Home Catatan Relawan
Catatan catatan pengalaman relawan Turun Tangan di lapangan.

Saya tidak pernah lupa percakapan dengan Ayah saat setelah menghadiri upacara wisuda sarjana Universitas Indonesia tahun 2011.

Ayah : “Apa rencanamu setelah ini?’ *pertanyaan sederhana namun terkadang menjadi sulit untuk dijawab

Saya  : “Mau melanjutkan mengajar dulu Pa di Pantara, masih penasaran dan kepingin berkecimpung di pendidikan”

Ayah : “Nggak tertarik masuk politik? Papa saranin kamu masuk partai aja”

Peryataan Ayah saya barusan bukan hanya mengejutkan tetapi lalu membuat percakapan berhenti dan mengalihkan dengan yang lain. Dalam hati saya nggak habis pikir, ya kok bisa-bisanya Ayah saya -kasarnya- nyeret anaknya ke politik. Bahkan saya nggak tahu soal politik, jangankan tahu, saya sudah terlanjur antipati, cuma karena mikirnya politik itu kotor, banyak orang jahat dan koruptor. Jadi buat apa saya capek-capek mikirin Negara, mikirin diri sendiri saja masih jatuh bangun.

Sarjana menjadi salah satu persayaratan khusus untuk bisa menjadi seorang Pengajar Muda. Kepalang sudah jatuh cinta sama anak-anak dan pendidikan, saya tertantang untuk ikut -jadinya- mau mikirin Negara. Ya dengan ikut melunasi janji kemerdekaan mencerdaskan kehidupan bangsa. Soal Gerakan Indonesia Mengajar saya tahu pertama kali dari seorang teman yang sudah terlebih dahulu menjadi Pengajar Muda angkatan I. Saya anggap sebagai momentum, tepat ketika saya sudah memenuhi persyaratan menyandang gelar Sarjana , di waktu yang berdekatan pendaftaran Pengajar Muda angkatan IV dibuka. Semangat mengalahkan logika pada waktu itu. Sayapun mendaftar.

Gerakan Indonesia Mengajar tidak pernah tahu siapa inisiatornya. Nama Anies Baswedan saya dengar baru ketika ikut seleksi Direct Assessment. Wajahnya pun saya tidak tahu. Sebatas beliau adalah Rektor dari Universitas Paramadina.

“Cinta pada pandangan pertama” kalimat ini seperti tepat untuk mendeskripsikan pertemuan pertama saya dengan Anies Baswedan. Beliau berbicara di depan 72 Calon Pengajar Muda (CPM) angkatan IV aula Wisma Handayani di opening ceremony CPM IV. Saat beliau mulai berbicara, terasa energi positif memenuhi diri saya, seperti ter-hipnotis dengan kesantunan dan ucapan yang beliau sampaikan. Yang disampaikannya begitu “mengena”, seperti ingin terus-menerus mendengarkan beliau berbicara.

IMG_0460

Setahun saya melewati sekolah kehidupan di Kabupaten Rote Ndao. Yang selalu teringat dari perkataan beliau adalah “anak muda harus membuat sejarah”. Ketika saya kembali ke Jakarta, pertanyaan yang sama muncul dari Ayah saya, “Setelah ini mau ngapain?” kali ini sungguh menjadi pertanyaan tersulit. Apa yang sudah saya pelajari dan dapatkan selama setahun membikin segalanya berubah. Jawabannya “belum tahu, pinginnya sih tetap di dunia pendidikan dan anak-anak”.

Pengajar Muda yang sudah purna tugas sebelum kembali kerumah masing-masing terlebih dahulu harus melewati yang namanya Orientasi Pasca Penugasan (OPP). Selain evaluasi, seolah-olah diberi kesempatan untuk kontemplasi. seperti biasa Pak Anies Baswedan hadir dan berbicara banyak hal. Yang menjadi catatan dan paling saya ingat betul adalah Pak Anies berkata seperti ini:

1. Don’t plan it (your future) as a single human being, plan it as a unit.

2. Network is extremely important, manage your network not only with your brain but also with your heart.

3. Be an elite, but don’t be an exclusive.

Ketika pulang saya lalu mulai mengambil karton putih yang masih kosong. Mulailah saya merancangnya (my future) berdasarkan catatan penting yang saya ambil dari Pak Anies Baswedan. Alhasil saya mendapatkan karton putih tadi penuh dengan coretan.

