Home Catatan Relawan
Catatan catatan pengalaman relawan Turun Tangan di lapangan.

676

Didasari dari keinginan untuk “rehat” dari arus yang monoton dan keinginan untuk berbagi, saya bergabung menjadi relawan di Rumah Belajar Rawamangun (RumbelRaw).

Bagi saya, hidup adalah untuk berbagi. Tetapi berbagi bukan melulu soal materi. Dan saya memilih untuk berbagi waktu.

Adalah pengalaman baru bagi saya bergabung dengan sebuah komunitas yang memiliki fokus di bidang pendidikan. Awalnya ragu juga malu. Namun seiring waktu, semua berjalan luar biasa menyenangkan.

RumbelRaw adalah rumah belajar yang didirikan oleh Kak Fenty Asnath, activator project Muda Membangun – TurunTangan. Sejak diresmikan pada 6 Juni 2015, Rumbelraw sudah memiliki sekitar 25 relawan.

Di sini setiap minggunya diadakan kelas bagi anak-anak usia PAUD sampai dengan SD. Saya sendiri lebih sering meng-handle anak-anak usia PAUD yang notabene lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Cukup kewalahan, namun melihat antusiasme mereka yang begitu tinggi, saya merasa lebih tertantang dan bersemangat.

Anak-anak RumbelRaw banyak mengajari saya. Alfa, Putri, Pato, Rizky, Moza, dan anak-anak lainnya secara tidak langsung mengingatkan saya untuk terus semangat, mengasah rasa ingin tahu, dan tetap gembira.

Mereka anak-anak hebat yang tidak pernah lelah mengejar ilmu dan tidak pernah kehilangan rasa ingin tahu. Pelajaran apapun, baik matematika, bahasa Inggris, maupun keterampilan dilahap habis dengan semangat tinggi. Itulah yang membakar semangat kami para relawan untuk saling berbagi dengan mereka.

Beberapa waktu belakangan ini, saya tidak bisa hadir. Tetapi, teman-teman relawan rutin memberikan informasi tentang perkembangan adik-adik RumbelRaw. Terakhir saya dapat kabar, beberapa adik-adik mengikuti lomba tari tradisional di salah satu mall di bilangan Jakarta Pusat dan meraih juara dua. Selain itu mereka juga pergi ke museum sembari belajar. Saya sangat senang mendengarnya.

Apresiasi tertinggi saya berikan untuk Kak Fenty yang telah menjembatani saya untuk bertemu dengan mereka. Juga teman-teman relawan pengajar RumbelRaw lainnya yang tak kalah semangatnya dengan adik-adik.

Semangat terus ya kakak-kakak! Kita saling berbagi dan memajukan RumbelRaw. Saya pribadi  sangat bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari RumbelRaw. Saya selalu tidak sabar untuk kembali.

“Untuk bisa berbagi tak perlu menunggu sampai anda berkecukupan, berbagilah mulai sekarang walaupun hanya sebuah senyuman. Karena esensi dari berbagi adalah ketika orang lain merasa bahagia dengan apa yang kita berikan.” (Harly Umboh)

760

“Suara Tulus seorang relawan dapat mengalahkan baliho sebesar apapun.” (Anies Baswedan)

Kalimat yang dicetuskan oleh sang inspirasinya para relawan di seluruh Indonesia ini menggambarkan bahwa seorang relawan pantas dijuluki sebagai “Pahlawan Penebar Kebahagiaan”. Mereka bekerja dan memberi kebahagiaan kepada orang lain tanpa iming-iming kegelimpangan harta duniawi.

Dulu, saya hanya bergerak di internal kampus, tidak suka bergaul dan berbaur dengan orang banyak di luar sana. Hingga akhirnya saya berubah semenjak saya membaca banyak tentang Anies Baswedan yang mengajarkan saya arti pemuda. Saya jadi tergugah untuk mengabdikan diri kepada masyarakat Indonesia khususnya daerah kelahiran saya, Lhokseumawe.

Bicara pemuda, saya jadi ingat pernah mengikuti salah satu event kepemudaan tingkat nasional yang berpusat di kota Banda Aceh. Ajang itu bernama “Dream Maker Youth Camp 2015”. Sungguh event ini sangat bagus untuk kebangkitan pemuda Indonesia.

Kegiatan itu diikuti oleh 50 peserta. Kami dibagi ke dalam tiga kelas privasi motivasi. Yaitu kelas social project, entrepreneur dan achievement. Saya masuk ke dalam kelas social project.

Betapa terkejutnya saya ketika masuk ke dalam kelas ini. Semua peserta sudah lebih dulu bergerak di bidang sosial dibandingkan saya sendiri. Jujur pada saat itu saya malu dan ingin menangis ketika mendengarkan teman-teman bercerita mengenai aktifitas sosial yang telah mereka lakukan. Mulai saat itu saya berjanji dalam diri saya untuk mau menjadi seorang relawan di manapun.

Saya menyadari negara ini dengan kondisinya sedang membutuhkan saya.

Singkat cerita, pada suatu hari saya mendapatkan tentang informasi kegiatan “Travelling dan Berbagi” yang diadakan oleh TurunTangan Aceh. Pada saat itu saya baru pertama kali mendengar komunitas TurunTangan Aceh. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghubungi TurunTangan Aceh untuk ikut serta.

