Home Catatan Relawan
Catatan catatan pengalaman relawan Turun Tangan di lapangan.

610

Di dalam suatu negara tentunya terdapat seorang pemimpin yang memimpin bangsanya ke arah perkembangan bangsa yang makmur, sejahtera, aman dan sesuai dengan kebutuhan rakyat. Demi penegakan suatu kepemimpinan yang adil dan ideal tidak cukup hanya dengan seorang pemimpin semata. Perkembangan suatu bangsa sangat mutlak diperlukan sumber daya manusia yang responsif, kompetitif, dan memiliki mobilitas tinggi dalam berfikir maupun bertindak, sehingga dapat berpartisipasi aktif dan konstruktif.

Pada saat sekarang ini, banyak generasi muda yang kurang berjiwa nasionalisme terhadap bangsanya, bersikap acuh, tidak peduli dengan pancasila dan jasa-jasa para pahlawan yang telah membawa bangsa ini pada gerbang kemerdekaan. Semangat gotong royong dan ramah tamah sebagai suatu khas bangsa Indonesia pun sudah hilang. Mereka cenderung melakukan hal-hal negatif seperti tawuran antar pelajar, narkoba, dan sebagainya. Hal ini disebabkan arus teknologi yang semakin canggih, sehingga generasi muda lupa akan tugasnya sebagai pemegang estafet pembangunan masa depan.

Oleh karena itu, para generasi muda sekarang harus dapat menyikapi perkembangan yang terjadi di dunia, selalu mengambil sisi positif, dan meninggalkan sisi negatifnya. Generasi muda harus memiliki semangat jiwa muda yang dapat membangun negara Indonesia dengan cara cinta tanah air, rela berkorban bagi bangsa Indonesia, belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat memajukan pendidikan Indonesia dan bersaing di dunia internasional. Generasi muda selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa, baik sebagai pelopor maupun sebagai pengambil keputusan. Karena jika bukan generasi muda yang berusaha, maka siapa lagi? 

Salam,

Azzura Nolia Fahrisya
Relawan TurunTangan Medan

Kamis, 21 Januari 2016 di depan istana negara, sudah 9 tahun lamanya para ibu berdiri mengenakan pakaian hitam-hitam, diam dengan satu tuntutan yang tidak pernah berubah. Menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini. Cukup panjang daftar kasus pelanggaran HAM yang akan dengan mudah didapatkan dari mesin pencari yang ada di Internet.

Saya mengenal lebih dalam para pejuang kamisan saat ikut dalam Aksi Kamisan Sumpah Pemuda bersama project Kelas Negarawan Muda. Saat proses persiapan penyelenggaraan Kamisan, Ibu Sumarsih memaksakan untuk hadir, padahal pertemuan diselenggarakan sampai larut malam. Semangat itu terasa akan sehingga tidak ada alasan bagi kami, para relawan Kelas Negarawan Muda untuk mundur dari Kamisan.

Selepas sumpah pemuda, karena alasan kesibukan yang bertepatan dengan kamisan, saya belum pernah lagi hadir disana. Meskipun hati ini tetap ingin hadir disana. Ah, pekerjaan memang selalu jadi alasan pembenaran. Sampai pada akhirnya ada kabar bahwa Kamisan akan digusur menjauh dari Istana.

Kamisan akan digusur menjauh dari istana yang merupakan objek vital negara. Undang-Undang membenarkan hal tersebut, namun tampakanya tidak akan ada ancaman berarti dari pada ibu yang berdiri dan para anak muda yang setia menemani. Saya tahu dan percaya, mereka yang menemani tidak punya pikiran untuk melakukan macam-macam karena hal itu akan mengkhianati perjuangan yang dilakukan oleh para ibu di Kamisan.

2 Kamisan sebelum 21 Januari, para ibu diusir oleh polisi yang berjaga disekitar istana. Hari-hari setelah Pergub DKI Jakarta diberlakukan, para ibu harus berhadapan dengan para aparat yang jumlahnya lebih banyak dari para ibu, tapi para ibu bergeming dan tetap yakin akan garis perjuangan yang mereka pilih. Tetap berdiri didepan istana negara setiap hari kamis, menuntut kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dikaukan atas nama negara kepada orang-orang yang mereka cintai.

 

#9thKamisanMelawan

“Digusur kami tetap berdiri, diabaikan kami tetap mencari”, 9 tahun para ibu berdiri menuntut sang penguasa negeri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. 9 tahun para ibu itu “digantung” oleh para penguasa, berkali-kali penghuni istana berganti rupa, tetap saja ujungnya belum terlihat dimana. 9 tahun itu waktu yang sangat lama, mereka tidak mau berhenti, mereka akan tetap berdiri dan mencari.

Sepenggal Jingga dari Efek Rumah Kaca,

Rindu kami seteguh besi
Hari demi hari menanti
Tekad kami segunung tinggi
Takut siapa? semua hadapi

Marah Kami
Senyala api
Di depan istana berdiri

Yang hilang menjadi katalis
Disetiap kamis
Nyali berlapis

Yang ditinggal
Takkan pernah diam
Mempertanyakan kapan pulang ?

