Home Event TurunTangan17an

17 Agustus. Tanggal di mana sang saka merah putih dengan anggunnya berkibar di berbagai penjuru Nusantara.

17 Agustus. Hari istimewa karena di hari tersebut lah deklarasi kemerdekaan Indonesia dari tangan Belanda terjadi.

17 Agustus. Perayaan seluruh rakyat Indonesia, bagaikan pesta yang masih manyala-nyala. Mulai dari mengibarkan Sang Saka Merah Putih, lomba-lomba tradisional khas 17an, serta tak lupa  melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat.

17 Agustus. TurunTangan pun ikut memeriahkan semaraknya. Tahun ini, 14 daerah yakni Aceh, Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Palembang, Banten, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Banjarmasin, Kendari, dan Ambon, memperingati Hari Kemerdekaan RI dengan beragam cara.

Seperti apa ya, keseruan relawan-relawan di 14 kota tersebut untuk memeriahkan semangat perjuangan? Ini dia ulasannya!

43

TurunTangan Aceh

Relawan TurunTangan Aceh merayakan hari kemenangan 17 Agustus bersama siswa-siswi SD Negeri Monsinget, Kahju, Aceh Besar, Kamis (18/8). Bertemakan “Aku Indonesia Aku Bangga”, mereka menggelar berbagai lomba seperti lomba makan kerupuk dan tarik tambang.

IMG-20160817-WA0087

TurunTangan Lhokseumawe

Di Lhokseumawe, agenda 17-an diadakan di SDN 9 Dusun Abong-Abong Desa Sukajadi, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (17/8). Di sekolah ini mereka melaksanakan upacara dan menggelar perlombaan bertemakan kemerdekaan. Sebelum lomba dimulai, siswa-siswi diberikan pengetahuan mengenai pahlawan-pahlawan Aceh oleh relawan pendidikan TurunTangan Lhokseumawe.

19

TurunTangan Medan

Perayaan 17 Agustus di Medan dilakukan di Kampung Mesjid Bengkok, Jalan Kesawan, Kota Medan. Relawan TurunTangan mengadakan upacara yang dipimpin oleh Kepala Lingkungan Kampung Mesjid Bengkok. Setelah itu mengadakan berbagai perlombaan yang diikuti oleh warga seperti lomba kelereng, menggendong teman, dan balap karung. TurunTangan Medan juga kedatangan Samsudin, pendukung gerakan perlindungan hutan dan hewan langka di Sumatera. Samsudin memberikan dongeng kepada anak-anak kampung tersebut agar kedepannya mereka sadar akan pentingnya menjaga hutan bersama-sama.

10

TurunTangan Pekanbaru

Relawan TurunTangan Pekanbaru mengadakan upacara bendera di SMP N 3 Pekanbaru. Tak hanya itu, mereka juga mengadakan napak tilas veteran dengan memutarkan film pendek perjuangan dan memberi pemaparan tentang kebangsaan. Kemudian relawan juga mengadakan nonton bareng film perjuangan di Jalan Pemuda Pekanbaru, Sabtu (20/8).

12

TurunTangan Palembang

Relawan TurunTangan Palembang memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke -71 dengan upacara pengibaran dan penurunan bendera di Panti Sosial Bina Anak Remaja KM 5 Palembang. Setelah upacara, relawan TurunTangan Palembang menggelar lomba tradisional untuk anak-anak panti. Yap, mereka berbagi kasih sayang dengan semangat perjuangan!

IMG_6855

TurunTangan Banten

Di Banten, relawan menggelar sepuluh perlombaan yang diadakan di SD Islam Ruhul Amin Tangerang Selatan. Lomba-lomba tersebut terdiri dari lomba makan kerupuk, pukul balon, injak balon, estafet karet, bersama masukan paku, pindah air, mewarnai, hafalan surat pendek dan cerdas cermat.

1

TurunTangan Jakarta

Berkolaborasi dengan Komunitas Sekolah Kolong Pelangi, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Rumah Belajar Rawamangun, TurunTangan Jakarta menggelar upacara di Kolong Jembatan Jalan By Pass Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (17/8). Relawan menghiasi kolong jembatan dengan balon merah putih setelah itu melakukan prosesi upacara bersama anak-anak binaan Sekolah Kolong Pelangi secara khidmat.