Akhirnya saya berangkat ke kota Banda Aceh dengan dua teman kampus. Dari sinilah jiwa sosial saya mulai terbuka untuk berbuat lebih kepada masyarakat. Saya merasakan hidup saya berarti dan sejak saat itu saya semakin banyak melakukan aktifitas di luar kegiatan kampus.

Sekarang saya juga bergabung di salah satu komunitas pemuda di Lhokseumawe dan working team relawan pengungsi Rohingya bersama 14 lembaga sosial lainnya.

Menjadi relawan di camp pengungsian Rohingya adalah salah satu kegiatan yang sangat luar biasa dan tidak bisa dianggap remeh pekerjaannya. Di camp saya masuk ke dalam tim relawan pendidikan yang menaungi anak-anak umur 7 sampai dengan 14 tahun. Saya dengan tim relawan bekerja sama memberikan kesempatan untuk para pengungsi agar bisa mendapatkan pendidikan non-formal di camp yang berada di kawasan Desa Blang Adoe Kabupaten Aceh Utara.

Saya semakin semangat menjalani kegiatan kerelawanan. Setelah kegiatan itu saya dan teman-teman melakukan diskusi pembentukan TurunTangan Lhokseumawe. Dalam proses kegiatannya, TurunTangan Aceh yang akan menaunginya.

Alhamdulillah, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2015 kemarin, TurunTangan Lhokseumawe resmi berdiri dan beberapa kegiatan sudah berjalan. Saya sendiri yang menjadi Koordinator TurunTangan Lhokseumawe. Mohon dukungannya ya teman-teman.

1231

“Ngapain sih?”

“Udah, gak usah ikut-ikutan! Apa juga untungnya? Gak ada pengaruhnya.”

“Buat apa sih? Gak penting. Buang-buang waktu tau!”

Banyak lagi pertanyaan serupa yang mampir saat saya memutuskan untuk bergabung di Gerakan Turun Tangan. Hanya cemoohan, sinis, dan pesimis yang mereka tujukan kepada saya. Dulu saya “mati kutu” apabila ditanya, Kenapa mau turun tangan? Untuk apa? Dapat apa? Saya juga tidak tahu alasan pastinya saat itu. Tapi sekarang, saya sudah tau alasannya. Semua karena Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepak bola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan tarang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Puisi ini dibacakan dan ditulis oleh Taufik Ismail tahun 1998, pada awal reformasi 2014 telah memasuki setengah dari umurnya. Kini, hampir 16 tahun sudah. Bukan waktu yang sebentar. Berubahkah wajah Indonesia? Hanya hati kita yang mampu menjawabnya.

Lalu apa? Hanya diam dan mendiamkan yang selama ini kita pertontonkan. Apa yang kita lakukan saat ada kesempatan untuk terlibat?

“Enggak ah, pilih diam.”

Banyak yang berkata kepada saya, “Kamu ini aneh. Buat apa repot-repot urus urusan yang gak penting? Itu bukan urusan kita. Itu tanggung jawab pemerintah dan lembaga negara. Nggak usah ikut-ikutan!”

Gak penting? Bukan urusan kita?

Justru ini urusan kita. Kita adalah bangsa Indonesia. masalah yang dihadapi Indonesia adalah masalah kita. Indonesia adalah kita semua. Jangan heran kalau saat ini Indonesia terlihat bobrok dan seakan akan jalan di tempat. Itu semua karena setiap saat pemudanya selalu berkata “Itu bukan urusan kita.” Menurut mereka anak muda yang peduli dengan bangsa itu Freak dan langka sehinga sudah saatnya untuk “dimuseumkan”. Ingat! Kebobrokan bangsa ini berawal dari pemudanya yang sudah berlabel Individualis Sejati.

Sudah hampir 69 tahun negeri kita merdeka. Namun, kita masih sering merasa terjajah. Sekarang, negeri ini bukan dijajah oleh bangsa lain, namun dijajah oleh pemuda bangsanya sendiri.

Urusan pemerintah? Lembaga negara?

Lah terus? Bukannya rakyat adalah lembaga pemegang kedaulatan tertinggi? Jangan pernah mengasumsikan orang-orang yang duduk di pemerintahan itu adalah manusia setengah dewa. Mereka semua adalah manusia biasa, sama seperti kita, rakyat Indonesia juga. Mereka adalah rakyat yang kebetulan terpilih menjadi wakil kita. Tapi, tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran kita. Awasi mereka! Masalah di negara besar dengan lebih dari 13.000 pulau, 1000 suku, 800 bahasa, dan berjuta-juta kekayaan alam seperti Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang.

Belajarlah untuk merasa memiliki republik ini, negeri ini, bangsa ini. Jika rasa memiliki tidak ada, maka seseorang akan kehilangan haknya untuk negeri ini. Ingat! Jika anda diam dan mendiamkan negeri ini, maka jangn sekali-kali meminta hak untuk negeri ini. Jangan pernah mengkritik keadaan negeri ini. Anda sama sekali tidak punya hak. Karena anda tidak pernah melakukan apa-apa untuk negeri ini.

Pilu. Dari tahun ke tahun rasanya negeri ini sama saja. Bahkan, miris. Negeri ini dirusak oleh pemudanya sendiri. Apatis. Skeptis. Pesimis. Negeri ini hampir kehilangan wakilnya di masa depan.