9 tahun berdiri, 427 kamisan berjalan, 3285 hari. Konsisten saja masih kurang nampaknya menggambarkan pejuang di aksi kamisan. Jika ada satu tingkat kata yang lebih tinggi dari konsisten, maka para ibu layak menyandangnya. Semoha dia yang diistana bersedia untuk menengok dan bertemu langsung pada ibu.

Terima Kasih kepada para ibu yang memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada alasan berhenti dari apa yang kita jalani. Ketika negara mengambil separuh dari jiwa dan memperlakukannya tidak sebagaimana mestinya, maka pasrah itu bukan jawaban.

Saya sudah meninggalkan hati saya disini, meskipun saya tidak selalu hadir tapi saya akan tetap kembali.

Wahai para pemuda yang menyebut dirinya agen perubahan bangsa, Tidak pernahkah hatimu tergerak untuk ikut membela. Selama kasusnya belum terbuka, kita semua punya peluang untuk merasakan hal yang sama. Apakah ketika saat itu tiba, kita baru akan meminta iba padahal saat Ini kita berusaha memalingkan muka.

We are making history

Sebuah kalimat yang menggambarkan perjuangan kita selama ini, perjuangan dengan kristal keringat bukan dengan kristal rupiah. Kalau dilihat dari sisi jumlah memang kita sedikit, tapi apa hasil yang besar dimulai dengan sesuatu yang besar?

Terkadang saya teringat dengan gambar yang diposting oleh Doni Swandana, Relawan TurunTangan Medan. Begini kata-katanya, “Lelah? Jujur, iya. Tapi setiap saya ingin pergi, hati meminta berjuang lagi, dan logika berkata masa Cuma segini? Jadi, saya kembali.”

Itu gambaran perasaan yang sering saya rasakan di gerakan baik ini.

Begitu juga dengan puisi yang pernah diposting oleh Azhar yang juga Relawan TurunTangan Medan.

Patah tumbuh hilang berganti..
Ada yang datang lalu ada yang pergi..
Ada yang bertahan karena memang dari hati..
Meski keramaian pernah jadi sunyi..

Ada yang bergerak karena kesadaran diri..
Lalu ada juga untuk mencari jati diri..
Ada, ada yang sekedar demi eksistensi..
Karena ingin meluapkan emosional psikologi..

Kita gerakan bukan community..
Bergerak dalam perbedaan untuk Ibu Pertiwi..
Jangan lelah untuk melangkahkan kaki..
Sebab perjuangan tak berhenti sampai disini..

Setiap dari kita pasti punya mimpi..
Letaknya sejauh langit yang tinggi..
Demi Negeri, kita masih ada janji..
Janji kemerdekaan yang belum kita lunasi..

Jalan masih panjang untuk ditapaki..
Tetap saling erat kuatkan pijakan kaki..

Terima kasih kawan sudah berdiri sama tinggi..
Bergerak memudarkan anti pati..
Kau lakukan dengan setulus sanubari..
Hingga kita bisa saling menginspirasi..

Ya benar, jalan kita masih sangat panjang. Rute yang kita lalui pasti sangat terjal. Pandji juga pernah bercerita tentang hal ini:

Tapi saya maklum kalau orang orang tidak paham apa yang kita sedang lakukan. Saya mengerti kalau orang-orang melihat kita aneh.

How can they understand?
They are trying to win this, WE ARE TRYING TO CHANGE THE GAME.

Saya terima, kalau orang orang menganggap kami naif.
Menganggap kami polos.
Menganggap kami pemimpi.
Saya terima.

Tapi ingat ini selalu, “You may say i’m a dreamer. But i’m NOT the only one”.

Pandji benar, kita tidak sedang berjuang sendiri. Ada lebih dari 45.000 relawan yang bersiap mengubah wajah Indonesia dari berbagai pelosok daerah tanpa mengharapkan 1 Rupiah pun.
Terima kasih atas kesempatan berjuang bersama. Semoga gerakan ini kekal abadi sepanjang masa.

“Selama kamu tidak berhenti memukul, maka kamu belum kalah.” – Pandji Pragiwaksono

Salam hangat,

Kurnia Ramadhana
Relawan TurunTangan

 

633

Terkadang saya sering mendapat pertanyaan, “Eh, kok suka sama kegiatan-kegiatan di TurunTangan sih? Manfaatnya apa? Dapet duit? Lah terus kalau nggak dapet duit kenapa dilakuin? Umur udah tua lho, nggak usah ikut-ikutan gitu lah! Dasar sok pahlawan, sok nasionalis!”

Kalau pertanyaan itu ditanya ke kalian jawabnya apa?

Simpel sih jawabnya, karena SAYA CINTA INDONESIA!

Sesibuk apapun kita, sehebat apapun kita, atau sepintar apapun kita kalau hanya untuk diri sendiri apa gunanya?

Republik ini dibangun oleh orang yang jauh lebih sibuk dari kita, jauh lebih hebat dari kita, dan jauh lebih pintar dari kita.