First step: cari kerja yang sesuai dengan minat dan yang menunjang untuk bisa sekolah lagi.

Ketika sudah melamar  disebuah NGO International yang begerak di bidang anak dan pendidikan (pas banget sama fokus saya) dan tentunya berharap dipanggil. Saya malah ditawari menjadi tim -yang lagi-lagi- inisiatornya Pak Anies Baswedan, turuntangan.org. Sebuah platform online yang mewadahi seluruh masyarakat untuk bisa berbuat sesuatu bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun yaitu ‘think big”. Pekerjaan ini tentunya tidak sesuai dengan rencana saya. Tapi telah kembali menantang saya untuk ikut didalamnya. Turuntangan.org yang saya ketahui pada saat itu adalah sebuah palatform social movement. Saya pastikan tidak ada tujuan politik. Memang tidak ada, hanya saja Tuhan berkehendak lain. Pak Anies Baswedan DIUNDANG oleh salah satu partai yang dikenal dengan track record yang tidak baik. UNDANGAN bukan sebagai komite tetapi menjadi PESERTA konvensi calon presiden dari partai tersebut.

Kegelisahan muncul ketika Pak Anies mulai menceritakan UNDANGANnya tersebut. “why Demokrat, why?” adalah pertanyaan yang seketika muncul. Dan juga menjadi pertanyaan semua orang tentunya. Tapi saya selalu suka jawaban dari Pak Anies saat menjawab pertanyaan undangan, beliau mengatakan begini “Etikanya kalau diundang itu datang toh? Ya saya menghargai undangan tersebut”. 

Saya merasa sungguh tidak siap kalau harus beneran terlibat di dunia politik, saya tidak siap. Bahkan terlintas ingin mundur. Ketidaksiapan ini adalah karena rasa takut. Seperti seorang anak yang akan ditinggalkan perang oleh Bapaknya. Tidak siap kalau orang baik seperti Pak Anies harus dicibir sana-sini, diberitakan negatif. Termasuk tidak siap dengan tanggapan orang karena saya bagian dari tim tersebut.

Setiap hari saya terus mencari untuk menemukan keyakinan. Keyakinan yang saya kumpulkan dari setiap cerita yang beliau sampaikan yang kemudian dirangkum disini http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0. Keyakinan yang pada akhirnya hanya ada satu pilihannya: “Yes I”ll help you, Sir.

Percaya dan Yakin adalah kunci yang hanya bisa saya pegang saat ini. Bahwa orang baik  harus masuk politik, bahwa sekarang sudah saatnya, saya rindu memiliki pemimpin seperti beliau, bahwa saya percaya ketika PERCAYA adalah jawaban dari segala bentuk pertanyaan. Pertanyaan dari dalam diri dan bagi orang-orang diluar sana. “Kenapa kamu mau turun tangan?” “karena saya Percaya” Titik.

Persis ketika saat cinta pandangan pertama di aula Wisma Handayani, Pak Anies kembali mengingatkan saya untuk optimis bagi kehidupan saya dan bagi Republik tercinta Indonesia. :)

 

Kerap kali komentar di atas ditujukan ke Mas Anies setelah mendengar salah satu pidato beliau yang memang hampir selalu menggugah mereka yang mendengarnya.

Jujur saya selalu bingung jika mendengar kalimat tersebut.

Bukannya inisiatif Gerakan Indonesia Mengajar didirikan karena beliau ‘geram’ dengan sikap publik dan pemerintah yang hanya kaya wacana tapi lamban untuk melakukan apa-apa.

“Berhenti mengutuk kegelapan. Mari kita nyalakan lilin.” Kalimat ini hampir seperti slogan untuk Gerakan Indonesia Mengajar yang didirikan di tahun 2010, karena begitu sering beliau ucapkan berulang-kali dalam berbagai kesempatan.

Saya pernah sebulan ditempatkan di daerah pelosok, hidup bersama para pengajar muda di Halmahera Selatan, dan saya akan benar-benar marah jika dikatakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak disebut sebagai ‘tindakan nyata’, ‘kerja’ atau ‘membawa perubahan’.

Gerakan Indonesia Mengajar begitu membakar pemuda-pemudi Indonesia untuk meninggalkan sikap ‘cuma bisa kritik’ dan ambil bagian dan langsung bekerja. Puluhan ribu mendaftar, ratusan sedang berada di daerah penempatan dan ratusan sudah kembali untuk bekerja membawa integritas dan optimisme di sektor swasta dan publik.

