan Dina Tuddar, saya memberanikan diri untuk kepentingan orang banyak. Saya kemudian dipilih menjadi koordinator atas kesepakatan berempat.

Tak disangka-sangka, setiap harinya kami melukis asa dengan doa-doa agar komunitas ini terus hidup dan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Tidak sampai tiga bulan terbentuk, komunitas ini mulai didatangi oleh orang-orang yang menginginkan perubahan untuk dirinya, masyarakat serta kotanya. Mereka, Para pejuang itu hadir, berjuang, dan membangun kekeluargaan bersama-sama di komunitas ini.

2016 adalah tahun pertama kami mengenang berdirinya komunitas ini. Kami pun bersiap membuat acara syukuran sekaligus perayaan kemerdekaan Indonesia. Sekolah demi sekolah disurvei, lokasi demi lokasi dicari untuk menyelenggarakan ‘hajatan’ TurunTangan Lhokseumawe.

Seperti sebuah ‘istana’ sosial, berbagai kegiatan digelar. Mulai dari Lhokseumawe Sehat, Lhokseumawe Berbagi, Lhokseumawe Cerdas, Lhokseumawe Clean City, Futsal Bersama, Saweu Relawan, dan Liburan Bersama. Hingga benih-benih cinta pun hadir di ‘rumah’ yang kami besarkan dan jaga bersama-sama ini.

Kini TurunTangan Lhokseumawe telah menapaki jati diri, semakin tinggi, semakin melambung namanya, semakin terpandang. Banyak juga yang telah  memuji kredibilitas para relawan yang laik disebut sebagai PEJUANG.

Selamat hari ulang tahun yang ke-2 untuk Turun Tangan Lhokseumawe.

Dari ,

Heru Tesar Ichsan

Founder Turun Tangan Lhokseumawe

Mantan Koordinator Relawan TT Lhokseumawe

474

Hari Relawan Sedunia atau International Volunteer Day (IVD) dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations pada 5 Desember 1985, sebagai ucapan terima kasih kepada relawan atas usaha mereka. Peringatan Hari Relawan Sedunia kemudian diperingati oleh mayoritas penduduk dunia, termasuk Indonesia. Menyambut hari penting bagi relawan tersebut, beberapa waktu lalu TurunTangan Jakarta membuat tantangan untuk para relawan: berbagi cerita unik dan kesannya ketika menjadi relawan di Instagram.

Yuk, simak cerita mereka. Yang belum pernah ikut kegiatan kerelawanan, habis baca dijamin tertarik ikut kegiatan kerelawanan. Yang sudah ikut, makin cinta sama dunia kerelawanan.

Adini Aprilia, TurunTangan Binjai: Banyak Hal Positif yang Didapat

P1100963 copy

Sudah dua tahun aku menggeluti dunia kerelawanan, dunia partisipasi nol rupiah ini. Dan sekarang aku ditanya “bagaimana kesan selama menjadi relawan?”

Jadi relawan itu, sesuatu. Banyak banget manfaat yang bisa didapatkan. Susah untuk dijelaskan. Kalau bahasanya orang karo sih ‘laterkataken’ atau ‘payah bilang lah’. Soalnya banyak banget hal-hal positif yang aku dapat selama jadi relawan. Bisa dapat ilmu baru apalagi tentang sosial, lebih tahu kondisi sosial masyarakat Indonesia, meningkatkan rasa simpati, bisa kemana-mana, dan dapat teman baru. Hal-hal itu, bikin hati jadi lebih bahagia. Dan yang terpenting, mengajarkan aku untuk lebih bersyukur dan bertanggung jawab dengan kewajiban sendiri.

Enggak tahu ya, jadi relawan itu kan banyak memberi, baik materi, tenaga, bahkan waktu. Tapi kalau dirasakan, sepertinya malah aku yang banyak menerima. Senang rasanya saat melihat orang lain tertawa karena kita.

Ada pengalaman paling berkesan saat menjadi relawan. Saat mengunjungi pengungsi bencana Sinabung, ketemu anak umur 4 tahun namanya Desti. Melihat dia ketawa dan dia memelukku erat di gendongan, membuat aku terharu sekali. Jadi sebenarnya pepatah “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah” itu benar. Dan aku sudah membuktikannya.

Jadi, giliran kamu kapan? Yuk, jadi relawan. Karena relawan tidak dibayar bukan karena tidak bernilai, namun karena tak ternilai.

Christian Herlando, TurunTangan Malang: Belajar Bersyukur

1b180d144e8844aea4c6d82679e1125d_16113013Menjadi relawan merupakan salah satu cara bagaimana kita dapat bersyukur. Melalui kegiatan- kegiatan positif kerelawanan salah satunya menolong orang lain. Kita dapat belajar, bahwa hidup tidak sekedar untuk membahagiakan diri sendiri.

Bergabung dengan teman – teman TurunTangan Malang menyadarkan saya bahwa masih banyak orang baik yang mau peduli terhadap sesamanya. Menjadi relawan bukan suatu hal yang mudah, tetapi dengan bersama – sama, kita dapat membuat sebuah perubahan besar. Karena kami generasi yang tidak tinggal diam dan mendiamkan adanya sebuah permasalahan.

Ini kami, pemuda yang terus TurunTangan, bergerak dan berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.

Lia Maisarah, TurunTangan Lhokseumawe: Jadi Lebih Bersemangat dan Punya Tujuan

9cd06ff3fd035a11fc8f232ce9e4fde3_16122706

Berawal dari keisengan dan rasa penasaran, saya mencoba mendaftar menjadi relawan, yang saat itu memang sedang open recruitment.  Awalnya saya berfikir untuk apa saya bersusah payah hanya demi jadi seorang relawan yang hanya buang-buang waktu saya saja. Namun, seiring waktu bersama dengan relawan yang lain bahwa menjadi relawan adalah pilihan bukan paksaan.

Di saat saya dalam kesusahan mereka mampu merangkul saya untuk terus semangat dan pantang menyerah. Selalu sesuai dengan semboyan TurunTangan, pejuang bukan? Hadapi! Saya sadar, bahwa di luar sana banyak anak-anak yang mengalami keterbatasan dalam pendidikan, namun tak pernah mengeluh dan padam semangatnya. Mereka selalu terlihat ceria dan gembira dan dengan bangga menceritakan cita-citanya.

Dengan semangat mereka jadi pembelajaran saya untuk bisa tetap semangat. Sehingga, niat awal saya yang cuma-cuma kini bisa menjadi berguna dan terarah. Saya punya tujuan dan punya mimpi untuk bisa membantu adik-adik yang memiliki keterbatasan pendidikan, untuk terus berjuang. Saat ini, demi bisa berbagi dengan adik-adik hujan badai dan panas terik sekalipun bahkan tak lagi menyurutkan semangat saya.

Relawan adalah mereka yang dengan sukarela membantu orang tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Dengan pengalaman yang luar biasa, yang bahkan belum tentu mampu kita dapatkan di bangku perkuliahan ataupun ketika kehidupan sehari-hari. Karena bagi relawan mampu mendapatkan senyum saja dan doa dari orang yang mereka bantu adalah hal yang sangat luar biasa, yang bahkan takkan mampu jika kita menilainya dalam bentuk rupiah.