Apa mereka semua mendiamkan dan memilih berkarir nyaman? TIDAK!

Mereka beramai-ramai iuran untuk Indonesia, waktu tenaga pikiran darah bahkan nyawa mereka sumbang untuk kemerdekaan, apa kemerdekaan itu untuk mereka? Nggak. Kemerdekaan itu, ya … untuk kita semua.

Coba bayangkan suatu saat nanti jika kita bertemu dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lain-lain, lalu kita ditanya, “Apa yang sudah kalian sumbang untuk Republik ini?”

Pantaskah kita katakan, “Saya tidak berbuat apa-apa, karena itu bukan tugas saya, itu tugas pemerintah.”

Saya rasa tidak, harusnya kita bisa katakan kepada mereka,

“Saya berjuang, saya adalah Soekarno, saya adalah Hatta, saya adalah Sjahrir masa kini! Dan saya ikut memastikan Indonesia berdiri lebih tegak bersama Gerakan TurunTangan!”

Ya, tetaplah berjuang, tetaplah optimis, dan tetaplah cinta Indonesia.

Bangsa ini tidak dirancang untuk menjadi bangsa yang pesimis.

Semoga ketika kita tua nanti kita bisa tersenyum melihat anak-anak dan cucu-cucu kita nanti memakai seragam yang bertuliskan “TURUNTANGAN MEDAN”.

“Indonesia memang nggak sempurna, tapi dia layak untuk diperjuangkan” – Pandji Pragiwaksono

Pejuang Bukan???

HADAPI!!!

—————-

Setelah baca tulisan ini, coba deh tonton videonya Pandji #TitipanMama.

Untitled

Ini link nya, https://youtu.be/OxGz0ftgUXQ.

Terima kasih.

Salam Cinta Indonesia,

Kurnia, TurunTangan Medan

557

Terjalnya jalan menuju Pegunungan Meratus di Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah tidak lantas membuat semangat Relawan Turun Tangan (TT) Kalimantan Selatan (Kalsel) surut. Selama tiga hari dua malam mulai tanggal 27-29 Desember 2015 mereka melakukan survey geografis dan survey sosial pada masyarakat Banjar Archaic. Perjalanan ini dilakukan tentu bukan tanpa tujuan. Mereka tak lelah karena berjalan dengan sati visi: membangkitkan identitas asli masyarakat Adat Meratus (Banjar Archaic).

Survey Relawan TT Kalsel kali ini dilakukan bersama 143 mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat. Tidak ketinggalan, Drs. Hairiyadi, M.Hum selaku mentor Pelestarian Budaya Banjar Archaic sekaligus dosen sejarah yang sudah menggeluti Banjar Archaic selama 30 tahun lebih.

Antusiasme dan semangat untuk bisa mengembalikan identitas masyarakat Banjar Archaic membuat panjangnya perjalanan menjadi tidak terasa. “Ada yang kelelahan hingga pingsan, bahkan ada dari rekan Prodi Sejarah yang notabene baru pertama kali ke sini dan mereka kewalahan, tapi mereka tetap semangat, saling membantu, dan yakin akan sampai,” jelas Muhammad Syahreza selaku project manager Pelestarian Budaya Banjar Archaic. Bahkan, dalam perjalanan, rombongan mereka sempat terpecah dan ada satu kelompok yang tidak ditemukan oleh tim penyapu perjalanan. “Sempat panik, tapi kami berusaha menenangkan dengan bercerita seputar kehidupan di kampus,” tambah pria yang akrab disapa Reza ini.

Bakti sosial (Baksos), penanaman pohon, serta pembuatan jalan setapak adalah rangkaian acara lainnya di tengah-tengah survey yang mereka lakukan. Mereka juga membuat shelter istirahat untuk warga di sekitar desa. “Pembuatan shelter ini dimaksudkan untuk membantu warga karena akses masuk desa jaraknya lumayan jauh untuk mencapai titik kendaraan,” ujar Reza menjelaskan alasan mereka membangun shelter.

“Akhirnya, setelah dua tahun, akhirnya kami (Relawan TT Kalsel) menemukan titik yang tepat buat jadi desa budaya, yakni Desa Tamburasak di sekitaran Pegunungan Meratus,” kata Reza. Selain itu, survey ini juga menemukan bahwa di Meratus terdapat dua aliran adat, yakni Adat Hinas Kanan dan Hinas Kiri. “Kendatipun ada perbedaan, secara religius mereka sebenarnya sama saja. Perilaku ritualnya saja yang berbeda,” ujar Reza menambahkan.

Secara konsisten selama dua tahun, mereka melakukan survey dan observasi ke Pegunungan Meratus. Banyak hasil yang mereka dapatkan dalam setiap perjalanan tersebut. Sebelum melakukan perjalanan mereka selalu melakukan riset dengan referensi jurnal-jurnal budaya, khususnya tentang masyarakat Banjar Archaic.

Walaupun demikian, kegiatan Relawan TT Kalsel tetap saja menemukan kendala, yakni pada  biaya transportasi dan akomodasi. Selama ini mereka menggunakan cara ‘patungan’ untuk memenuhi kebutuhan transportasi dan akomodasi tersebut. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan data-data yang telah mereka kumpulkan.