Puisi di atas menjawab semua pertanyaan, cacian, tertawaan yang ditujukan kepada saya. Kenapa saya mau repot-repot ikut campur untuk Indonesia. Kenapa saya memilih turun tangan. Kenapa saya memilih terlibat. Hanya kita, generasi muda yang mampu menentukan bagaimana wajah Indonesia ke depan.

Generasi kita adalah generasi masa depan. Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Biarkan orang tua terbang dengan segala pengalamannya. Tapi, pemuda akan datang dengan segala peranannya. Dulu, Soekarno, Hatta, Sjahrir yang memperjuangkan negeri ini. Sekarang kita yang harus ikut ambil peranan. Jadilah PEJUANG! HADAPI!

Terserah, orang lain mau ber- statement apa. Dikatakan aneh dan lucu sudah menjadi hal biasa untuk saya. Tapi, saya bangga ada di koridor ini, di jalur ini, bersama ribuan pejuang yang punya tujuan sama, untuk Indonesia yang selalu optimis.

Dan ketika suatu saat Tuhan bertanya : “Apa yang kamu lalukan saat ada kesempatan untuk berbuat?”

SAYA BISA MENJAWABNYA.

938

Beberapa waktu lalu saya seperti tersadar saat menelisik kembali perjalanan hidup setahun ke belakang dan mendengar kata relawan. Benar nggak sih saya sekarang bisa disebut sebagai relawan? Pertanyaan tersebut seperti menghentak saya, “Relawan, Oo Yaa?”, kata ini sepertinya masih belum tepat disematkan kepada saya. Sebab terasa masih gamang dipikiran saya.

Saya berprofesi sebagai pelayan masyarakat di Kementerian Dalam Negeri. Kesibukan ini membuat saya belum bisa sepenuh hati bertugas sebagai relawan yang mengalokasikan waktu dan pikiran secara penuh dalam mendukung aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan. Banyak pertimbangan untuk menjadi full timer relawan.

Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu banyak hal-hal positif yang saya rasakan dari kegiatan kerelawanan yang saya jalani. Seperti saat TurunTangan Jakarta dan Bekasi membuat biopori di daerah Condet, Cililitan, Jakarta Timur, saya ikut―terlibat―menjadi lebih peduli lingkungan. Relawan TurunTangan mengedepankan sisi sosial, edukasi dan lingkungan. Saya belajar dari sini dan semakin menyukai peran relawan.

Berikut efek positif lain yang saya rasakan ketika menjadi relawan dan saya singkat SMEAC.

S = Situation

Rutinitas monoton yang sering kali dilakukan dalam keseharian saya, terkadang dapat meningkatkan stres. Sehingga dengan berada lingkungan baru (saat menjadi relawan) justru akan menjadi penyeimbang kegiatan sehingga mampu membuat saya lebih rileks.

M = Mission

Misi kerelawanan ini dapat dibilang multi items. Why? Sebab, saat kita tergabung dalam komunitas Turuntangan, rekan-rekan kita berasal latar belakang yang berbeda. Dari usia, pendidikan, lingkungan pergaulan dan kerja. Pola pikir dan pemahaman atas suatu masalah sudah tentu akan berbeda dalam berbagai hal. Akan tetapi justru dengan banyaknya perbedaan ini, saya belajar banyak hal baru dari rekan-rekan TurunTangan.

Hal-hal baru tadi, pada akhirnya menambah wawasan, pengalaman dan membuka perspektif/sudut pandang saya dari sisi yang berbeda. Sudah tentu ini memperkaya diri saya akan pengetahuan-pengetahuan baru yang dapat menjadi suatu kesatuan penting dan menyeluruh bagi saya dalam bersikap. Daripada berfokus pada perbedaan lebih baik mencari kesamaan yang ada bukan?

E = Execution

Layaknya ilmu manajemen dalam organisasi, maka setiap kegiatan kerelawanan yang akan dilakukan pastilah membutuhkan pertimbangan yang cermat. Mulai dari penyusunan program, komposisi tim untuk eksekusi kegiatan, target waktu dan besaran biaya yang diperlukan. Ini kian mengasah pikiran dan intuitif saya untuk lebih bisa mempertimbangkan/meminimalisir kemungkinan faktor-faktor resiko yang dapat menghambat terlaksananya kegiatan.

A = Administratif

Dalam melaksanakan aktifitas bersama teman-teman relawan Turuntangan, sebagai contoh dalam melakukan diskusi/forum group discussion tentang berbagai hal, TurunTangan mampu menghadirkan tokoh-tokoh ahli dibidangnya masing-masing. Sehingga pemetaan masalah dapat diperlihatkan dengan baik untuk bisa dicarikan solusinya kedepan dengan atau secara bersinergi. Hal ini tentu saja makin menambah rasa keingintahuan saya untuk selalu belajar dan menambah ilmu pengetahuan serta pengalaman untuk mencoba bidang lain.

C = Communication   

Untuk mampu menjalankan peran sebagai relawan dengan baik, proses komunikasi perlu dijaga dan ditingkatkan baik antar relawan Turuntangan maupun pihak eksternal. Sehingga proses belajar dan bersosialisasi dengan tetap saling menghargai menjadi hal yang mutlak dan penting untuk diterapkan (untuk meminimalisir sikap ke-aku-an dari masing-masing individu relawan).

Nah, salah satu aktifitas guna mendukung lancarnya komunikasi antar relawan Turuntangan ini,  beberapa kali relawan turuntangan melakukan Nobar (nonton bareng) yang kemudian setelah usai dilakukan diskusi/pembahasan dari film yang telah ditayangkan.