Al-Maidah, TurunTangan Medan: Mendapatkan Inspirasi Baru

1518350_388385734691865_3330943133149814893_n

Pengalamanku ketika menjadi relawan Kelas Inspirasi Deli Serdang.  Awalnya tidak pernah menyangka bahwa sekolah yang akan menjadi target Hari Inspirasi adalah sekolah “marginal” yang jaraknya lumayan jauh dari kota Medan. Yakni, SDN 106156 Klumpang Kebun, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Perjalanan menuju sekolah benar-benar butuh perjuangan, kondisi hujan rintik-rintik sehingga mengakibatkan jalanan licin dan sebagian banjir. Setelah beberapa waktu sempat salah jalan sehingga beberapa relawan nyasar di perkebunan tebu-tebu tak berpenghuni. Hingga akhirnya menemukan beberapa rumah kemudian bertanya kepada warga. Pertama sekali sampai di sekolah, pandangan kami dikejutkan dengan halaman sekolah yang banjir. Siswa-siswi sekolah itu banyak yang tidak hadir. Bahkan guru-guru juga bingung dengan kedatangan kami di sekolah mereka.

Walau situasi dan kondisi tidak mendukung, tetapi kami tetap bersemangat untuk masuk kelas, berbagi cerita, pengalaman, inspirasi untuk mewujudkan mimpi anak negri. Mirisnya, ketika ditanya banyak dari anak-anak yang tidak tahu apa cita-cita mereka, tugas kami hanya memberikan pemahaman serta penjelasan mengenai cita-cita yang sesuai dengan diri anak-anak. Sampai di penghujung Hari Inspirasi, kami memberikan kertas kecil untuk anak-anak menuliskan cita-cita mereka yang kemudian ditempelkan di pohon cita-cita yang telah kami sediakan. Hingga akhir acara, diisi dengan menerbangkan balon sebagai simbolis bahwa cita-cita mereka setinggi langit.

Hari Inspirasi “Sehari mengajar, seumur hidup menginspirasi” adalah momen yang tak akan pernah terlupakan karena sepertinya bukan anak-anak yang terinspirasi tetapi kami para relawan yang sangat terinspirasi dan terharu dengan kondisi anak-anak di sekolah tersebut. Bahkan, jika diberi kesempatan untuk kembali diamanahkan pada Hari Inspirasi, kami para relawan akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Karena pengalaman dan cita-cita itu ditumbuhkan bukan dicari. Pejuang bukan? Hadapi!

Fauzan Martak, TurunTangan Jakarta: Kaya Pengalaman

IMG-20161128-WA0032

Tulisan ini enggak ada hubungannya sama anak muda yang merasa dirinya menjadi relawan saat momen untuk mendukung sosok. Tulisan saya ini tertuju untuk para anak muda yang sabtu dan minggunya dihabiskan untuk peduli dan berkontribusi nyata akan permasalahan bangsanya.

Berbicara mengenai relawan hari ini, menurut saya, relevan dengan gaya hidup anak muda Indonesia masa kini. Kenapa? Karena banyak anak muda Indonesia yang mulai sadar akan cerita perjuangan para pahlawan yang dulu memperjuangkan bangsanya, yaitu Indonesia.

Selama saya sekolah dan belajar sejarah enggak ada cerita, para pahlawan yang memilih berjuang dengan alasan karena perjuangan lagi jadi tren di luar negeri, lagi viral di negara A, dan lagi booming di negara B.

Alasan para pejuang memilih untuk berjuang, karena mereka sadar, bahwa bangsanya lagi dijajah. Hanya, mereka enggak memilih untuk berdiam diri atas permasalahan bangsanya. Mereka memilih untuk menjadi relawan tanpa pamrih dan ikhlas untuk menjadi bagian sejarah perubahan untuk memerdekan bangsanya.

Dua tahun sudah saya menjadi relawan. Keluarga, saudara, teman banyak yang menanyakan, “Alasan apa yang membuat saya jadi relawan? Kenapa mau menghabiskan waktu kamu, cuma buat aktifitas 0 rupiah?” Sulit menjelaskan, kalo mereka enggak ikut berpatisipasi dan merasakan langsung aktivitas kerelawanan. Paling jawaban simpelnya, “Biar masa muda enggak dihabiskan buat gabut, pacaran atau kenikmatan dunia semata seperti dugem, nge-mall, nge-bigo, dan lain-lain.”

Kalau anak muda sudah berikhtiar untuk menjadi bagian dari solusi dengan niat tulus, komitmen enggak akan jadi murah, waktu enggak ada yang enggak produktif, dan kelak akan menjadi orang yang kaya bukan dari segi materi melainkan pengalaman dan cerita yang dapat dibagikan ke para anak dan cucu kita. Yuk, menjadi bagian anak muda dengan sensasi rakyat asli Indonesia terdahulu. Yang siap berjuang untuk bangsa dan negaranya … Pejuang bukan? Hadapi!

Tika We, KNM: Belajar Kerja Tim

KNM Tingkatkan Wawasan Kebangsaan 1

Kelas Negarawan Muda (KNM) pernah melakukan kunjungan ke kediaman Agum Gumelar. Dari Beliau kami belajar tentang kerja tim dan menghormati keputusan pemimpin tapi enggak ABS (Asal Bapak Senang). Teorinya gampang, waktu dipraktikin di komunitas kerelawanan… Ngeri-ngeri sedap!

Itulah kenapa aku betah di dunia kerelawanan, ya biar terus belajar kerja tim yang bener-bener tanpa pamrih. Kerasa banget, kerja sama relawan nol rupiah enggak bisa pakai iming-iming jabatan apalagi uang, karena mereka hadir untuk mendukung gagasan positif.  Jadi kalau mau survive otak musti diputer terus!

Alvi Kusuma, KNM: Ketemu Jodoh Baik

Belajar PPKN Asyik bersama Kelas Negarawan Muda (1)

Awalnya gabung di kegiatan kerelawanan cuman sesederhana “gue musti cari kesibukan, biar bisa secepatnya move on dari mantan.” Kata “kerelawanan” emang jauh dari dunia gue yang notabene mahasiswi farmasi dengan rute kelas-laboratorium-indekos, kelas-laboratorium-indekos. Tapi, setelah menerjunkan diri ke dunia ini, gue merasa diri “gue kemana aja selama ini?”

Manfaat jadi relawan yang gue rasain banyak banget. Kegiatan kerelawanan memberikan gue banyak hal. Ya ilmu baru, teman baru, keluarga baru. Di sini gue tahu bahwa ternyata masih banyak orang yang mau peduli sama orang lain. Di kala banyak pemuda lain yang hanya mikirin dirinya sendiri “asal gue happy“, putus asa sama bangsanya lalu memaki, di dunia kerelawanan gue menemukan orang-orang luar biasa yang mau repot-repot mikirin dan bertindak sesuatu untuk memperbaiki nasib orang lain pun mencerahkan masa depan bangsanya.  Satu nilai yang gue petik dari dunia kerelawanan ini, bahwasanya ketika lo bikin orang lain bahagia, lo juga akan bahagia atas kebahagiaan orang itu!

Dan di dunia kerelawanan, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik pula. Termasuk jodoh yang baik.

Dini Rahmafathi, TurunTangan Malang: Terhindar dari Depresi

TurunTangan Malang (2)

Relawan? Volunteer?

Konsep relawan bagi saya itu bukanlah se-RELA-nya ataupun se-SUKA-nya melainkan ia yang RELA waktu,tenaga,pikiran maupun materinya diberikan secara utuh karena ada rasa memiliki dan kesamaan visi di dalamnya.

Tiga tahun tergabung diberbagai kegiatan sosial kerelawanan mengajarkan pada saya bahwa bukan mereka yang butuh kita, tetapi kitalah yang membutuhkan mereka. Percaya enggak percaya, menjadi relawan menghindarkanmu dari depresi loh.