Memang, kendala akan selalu ada. Dukungan dan motivasi dari berbagai pihaklah yang akan membuat kendala ini tertutupi. Dalam hal ini, diharapkan budayawan-budayawan dan kalangan akademisi di Kalimantan Selatan khususnya, dan Indonesia umumnya agar turut serta memberikan mentoring kepada mereka. Tapi, hingga hari ini, semangat kerelawanan yang tetap menyala dalam diri mereka sejatinya yang paling ampuh mengatasi kendala tersebut. Karena seperti kata ungkapan yang sering kita dengar di sampul buku, di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Semangat, Pejuang!

1907

Indonesia adalah wajah cerah khatulistiwa…

Republik ini didirikan oleh kaum pemberani, di saat Indonesia dirundung oleh budaya pesimis, mereka berani menyatakan optimis ketika melihat masa depan Indonesia. Segala macam kegiatan yang berhubungan dengan bangsa dan negara mereka melakukan secara ikhlas dengan mengorbankan seluruh hidup mereka.

Apa mereka pernah menanyakan apa yang mereka dapatkan ketika berjuang untuk Indonesia? Apa mereka pernah bertanya, anak cucu mereka akan dapat apa ketika mereka berjuang untuk Indonesia? Tentu saja tidak! Mereka melakukan itu semua karena kecintaan pada Indonesia. Tradisi ini yang harus tetap kita pegang teguh sebagai warga negara Indonesia, berbuat untuk bangsa dan negara secara tulus dan ikhlas.

Permasalahan korupsi di negara kita bukanlah sesuatu yang baru, sejak zaman kolonial sudah kita kenal budaya korupsi, dari mulai zaman Presiden Soekarno sampai Presiden Joko Widodo budaya ini tetaplah menjadi ciri khas dari Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia menjadi kewajiban kita lah untuk mengurangi laju lahirnya generasi korupsi.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita tahun 2015 ini sekitar Rp 2.000 triliun, dan pendapatan negara dari pajak per orang masyarakat Indonesia sekitar Rp 1.200 triliun, siapa yang menjaga uang sebesar itu kalau bukan kita sendiri? Masyarakat Indonesia  sudah seharusnya menjadi palang penghambat laju lahirnya koruptor di Indonesia.

Upaya pemberantasan korupsi harus terus dilakukan di Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dilakukan agar upaya pemberantasan korupsi tetap fokus dan tidak menyimpang dari arahnya, sekaligus menjaga profesionalitas aparat penegak hukum agar pemberantasan korupsi tidak semena-mena.

Korupsi adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam konteks kemajuan suatu bangsa, tantangan yang perlu dihindari agar pemberantasan korupsi bisa berjalan dengan baik adalah pembenahan sistem hukum kita, yang paling utama adalah jangan sampai terjadi diskriminasi dalam penegakan hukum di Indonesia, dimana sering kita lihat kasus rakyat miskin yang mencuri buah cokelat untuk memenuhi kehidupan keluarganya bisa dihukum berat oleh pengadilan, sedangkan koruptor yang telah mencuri hak-hak rakyat miskin hanya dihukum dengan hukuman ringan. Ketimpangan-ketimpangan ini yang harus segera dihapuskan, hukum di Indonesia tidak boleh “Tumpul ke atas dan tajam ke bawah”, asas semua sama di mata hukum perlu kita junjung tinggi.

Selain dari masalah sistem hukum kita yang masih lemah, permasalahan moral bangsa menjadi suatu hal yang penting juga, setidaknya yang harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat adalah menanamkan nilai kejujuran, keadilan, mengedepankan kepentingan masyarakat dan tanggung jawab atas tugas dan kewajiban masing-masing serta adanya tanggung jawab atas keberhasilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia yang bergantung pada tangan dan kontribusi besar masing-masing rakyat Indonesia. Jika dilakukan sesuai dengan tanggung jawab maksimal, kemungkinan terjadinya tindakan penyelewengan uang untuk kepentingan pribadi bisa kita kurangi.

Korupsi bisa merusak moral bangsa jika tidak diselesaikan sampai ke akar-akarnya. Budaya rakyat Indonesia yang sering menganggap korupsi sebagai hal biasa bisa menjadi penghambat dalam pemberantasan  korupsi, harus ada sikap yang berani untuk melaporkan kegiatan korupsi sekecil apapun ke penegak hukum agar terciptanya suasana aman dan harmonis di tengah masyarakat.