Dari sini saya semakin sadar, meskipun menjadi relawan paruh waktu manfaatnya benar-benar saya rasakan. Saya rekomendasikan kepada teman-teman semua untuk, “Yuk ramai – ramai kita turuntangan melunasi janji kemerdekaan, sebab jika bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan nasib bangsa indonesia ini kedepannya.”

Ingat, “Evidence is all means by which an alleged matter of fact is establish or disproved,” dengan kata lain untuk memperbaiki/membenahi secara bertahap setiap kondisi buruk yang terjadi di Indonesia saat ini diberbagai segi, maka diperlukan peran serta teman-teman yang secara sadar memahami betul makna dan peranannya untuk turun tangan memperbaiki negeri dan bukan sekedar urun angan atau hanya sebagai pengamat luar lapangan.

“Jangan lupa, ayo TurunTangan!”

867

Pada libur semester tiga yang sangat suntuk, pekerjaan yang bisa saya lakukan hanyalah menatap layar televisi dan handphone. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan. Akhirnya, saya membuka semua sosial media untuk mencari info tentang seminar, lowongan kerja, dan lain-lain. Tapi tak satupun dari semua itu yang menarik hati.

Tiba-tiba, saya melihat Display Picture (DP) BBM seorang teman yang tertulis tentang open recruitment TurunTangan Aceh. Saya langsung beranjak dari tempat tidur, pergi menuju kios kecil untuk isi pulsa. Dalam hati kecil saya berkata, “Hmm, setelah berjam-jam saya mencari akhirnya dapat juga organisasi yang menyentuh hati.”

Handphone pun telah terisi pulsa. Saya  langsung mengirimkan pesan ke nomor yang tertera di brosur. Saya mengirim pesan sebanyak tiga kali karena takut pihak TurunTangan Aceh tidak membaca pesan saya. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesan saya dibalas juga.

Tiba hari di mana saya harus mengikuti tes wawancara untuk menjadi relawan TurunTangan Aceh. Dalam perjalanan menuju tempat tes wawancara, saya merasa jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada perasan khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan saat wawancara.

Sesampainya di tempat tes, saya langsung menuju salah satu meja dan dua kursi kosong untuk mengisi formulir pendaftaran. Setelah itu saya pun menunggu antrian pendek. Jantung terus berdetak kencang. Rasanya bumi ini akan runtuh. Saya mencoba menenangkan diri dengan menghentakan kaki ke lantai berulang kali.

Saat diwawancarai oleh salah satu kakak relawan TurunTangan Aceh, Muhammad Zacky, terlintas banyak alasan di benak ini tentang alasan saya mau menjadi relawan TurunTangan Aceh. Saya menyadari, ternyata bukan hanya untuk mengisi kekosongan waktu tetapi juga keinginan membantu orang-orang yang membutuhkan. Saya rasa masih banyak orang yang memerlukan bantuan, meskipun itu kecil. Selain itu, saya juga ingin mengubah sistem pendidikan di Aceh untuk menjadi lebih baik lagi dengan mengajak anak-anak Aceh untuk terus membaca. Seperti Jibril yang mengajarkan Nabi Muhammad pada ayat Al-Quran yang pertama kali turun. Adalah iqra yang artinya bacalah. Ayat ini tidak diragukan lagi  untuk dipraktekkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di penghujung wawancara, Kak Zacky mengatakan untuk menunggu kabar selanjutnya dari TurunTangan Aceh. Beberapa minggu kemudian saya mendapatkan pesan yang menyatakan bahwa saya lulus. Sayapun tersenyum lebar.

Hari yang saya tunggu akhirnya tiba. Pada 8 Maret 2015 saya mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Masjid Raya Baiturrahman. Ini pertama kalinya saya mengajar. Saya sangat bersemangat dan berangkat lebih cepat. Sesampainya di sana saya mendapatkan intruksi dari kakak relawan TurunTangan Aceh. Saya mendapatkan giliran untuk mengajar bahasa inggris di kelas 5.

Sangat menyenangkan bisa mengajar mereka meskipun awalnya mereka tidak mau belajar bahasa inggris. Saya dan teman-teman memutar otak mencari cara agar mereka mau belajar. Dan kami menemukan cara jitu dengan memberikan pertanyaan, “Siapa yang ingin pergi keluar negeri dan keliling dunia?” Ternyata, semua anak-anak sangat antusias ketika menjawab pertanyaan kami. Ada yang menjawab ke Amerika, Brazil, Malysia dan masih banyak lagi. Kami merasa sangat puas mengajar hari itu, karena anak-anak tersebut dapat memahami materi yang kami ajarkan. Walaupun sedikit tapi berguna untuk mereka.

Kegiatan mengajar berikutnya adalah mengajar di Kampung Jawa. Namun, di hari pertama kami tidak mengajar melainkan nonton bareng film “Laskar Pelangi” untuk membangkitkan kembali motivasi mereka dalam belajar.

Hari terus berlalu. Begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan saat mengajar di Kampung Jawa. Salah satunya ketika melihat anak-anak Kampung Jawa belajar dengan semangat walaupun mereka tidak bisa, mereka mencoba untuk bisa.