Begitu banyaknya karya nyata yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Mulai dari hal-hal terkecil seperti murid-murid yang akhirnya bisa mengerjakan soal-soal perkalian sederhana, sampai hal-hal masif yang mengubah sebuah desa seperti pekatnya optimisme warga karena murid-murid mereka pulang membawa piala-piala di lomba-lomba kabupaten. Tak terhitung pula berapa banyak pejabat publik di daerah yang tertular hawa perubahan yang dibawa pengajar-pengajar muda ini, mengurangi korupsi dan menambah program-program nyata.

Belum lagi dalam lingkar terkecil, bagaimana orang-orang tua berhenti menggunakan kekerasan terhadap anak-anaknya dan mulai melihat mereka sebagai anak-anak yang ternyata punya masa depan dan bukan ditakdirkan untuk miskin dan terbelakang seumur hidup mereka.

Kalau itu bukan kerja, saya ga tau lagi deh.

Lihat saja acara akbar Gerakan Indonesia Mengajar selanjutnya: Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Slogan mereka, “Ayo Kerja, Kerja Bakti!” dan “Segera Berbuat, Serentak Bergerak.” Konsepnya adalah mereka yang datang dan bersimpati pada gerakan ini ikut ‘berprakarya’ – selama tiga hari membuat puluhan ribu alat-alat peraga yang akan dikirim ke seluruh sekolah-sekolah di Indonesia.

I mean, how cool-creative-effective is that.

Seluruh semangat Indonesia Mengajar adalah tentang kerja dan bertindak dan sekarang dan hayo turun daripada “nyinyirrrr terusss sobb capeeee dengerrnyee sobbb…” Sudah tiga tahun berlalu dari kepergian saya, namun hingga saat ini hati ini selalu bergetar setiap bertemu keluarga baru saya ini. Saya kagum bahwa mereka itu bekerja. Dan kerja. Dan kerja. Dan kerja.

Jadi, bisa mengerti dong mengapa saya bingung setiap mendengar kalimat di awal tulisan ini.

Jangan pernah berkata Anies Baswedan tidak bisa bekerja kawan.

Bukankah membawa visi, menyebarkan optimisme, memimpin perubahan, menembus birokrasi, menantang status quo, memasang badan, menerima tanggung-jawab, mengambil keputusan-keputusan sulit, menarik mereka-mereka yang peduli, menginspirasi mereka yang mau bergerak, membakar mereka yang mau bekerja, semuanya itu adalah ‘kerja seorang pemimpin’?

Jika bukan, apa definisi ‘kerja seorang pemimpin’ yang akan memuaskan kalian?

Mencangkul membersihkan selokan? Atau memukul-mukulkan palu di sebuah situs konstruksi sambil berpeluh hebat? Mungkin kalian sedang membayangkan iklan Extra Joss.

Pernahkah kalian lihat jadwal keseharian dia? Apakah dia sulit sekali ditemui karena dia selalu ada di dalam kamar tidur-tiduran di ranjang sambil bermain Candy Crush Saga?

Banyak hal tentang Mas Anies yang saya tidak tahu, tapi satu hal yang saya tahu pasti, dia bisa dan sudah bekerja banyak untuk bangsa ini.

Edward Suhadi

Pemimpin Orchestra

Saya dan teman saya Lisa sedang menunggu di boarding room menuju Bali ketika saya ingat bahwa saya membawa sebuah buku edaran kecil yang berisi gagasan-gagasan Anies Baswedan tentang Pancasila yang dibagikan kemarin ke kawan-kawan pers di Deklarasi Konvensi Partai Demokrat.

“Baca deh, bagus dan ringan,” ujar saya.

Sambil dia membaca, saya juga meneruskan bacaan saya.

Setelah waktu berselang cukup lama, saya sudah berpikir bahwa dia akan bosan dan akan mengembalikan buku itu. Tiba-tiba dia mengangguk-angguk, “Bener banget nih ko.”

Dia menunjuk ke satu bagian dari buku itu. Di sana Mas Anies menulis:

“Kepemimpinan ideal, dalam imajinasi saya, seperti sebuah konduktor dalam sebuah orkestra. Coba kita tanya kepada pemain biola: Bisakah main tanpa konduktor? Bisa! Tanya pemain piano: Bisakah main tanpa konduktor? Bisa! Tanya2 seluruh pemain orkestra. Semua bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan tanpa kehadiran seorang konduktor.