Agar tercapainya Indonesia yang sejahtera, maka mau tidak mau korupsi harus diberantas. Ada beberapa peluang yang bisa dijadikan cara untuk memberantas korupsi, dimulai yang sifatnya preventif dengan cara mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal pemerintah di daerahnya agar bisa mendorong sistem keterbukaan informasi publik yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

Dalam hal ini, peran masyarakat sebagai kontrol kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah kebocoran yang disebabkan oleh korupsi. Pendidikan karakter sejak dini juga bisa dikategorikan sebagai upaya preventif dalam peluang pemberantasan korupsi, di antaranya pendekatan secara agama, pendidikan moral di sekolah, dan yang paling penting adalah pendidikan di lingkungan keluarga. Menurut saya pendidikan di lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam hal tindakan preventif pemberantasan korupsi, karena tanpa kita sadari, keluarga menjadi salah satu pemicu seseorang untuk melakukan tindakan korupsi yang disebabkan pola hidup boros dan konsumtif yang dibina dari keluarga. Oleh karena itu, pendidikan anti korupsi dan penanaman pola hidup sederhana dalam keluarga menjadi hal yang paling utama dalam upaya pemberantasan korupsi.

Tindakan represif juga diperlukan dalam upaya pemberantasan korupsi, diantaranya dengan memperkuat sistem hukum di Indonesia dan juga bersama-sama memperkuat lembaga penegak hukum yang ada di Indonesia, seperti  komisi pemberantasan korupsi (KPK), kejaksaan, dan Kepolisian Republik Indonesia. Jangan ada lagi upaya pelemahan KPK yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti contoh kasus Abraham Samad dan Bambang Widjajanto kemarin, terlihat jelas bahwa ada unsur kriminalisasi yang dilakukan oleh institusi POLRI terhadap KPK.

Dalam hal ini lembaga peradilan juga harus benar-benar objektif dalam menilai suatu kasus korupsi, praperadilan yang sudah memenangkan Budi Gunawan, Ilham Arief Sirajuddin, dan Hadi Poernomo menjadi bukti bahwa penegakan hukum di Indonesia masih sangat lemah dan ada upaya-upaya untuk melemahkan institusi pemberantasan korupsi.

Saya sadar bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam upaya pemberantasan korupsi, perlu adanya kerja sama yang baik antara masyarakat dengan pemerintah agar terciptanya Indonesia yang terbebas dari korupsi di masa depan. Terima kasih.

 

Salam Indonesia Anti Korupsi!

804

“Pemuda hadir tak hanya berbatas pada makna usia, ia hadir dengan luas untuk merasakan negerinya”

Di masa itu 87 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, mengisi dengan sebuah komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa. Bukan main, proses merasakan bangsa yang mereka ejawantahkan dalam tiga baris “Satu Kesatuan” itu sukses mengantarkan negeri pada nuansa persatuan yang bergelora, yang mana menjadi modal penting kala itu  dalam usaha mengusir kolonialisme demi tercapainya sebuah bangsa yang merdeka.

Kini kesuksesan merasakan negeri di 87 tahun lalu itu menjadi sebuah moment penting di tiap pergantian tahunnya, beragam kemasan diolah dan disuguhkan untuk merefleksikan nilai-nilai historis dan semangat pemuda dari berbagai “Jong” nusantara. Bahkan tak terhitung berapa banyak anak muda hari ini yang juga ikut menyalakan kembali sumpah pemuda dengan kobaran semangat walau bermodal piranti gadget ala anak muda di zaman kekinian, ratusan bahkan ribuan posting membanjiri lini massa sosial media yang tak jarang juga menjadi trending topic negeri bahkan dunia, lebih-lebih jika waktu itu sumpah pemuda ditulis disebuah lini sosial media, bisa dibayangkan berapa retweet yang akan tersiar keseluruh penjuru negeri.

Bukan asal sumpah

Sumpah menurut pengertiannya yaitu menahkikkan atau menguatkan sesuatu dengan menyertai nama Tuhan. Setidaknya jika ditelisik lebih lanjut ada tiga poin penting yang menjadi bagian yang turut membungkusi makna sumpah, yaitu sebuah pernyataan resmi, tekad untuk siap menanggung konsekuensi atas sesuatu, dan ikrar untuk dengan teguh menunaikan sesuatu.

Sumpah jika disederhanakan mempunyai jarak dan hubungan dekat dengan pemaknaan komitmen, lebih-lebih sumpah yang pada awalnya dibuat dan diperuntukkan untuk sesuatu yang fundamental dan menciptakan nilai keberlanjutan bagi setiap pengucap dan pendengarnya seperti halnya sumpah pemuda.

Sumpah dengan tiga baris “Satu Kesatuan” yang hingga kini kita ingat dan ulang, sejatinya memuat nilai dan kedudukan penting bagi kehidupan pemuda dan bangsa. Nilai-nilai itu memuat sebuah harapan sekaligus komitmen bagi setiap pendengar dan pengucapnya untuk turut melaksanakan dan menginternalisasi kedalam diri pribadi menjadi sebuah lelakon di kehidupan sehari-hari.

Sesekali waktu adakalanya kita perlu bertanya, jika hari ini kita masih menyuguhkan negeri dengan lelakon yang menumpahkan darah sesama anak bangsa, menyibukkan diri dengan berucap bahwa ideologi bangsa ini salah dan yang benar hanyalah ideologi kelompok tertentu, serta mengasingkan bahasa Indonesia di negerinya sendiri, maka jangan-jangan sebenarnya kita hari ini telah berjamaah melanggar sebuah sumpah dan menjadi pemuda yang turut menyumbang dosa bagi negerinya.