Saya merasa sangat bangga bisa mengajar mereka. Mereka anak-anak cerdas, memiliki banyak potensi dan disiplin yang tinggi. Mereka selalu datang lebih awal.  Secara tidak langsung mereka telah mengajari saya untuk tepat waktu. Semangat belajar dan hidup mereka juga menyadarkan saya untuk selalu bersemangat dalam menghadapi semua cobaan hidup ini. Walaupun berat tetapi harus dihadapi dengan semangat.

956

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 1 Mei 2015, saya bergabung dengan TurunTangan. Bukan karena Mas Anies Baswedan juga iming-iming apapun, saya ikut TurunTangan karena menurut saya gerakan TurunTangan ini keren. Di zaman seperti sekarang ini, masih ada yang peduli terhadap pendidikan, mau berbagi dan terjun langsung ke daerah terpencil untuk mengajar dan menghibur anak-anak. Kerennya lagi mereka melakukannya tanpa dibayar sedikitpun.

Di hari itu TurunTangan Aceh membuat program Travelling dan Berbagi di Sekolah Dasar (SD) Cot Jeumpa, Lhoong Aceh Besar. Saya bergabung dengan mereka menjadi relawan. Perasaan saya campur aduk antara senang dan gelisah. Senang, karena saya bisa dapat teman dan relasi baru. Gelisah, karena saya takut tidak bisa berbaur dengan mereka.

Perjalanan menuju SD tersebut, kami tempuh sekitar dua jam. Kami tiba pada pukul 7.00 WIB. Sekitar pukul 8.00 WIB para relawan berpisah, lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan. Masing-masing menuju ke tempat peristirahatan yang telah disediakan oleh kepala sekolah di SD Lhoong. Setelah beristirahat, para relawan berkumpul di halaman sekolah dan mendapatkan breafing mengenai program-program yang akan dilakukan untuk besok. Setelah itu para relawan memilih kelas yang akan mereka ajar. Ada empat kelas yang bisa dipilih, yaitu kelas peduli lingkungan, kesehatan, cita-cita dan kreatifitas. Dan saya masuk ke kelas kesehatan. Tugas saya adalah mengajarkan kepada adik-adik bagaimana cara menggosok gigi dengan baik.

Hari semakin larut malam. Para relawan kembali ke tempat peristirahatannya masing-masing untuk istirahat agar stamina tetap fit saat mengadakan kegiatan besok.

Keesokan pagi, sekitar pukul 9.00 WIB kami melaksanakan upacara Hardiknas. Setelah melaksanakan upacara para relawan memboyong adik-adik semua masuk ke kelas dan masing-masing relawan mengambil kelas yang sudah dibagi. Semua relawan sibuk dengan tugasnya dan saya hanya bisa mondar-mandir melihat mereka, karena saya kelas kesehatan. Kami memulai kegiatan setelah shalat zuhur, sementara saat itu masih pukul 11.00 WIB.

Sedikit membosankan karena waktu dilalui tanpa kegiatan. Tiba-tiba saya tertarik dengan kelas kreatifitas. Saya pun mengungkapkan ketertarikan saya kepada relawan di kelas kreatifitas. Mereka dengan senang hati memperbolehkan saya bergabung.

Di kelas kreatifitas, saya membantu mengajarkan adik-adik membuat burung, pesawat dan lain-lain dari kertas origami. Ini pertama kalinya saya berkontak langsung dengan anak-anak. Saya jadi berpikir memang sudah seharusnya saya dekat dengan anak-anak. Mengingat saya sedang kuliah di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Adik-adik SD Cot Jeumpa terlihat sangat akrab dengan para relawan. Raut wajahnya memancarkan kegembiraan ketika bersama kami. Saya jadi terharu dan merasakan hidup saya semakin berarti.

Hari semakin sore dan semua tugas kami hampir selesai. Kami membagikan hadiah kepada adik-adik yang memenangkan lomba menggambar. Gambar mereka bagus, imajinasi mereka sangat kreatif. Saya sungguh kagum.

Malam mulai tiba kami para relawan diberikan tontonan menarik film tentang Indonesia oleh Koordinator TurunTangan Aceh, Rahmad Hidayat Munandar. Sosoknya yang humble dan mau mengobrol dengan siapapun membuat saya semakin bersemangat gabung di Turun Tangan Aceh. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari beliau. Jiwa Nasional yang sangat tinggi, cinta akan Indonesia membukakan mata hati saya dan menambahkan kecintaan saya kepada negeri ini.

Tiba saatnya kami meninggalkan SD. Perjalanan dilanjutkan menuju Teluk Jantang. Seperti halnya judul program Travelling dan Berbagi, kurang afdol kalau tidak ada travelling-nya. Di Teluk Jantang kami menikmati suasana pantai yang tenang dan indah. Keseruan yang kami lalui di Teluk Jantang makin mempererat hubungan antar para relawan.

Pengalaman mengajar di Cot Jeumpa telah mengubah sedikit demi sedikit karakter saya. Saya mulai bisa melihat sekeliling. Mudah-mudahan kedepan saya bisa terus terpanggil untuk turun tangan menyelesaikan masalah di negeri ini tanpa menunggu orang lain apalagi urun angan.

606

Selama bulan Ramadhan 2015, TurunTangan Medan menggelar berbagai kegiatan. Setelah melaksanakan pesantren kilat di Kampung Aur, Sabtu (4/07/2015), TurunTangan Medan mengadakan “Kelas Ramadhan” di Yayasan Dian Bersinar Jalan Gandhi No. 112, Medan, Sumatera Utara.