Tapi kehadiran konduktor itu memberikan nyawa, menyajikan nuansa, menyodorkan perasan tujuan yang sama. Dia hadir dan menggerakkan, membuat semua merasa punya tujuan, membuat semua mau bergerak. Dia menggugah untuk semua mau turun tangan. Konduktor tak perlu jadi pemain idola, bas, atau piano. Setiap orang memainkan perannya, tapi konduktor merancang, menyiapkan, dan mendorong semua untuk bergerak menuju ke tujuan yang sama.

Sekali lagi, problem di bangsa ini demikian banyak. Tidak bisa kita berharap satu atau dua orang menyelesaikan semua masalah itu. Semua orang harus bergerak sesuai sektor, bidang dan kemajuan masing-masing sebagaimana telah ditunjukkan secara amat anggun oleh pendiri Republik dan telah secara eksplisit dikatakan Bung Karno: Gotong Royong!”

Lisa ini selain menjadi salah satu fotografer di tempat kami, dia juga adalah anggota dari salah satu paduan suara terbaik di Indonesia. Dia pernah terbang ke Itali bersama paduan suaranya untuk membawa pulang piala juara dunia. So she knows what she’s talking about.

“Dulu waktu awal-awal ikut paduan suara aku juga nggak ngerti ko, apa gunanya sih konduktor. Tapi sekarang sudah sangat mengerti, dan beda sekali hasilnya.”

Mungkin seperti Lisa dulu, sampai sekarang pun saya tidak terlalu mengerti dan paham peran konduktor. Saya sering menganggap bahwa dia hanya ‘nice to look at’ oleh penonton. Berguna hanya untuk membuat orang ‘tergugah’ saja dengan hentakan-hentakan tangannya. Maksud saya, para pemain masing-masing sudah punya kertas partitur (nada musik) di hadapan mereka kan? Tanpa konduktor pun harusnya mereka bisa bermain sendiri kan? Tapi mendengar Lisa berbicara, sepertinya banyak yang harus saya pelajari.

Dia itu kasih nyawa dalam sebuah karya. Ibaratnya lagu itu seperti roti tawar. Mau dibawa kemana roti ini. Kasih topping coklat, strawberry, atau mungkin rubah rotinya, itu tergantung konduktornya.”

“Di kepala dia itu sudah ada nada yang dia mau bawakan. Komposisi di dalam otak dia sudah ada. Dan dia bisa bawa kita menciptakan rasa itu. Persis seperti pelukis, dia lihat kurang awan di sini, warna biru di sana, merah di sini. Sampai akhirnya ‘jadi’.”

Kita sangat percaya kepada konduktor kita. Kadang malahan dia membuat perubahan tiba-tiba di tengah-tengah pertunjukan, tapi kita semua serentak mengikuti dia tanpa sedikitpun ragu, karena kita percaya penuh bahwa dia berbuat demikian karena hasilnya akan baik.”

Lanjutnya lagi, “Banyak bagian di lagu-lagu tertentu itu sepertinya mustahil untuk dilewati dengan baik, tapi dengan adanya konduktor yang handal, dia bisa bawa kita semua melewati itu dengan mulus.”

“Betul banget bahwa konduktor itu ga harus bisa main alat musik, tapi dia bisa memimpin para pemainnya, membawa penjiwaan permainan kita semua searah.”

“Dia harus bisa mengayomi, bukan menyuruh. Merangkul semua anggota paduan suara jadi nggak individualistis lagi. Kita menyanyi buat semua, bukan menunjukkan suara kita hebat.”

Paduan suara yang jelek, mereka ga peduli siapa yang berdiri di depan. Semua menyanyi untuk dirinya sendiri. Jadinya yah berantakan, dan keliatan sangat individualistis. Ancur deh pokoknya.”

“Waktu kita baru mulai dulu, anak-anaknya semua masih sombong, egonya pada tinggi, dan ga peduli. Jadi kalau kita menyanyi ya jelek banget. Trus kita pernah ikut satu workshop, ketemu konduktor yang bisa dibilang sudah level maestro lah. Kita ya takut juga, terkesima juga dengan pembawaannya, jadi waktu kita menyanyi kita dirangkul oleh kepiawaian dia, dan jadinya bagus banget. Yah saya jadi percaya bahwa paduan suara yang jelek jika terus dibawakan oleh konduktor yang jago pasti akan terkikis individualismenya dan pelan-pelan berubah.”