Setiap pemuda adalah pelajar bangsa

Setiap kita adalah pembelajar tanpa terkecuali, dan belajar adalah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan semenjak kita lahir dari rahim dan ditiupkan oleh-Nya ruh kehidupan.

Belajar dan menjadi pelajar tak boleh memproduksi minder, hari-harinya harus dipenuhi dengan produk optimisme. Jika sebagian memilih cukup puas dengan mem-bully dan nyinyir terhadap sebuah masalah bangsa, maka pelajar bangsa harus gagah mendirikan solusi memagar optimisme untuk menyelesaikan masalah bangsa.

Pelajar tidak boleh trauma dengan luka 350 tahun dijajah, karena sejatinya negeri ini juga masih muda masih punya semangat menyongsong masa depannya. Ledekan negeri lain terhadap bangsa kita yang tradisionalis, kuno dan miskin, harusnya tidak kita amini dengan sikap konsumerisme yang terus menyusu pada temuan teknologi bangsa lain, kita harus menjadi bangsa yang kaya yang bisa menyusu dengan temuan anak negerinya. Koes Plus dalam lirik lagunya menyebutkan bahwa negeri ini adalah “kolam susu” yang mana harusnya tak ketergantungan mencari susu di negeri lainnya.

Pelajar bangsa hari ini harus belajar ekstra tak sekedar hanya belajar menyoal sendiri, kesepian, berdua, bahagia serta segelintir obrolan lain kaum elit berlabel perasaan. Menjadi pemuda dan pelajar bangsa di hari ini harus ikut seaktif mungkin merasakan bangsanya, merasakan tentu tak hanya sekedar peka dan berkata “Oh iya Indonesia”, merasakan harus dimanifestasikan dalam cinta dan rindu untuk terus menjadi aktor yang berlaga menciptakan moment penting bagi sejarah bangsa. Kita harus yakin dan memperlihatkan kepada mereka para pejuang muda, bahwa sumpah pemuda yang 87 tahun silam mereka ucap telah melahirkan “Jong-jong” baru yang siap ikut bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu untuk kemajuan negeri Indonesia.

 

Tuhan membenci seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Idiom Sufi memberi petuah “tidak mengenal jika tidak merasakan” dan “tidak merasakan jika tidak mengalami”.-

(Candra Malik) 

742

Tepat 87 tahun yang lalu berkumpul pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia yang menginginkan mengirimkan pesan optimis ke seluruh penjuru negeri, agak aneh tindakan mereka, disaat Indonesia sedang dijajah Belanda, disaat perut mereka kelaparan, disaat ancaman senjata Belanda siap menembak kepala mereka, tapi mereka masih memikirkan Indonesia?

Bukan tentang pengetahuan. Apa mereka semua pintar? Saya rasa tidak. Lantas apa yang mendasari pemikiran mereka melakukan pertemuan? Cinta. Ya, cinta. Mereka adalah putera-puteri yang cinta tanah air secara tanpa syarat.

Saat ini rasa cinta tanah air dan rasa memiliki tanah air rasanya sudah mulai pudar di bangsa ini. Pantaskah kita katakan bahwa Indonesia ini hanya milik segelintir orang? Tidak. Indonesia ini adalah milik setiap manusia yang tinggal di bumi Indonesia, tak pandang hartanya, tak pandang sukunya, tak pandang agamanya, kita semua punya hak yang sama di mata Republik.

Saya sadar kita punya pekerjaan masing-masing, ada yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru, dosen, dan lain-lain. Tapi, ada satu komponen yang sering kita lupakan dalam berkehidupan, kita adalah warga negara Indonesia! Mengabdi kepada Ibu Pertiwi menjadi suatu hal yang wajib dalam berkehidupan.

Indonesia tegak berdiri kokoh sampai hari ini karena para pendiri Republik ini iuran, iuran tenaga, pikiran, waktu, darah, bahkan tak sedikit yang iuran nyawa. Kita?

Semoga momentum Sumpah Pemuda kali ini bisa menjadi refleksi kita bersama, sudahkah kita menjadi Indonesia?

Tak harus berpolitik, banyak kegiatan yang bisa kita lakukan bersama untuk Indonesia. Bisa pendidikan, lingkungan, sosial, teknologi dan ekonomi kreatif. Semua sektor itu masih memerlukan tenaga kita, tenaga kaum muda Indonesia!

Saya usul bagaimana kalau kita mengganti isi Sumpah Pemuda, menjadi:

1. Kami putera dan puteri Indonesia bersumpah, bangga berbangsa Indonesia!

2. Kami putera dan puteri Indonesia bersumpah, bangga bertanah air Indonesia!

3. Kami putera dan puteri Indonesia bersumpah, bangga berbahasa Indonesia!

Bangga, ya itu kata kuncinya.