Anak-anak mulai berkumpul pukul 12.00 WIB, kelas dibuka dengan shalat zuhur berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan materi “Makharijul Huruf”―tempat keluarnya huruf-huruf pada saat dilafalkan. Mereka diajarkan bagaimana melafalkan huruf hijaiyah dengan baik dan benar.

Kelas kedua adalah kelas edukasi  dan motivasi. Di kelas ini anak-anak menonton kartun muslim yang mengajarkan bagaimana tata cara berwudhu yang baik serta perintah wajib shalat lima waktu dan sejarah tentang shalat tarawih. Setelah itu anak-anak menonton kisah nabi yang berjudul “Muhammad SAW dan Pengemis Buta”. Di sini mereka diajarkan bersikap lemah lembut dan pemaaf seperti Rasulullah yang tetap bersikap lembah lembut terhadap pengemis buta yang membencinya.

Setelah shalat ashar berjamaah dilanjutkan dengan kelas kreatif. Kelas ini tidak lagi hanya diikuti oleh anak-anak muslim seperti kelas sebelumnya tetapi seluruh anak-anak Dian Bersinar dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Kelas dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kecil yang mewarnai gambar-gambar dan kelompok besar yang menghias telur mainan menjadi bentuk-bentuk lucu.

Pukul 17.30 WIB, relawan TurunTangan Medan memberikan hadiah kepada anak-anak yang aktif di kelas dan anak-anak yang memiliki kreatifitas yang Indah. Penilaian ini dilakukan sepanjang kegiatan.

Mendekati waktu berbuka puasa, anak-anak mendengarkan tausiyah tentang  menjaga kerukunan antar umat beragama.  Acara ini kemudian ditutup dengan berbuka bersama seluruh anak-anak Dian Bersinar dan relawan TurunTangan Medan.

Semoga acara ini menjadi ladang berkah untuk TurunTangan Medan. Dan dengan selesainya acara ini dapat mempererat rasa persaudaran para relawan. Terima kasih kepada para pejuang atas partisipasi dan kontribusi hingga tersukseskannya acara ini.

726

Minggu, 5 Juli 2015, saya kembali datang ke Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw) Jakarta Timur. Ini adalah keempat kalinya saya datang kesini untuk mengajar anak-anak keterampilan seperti menggambar, bermain musik, dan menari.

Rumbelraw merupakan salah satu project Muda Membangun yang diinisasi oleh Activator, Fenty Asnath. Rumbel ini diresmikan pada 6 Juni 2015 lalu dan sekarang sudah memiliki sekitar 25 relawan.

Selama ramadhan ini jadwal belajar di Rumbelraw berubah, yang awalnya Rabu dan Jumat pukul 18.30 sampai  20.30 serta Minggu pukul 9.00 sampai 11.00, sekarang menjadi hari Minggu saja mulai pukul 15.00 sampai 17.00. Saya pun tidak hanya mengajar keterampilan saja tapi juga bahasa inggris dan matematika.

Butuh perjuangan untuk menuju Rumbelraw. Saya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari tempat saya tinggal, Cikarang, Bekasi.  Selama mengikuti kegiatan ini, ada yang mendukung dan tidak. Bahkan saya kerap menerima cibiran dari beberapa teman. “Kenapa kamu mau panas-panasan. Tempatnya jauh lagi. Mending jam segini tidur, diam di rumah,” ungkap salah satu teman saya.

Semua hambatan itu tidak pernah menyurutkan niat saya untuk melangkah. Karena saya tidak sendirian. Banyak yang memberikan support, terutama kakak-kakak relawan Rumbelraw. Selain itu mereka juga memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas, sehingga saya bisa belajar banyak dari mereka.

Menjadi relawan dan mengajar adalah pengalaman pertama bagi saya. Saya berharap kakak-kakak relawan di Rumbelraw lebih bersemangat dan lebih kreatif lagi, sehingga bisa memantik saya untuk terus aktif di Rumbelraw.

Dan terima kasih atas senyum dan ketulusan dari kakak-kakak dan adik-adik di Rumbelraw yang telah diberikan kepada saya. Karena senyum kalian adalah salah satu motivasi bagi saya untuk terus bergerak dan belajar.

 

844

Salam TurunTangan untuk semua dimanapun kalian berada. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai kegiatan kami selama ini. Banyak kegiatan yang kami lakukan, salah satunya safety riding dan mengajak masyarakat untuk tidak melakukan golput atau menggunakan hak suaranya sebaik mungkin.

Kami mengadakan kegiatan ini pada masa akan pemilu, mengingat banyak sekali orang yang tidak menggunakan haknya dengan baik, khusunya kalangan muda. Kalau seperti ini terus-menerus, acuh tak acuh, mau dibawa kemana Indonesia?

Waktu itu saya sempat membagikan selebaran yang isinya himbauan “Jangan golput”. Saya membagikan selebaran itu di sepanjang jalan Kota Surabaya. Saat saya memberikan selebaran itu  kepada seorang bapak separuh baya, beliau tertawa kecil dan mengatakan, “ Buat apa nak? Toh, ya nggak ada perubahan meski sudah milih, semuanya terlihat sama saja.”

Sontak, saya kaget. Saya semakin beranggapan bahwa banyak juga orang yang merasa ketika sudah memilih, tidak berdampak pada apa-apa, semua akan terlihat sama saja atau malah semakin parah lagi pemerintahan Indonesia.