26

TurunTangan Bandung

Seperti TurunTangan regional lain, TurunTangan Bandung juga melakukan upacara pengibaran bendera dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-71. Yang membuat beda dan mengesankan, upacara kemerdekaan tersebut diselenggarakan di Lapas Anak Sukamiskin Bandung. Selain upacara, mereka juga menggelar perlombaan dan hiburan akustik.

30

TurunTangan Yogyakarta

Semarak 17-an di Yogyakarta diisi dengan kemeriahan lomba makan kerupuk, balap karung, egrang dan kelerengan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Yogyakarta, Sabtu (13/8). Pada 17 Agustus, TurunTangan Yogyakarta kembali menggelar kegiatan di SLB Negeri Pembina dengan upacara pengibaran bendera. Adik-adik SLB yang memenangkan lomba tersebut juga mendapatkan hadiah, lho! Wah, senangnya!

31

TurunTangan Surabaya

Relawan-relawan di Surabaya membuat acara “Gebyar Pitulas Agustus”. Rangkaian acaranya berupa upacara bendera dan perlombaan di Rumah Belajar Sabilul Khoir. Oh ya, adik-adik ini diajak ikut upacara karena banyak diantara mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah formal. Selain itu, lingkungan tempat tinggal adik-adik di Rumbel tersebut berdekatan dengan pusat prostitusi dan sulit ditemukan lahan kosong untuk bermain. “Gebyar Pitulas Agustus” menyuarakan semangat gotong royong, agar adik-adik tetap bisa seru bermain namun ingat dengan sesama. TurunTangan Surabaya sadar akan hal itu. Momen 17an merupakan momen yang berharga bagi adik-adik Sabilul Khoir karena mereka bisa bermain bersama secara edukatif.

TurunTangan - 9

TurunTangan Malang

Upacara pengibaran bendera Merah Putih dilaksakan di Balai Kota Malang. Upacara tersebut diikuti oleh para veteran yang ada di Kota Malang. Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi sekolah binaan project Ruang Sinau 2.0, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Jannah di Desa Jabung Malang. Dalam kunjungan singkat itu relawan TurunTangan Malang turut dalam keceriaan siswa-siswi MI Raudhatul Jannah dalam perlombaan balap karung. TurunTangan Malang juga mengadakan kegiatan bersama veteran di MI Raudhatul Jannah, pada hari Sabtu (27/8). Mengusung tema “Apa Kabar Veteran”, relawan TurunTangan Malang memperkenalkan veteran kepada siswa-siswi sekolah itu dengan memutarkan video lebih dekat dengan veteran dan film pendek perjuangan.

33

TurunTangan Banjarmasin

Di pulau Kalimantan tepatnya di Banjarmasin, relawan TurunTangan disana mengadakan upacara di Siring Piere Tendean Kota Banjarmasin bersama berbagai komunitas dan organisasi di Banjarmasin. Setelah itu mereka berdiskusi dengan Forum Komunikasi Komunitas Kota Banjarmasin.

28

TurunTangan Kendari

Setiap selesai perayaan, sampah berserakan di sekitaran Tugu Religi Sulawesi Tenggara. Inilah yang menjadi problem yang tidak disadari masyarakat. Untuk itu, TurunTangan Kendari melakukan aksi bersih-bersih di tugu ini setelah upacara 17an. Mereka dibantu oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo dan beberapa pelajar SMA Kendari. Relawan di Kendari juga mengajak mahasiswa dan pelajar untuk berdiskusi dan mengikuti lomba bola gotong. Di akhir kegiatan, para relawan menyerahkan hadiah, sertifikat dan Kabar Relawan kepada pemenang.

23

TurunTangan Ambon

Relawan-relawan Ambon sangat bersemangat melaksanakan upacara pengibaran bendera di kawasan Instalasi Pembuangan Sampah Terpadu (IPST), Kota Ambon, Maluku. Momen 17 Agustus digunakan relawan untuk refleksi kemerdekaan bersama warga. Selain itu mereka juga mengadakan kegiatan story telling dan berbagai lomba 17-an.