Salam,

Saya yang masih dan selalu cinta Indonesia.
Kurnia, koordinator TurunTangan Medan

684

Belakangan ini semenjak saya sering berbagi foto-foto kegiatan mengajar di Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw) di instagram dan ter-synchronize ke facebook, banyak teman-teman yang berkomentar seperti ini,

“Hen, itu acara apa? Di mana? Kayaknya asik.”

“Lo ikut Indonesia Mengajar ya, Hen? Orang kayak lo emang mau ke pelosok-pelosok gitu?”

dan yang paling lucu ketika ada temen yang bilang,

“Itu anak-anak asuh kamu ya? Kamu jadi ibu asuh?”

tanpa pikir sama sekali saya langsung jawab,

“Bukan ibu, tapi tante asuh. Belom bisa ngasih asi soalnya.”

terus kita berdua ketawa, lebih tepatnya dia mentertawakan jawaban saya, saya mentertawakan diri sendiri.

Buat saya pribadi, kenal atau mungkin sebatas tahu, anak-anak rumah belajar di daerah Rawamangun ini seperti membuka banyak pintu yang selama ini saya tidak pernah mau tahu.

Saya yakin banyak diantara teman-teman yang waktu kecil dulu sama seperti saya, tidak diperbolehkan orang tua untuk bermain dengan teman sekitar tempat tinggal. Dulu saya tidak pernah ambil pusing, karena saya puas bisa bermain segala permainan di sekolah yang notabene sekolah favorit Jakarta. Jadi sampai di lantai tiga gedung sekolah masih ada tempat bermain mirip dengan suasana pantai. Sesampainya di rumah pun, saya bisa bermain sendiri, atau dengan adik saya, dengan mainan-mainan yang tidak ada habisnya. Begitu terus keseharian sampai usia Sekolah Dasar, mulai bisa bertanya sana-sini, dan saya masih ingat rupanya saat itu pun saya mendapati banyak teman sekolah yang tidak punya teman bermain di rumah karena dilarang juga oleh orang tua. So, pikir saya saat itu mungkin, I’m on the right track!

Sampai saat ini saya pun tidak pernah menyalahkan anjuran orang tua saya dulu atau alih-alih menganggap bahwa tetangga saya itu berada di jalur yang salah. Melalui Rumbelraw inilah pintu yang tadinya tertutup, pelan-pelan terbuka.

Sebenarnya sebelum Rumbelraw ini saya juga sempat aktif di Taman Baca Rumah Perubahan atau kegiatan sosial edukasi lain. Akan tetapi, truth to be told, kondisinya jauh berbeda dengan di Rawamangun.

Tugas pertama yang saya harus jalani begitu ambil bagian di Rumbelraw ini adalah menahan reaksi atau ekspresi spontan kalau ada hal-hal yang tidak biasa ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan ternyata banyak. Hari pertama ke sana, saya berkeliling ke rumah warga.

Di sini saya benar-benar melihat dari dekat bahkan masuk ke rumah yang kondisinya menurut saya tidak sehat huni, tidak ada jendela keluar, pengap, gelap dan kotor. Satu rumah masih dihuni oleh tiga sampai empat kepala keluarga. Rasanya tidak habis pikir, “Kok bisa?”. Ya faktanya seperti itu. Akan jadi panjang kalau ditelaah jawaban “Kok bisa?” ini. Kembali lagi, titik yang coba disentuh yaitu pendidikan anak. Gampangnya “Itu anak gimana mau belajar kalau gitu lingkungannya? Mau belajar, belajar apa?”

Jangan sekali-kali membayangkan anak-anak ini mirip seperti Daehan, Minguk, Manse di drama series Korea yang wangi, bersih, dan lucu-lucu. Salah satu warga di sana pernah ada yang cerita, “Mereka bisa datang ke kalian, bilang mau belajar, tapi belum mandi, masih bau apek. Tangannya mungkin kotor-kotor karena habis mainan di tanah atau pasir. Mungkin datang-datang merengek sambil menyedot ingus di depan kalian, garuk-garuk kepala terus ternyata kalian liat sepintas rambutnya memang kutuan. Saya bukan nakut-nakutin, tapi ya itu sangat mungkin terjadi dan kalian harus siap. Masa mau jijik?”

Saya cerita di sini juga bukan berarti menjelek-jelekan anak-anak Rawamangun, tapi itu fakta yang sebenarnya. Kita juga sering melihat tidak hanya di Rawamangun saja seperti di perempatan lampu merah. Pernah lihat boneka joget-joget nggak jelas? Ya, itu juga anak-anak. Anak jalanan, anak terminal, anaknya artis atau anak manapun konteks tetap anak. Jadi harus diperlakukan sama selayaknya anak-anak.

Di luar konteks Rumbelraw, saya juga ingat perkataan salah seorang dari Indonesia Mengajar, “Salah satu indikator seorang individu dikatakan dewasa adalah ketika individu tersebut bisa melakukan fungsi reflektif. Artinya dia mampu menemukan makna positif dari kegiatan apapun yang dia lakukan atau kejadian apapun yang menimpanya.”

Jadi apa reflektif yang saya rasakan setelah tiga bulan bermain di Rumbelraw?