Tapi saya tetap berusaha meyakinkan ketika membagikan selebaran itu. Bahwa apapun yang kita lakukan tidak ada kesia-siaan, semua butuh proses dan proses itu tetap harus diawasi oleh semua rakyat Indonesia, agar pemerintahan Indonesia mampu berjalan dengan baik dan semakin baik lagi.

Ada juga kejadian lucu ketika saya membagikan selebaran. Seseorang berkata, “Aduh mbak, nggak dapet uang, males-lah coblos-coblos.” Kebetulan saya pada saat itu sedang memegang karton himbauan, “ Cukupkah Rp. 50,000,- untuk  5 Tahun”.  Menjadi pengingat bagi bangsa ini bahwa memang segalanya itu butuh uang, tapi bukan segalanya juga harus dinilaikan dengan uang.

Mungkin bangsa ini sudah lelah. Lelah karena kemakmuran negara ini masih belum merata. Masih banyak warga kekurangan apalagi bagi mereka yang tinggal di pelosok.

Namun, saya selalu yakin, bahwa bangsa ini bisa menjadi lebih baik dengan melakukan hal kecil seperti turut tidak golput. Setidaknya kita sudah membantu kemajuan pemerintahan ini, dengan memilih orang-orang yang tepat untuk duduk di pemerintahan.

Teman-teman TurunTangan Surabaya sangat antusias sekali dalam kegiatan ini. Mereka sangat semangat mengingatkan warga-warga agar tetap memberikan suaranya dan tidak melakukan golput. Juga memberikan ajakan untuk tetap aman dalam berkendara, misal mengingatkan tetap menyalakan lampu dalam kondisi apapun, menggunakan helm sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sebagainya, agar tetap aman dalam berkendara.

Mungkin ini terlihat biasa saja. Tapi kami terus melakukan hal-hal tersebut sampai masyarakat bisa tergugah dan tidak acuh lagi. Kami memilih tidak diam, terus bergerak dan turun tangan agar bangsa ini jadi lebih baik lagi. Kami percaya bahwa hal kecil yang dilakukan bisa berdampak luar biasa bagi kesemuanya.

Sudah setahun lamanya Gerakan TurunTangan beridiri. Berbagai macam kisah dari berbagai penjuru di Indonesia telah menjadi catatan tersendiri bagi para relawan. Banyaknya kegiatan yang relawan TurunTangan lakukan adalah bukti bahwa masih ada banyak orang yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya, dan mau turun tangan langsung.

Di mata saya seluruh relawan TurunTangan sama hebatnya. Salah satunya para relawan TurunTangan Malang. Mereka melakukan banyak sekali kegiatan yang sifatnya positif dan memiliki dampak yang cukup baik bagi lingkungan sekitarnya. Kebetulan, hari ini mereka merayakan hari jadinya yang pertama– meski dimajukan sebelum tanggal mereka terbentuk. Wawancara santai saya dengan Raka– relawan TurunTangan Malang– berikut ini diharapkan mampu memacu semangat relawan lainnya agar tetap berkarya.

**

Bisa diceritakan bagaimana cerita terbentuknya TurunTangan Malang?

Pertama dibentuk awalnya lewat akun twitter TurunTangan Malang. Lalu kita mengadakan kopdar dan bergabung tanggal 14 Desember 2013. Waktu itu kita kumpulnya pertama kali di depan kampus Politeknik Negeri Malang. Tapi ternyata tidak memungkinkan tempatnya. Akhirnya kita mencoba mencari kafe, dan waktu itu kita dapat di Warung Susu. Di situ baru kita semua kenalan dan berdiskusi arah Gerakan TurunTangan Malang. Di sana kita tentukan struktur koordinator dan lain sebagainya. Ketua koordinator kita waktu itu Mas Sandy.

Waktu itu politik masih menjadi barang aneh bagi sebagian orang. Bagaimana cara menyiasati komunikasi kepada mereka agar mereka tertarik?

Waktu itu kita memang menyepakati arah gerakan kita lebih ke sosial. Tapi tidak dipungkiri relawan gerakan ini makin banyak karena diinisiasi oleh Mas Anies Baswedan. Mulai muncul relawan dari mulai jumlahnya hingga 40 relawan yang aktif dan ikut mendukung Mas Anies pada saat konvensi kemarin.

Apa kegiatan pertama dari TurunTangan Malang?

Waktu itu kita merayakan Hari Ibu—yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Kita mengadakan acara di Car Free Day. Ada dua kegiatan, yang pertama acara teaterikal. Kita bekerja sama dengan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa dari salah satu kampus. Lalu acara kedua mengadakan Gerak Bersih. Jadi setelah Car Free Day selesai kita melakukan aksi bersih-bersih lingkungan.

TurunTangan Malang terbilang aktif dalam melakukan kegiatan. Apa saja yang biasanya dipersiapkan sebelum mengadakan acara-acara tersebut?

Saat masa konvensi dulu, kita melakukan kegiatan dengan kemampuan apa adanya. Jadi kita kebut semuanya. Kalau ada ide, langsung kita eksekusi. Beda halnya dengan kegiatan Djadoelympic, cukup lama persiapannya. 3-2 bulan kita mempersiapkannya.