 

 

71 tahun Indonesia Merdeka dan tiap tahun pula pada tanggal 17 agustus kita terus merayakannya.

Media sosial pasti penuh dengan hashtag kemerdekaan dan sebagainya, tapi semua ini tidak berlangsung lama,

tak jarang setelah perayaan 17 Agustusan, rasa nasionalisme kita semakin menurun dengan sikap pesimis akan negeri ini yang dapat kita lihat melalui berbagai komentar negatif dan keluh kesah akan Indonesia,

dimana semua ini dapat kita jumpai dengan mudahnya dikarenakan kecenderungan kita untuk meneruskan berita-berita buruk tentang Indonesia tanpa menelaah fakta yang ada. Ditambah lagi semakin banyaknya buzzer media sosial yang menyebar berita-berita hoax yang terkadang kita juga mengikutinya, semua itu tanpa sadar  membuat kita menjadi para “penyebar pesimisme”.

Tidak ada yang salah dengan kritik ataupun berkeluh kesah, memang tugas rakyatlah untuk terus mengkritisi dan menjadi watchdog terhadap pemerintahannya, tetapi sebuah masalah tak akan selesai dengan hanya kritisi dan menghancurkan semangat bangsa ini dengan menyebar rasa pesimis, seharusnya sikap tersebut dibarengi dengan solusi dan kerja nyata untuk negeri ini.

Tetapi sayangnya,

seringkali kita berkeluh kesah tanpa menyadari bahwa kita belum memberikan kontribusi apapun bagi negeri ini,

berkeluh kesah mulai dari hal-hal sederhana seperti kemacetan lalu lintas dan panas teriknya jalanan ketika kita pergi bekerja atau sekolah, kondisi jalan raya yang penuh lubang, mahalnya kebutuhan yang harus kita keluarkan untuk mengikuti gaya hidup, kritik dan keluh kesah tsb membuat seolah-olah hanya kita lah yang merasakan kesulitan di negeri ini  yang tanpa sadar kita terus menyebarkan rasa pesimis  melalui media sosial yang kita miliki.

Tak pernah kah kita memikirkan nasib saudara kita di desa-desa perbatasan Indonesia yang jauh dari perhatian pemerintah? Misalnya  nelayan Indonesia dari berbagai daerah terpencil  yang harus mencari ikan dengan merasakan teriknya panas matahari di tengah lautan. Lalu, pernahkah kita memikirkan nasib petani-petani Indonesia yang menuai hasil panen melimpah namun kehidupan mereka tidak makmur? Pernahkah kita membayangkan beratnya perjuangan para TKI di luar negeri yang terus bekerja keras meningkatkan devisa negeri ini dengan memendam rindu sanak  famili di bumi pertiwi? Nereka sedang berjuang untuk cita-cita merdeka dari kemiskinan, dan mungkin posisi seperti mereka lah yang layak untuk berkeluh kesah.

Melihat hal tersebut seharusnya kita seharusnya bersyukur karena kita masih diberi kesejahteraan dan keluangan waktu untuk lebih semangat lagi  melunasi janji kemerdekaan di negeri ini.

Ada puluhan  kekurangan di Indonesia, tetapi sebenarnya ada ratusan berita baik dari Indonesia yang dapat membangkitkan rasa optimis kita untuk melunasi janji kemerdekaan.

Pernahkan kita mendengar kekayaan hutan Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia selain Brazil dan Zaire?

Potensi sumber daya kelautan Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, menghasilkan potensi sumber daya kelautan triliunan rupiah, atau potensi sumber daya mineral & tambang yang terhampar dari sabang hingga merauke seperti  cadangan bijih besi, tembaga, bauksit, bijih timah yang nilai potensialnya mencapai ratusan triliunan rupiah lebih, bahkan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi 68% dari wilayah negeri ini yang mencakup daerah seluas hampir 1,3 juta kilometer persegi diperkirakan menyimpan 81,2% cadangan bahan tambang Indonesia (Koesnaryo dalam PERHAPI, 2002: 1).