Saya yang dari awalnya merasa was-was untuk bisa masuk ke sana, merasa perlu menantang diri sendiri untuk bisa fokus dan komitmen. Sangat terkesan melihat semangat anak-anak yang selalu penuh. Mereka Pukul 9.00 pagi bisa sudah siap untuk belajar. Pertanyaannya siapa yang mau bantu mereka belajar Pukul 9.00 pagi diakhir pekan ketika pilihannya dibandingkan dengan santai nonton TV di rumah?

Saya teringat dengan seorang teman di Indonesia Mengajar. Dia mengatakan seperti ini , “Lo rasain deh ngumpul bareng orang-orang yang hobby travelling sama orang-orang yang suka sosial volunteer itu frekuensinya beda. Beda banget”

It’s your call.

 

 

729

Saya baru bergabung dengan TurunTangan Jakarta. Aktivitas saya di TurunTangan ini dimulai pada 6 September 2015 lalu. Saya hadir di acara Obrolan Ciasem (OSEM) di rumah TurunTangan yang ada di Jalan Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Awalnya sempat bingung, jadi berangkat atau tidak. Takut nggak ada teman. Tapi, akhirnya saya membulatkan tekad buat datang di temu perdana saya dengan relawan TurunTangan hari itu.

Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya dan sempat nyasar juga karena nggak tahu daerahnya, akhirnya saya sampai juga di tempat tujuan, Rumah Ciasem.

Saya nggak langsung masuk dan diam cukup lama di depan pintu gerbang, karena dari luar terlihat sepi. Meski begitu saya sempat dengar suara gaduh dari dalam rumah dan tetap saja tidak berani masuk. Singkat cerita, saya disambangi oleh satpam, ditanyai apa kepentingan saya datang ke rumah Ciasem, lalu saya dipersilahkan masuk.

Saat masuk, baru ada beberapa relawan. Setelah masuk, saya berkenalan dengan beberapa relawan seperti Kak Angga, Kak Marsha, Kak Frits, Kak Ojan dan Kak Lina. Di dalem rumah itu, saya mengobrol banyak dengan mereka dan sesekali bercanda.

Yang saya rasakan pada saat itu, senang. Karena mereka welcome banget, padahal ini pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Di tengah obrolan ada Kak Andres yang gabung dan obrolan berlanjut sambil menunggu yang lain datang. Sembari itu mereka juga tetap mempersiapkan acara.

Sekitar pukul 1 siang, acara yang ditunggu-tunggu pun mulai. Acara dimulai dengan sambutan Kak Ojan sebagai pembawa acara. Dilanjutkan dengan perkenalan yang dikemas dengan ice breaking. Seru! Ada saja dari relawan yang membuat kami tertawa saat perkenalan.

Acara berlanjut dengan paparan materi.  Ada tiga materi yang disampaikan. Materi pertama, tentang problem solving yang disampaikan oleh Kak Esty. Materi kedua, tentang project management yang disampaikan oleh Kak Theo. Materi ketiga, tentang community management yang disampaikan oleh Kak Irvan. Semua materi merupakan materi yang mereka dapatkan dari acara Temu Nasional relawan TurunTangan se-Indonesia di Yogyakarta, 15-17 Agustus lalu. Materi itu mereka sampaikan dengan sukarela kepada para relawan yang hadir pada saat itu.

Setelah sesi penyampaian materi, lanjut ke sesi diskusi. Seru, tapi jujur saya kurang paham. Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan sharing project. Sesi ini membuat saya takjub. Ternyata banyak project yang telah mereka buat. Baik yang sudah berjalan maupun yang baru akan dijalankan.

Adapun project yang sudah berjalan yakni Kelas Negarawan Muda (KNM) dan Rumah Belajar Rawamangun (RumbelRaw), Muda Membangun. Penjelasan mengenai project-project ini bisa dibaca secara detail di website TurunTangan, http://www.turuntangan.org.

Sementara, project yang baru akan dijalankan, Good Bikers movement (GoBiMo) yang mengajak para pengemudi untuk taat berlalu lintas, Sketsa Warung Kopi (Warkop) yaitu membawa obrolan politik ke Warkop, dan Desa Organik yaitu suatu program untuk membudidayakan sayuran organik di Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Bogor.

Setelah acara sharing project selesai, diadakan diskusi lagi. Lagi-lagi diskusi ini juga aktif sekali. Dan itu membuat saya jadi lebih mengerti dan mengenal TurunTangan Jakarta lagi.

Hampir setengah harian kemarin saya berkegiatan dengan TurunTangan Jakarta, membuat mata saya terbuka tentang dunia dan lingkungan baru. Senang rasanya bisa kenal mereka, orang-orang baru, keluarga baru, yang akan menjadi dan membuat saya lebih terbuka dengan hal-hal baru tentang dunia yang sebelumnya tidak pernah pernah saya dapatkan. Saya berharap bisa terus ikut berpartisipasi dengan kegiatan maupun project TurunTangan Jakarta.

Pejuang bukan?
HADAPI!

Salam hangat,
Anggota keluarga baru kalian, Anin.

 

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]