Tapi waktu pasca pilpres kita lebih selalu bersuha mempersiapkannya dengan lebih matang. Kebetulan kegiatan pasca pilpres ini kita lebih ke movement. Setiap selesai kegiatan kita selalu evaluasi supaya ke depannya menjadi lebih baik.

Saat ada bencana erupsi Gunung Kelud, bagaimana cerita TurunTangan Malang bisa ikut serta membantu daerah sekitar yang terkena dampaknya?

Saat bencana erupsi Gunung Kelud semua yang kami kerjakan serba mendadak. Jadi setelah ada berita Gunung Kelud meletus, beberapa relawan TurunTangan Malang langsung bergabung ke sebuah posko di daerah Pujon.

Waktu itu kita belum merencanakan akan turun langsung ke sana. Ide pertama kali muncul dari teman kami, Indah. Dia nge-Whatsapp saya “Rak, TurunTangan Malang nggak mau terjun ke sana?”. Memang kita sudah gerak tapi masih berkoordinasi dengan relawan sekitar sana (Gunung Kelud). Terlebih kondisi saat itu masih belum bisa dikendalikan.

Kita kumpul di daerah Batu jam 11. Lalu melakukan survey jam 1 pagi dengan menggunakan 8 motor, kurang lebih 16 orang, ke beberapa titik hingga ke kota Kediri. Sekitar jam 6 pagi kita menemukan desa yang belum mendapatkan bantuan. Kita berniat membuat dapur umum karena di desa tersebut ada lima posko yang masih kekurangan bantuan. Akhirnya kegiatan ini berkelanjutan karena koordinasi yang baik dengan Pak Ahmad, kepala desa setempat, hingga kondisi semakin membaik.

Sore harinya kita rapat dan berniat untuk membuat pengumpulan dana secara nasional. Kalau tidak salah terkumpul dana sebesar Rp 8-9 juta. Uang tersebut kita pakai untuk membeli peralatan bantuan, makanan dan obat-obatan yang terbilang sangat diperlukan. Bantuan tersebut datang dari Kalimatan, Sumatera, Sulawesi dan bahkan dari Ambon juga ada.

Apa yang membuat TurunTangan Malang cukup baik dalam bekerja sama secara tim?

Dulu kita memang sempat menanamkan:

Kalau kita mau membuat sebuah perubahan, tapi dari diri kita sendiri belum berubah, ya malu juga.

Akhirnya pelan-pelan kita bikin iklim itu, terlebih setelah pasca pilpres.

Kita sepakat untuk membentuk TurunTangan Malang sebagai komunitas yang independen di kota Malang. Dari situ kita berpikir apa yang bisa membedakan kita dari komunitas lain. Dan ternyata yang pertama membedakannya adalah iklim dalam organisasi itu sendiri.

Memang secara tidak langsung hal-hal seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas itu menjadi nilai plus dari relawan kita sendiri.

Saya juga merasakan dampaknya semenjak bergabung dengan TurunTangan Malang. Saya merasa malu ketika membuang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas.

Waktu itu ada kejadian unik ketika ada rapat kerjasama dengan komunitas lain. Mereka membuat janji bertemu jam 2 siang, tapi setengah jam sebelumnya kita semua sudah dilokasi. Kita tunggu sampai jam setengah 3 mereka tidak ada, maka kita tinggal pulang. Lalu mereka sms, “kita sudah di sini”. Tapi sudah jam 3, akhirnya kerja samanya batal karena hal tersebut.

Terkadang kita mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu karena tidak punya jumlah massa yang memadai, ada kiat yang bisa dibagikan kepada teman-teman relawan lain?

Jujur saja, sebenarnya kita juga tidak pernah luput dari kesulitan dalam melakukan sesuatu. Secara jumlah, relawan yang aktif biasa saja, tidak terlalu banyak. Karena banyak relawan TurunTangan Malang yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, seperti saya. Tapi pada intinya kita dalam melakukan suatu hal bukan semata-mata ingin membangun sebuah komunitas, tapi juga membangun sebuah kepedulian. Jadi tidak selalu membutuhkan massa dan acara yang besar untuk sekedar turun tangan.

Kita bisa turun tangan dengan diawali dari diri kita sendiri dengan datang tepat waktu, tidak membuang sampah sembarangan dan patuh peraturan lalu lintas.

Dari situ bisa dilihat orang “wah anak TurunTangan ternyata perilakunya baik”. Orang akan tertarik dengan sendirinya untuk bergabung. Intinya harus dibentuk disiplin berorganisasi agar organisasinya punya nilai.

 

Pesan-pesan untuk relawan TurunTangan di daerah lain?

Saya selalu bilang ke teman-teman:

“Kalau mau melakukan sesuatu, lakukan saja. Jangan terlalu banyak pertanyaan”

Karena pertanyaan itu yang kadang bisa menghambat kegiatan itu. Kita selalu bertanya “kita bisa atau tidak, ya?”.  Akhirnya ketika pertanyaan itu menghantui pemikiran kita, kegiatan-kegiatan itu tidak berjalan.

Saya ingat kata Mas Anies yang kurang lebih seperti ini: jika ada masalah jangan tunggu orang lain untuk menyelesaikannya. Harusnya kita sendiri yang turun tangan.

**

Apresiasi saya berikan kepada teman-teman TurunTangan Malang. Semoga relawan TurunTangan di daerah lain terinspirasi dan semangat untuk terus berkarya. Selamat hari jadinya yang pertama!

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]