Ada yang pernah mengatakan “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang telah kau berikan pada negara.” Relawan? ia haruslah hadir di tengah-tengah permasalahan yang sejatinya belum mampu di selesaikan pemerintah kita. Sosial, Pendidikan, lingkungan, budaya, anak jalanan. Apapun itu, semoga menjadi ladang amal bagimu kawan.

Indah Putri, Rumbelraw: Hidup Lebih Bahagia

IMG-20150707-WA0003

Di Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw) aku bertemu dengan banyak anak-anak. Mengenal mereka dapat vitamin B lho! Vitamin apa itu? Bahagia.

Dari mereka aku belajar bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana melihat senyum dan tawa mereka yang semangat datang pagi untuk belajar meski hari minggu. Sesederhana sapaan mereka, sesederhana salam mereka dan hormat mereka. Tawa mereka itu candu yang mendorong datang disetiap minggunya.

Mengenal Relawan yang lain adalah pelajaran. Pelajaran yang tak ternilai harganya dan pengalaman yang terus bertambah tanpa biaya sepersen pun. Datang dan pergi dalam hal kerelawanan adalah hal wajar. Tapi Relawan selalu punya ruang saat kembali dan berbagi ilmunya ketika kembali datang.

Anindya Dyah, KNM: Keluarga Baru       

18 copy

Kelas Negarawan Muda pernah ada yang membuat Olimpiade Negarawan Muda (OSM). Ide OSM muncul dari seorang relawan yang memiliki keresahan melihat krisis negarawan di Indonesia. Tercetuslah untuk membuat miniatur project yg mampu diaplikasikan oleh adik-adik SMA, dan akhirnya didukung oleh seluruh teman-teman yang lain atas idenya.

Ada yang rela menginap di lokasi atau menumpang rumah kawan. Ada pula yang datang pagi buta hingga mengagetkan yang sedang tertidur, padahal baru tidur barangkali satu jam dua jam. Ada yang rela mondar-mandir mencari peralatan yang jauh dari pinggir kota ke tengah kota. Bahkan ada yang rela mencutikan diri dari kegiatannya.

Canda tawa tangis marah, kesal, repot, lelah, bahagia, dan lega menghiasi perencanaan juga saat kegiatan ini berlangsung. Kesempatan berharga dan tak ternilai seperti ini, bisa aku dapatkan karena berkumpul dengan mereka.

Mereka, yang bahkan sering tak mau disebut-sebut, sebab mereka melakukan semua karena hati yang tergerak, pakai hati dan memang senang melakukannya tanpa pamrih. Tapi mereka itulah, yang sering kalian sebut relawan.

“Relawan yang tidak ternilai bukan karena tidak berharga, tapi karena memang tidak ternilai.” Sebutan relawan itu tidak bisa dibeli, kalian harus melewati dan merasakannya langsung dan itu luar biasa!

Ada kepuasan tersendiri saat kalian bisa melakukan kegiatan positif di luar kegiatan rutinitas yang beragam latar belakangnya yang terkadang membuat jengah. Kegiatan yang independen tanpa lembaga kantor atau kampus, bebas, asik, seru, penuh kreasi dan yang paling penting … ada manfaatnya!

Falin Nur Alisa, Rumbelraw: Obat Lelah

Rumah Belajar Rawamangun

Anak-anak itu ajaib. Bisa di bayangkan gimana capek, lelah dan payahnya badan habis naik turun gunung. Waktu itu habis dari Gunung Guntur, baru sampai indekos jam 1 pagi lebih, tidur baru jam 2-an pagi.

Capeknya nauzubillah. Pagi bangun sudah berasa remah-remah badannya. Berhubung mau tidur lagi sudah enggak bisa, ya sudah saya nekat naik Go-Jek buat ke Rumbelraw. Padahal awalnya sudah minta Lizin buat enggak ikut ngajar dan istirahat. Tapi saat ketemu adik-adik Rumbelraw, sejenak bener-bener lupa sama rasa capek, pegal, dan remuknya badan. Bener-bener lupa!

254

Sejak 2014, setiap tahun, TurunTangan mengadakan Gathering Nasional (Gathnas), acara akbar yang bertujuan mempertemukan relawan TurunTangan se-Indonesia untuk menularkan semangat, ide, dan pergerakan di setiap daerah. Tahun ini Medan menjadi tuan rumah. Itu sesuai kesepakatan pada Gathnas relawan TurunTangan di Yogyakarta tahun lalu.

Gathnas 2016  dilaksanakan di LPMP Medan, Jalan Bunga Raya No. 96 Asam Kumbang. Selama empat hari dari 23-27 November. Mengangkat tema, “Semangat Kolaborasi, Sehati untuk Negeri”,  acara ini terbuka untuk umum dan terdiri dari diskusi panel dan pengabdian masyarakat.

Kamis, 24 November

Hari ini adalah hari kedatangan para relawan. Informasi dari media sosial, relawan TurunTangan Aceh dan Lhokseumawe berangkat pada Rabu malam menggunakan bus. Jumlah mereka cukup banyak, ada puluhan. Setelah menempuh perjalanan semalaman, mereka tiba pada Kamis siang dan langsung digiring oleh panitia menuju Wisma LPMP. Selama tiga hari mereka akan menginap di sini. Sementara itu relawan dari luar Medan lainnya menggunakan jalur udara dengan waktu tiba yang beragam. Ada yang sehari sebelum acara, Kamis pagi, siang dan malam, bahkan keesokan harinya.

Malam hari, relawan yang sudah datang dikumpulkan di aula. Acara pun dimulai dengan sesi perkenalan antar relawan dengan cara unik.  Sebuah games yang diiringi dengan dentuman musik. Semua tampak menikmati dan gembira. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai agenda kegiatan dan tata tertib Gathnas.

Jum’at, 25 November

Kira-kira satu jam setelah sholat subuh, panitia membangunkan peserta satu per satu. Mereka bawa sarapan sembari mengingatkan untuk segera bersiap-siap karena acara segera dimulai. Pagi itu ada kelas wawasan lingkungan dari Antonio Sipayung SP, seorang research and advocacy staff for foresty and plantation sector Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Pukul 8.00 WIB kelas dimulai. Antonio menjelaskan tentang kebijakan pemerintah yang harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Dia tidak sepakat dengan konsep pembangunan yang merusak ekosistem, seperti reklamasi di Jakarta dan Bali. “Pembangunan yang merusak lingkungan sebenarnya pembangunan untuk siapa, pemerintah berpihak kepada siapa. Para pemuda khususnya mahasiswa, seharusnya sadar kepada siapa kita harus berpihak,” ujar Antonio.

Lalu dia mengutip pendapat Tan Malaka tentang pemuda. “Bila kaum muda yang belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita cita sederhana, maka pendidikan itu lebih baik tidak diberikan sama sekali.”

Bersamaan dengan kelas itu, Head of Programme TurunTangan Chozin Amirullah memberi wawasan mengenai peran pemuda sebagai agen perubahan sosial, untuk ikut ambil bagian, terlibat menyelesaikan masalah yang ada di negaranya.