Kekayaan SDM Indonesia juga tak kalah hebatnya. Di masa depan  dengan adanya bonus demografi yang diperdiksi pada tahun 2020-2030, 70% penduduk Indonesia adalah penduduk dengan jumlah usia produktif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia juga merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia, terdapat lebih dari 750 suku bangsa atau etnis.

Indonesia merupakan negara ke 13 dengan militer terbaik di dunia dan berbagai prestasi militer lainnya.

Indonesia memiliki banyak sosok inspiratif muda Indonesia yang membuang rasa pesimisnya. Misalnya kisah seorang Butet Manurung, seorang sarjana yang menghabiskan waktunya untuk mendidik suku anak-anak pedalaman di Jambi tanpa berkeluh kesah akan belum meratanya infrastuktur pendidikan di Indonesia. Dr Gamal Albinsaid yang mendedikasikan ilmu kedokterannya untuk warga miskin di kota Malang dengan asuransi sampah miliknya tanpa sekedar mengkritisi pelayanan kesehatan di Indonesia.

Jika hanya segelintir berita memilukan dari Indonesia dapat dengan gampang nya membuat kita menjadi para penyebar rasa pesimis yang hanya bisa mengkritik melalui media sosial di layar smartphone, maka sudah seharusnya kita optimis  mendengar berita-berita mengenai fakta potensi negeri ini diatas..

Atau kita bisa belajar dari para pejuang puluhan tahun lalu yang telah berjuang tanpa rasa pesimis didalam dirinya. Bung karno yang beberapa kali dipenjara dan diasingkan, Hatta dengan diplomasinya mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dari tangan penjajah, perjuangan Jenderal Soedirman bergerilya di hutan belantara sambil menahan sakit yang dideritanya, Tan Malaka  berulang kali berganti nama dan berpindah pindah tempat demi berjuang dari kejaran para penjajah.

Bayangkan setiap masalah dan rintangan  yang dihadapi mereka, dalam setiap perjuangan mereka, mereka  tidak tahu apakah setiap tetes keringat dan darah  yang mereka perjuangkan  akan berbuah kemerdekaan atau tidak, tetapi mereka memilih untuk tetap optimis dan berjuang, bayangkan jikalau  ditengah perjuangan mereka muncul rasa pesimis dan mengambil langkah untuk mundur pada saat itu, tentu kita tak bisa menikmati nikmat nya kemerdekaan saat ini.

Jika mereka para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan dahulu selalu optimis, sudah selayaknya kita para pemuda yang meneruskan janji kemerdekaan ini membuang rasa pesimis.

Anggapan bahwa kita belum sepenuhnya  merdeka dapat dimaklumi, hal itu dapat dilihat mulai dari sumber daya alam kita yang sebagian besar masih dikuasai asing, kesejahteraan dan pendidikan yang belum merata, SDM kita yang dengan mudahnya di propaganda media hingga korupsi yang merajalela.

Walau kita belum sepenuhnya MERDEKA secara utuh, setidaknya kita MERDEKA dari rasa pesimis dan putus asa. Mari terus berjuang karena negeri ini dibangun oleh semangat OPTIMISME!

 

Pejuang Bukan ?? Hadapi !!

#Dirgahayu R171

 

458

Sejak kecil, ketika mendengar kata Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)  adalah suatu tempat yang sangat menyeramkan karena diisi oleh orang orang yang pernah melakukan kejahatan. Penulis sendiri sebelumnya belum pernah membayangkan bahkan melihat seperti apa Lapas? Bagaimana bentuk ruangannya? Dan apa saja fasilitas yang diterima oleh narapidana?

Yang ada pada bayangan penulis sebelum melihat langsung ke dalam Lapas seperti di film The Shawshank Redemption dimana Lapas adalah tempat dimana penjagaannya yang sangat ketat terlebih penjaganya yang tegas, galak dan tak neko neko meskipun pada akhirnya dipenjara karena membunuh narapidana. Tapi realitas di media saat ini, Lapas sepertinya sudah nyaman dengan keramahan para sipir penjaga terutama bagi Lapas para koruptor atau narkoba.