Bukan kebetulan ketika sambil saya menulis ini saya membaca dari akun Twitternya Mas Addie Ms bahwa albumnya ‘The Sounds Of Indonesia’ sedang bertengger di puncak iTunes Store Chart.

Langsung saya download dan saya putar menemani saya menulis tulisan ini. Dan untuk sejenak, saya mulai mengerti tentang apa yang Lisa ceritakan dari tadi.

Foto Edward Suhadi bersama Anies Baswedan

Saya rasa, saya ga bego-bego amat.

Saya membangun perusahaan jasa foto dan video Edward Suhadi Productions dari nol, dari satu kamera dan satu lensa di sebuah ruang sewaan, sampai sekarang menjadi warung dengan team hampir 25 orang dan tongkrongan keren The Disco.

Saya membangun banyak teman-teman, dari ‘kertas polos’ sampai sekarang bisa melakukan hampir segalanya dengan pengalaman dan standar tinggi yang bisa dibanggakan.

Saya juga aktif di beberapa komunitas, dipercayakan jadi ketua sana-sini, dan cukup sering menjadi pembicara tentang entrepeneurship, passion, dan tentunya fotografi.

Saya juga berkesempatan untuk banyak melihat dunia dan belajar banyak dari apa yang saya lihat dan alami.

Dan saya juga banyak menulis. Banyak juga yang bilang tulisan saya bagus :) Nanti kalau selesai baca komentar ya :)

Kenapa sih jadi penyombongan aktualisasi diri dengan berbagai statusisasi ini?

Karena saya mau bilang, dengan pengalaman saya hidup di dunia sejauh ini, saya yakin banget bahwa saya akan kecewa dengan Anies Baswedan.

Mungkin sudah terlihat jelas dari timeline Twitter dan aktivitas saya bahwa saya mendukung beliau maju menjadi salah satu calon presiden di Konvensi Partai Demokrat.

Sikap saya ini, dan juga beberapa teman yang melakukan hal yang sama, diterjemahkan oleh banyak kalangan sebagai sebuah kebodohan dan buang-buang waktu saja.

“Sudahlah, kamu pasti kecewa nantinya. Ngapain?”

Sekali lagi: Saya yakin banget bahwa saya akan kecewa dengan Anies Baswedan :)

Lho kok?

Karena dalam seumur hidup saya berkarir dan berelasi, memimpin begitu banyak team, bertemu begitu banyak orang dan merajut begitu banyak hubungan, saya tahu persis bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan pasti kita akan mengalami kekecewaan.

Sahabat pergi, saudara berubah, partner bisnis menghianati, teman berpaling muka, keluarga berdiam diri. Itulah fakta kita hidup. Dan saya sudah cukup lama hidup dengan menerima bahwa saya pasti akan kecewa dengan siapapun juga.

Jadi pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri ketika saya memutuskan untuk ikut iuran adalah bukan “Apakah Anies Baswedan sempurna?”, tapi “Apakah Anies Baswedan layak mencoba menjadi Presiden Indonesia?”

Mantap betul jawab ‘tidak’ untuk pertanyaan nomor satu, dan mantap betul jawab ‘ya’ untuk pertanyaan nomor dua.

Sejauh yang saya tahu, AB adalah sosok bersih, berintegritas dan bisa bekerja. Tiga itu saja untuk dicari di peta politik Indonesia saat ini sama seperti mencari tiga butir permata di hamparan pasir pantai. Dan saya jika ketemu tiga permata di hamparan pasir pantai, pasti saya comot dan pegang erat-erat.

Banyak memang pertanyaan dan kesangsian khalayak tentang kemampuan dia memimpin. Tapi dari apa yang saya alami sendiri setelah sebulan di daerah terpencil hidup bersama para Pengajar Muda (video YouTube di bawah), beliau bisa mempimpin sehingga dia layak mendapat dukungan saya.

Eh, tunggu dulu deh.

Saya belakangan sering lihat kalimat tersebut. “Layak mendapat dukungan saya.” Diucapkan oleh saya sendiri dan juga banyak teman-teman di twitter dan di perbincangan langsung.

Pertanyaannya: Kite siape sih? ;D

Kite itu siape sehingga layak memberikan restu buat orang-orang yang sudah berbuat nyata buat bangsa ini.