Usai kelas itu, dilanjutkan dengan seminar “Barat Timur Tetap Bergerak”. Pada sesi ini perwakilan dari lima daerah memaparkan project-nya. Ditambah pemaparan project dari TurunTangan pusat. Adapun project-project itu adalah Kelas Negarawan Muda (TurunTangan Jakarta), Swara DPR (TurunTangan Bandung), Olimpiade Sekolah Rakyat (TurunTangan Surabaya), Banjarmasin City Scale Mapping (TurunTangan Banjarmasin), Ruang Sinau (TurunTangan Malang), dan Science, Technology, Engineering and Mathematic, disingkat STEM (TurunTangan Pusat) .

Karena terbuka untuk umum, seminar Barat Timur Tetap Bergerak dihadiri oleh puluhan pemuda dari berbagai komunitas yang ada di Medan. Dan seluruh peserta merasakan banyak manfaat mengikuti seminar ini sebab mereka jadi tahu bahwa banyak cara untuk berkontribusi bagi negeri salah satunya membuat gerakan sederhana untuk menyelesiakan permasalahan di sekitarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan kelas tranparansi dan gerakan media online. Kelas transparansi disampaikan oleh Lia Toriana yang menjabat sebagai Manajer Youth Department Transparency International Indonesia. Lia mengatakan kasus korupsi di Indonesia cukup memprihatinkan. Harus banyak orang yang mau turun tangan untuk memberantasnya. “Kalau korupsinya berjemaah, melawannya tidak bisa sendiri. Untuk itu butuh komunitas,” kata Lia.

Kelas media online disampaikan oleh Alfatih Timur. Ia sempat menjadi relawan TurunTangan, kemudian menggagas crowdfunding platform KitaBisa.com. Relawan belajar mengenai bagaimana menggerakkan orang melalui media online. Dalam membuat campaign gerakan diperlukan pengetahuan yang baik agar bisa menggerakkan orang.

Dari Alfatih relawan tahu, hal yang menarik donatur untuk berdonasi adalah kasus di bidang kesehatan seperti orang sakit dan perlu segera dilakukan pengobatan atau operasi.  Serta kasus pendidikan seperti mahasiswa yang terancam DO karena tidak mampu membayar uang SPP lantaran tidak ada biaya.

Bidang kerelawanan yang bersifat sosial memang kurang menarik donator. Diperlukan strategi dalam membuat campaign: membuat narasi gerakan semenarik mungkin, singkat, padat dan jelas. “Jangan terlalu panjang, gunakan gambar dan video yang menarik simpati para donator. Cantumkan gerakan sosial tersebut ditujukan kepada siapa, lebih baik tertuju jelas seperti alumni kampus, warga kota Jakarta, alumni himpunan mahasiswa, atau lembaga yang terafiliasi dengan gerakan kita,” papar Alfatih.

Siapa penyelenggara kegiatan pun menjadi penting, maka nama baik komunitas harus dijaga agar donatur percaya dan mau tergerak untuk mendonasikan dananya disetiap kegaitan sosial relawan.

Menjelang sholat maghrib, kelas selesai. Peserta dipersilahkan kembali ke kamarnya masing-masing. Acara kemudian dilanjutkan dengan refleksi TurunTangan 2016. Setiap relawan diberi kesempatan untuk menyampaikan kritik dan sarannya kepada TurunTangan pusat untuk kemajuan TurunTangan selanjutnya.

Sabtu, 26 November

Pagi ini seluruh relawan melakukan senam pagi. Melenturkan otot-otot yang kaku sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Sinabung. Sesuai jadwal, peserta akan dibawa ke lokasi kamp pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung untuk melakukan pengabdian masyarakat.

Gunung Sinabung adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo. Memiliki ketinggian 2.451 meter. Gunung ini tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada 2010. Letusan terakhir terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sampai sekarang masih menetapkan status siaga terhadap Sinabung. Pemerintah menghimbau warga untuk meninggalkan zona merah dalam radius 4 km dari kawah yang dinyatakan sebagai wilayah tertutup. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi di beberapa lokasi kamp pengungsian. Salah satunya warga Desa Mardinding yang mengungsi di kamp pengungsian di Desa Terong Peren, Kecamatan Inderket, Kabupaten Karo.

Dua tahun lalu, relawan TurunTangan Medan sempat melakukan aksi sosial di Desa Mardinding. Tidak hanya menyalurkan bantuan berupa sembako, mereka juga membuat rumah belajar dan rumah jamur untuk membantu perekonomian warga. Kegiatan tersebut akhirnya berhenti. Pemerintah merelokasi Desa Madinding lantaran Gunung Sinabung terus batuk-batuk.

Pengabdian masyarakat ini menjadi contoh bagi relawan TurunTangan lainnya untuk ikut terlibat aktif menyelesaikan masalah yang ada di daerahnya seperti yang dilakukan oleh relawan TurunTangan Medan.

Perjalanan menuju Gunung Sinabung cukup lancar. Kabupaten Karo menyambut peserta dengan pemandangan alam yang memukau. Hutan lebat, sungai, dan perkebunan. Angkuhnya Gunung Sinabung yang masih mengeluarkan abu vulkanik nampak dari kejauhan. Menurut, relawan TurunTangan Medan, Azhar, saat itu status Gunung Sinabung memang sedang awas.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya peserta tiba di lokasi kamp pengungsian. Anak-anak pengungsi keluar berhamburan, seolah menyambut kedatangan peserta saat itu. Rupanya, mereka sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka ke rumah belajar di desa sebelah. Setiap sore, anak-anak Desa Mardinding mengikuti les tambahan. Pendidikan menjadi nomor satu bagi warga Desa Mardinding. Meski kondisi yang sangat terbatas, tak pernah menyurutkan semangat belajar anak-anak.

Peserta dibagi ke dalam tiga tim: medik, trauma healing anak-anak dan orang tua. Seluruh relawan sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Mereka membawa niat tulus membantu pengungsi untuk bisa bangkit dari penderitaan yang mereka alami. Warga pun menyambut kedatangan mereka.

Tim medik membuka pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Tim trauma healing anak-anak, mengajak anak-anak bermain games dan bernyanyi bersama. Tim trauma healing orang tua berbaur dengan para orangtua, mendengar keluhnya, sesekali memijat kaki dan tangannya.

Dari mengobrol dengan warga, terkuak masyarakat mulai stres dalam menjalani kehidupan di kamp pengungsian. Satu tahun lebih, mereka tinggal di barak-barak seadanya. Pemerintah daerah pernah menjanjikan Hunian Sementara (Huntara). Namun, sampai saat ini pembangunan Huntara belum juga dimulai. “Sosialisasinya sudah lama, tapi sampai sekarang Huntara belum juga dimulai,” ujar Devianti Boru Sembiring. Kepala Desa Mardinding Jepri Sangat berharap segera mendapat kabar soal hunian tersebut.

Jepri mengatakan jumlah warga Desa Mardinding yang mengungsi ada sebanyak 940 jiwa yang terdiri dari 268 kepala keluarga. Selain hunian, warga Desa Mardinding membutuhkan dermawan yang bersedia menjadi orangtua asuh bagi anak-anak mereka agar tidak putus sekolah. “Semangat belajar anak-anak di sini tinggi. Kami sangat mendukung tapi kami tidak ada biaya, sehingga kami berharap ada orang yang bersedia menjadi orangtua asuh agar mereka bisa sekolah tinggi,” kata Jepri.

Cuaca Karo sore itu sedang tidak baik. Langit tertutup awan tebal dan gerimis. Sahdu dan haru, itu kesan yang dirasakan. Pengabdian masyarakat membekas di hati relawan. Mereka pun pulang dengan membawa rasa syukur dan tergerak untuk terus turun tangan membantu sesama.