Lalu bagaimana keadaaanya dengan Lapas anak? Lapas anak atau anak pidana menurut UU Nomor 12 Tahun 1995 “Anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lapas. Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun”. Menjadi anak pidana adalah suatu masalah bagi negeri ini, anak – anak yang harusnya berisikan hari-harinya belajar dan bermain untuk membangun karakter harus berada di balik jeruji besi. Lalu, mengapa anak bisa melakukan tindakan kejahatan? Apakah itu merupakan murni kesalahan dirinya? Kami meyakini bahwa hal tersebut adalah karena lingkungan disekitarnya.

Penulis bersama TurunTangan Bandung melihat bahwa hal ini terdapat kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Dari apa yang mereka terima kami sangat mengkhawatirkan kecintaan mereka terhadap Negara. Apalagi di hari kemerdekaan seharusnya diisi oleh hal yang menggembirakan bagi mereka. Dimana anak – anak pada umumnya mengisi kemerdekaan dengan lomba – lomba yang menanamkan wujud kecintaan mereka pada Indonesia.

Setelah kami melakukan upacara bersama anak Lapas. Kami melihat sesuatu berbeda. Kami melihat berbagai proses yang harus dijalani oleh para anak pidana. Mereka sangat antusias untuk mengikuti kegiatan upacara kemerdekaan. Bukan pada upacaranya, tetapi pada isi upacaranya. Karena bagi mereka setiap upacara kemerdekaan ada remisi bagi anak pidana yang berkelakuan baik.dan hal itu yang sangat ditunggu – tunggu bagi mereka.

Sebelum  saya dan TurunTangan Bandung masuk dan dapat berkomunikasi dengan anak pidana, kami harus melewati berbagai penjagaan dan syarat – syarat, beberapa syarat tersebut adalah kami tidak boleh membawa telepon genggam, tidak boleh membawa minuman alkohol dan tidak membawa dompet. Ketika itu kami tidak membawa kamera sehingga tidak ada moment yang bisa kami abadikan.

Pukul 7.30 semua anak pidana sudah berkumpul di lapangan. Raut wajah sumringah dan semnagat tampak terlihat, meskipun cahaya matahari pagi waktu itu cukup bersinar cerah yang membuat dahi harus mengernyitkan keringat. Jam menunjukan 7.50 kami semua sudah berbaris rapi dan siap melakukan upacara bendera. Tetapi tampak petugas yang masih melakukan persiapan upacara. Untuk petugasnya adalah petugas dari penjaga Lapas dan 2 orang dari anak pidana.

Matahari sudah mulai terlihat penuh, upacara dimulai dengan masuknya pemimpin upacara dan pembina upacara yaitu Pembina Lapas Anak Sukamiskin. Rangkaian acara terlewati, 2 orang dari anak pidana harus membacakan Janji Narapidana yang harus diulangi oleh seluruh narapidana, kemudian hal yang ditunggu-tunggu tiba di mana petugas Lapas membacakan remisi pemotongan masa tahanan yang disambut meriah oleh para anak pidana. Meskipun tidak disebutkan remisi kepada seluruh anak pidana, tetapi kami melihat kegembiraan mereka dalam mendengarkan kabar baik tersebut. Kabar yang hanya mereka dapati ketika hari raya dan kemerdekaan. Mungkin makna kemerdekaan bagi mereka adalah merdekanya mereka dari belenggu jeruji besi dan merdeka dari lingkungan yang menjerumuskan mereka kembali menjadi anak pidana.

Upacara selesai, semua barisan dibubarkan. Para anak pidana berlarian untuk masuk ke kamar sekadar beristirahat dan sarapan, mungkin energy mereka terkuras dengan upacara bendera yang disinari oleh terik matahari. Kami pun mulai bersitirahat dan berbincang dengan beberapa petugas. Beberapa menit setelah itu kami melihat ada tiga orang anak yang sudah berpakaian rapi namun sederhana.  Tampak di wajahnya gugup bercampur senang. Ternyata mereka adalah anak pidana yang bebas.