Kite pernah kerjain ape sih? :D Nyinyir di Twitter? Numpang pup di tanah ini?

Ada satu Ibu yang sangat saya hormati di kantor Indonesia Mengajar. Namanya Ibu Yundrie. Beliau seperti ibu-ibu biasa saja, berkerudung dan selalu tersenyum, namun apa yang dia kerjakan luar biasa.

Dia adalah team advance dari para pengajar muda, mencari pelosok Indonesia yang paling pelosok yang membutuhkan tambahan guru. Naik pesawat, lalu disambung kapal, lalu disambung naik truk, lalu disambung ojek. Kadang puluhan jam untuk sampai ke suatu desa. Ke tempat-tempat yang sangat tertinggal. Duduk ngotot di kantor-kantor kepala dinas pendidikan sampai yang punya kantor menyerah dan akhirnya mau menemui dia. Sering ditolak, sering dihindari, sering dicibir dan juga pernah diusir. Bertemu dengan para pemuka agama dan pemuka desa, dari kampung ke kampung, ‘jualan’ misi Indonesia Mengajar.

Nah, orang-orang seperti dia itu baru bisa bilang, “AB layak mendapat dukungan saya.”

Orang-orang seperti Ibu Yundrie di seluruh Indonesia, yang mungkin kita ga akan kenal satu per satu, baru layak mengucapkan hal itu.

Nah kite? Yang pesen ice tea lychee tapi yang dateng ice tea doang lalu marah-marah kayak mau kiamat?

:)

Anies pasti tidak sempurna, tapi dalam pandangan saya dia layak mencoba menjadi Presiden Indonesia, dan karena itu saya akan mencoba ikut iuran dengan membantu apa yang saya bisa. Video Om Anies menceritakan alasannya maju konvensi di bawah ini salah satu iuran saya.

Teman-teman juga bisa baca blog Pandji yang membahas poin-per-poin pertanyaan-pertanyaan tentang majunya AB di Konvensi Partai Demokrat.

Tapi saya menulis blogpost ini bukan hanya untuk Anies Baswedan. Saya menulis blogpost ini juga untuk buat anak-anak muda.

Seumur hidup saya, apalagi mata saya sipit begini, saya duduk di balkon Gue Bilang Juga Apa.
Hari-hari ini saya mencoba turun ke bawah ikutan panggung Gue Mau Turun Tangan.

Dukung orang-orang baik yang adalah nafas baru di negeri muda ini. Setelah Soeharto turun kita baru belajar berdemokrasi yang sesungguhnya. Pasti masih banyak yang salah, pasti banyak yang masih norak. Tapi jika anak-anak muda, orang-orang baik yang berintegritas dan berkompetensi tidak mau ikutan, maka selamanya negeri ini akan jadi negeri dagelan. Selamanya kita akan facepalm lihat orang-orang ngomong di televisi. Anak-anak muda bisa gunakan kepintaran, integritas dan hati kita buat ikut turun tangan rame-rame buat negeri tempat kita numpang mamam dan pupup ini.

Sikap tidak mau ikutan sebetulnya adalah jelmaan rasa takut. Jangan. Jangan takut salah.

Jangan takut jagoannya ternyata orang brengsek. Selama kamunya ga ikutan brengsek ga apa-apa dong? :)

kecewaitubiasa.com

Berani kecewa itu baru luar biasa :)

Jangan cuma jadi orang-orang di film-film yang suka teriak-teriak, “I pay my taxes!” Nyebelin kan orang-orang begitu? :)

Dukung siapa yang menurut penilaian kamu baik. Jokowi sumpah keren. Dulu saya ikut main di video Jokowi lho :) Saya saat ini bantu Om Anies dan mungkin akan bantu Mas Jokowi juga kalau saya diperlukan (Mas Jokowi hayu maju apa nggak nih?). Ikut turun tangan, jangan cuma di balkon. Motto Dahlan Iskan kemarin asik banget: “Kerja! Kerja! Kerja!” Makin banyak orang-orang baik isi panggung, orang-orang ga bener akan makin tergeser.

Saat ini, buat negeri ini, saya mencoba ikut iuran.

Saya pasti kecewa dengan Anies Baswedan. Tapi di luar perasaan pribadi saya, dan beribu perdebatan tentang kriteria seorang presiden, saya nilai dia sangat layak maju.

Kan saya sudah bilang: saya ga bego-bego amat :)

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]