Sekembalinya dari Karo, acara dilanjutkan dengan pentas seni, pemilihan tuan rumah Gathnas 2017 dan api unggun.

Minggu, 27 November

Di hari penutupan Gathnas 2016, Founder Nyvara Foundation Adri, datang dan berbagi cerita kepada seluruh peserta tentang bagaimana membuat dan menjalankan gerakan yang pernah ia inisiasi.

Setelah itu, ada pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dan penyerahan sertifikat kepada perwakilan relawan dari setiap daerah. Relawan juga diminta mengungkapkan kesan-kesannya ikut Gathnas selama empat hari.

“Sebelum ke sini, di perjalanan benar-benar ingin cari ilmu dan pengalaman dari teman-teman relawan. Sepanjang perjalanan berdiskusi apa yang harus terjawab di sini. Pertanyaan kami harus terjawab. Karena kami merintis sehingga perlu. Di Gathnas ini, saya dapat hampir 90 persen jawaban atas pertanyaan itu seperti media sosial. Sampai ketemu di Gathnas 2017,” kesan relawan TurunTangan Binjai, Andini Aprilia.

 

213

Sabtu, 26 November 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi saya. Pada hari itu ratusan relawan TurunTangan dari seluruh Indonesia menuju Desa Terong Peren, Kecamatan Tiga Inderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Mereka bersatu untuk melakukan kegiatan bakti sosial peduli korban Sinabung. Saya menjadi bagian dari ratusan relawan itu.

Kegiatan bakti sosial peduli korban Sinabung adalah serangkaian acara Gathering Nasional TurunTangan 2016. Di mana seluruh relawan TurunTangan seluruh Indonesia berkumpul dalam satu tempat, di TurunTangan regional yang telah disepakati satu tahun sebelumnya.

Perjalanan menuju kamp pengungsian Gunung Sinabung dilakukan dengan menggunakan mini bus selama lebih dari dua jam.  Dari kaca bus kami melihat betapa angkuhnya Gunung Sinabung. Info dari panitia, Gunung Sinabung pada saat itu sedang awas. Meskipun begitu tak menyurutkan semangat para relawan TurunTangan untuk peduli terhadap sesama.

Sesampainya di lokasi, para relawan dibagi menjadi tiga tim: medik, trauma healing anak – anak dan trauma healing orangtua. Tim medik bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (USU) mempersiapakan obat obatan dan peralatan kesehatan guna memastikan para korban Sinabung sehat dan terobati sakitnya. Tim trauma healing anak – anak berinisiatif bermain, bernyanyi dan bergembira bersama anak-anak. Para relawan antusias memberikan semangat dan memotivasi anak-anak, bahwa mereka berhak mendapatkan masa depan yang cerah sebagaimana anak-anak lainnya di seluruh Indonesia. Tim trauma healing orangtua santai duduk bersama beralaskan terpal, sesekali memijat kaki dan tangan, sedikit mendekatkan telinga, berempati dan mendengar keluh para orang tua yang merasakan sakit baik fisik maupun psikis.

Saya sempat memijit salah satu dari orang tua. Nenek Laitsiah Sembiring namanya. Usianya kini 80 tahun. Mengeluh sakit pinggang, batuk dan pusing kepala. Lebih dari satu tahun tinggal di pengusian, ia bercerita bahwa bupati Kabupaten Karo baru sekali datang. Sempat berjanji, korban erupsi Gunung Sinabung akan diberi hunian, tapi hingga kini tak jua nampak pembangunan. Gubernur dan presiden pun belum datang, ternyata lokasi yang kami datangi saat itu adalah lokasi yang terpencil dan pengungsi adalah warga Desa Mardinding yang memiliki radius 2,4 km dari Gunung Sinabung.

Keluh Nenek Laitsiah juga keluh semua pengungsi. Di sini bantuan jarang sekali datang. Sungguh sedih melihat kenyataan yang terjadi. Sinabung terlupakan. Kabarnya seolah selesai, padahal masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

Saat itu kami membawa bantuan berupa beras, mie instan, dan bahan sembako. Namun rupanya itu belum cukup. Pengungsi butuh lebih dari sekedar bantuan yaitu kepastian. Kepastian akan adanya hunian baru yang laik untuk mereka tempati, pekerjaan untuk para orang tua dan pendidikan untuk anak anak mereka di masa depan.

Hubungan antara masyarakat Sumut dengan pemimpin daerahnya memang belum baik. Pemimpin daerah seolah tak peduli dengan kondisi warganya. Pun dengan warganya seolah tak peduli siapa pemimpin yang memimpin daerahnya. Saya dapat informasi dari relawan TurunTangan Medan, Azhar, angka partisipasi politik di Sumut sangat rendah. Bahkan berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2015, di Medan angka partisipasi politik hanya 26,88 persen saja. Padahal saya yakin, kalau saja masyarakat mau memilih, niscaya akan hadir pemimpin daerah yang peduli akan kesejahteraan warganya. Terlebih kalau masyarakat memilih dari track record-nya.

Dalam kasus Sinabung, sebaiknya relawan TurunTangan Medan mau bergerak lebih aktif lagi. Tak hanya gerakan sosial dengan memberikan bantuan kepada korban Sinabung, tetapi juga melakukan gerakan vertikal advokasi ke pemerintahan.

Perjuangan ini harus dilakukan secara bersamaan, ajak semua stake holder Medan bergerak. Sekarang saatnya berkolaborasi, tak zaman hanya bergerak sendiri – sendiri. Sambil terus berupaya melakukan perubahan untuk korban Sinabung, relawan TurunTangan daerah lain bisa membantu dengan dana dan propaganda sebanyak-banyaknya. Kita perlihatkan kepada dunia, kalau Sinabung belum selesai, masih butuh bantuan, seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Sinabung terus dilindungi dan dirahmati. Aamiin.

 

207

Generasi muda yang membawa kontribusi nyata untuk masyarakat terus bertambah. Ini terjadi di TurunTangan, satu lagi keluarga baru kita muncul dengan semangat gerakan yang menyala-nyala.

TurunTangan Semarang diinisiasi oleh Luluk Mudhawamah. Ia tergerak oleh nurani sosialnya yang tinggi. Untuk itulah Luluk segera mengumpulkan teman-temannya  menjadi inisator baru di TT Semarang. Dahulu, Semarang memang sempat berdiri namun akhirnya vakum. Luluk dan teman-temannya lah yang kemudian bertekad melestarikan budaya gerakan sosial anak muda tersebut, diawali dengan membuka stand untuk donasi di car free day Simpang Lima Semarang lalu membuat project pendidikan bernama “Rumah Perantara”.

Relawan TT Semarang memberikan wadah kepada anak-anak Rusun Pekunden untuk bermain dan belajar secara gratis bernama “Rumah Perantara” agar hari Minggu mereka lebih bermakna dan diisi dengan hal yang positif. Rumah Perantara melaksanakan aksi pertama mereka pada tanggal 23 dan 30 Oktober 2016 di Rusun Pekunden, Semarang. Kegiatan yang relawan lakukan untuk anak-anak tersebut adalah senam bersama, membuat kerajinan tirai dari kertas karton, dan bermain game.

Kedatangan relawan TT Semarang ini disambut baik oleh warga Rusun Pekunden, anak-anak pun terlihat bahagia dengan kegiatan ini. Mereka bahkan meminta agar Rumah Perantara diadakan setiap Minggu.