Kami ketika itu langsung bertanya pada mereka, kemana mereka akan pergi. Ada yang mengatakan ingin pulang ke kampong halaman, ada pula yang kebingungan harus melakukan apa. Tidak ada orang tua atau pihak keluarga yang menjemputnya, ketika kami menanyakan mengapa, merekapun menjawab merasa “dibuang” oleh keluarganya karena selama berada di Lapas, mereka tidak pernah dijenguk oleh orang tua mereka.

Kekhawatiran itu berlanjut ketika mereka merasa ketakutan akan penerimaan lingkungan sekitarnya ketika mereka sudah keluar dari jeruji besi. Padahal kami meyakini bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bukan murni kesalahan mereka, tetapi kurangnya pengawasan orang tua dan lingkungan yang menyebabkan mereka seperti itu. Namun dibalik ke khawatiran mereka, kami melihat ada optimisme dalam jiwa mereka. optimisme dalam bermasyarakat. Ada yang ingin buka usaha service handphone, ada juga yang ingin meneruskan sekolah dan ingin melanjutkan cita-cita mereka. Yang paling penting adalah Kemerdekaan bagi mereka dapat menghirup udara bebas dan melakukan aktifitas masyarakat seperti layaknya orang normal. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari mereka.

443

Hari ini, tepat 71 tahun bangsa kita tercinta ini merdeka. Untuk itu, saya ucapkan, “Dirgahayu Republik Indonesia ke 71 Tahun.” Tulisan ini, bukan dibuat oleh pemuda yang memiliki nasionalis tinggi. Ini hanya curahan pemuda sederhana yang ingin selalu belajar dari orang-orang yang bisa bersinergi tanpa sikap meremehkan dan hanya bisa  berkomentar, dalam suatu wadah komunitas yang bernama TurunTangan Jakarta.

Keresahan itu dimulai seusai saya mengikuti Pelatihan dari Yayasan TurunTangan pada 28-31 Juli lalu. Saat itu, kami, perwakilan TurunTangan dari 14 daerah merumuskan kegiatan untuk menyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus secara serentak dengan format kegiatan yang berbeda di masing-masing daerah. Tercetuslah beberapa syarat: bekerja sama dengan pihak eksternal, mengangkat tokoh lokal daerah yang belum banyak dikenal masyarakat, atau membuat forum diskusi dengan para veteran.

Optimis pun muncul dari setiap daerah menyambut ide ini. Berbeda dengan saya, yang justru merasa khawatir. Faktanya, disaat saya bergabung TurunTangan Jakarta, belum terlihat antusias para relawannya untuk bekerja sama dalam mempersiapkan kegiatan. Sebab, saya bergabung dengan TurunTangan Jakarta selepas momentum untuk mendukung Pak Anies Baswedan kala itu. Dan, terlihat jelas kondisinya di Jakarta waktu itu, hanya sedikit yang bertahan dengan TurunTangan Jakarta. Aktif dan muncul hanya jika ada berita yang menjadi most popular di kalangan masyarakat, dan kabar terbaru tentang Pak Anies.

Kembali ke acara TurunTangan 17-an. Di sisi lain saya memang khawatir dan pesimis, di sisi lain pula, sangat tidak mungkin saya menolak untuk melaksanakan kegiatan ini. Selalu teringat tagline TurunTangan: pejuang bukan? Hadapi! Jika sudah mendengar kata ini, nilai optimis pun selalu bisa diamini dalam hati setiap relawan TurunTangan.

Singkat cerita, saya mencoba optimis. Saya kumpulkan beberapa relawan lama yang (menurut saya) masih peduli dengan komunitas TurunTangan Jakarta. Tujuannya untuk menceritakan apa yang saya dapat saat pelatihan waktu itu dan membahas kegiatan TurunTangan 17-an.

Waktu pertemuan, ada beberapa ide kegiatan yang dilontarkan dari beberapa relawan. Bahkan, ada yang mengusulkan untuk upacara di Cilincing dengan para nelayan. Terdengar keren, kalau saja bisa terlaksana. Tapi, saya pribadi tidak cukup yakin dengan ide tersebut. Sebab, saat ini relawan komunitas TurunTangan Jakarta ibarat bayi dari kelahiran generasi kedua. Saya sebut bayi karena jumlah sumber daya relawan TurunTangan Jakarta sebetulnya banyak. Tapi, hanya antusias dengan kegiatan project masing-masing.