Saat ini, Semarang memiliki sepuluh anak muda yang menjadi amunisi baru di sana. Sepuluh ana muda yang berkomitmen, bersemangat, dan tetap bergerak menyelesaikan masalah di Semarang. Semboyan yang melengkapi semangat mereka adalah “Kerja nyata demi mewujudkan cita”.

302

Tulisan ini dibuat untuk seorang apatis yang mempertanyakan arti sebuah kerelawanan kepada saya beberapa minggu lalu. Saat diberondong beberapa pertanyaan, saya sengaja hanya menjawab simpel-simpel saja atau sesepele “Memang hidup gue kurang kegiatan, jadi bawaannya pengen ini itu, bikin banyak hal.”

Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu, kalau si apatis ini menilai banyak orang diuntungkan dengan kegiatan yang saya tekuni dan nilai-nilai yang saya perjuangkan. Maka kebalikannya bagi saya, justru saya banyak diuntungkan di sini.

Izinkan saya bercerita tentang satu wadah kerelawanan di mana saya mendapat banyak keuntungan di dalamnya: TurunTangan. Dari ribuan relawan yang ada, mungkin bukan hanya saya satu-satunya yang merasa berhutang ilmu di sini, semoga bukan hanya saya.

November 2013 saya mendaftar via website.
Maret 2014 pertama kali saya berkegiatan di TurunTangan bekasi.

Pertama kali berkegiatan I dont expect TurunTangan is a political movement. Tapi tanpa diduga justru saya belajar dari salah satu relawan TurunTangan Bekasi Aditya Ryan mengenai perpolitikan Indonesia.

Bersama dia, Risa, Okky, Mas Tommy, Kak Dessy, dan Kak Zakky, kami membuat rekomendasi rekam jejak calon-calon anggota DPR dan DPRD Kota Bekasi. Hal yang tidak masuk ke dalam wish list hidup saya. Satu yang menantang saat itu adalah bahwasanya politik di negeri ini belum cukup diurus oleh orang-orang yang bersih dan berkompeten.

Skill baru yang saya dapat – sepele tapi penting yaitu ‘kepo-in’ pejabat publik.

Mei 2014 Bagus Handoko merekomendasikan saya untuk menjadi tim creative di TurunTangan Pusat, ingat betul orang pertama yang meng-interview saya adalah Mas Ardi Wilda, baru setelahnya Mba Hani Fibianti. Maka saat itu saya resmi magang di TurunTangan Pusat.

Satu hal yang paling membekas di jantung, kepala, dan kuping adalah teguran dari seorang Monika Halim mengenai desain stiker ucapan Idul Fitri, “Kalau loe tempel di kaca rumah, loe mau enggak kira-kira?” Berkat supervisi beliau, mulai hari itu perlahan hasil-hasil desain saya menjadi lebih baik, bernilai, dan layak tampil.

Agustus 2014 selesai masa magang, saya kembali menjadi zombie kapitalis dan relawan biasa yang sebisa mungkin tetap aktif berkontribusi bukan hanya jempol dan mulut.

Desember 2014 sebuah project bertajuk Kelas Negarawan Muda diinisiasi di TurunTangan Jakarta, saya turut aktif membuat kebutuhan-kebutuhan desainnya.

Di saat-saat ini lah proses kerasnya kehidupan menjadi relawan dimulai. Bersama Kak Tika, Kak Andres, Kak Herry, Kak Masrha, dan Kak Angga, saya belajar berdialektika, berdebat, mengadu ide dan gagasan untuk KNM ke depan. Berkali-kali kami rapat hingga larut, paling cepat selesai jam sebelas malam.

Karena mereka cara berpikir saya mulai terbentuk, yang selalu diingatkan kepada saya adalah agar tetap berpikir dengan struktur yang jelas, Kak Angga selalu bilang, “Kritis boleh tapi jangan sampai logikanya jadi cocoklogi.”

Juli 2015 Herry Dharmawan membuka pintu untuk saya kembali bergabung, kali ini menjadi officer di TurunTangan Pusat.

Rekrutmen yang ditawarkan kepada saya adalah untuk menjadi designer officer. Berjalannya waktu justru Head of Office TurunTangan Mba Aida Fitri banyak memberi kesempatan kepada saya belajar mengerjakan hal-hal di luar desain.

Pertama, belajar menjadi fasilitator relawan. Bukan hal yang mudah, seperti menjadi HR (Human Resources) kalau di perusahaan swasta. Belum lagi kalau relawannya demanding, paling menyenangkan kalau relawannya juga inisiatif. Susahnya menjadi fasilitator relawan adalah tidak boleh mengarahkan hanya memfasilitasi. Nah, teknik fasilitasi sendiri ada banyak dan mudah dipelajari juga menantang untuk dipraktikan, patron saya dalam hal fasilitasi adalah Kak Herry dan Kak Darul.

Beberapa bulan pasca Temu Nasional TurunTangan, saya harus menggantikan Kak Anggun yang kala itu sedang cuti melahirkan menjadi PMO bidang Pendidikan. Ini yang paling menantang dan menyenangkan karena harus membuat konsep satu Project STEM (Sains, Technology, Engineering, and Mathematics) Based Method dengan minim referensi, semuanya dari nol. Tapi Mba Aida yang super baik hati mengenalkan kami dengan Mas Kiki, mentor di TurunTangan untuk teknik Management Project, Pitching Donor, dan how to think effectively.

Menjelang pergantian tahun, Kepala Yayasan TurunTangan Mas Ananda Siregar dengan murah hati membuat pelatihan untuk officer TurunTangan. Kami diberi serangkaian materi leadership, bukan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Tapi technically how the leader work and build a team. Membagikan kami ke beberapa kuadran dan menjelaskan kelemahan juga kelebihannya. Hal yang paling saya ingat dari Mas Nanda adalah perkataannya tentang sebuah tim, “A chain is only as strong as its weakness link.”

Februari 2016 saya mengundurkan diri menjadi officer dan mendapat kesempatan berkarier di lembaga internasional, dan saya masih tetap menjadi relawan di Gerakan TurunTangan.

Juli 2016 dengan kesepakatan bersama relawan lainnya saya didapuk menjadi Project Leader Kelas Negarawan Muda menggantikan seseorang yang konon tidak mungkin tergantikan. Berat rasanya.

Dari menjadi relawan, lalu officer, relawan lagi, officer lagi, dan sekarang masih menjadi relawan lagi. Almost 3 years, arti kerelawanan di TurunTangan bagi saya bukan lagi sekedar menjadi manfaat untuk orang lain, tapi justru banyak hal yang telah dibekali kepada saya untuk tetap disumbangsihkan kepada relawan itu sendiri.

TurunTangan membuktikan bahwa pemuda yang pernah tidak naik kelas sekalipun bisa membuat perubahan jika diberi kesempatan. Menjadi Relawan TurunTangan melampaui limitasi yang pernah saya buat sendiri.

Jika malam ini seseorang yang sangat apatis bertanya (lagi) kepada saya masih kah akan menjadi relawan di TurunTangan?

Menurutmu?

71 tahun Indonesia Merdeka dan tiap tahun pula pada tanggal 17 agustus kita terus merayakannya.

Media sosial pasti penuh dengan hashtag kemerdekaan dan sebagainya, tapi semua ini tidak berlangsung lama,

tak jarang setelah perayaan 17 Agustusan, rasa nasionalisme kita semakin menurun dengan sikap pesimis akan negeri ini yang dapat kita lihat melalui berbagai komentar negatif dan keluh kesah akan Indonesia,

dimana semua ini dapat kita jumpai dengan mudahnya dikarenakan kecenderungan kita untuk meneruskan berita-berita buruk tentang Indonesia tanpa menelaah fakta yang ada. Ditambah lagi semakin banyaknya buzzer media sosial yang menyebar berita-berita hoax yang terkadang kita juga mengikutinya, semua itu tanpa sadar  membuat kita menjadi para “penyebar pesimisme”.

Tidak ada yang salah dengan kritik ataupun berkeluh kesah, memang tugas rakyatlah untuk terus mengkritisi dan menjadi watchdog terhadap pemerintahannya, tetapi sebuah masalah tak akan selesai dengan hanya kritisi dan menghancurkan semangat bangsa ini dengan menyebar rasa pesimis, seharusnya sikap tersebut dibarengi dengan solusi dan kerja nyata untuk negeri ini.

Tetapi sayangnya,

seringkali kita berkeluh kesah tanpa menyadari bahwa kita belum memberikan kontribusi apapun bagi negeri ini,

berkeluh kesah mulai dari hal-hal sederhana seperti kemacetan lalu lintas dan panas teriknya jalanan ketika kita pergi bekerja atau sekolah, kondisi jalan raya yang penuh lubang, mahalnya kebutuhan yang harus kita keluarkan untuk mengikuti gaya hidup, kritik dan keluh kesah tsb membuat seolah-olah hanya kita lah yang merasakan kesulitan di negeri ini  yang tanpa sadar kita terus menyebarkan rasa pesimis  melalui media sosial yang kita miliki.

Tak pernah kah kita memikirkan nasib saudara kita di desa-desa perbatasan Indonesia yang jauh dari perhatian pemerintah? Misalnya  nelayan Indonesia dari berbagai daerah terpencil  yang harus mencari ikan dengan merasakan teriknya panas matahari di tengah lautan. Lalu, pernahkah kita memikirkan nasib petani-petani Indonesia yang menuai hasil panen melimpah namun kehidupan mereka tidak makmur? Pernahkah kita membayangkan beratnya perjuangan para TKI di luar negeri yang terus bekerja keras meningkatkan devisa negeri ini dengan memendam rindu sanak  famili di bumi pertiwi? Nereka sedang berjuang untuk cita-cita merdeka dari kemiskinan, dan mungkin posisi seperti mereka lah yang layak untuk berkeluh kesah.

Melihat hal tersebut seharusnya kita seharusnya bersyukur karena kita masih diberi kesejahteraan dan keluangan waktu untuk lebih semangat lagi  melunasi janji kemerdekaan di negeri ini.

Ada puluhan  kekurangan di Indonesia, tetapi sebenarnya ada ratusan berita baik dari Indonesia yang dapat membangkitkan rasa optimis kita untuk melunasi janji kemerdekaan.

Pernahkan kita mendengar kekayaan hutan Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia selain Brazil dan Zaire?

Potensi sumber daya kelautan Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, menghasilkan potensi sumber daya kelautan triliunan rupiah, atau potensi sumber daya mineral & tambang yang terhampar dari sabang hingga merauke seperti  cadangan bijih besi, tembaga, bauksit, bijih timah yang nilai potensialnya mencapai ratusan triliunan rupiah lebih, bahkan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi 68% dari wilayah negeri ini yang mencakup daerah seluas hampir 1,3 juta kilometer persegi diperkirakan menyimpan 81,2% cadangan bahan tambang Indonesia (Koesnaryo dalam PERHAPI, 2002: 1).

Kekayaan SDM Indonesia juga tak kalah hebatnya. Di masa depan  dengan adanya bonus demografi yang diperdiksi pada tahun 2020-2030, 70% penduduk Indonesia adalah penduduk dengan jumlah usia produktif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia juga merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia, terdapat lebih dari 750 suku bangsa atau etnis.

Indonesia merupakan negara ke 13 dengan militer terbaik di dunia dan berbagai prestasi militer lainnya.

Indonesia memiliki banyak sosok inspiratif muda Indonesia yang membuang rasa pesimisnya. Misalnya kisah seorang Butet Manurung, seorang sarjana yang menghabiskan waktunya untuk mendidik suku anak-anak pedalaman di Jambi tanpa berkeluh kesah akan belum meratanya infrastuktur pendidikan di Indonesia. Dr Gamal Albinsaid yang mendedikasikan ilmu kedokterannya untuk warga miskin di kota Malang dengan asuransi sampah miliknya tanpa sekedar mengkritisi pelayanan kesehatan di Indonesia.

Jika hanya segelintir berita memilukan dari Indonesia dapat dengan gampang nya membuat kita menjadi para penyebar rasa pesimis yang hanya bisa mengkritik melalui media sosial di layar smartphone, maka sudah seharusnya kita optimis  mendengar berita-berita mengenai fakta potensi negeri ini diatas..

Atau kita bisa belajar dari para pejuang puluhan tahun lalu yang telah berjuang tanpa rasa pesimis didalam dirinya. Bung karno yang beberapa kali dipenjara dan diasingkan, Hatta dengan diplomasinya mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dari tangan penjajah, perjuangan Jenderal Soedirman bergerilya di hutan belantara sambil menahan sakit yang dideritanya, Tan Malaka  berulang kali berganti nama dan berpindah pindah tempat demi berjuang dari kejaran para penjajah.

Bayangkan setiap masalah dan rintangan  yang dihadapi mereka, dalam setiap perjuangan mereka, mereka  tidak tahu apakah setiap tetes keringat dan darah  yang mereka perjuangkan  akan berbuah kemerdekaan atau tidak, tetapi mereka memilih untuk tetap optimis dan berjuang, bayangkan jikalau  ditengah perjuangan mereka muncul rasa pesimis dan mengambil langkah untuk mundur pada saat itu, tentu kita tak bisa menikmati nikmat nya kemerdekaan saat ini.

Jika mereka para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan dahulu selalu optimis, sudah selayaknya kita para pemuda yang meneruskan janji kemerdekaan ini membuang rasa pesimis.

Anggapan bahwa kita belum sepenuhnya  merdeka dapat dimaklumi, hal itu dapat dilihat mulai dari sumber daya alam kita yang sebagian besar masih dikuasai asing, kesejahteraan dan pendidikan yang belum merata, SDM kita yang dengan mudahnya di propaganda media hingga korupsi yang merajalela.

Walau kita belum sepenuhnya MERDEKA secara utuh, setidaknya kita MERDEKA dari rasa pesimis dan putus asa. Mari terus berjuang karena negeri ini dibangun oleh semangat OPTIMISME!

 

Pejuang Bukan ?? Hadapi !!

#Dirgahayu R171

 

371

TurunTangan Medan (TTM) akan mengadakan kegiatan penutupan kampung binaan, Kampung Aur, Medan Maimun, Medan, Minggu (28/2/2016). Rencananya kegiatan akan diisi dengan penyerahan tempat sampah, peresmian rumah baca dan hiburan.

Kampung binaan merupakan bagian dari program “Environment Care of TurunTangan Medan” (ECO-TTM) yang mengangkat isu lingkungan. Kegiatan ini dilakukan di sebuah perkampungan di bantaran Sungai Deli, Kampung Aur.

Masyarakat Kampung Aur masih bergantung pada sungai untuk mandi, cuci, dan kakus. Padahal Sungai Deli sudah tercemar oleh sampah. Masyarakat kerap membuang sampah di sungai dengan alasan tidak tersedianya tempat pembuangan dan pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan Kota Medan.

Program ECO-TTM dimulai pada Maret 2015. Kegiatan awal difokuskan dengan membersihkan lingkungan di sekitar rumah warga. Relawan TTM dan masyarakat Kampung Aur saling bergotong royong mencari sampah di sekitar rumah warga. Mereka juga mengadakan penyuluhan tentang menjaga kebersihan, salah satunya adalah cara mencuci tangan dengan baik dan benar. Berbagai permainan juga dilakukan di sela-sela kegiatan untuk mendekatkan relawan dengan anak-anak Kampung Aur.

Pada Mei sampai Agustus, TTM mengajarkan anak-anak Kampung Aur berkreasi membuat pot bunga dari botol plastik dan mengadakan sunat massal bekerjasama dengan Tim Bantuan Medis (TBM) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU). Serta mengadakan pesantren kilat dan kampung anti korupsi.

Pada Agustus, ECO-TTM mengajak komunitas-komunitas di Kota Medan untuk ikut terlibat dan menjadikan kampung Aur sebagai kampung binaan. Beberapa komunitas yang terlibat diantaranya, HILO Green Community, BOSH, Medan Heritage, Sanggar Kreatif, dan Mahasiswa Kedokteran Indonesia Bersatu. Bersama komunitas-komunitas itu TTM mengadakan penyuluhan tentang bank sampah, ekonomi kreatif untuk ibu-ibu dan anak-anak, pembuatan tempat sampah, menghidupkan perpustakaan, dan periksa kesehatan gratis.

 

 

423

Di dalam suatu negara tentunya terdapat seorang pemimpin yang memimpin bangsanya ke arah perkembangan bangsa yang makmur, sejahtera, aman dan sesuai dengan kebutuhan rakyat. Demi penegakan suatu kepemimpinan yang adil dan ideal tidak cukup hanya dengan seorang pemimpin semata. Perkembangan suatu bangsa sangat mutlak diperlukan sumber daya manusia yang responsif, kompetitif, dan memiliki mobilitas tinggi dalam berfikir maupun bertindak, sehingga dapat berpartisipasi aktif dan konstruktif.

Pada saat sekarang ini, banyak generasi muda yang kurang berjiwa nasionalisme terhadap bangsanya, bersikap acuh, tidak peduli dengan pancasila dan jasa-jasa para pahlawan yang telah membawa bangsa ini pada gerbang kemerdekaan. Semangat gotong royong dan ramah tamah sebagai suatu khas bangsa Indonesia pun sudah hilang. Mereka cenderung melakukan hal-hal negatif seperti tawuran antar pelajar, narkoba, dan sebagainya. Hal ini disebabkan arus teknologi yang semakin canggih, sehingga generasi muda lupa akan tugasnya sebagai pemegang estafet pembangunan masa depan.

Oleh karena itu, para generasi muda sekarang harus dapat menyikapi perkembangan yang terjadi di dunia, selalu mengambil sisi positif, dan meninggalkan sisi negatifnya. Generasi muda harus memiliki semangat jiwa muda yang dapat membangun negara Indonesia dengan cara cinta tanah air, rela berkorban bagi bangsa Indonesia, belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat memajukan pendidikan Indonesia dan bersaing di dunia internasional. Generasi muda selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa, baik sebagai pelopor maupun sebagai pengambil keputusan. Karena jika bukan generasi muda yang berusaha, maka siapa lagi? 

Salam,

Azzura Nolia Fahrisya
Relawan TurunTangan Medan

Kamis, 21 Januari 2016 di depan istana negara, sudah 9 tahun lamanya para ibu berdiri mengenakan pakaian hitam-hitam, diam dengan satu tuntutan yang tidak pernah berubah. Menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini. Cukup panjang daftar kasus pelanggaran HAM yang akan dengan mudah didapatkan dari mesin pencari yang ada di Internet.

Saya mengenal lebih dalam para pejuang kamisan saat ikut dalam Aksi Kamisan Sumpah Pemuda bersama project Kelas Negarawan Muda. Saat proses persiapan penyelenggaraan Kamisan, Ibu Sumarsih memaksakan untuk hadir, padahal pertemuan diselenggarakan sampai larut malam. Semangat itu terasa akan sehingga tidak ada alasan bagi kami, para relawan Kelas Negarawan Muda untuk mundur dari Kamisan.

Selepas sumpah pemuda, karena alasan kesibukan yang bertepatan dengan kamisan, saya belum pernah lagi hadir disana. Meskipun hati ini tetap ingin hadir disana. Ah, pekerjaan memang selalu jadi alasan pembenaran. Sampai pada akhirnya ada kabar bahwa Kamisan akan digusur menjauh dari Istana.

Kamisan akan digusur menjauh dari istana yang merupakan objek vital negara. Undang-Undang membenarkan hal tersebut, namun tampakanya tidak akan ada ancaman berarti dari pada ibu yang berdiri dan para anak muda yang setia menemani. Saya tahu dan percaya, mereka yang menemani tidak punya pikiran untuk melakukan macam-macam karena hal itu akan mengkhianati perjuangan yang dilakukan oleh para ibu di Kamisan.

2 Kamisan sebelum 21 Januari, para ibu diusir oleh polisi yang berjaga disekitar istana. Hari-hari setelah Pergub DKI Jakarta diberlakukan, para ibu harus berhadapan dengan para aparat yang jumlahnya lebih banyak dari para ibu, tapi para ibu bergeming dan tetap yakin akan garis perjuangan yang mereka pilih. Tetap berdiri didepan istana negara setiap hari kamis, menuntut kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dikaukan atas nama negara kepada orang-orang yang mereka cintai.

 

#9thKamisanMelawan

“Digusur kami tetap berdiri, diabaikan kami tetap mencari”, 9 tahun para ibu berdiri menuntut sang penguasa negeri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. 9 tahun para ibu itu “digantung” oleh para penguasa, berkali-kali penghuni istana berganti rupa, tetap saja ujungnya belum terlihat dimana. 9 tahun itu waktu yang sangat lama, mereka tidak mau berhenti, mereka akan tetap berdiri dan mencari.

Sepenggal Jingga dari Efek Rumah Kaca,

Rindu kami seteguh besi
Hari demi hari menanti
Tekad kami segunung tinggi
Takut siapa? semua hadapi

Marah Kami
Senyala api
Di depan istana berdiri

Yang hilang menjadi katalis
Disetiap kamis
Nyali berlapis

Yang ditinggal
Takkan pernah diam
Mempertanyakan kapan pulang ?

9 tahun berdiri, 427 kamisan berjalan, 3285 hari. Konsisten saja masih kurang nampaknya menggambarkan pejuang di aksi kamisan. Jika ada satu tingkat kata yang lebih tinggi dari konsisten, maka para ibu layak menyandangnya. Semoha dia yang diistana bersedia untuk menengok dan bertemu langsung pada ibu.

Terima Kasih kepada para ibu yang memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada alasan berhenti dari apa yang kita jalani. Ketika negara mengambil separuh dari jiwa dan memperlakukannya tidak sebagaimana mestinya, maka pasrah itu bukan jawaban.

Saya sudah meninggalkan hati saya disini, meskipun saya tidak selalu hadir tapi saya akan tetap kembali.

Wahai para pemuda yang menyebut dirinya agen perubahan bangsa, Tidak pernahkah hatimu tergerak untuk ikut membela. Selama kasusnya belum terbuka, kita semua punya peluang untuk merasakan hal yang sama. Apakah ketika saat itu tiba, kita baru akan meminta iba padahal saat Ini kita berusaha memalingkan muka.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]