Akhirnya saya dan Anindya Destri, yang waktu itu mengikuti pelatihan dari Yayasan TurunTangan, memilih ide untuk memberikan pelatihan bagi relawan yang sudah tergabung dalam beberapa project TurunTangan Jakarta. Yang harapannya, bisa mengenalkan TurunTangan Jakarta lebih jauh dan bisa berpartisipasi dalam TurunTangan 17-an yang masih belum jelas kabarnya hingga tiga hari menjelang pelaksanaan kegiatan. Sementara itu 13 daerah lainya sudah saling memberi informasi untuk menyambut 17 Agustus tahun ini.

Usaha memang tidak menghianati hasil. Sekecil apapun hasilnya, adalah buah dari kerja keras. Alhamdulillah, setelah pelatihan yang saya adakan tanggal 14 Agustus kemarin, ada beberapa relawan yang bersedia untuk ikut serta. Kabar baiknya Sekolah Kolong Pelangi mau berkolaborasi dengan TurunTangan Jakarta. Walaupun dengan format kegiatan yang sederhana, tapi ini akan menjadi cerita pengalaman yang membekas bagi teman-teman relawan yang ikut berpartisipasi.

Saya juga senang melihat antusias adik-adik Sekolah Kolong Pelangi. Secara pribadi, ini tentu menjadi pengalaman berbeda dari perayaan 17an yang sudah saya lewati selama ini. Dan tentunya, saya berterima kasih kepada temen-temen relawan yang telah hadir pada kegiatan hari ini. Itu berarti banyak buat saya, karena kalian tidak membiarkan saya berjuang sendiri.

Kepada teman-teman relawan TurunTangan Jakarta, yuk kita bimbing bayi generasi kedua ini, agar dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya dan selalu bisa bergandengan.

Mari bersama-sama meraih pengalaman baru yang tak dapat dinilai oleh rupiah.

Pejuang, bukan?

Hadapi!

Salam,

Fauzan Martak

460

Gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dirasakan di seluruh penjuru tanah air. Aneka kegiatan digelar untuk merayakan HUT Republik Indonesia yang ke-71 ini, seperti upacara bendera dan perlombaan. Tak terkecuali dengan TurunTangan yang didominasi anak muda ini. Mereka membuat kegiatan TurunTangan17-an dengan melakukan upacara bendera serentak di 14 kota.

TurunTangan adalah gerakan kerelewanan yang bertujuan mendorong masyarakat peduli dan terlibat aktif untuk mewujudkan Indonesia yang penuh dengan pemimpin-pemimpin bersih dan berkompeten. Gerakan ini tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah relawannya lebih dari 50 ribu orang.

“Kami mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan melakukan upacara bendera di 14 kota, yaitu, Aceh, Lhokseumawe, Medan, Palembang, Pekanbaru, Banten, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Banjarmasin, Kendari, dan Ambon,” kata Kepala Hubungan Masyarakat TurunTangan Angga Putra Fidrian, Kamis (17/08).

Tak hanya upacara bendera, berbagai perlombaan, diskusi dan kegiatan sosial juga dilakukan setelah pelaksanaan upacara bendera. Di Medan misalnya, relawan TurunTangan Medan melakukan bersih-bersih, lomba membawa kelereng, dan mendongeng di Kampung Mesjid Bengkok Medan. Sementara TurunTangan Palembang mengadakan perlombaan di Panti Sosial Bina Anak dan Remaja Palembang. Aneka perlombaan juga digelar oleh TurunTangan Banten, Surabaya, Yogyakarta, Kendari, dan Ambon. Sedangkan TurunTangan Banjarmasin memilih berdiskusi dengan Forum Komunikasi Komunitas Kota Banjarmasin.

Seluruh relawan TurunTangan di semua daerah melaksanakan kegiatan dengan penuh semangat dan suka cita. Seperti yang diungkapkan oleh Koordinator TurunTangan Lhokseumawe Heru Tesar, “TurunTangan17-an membuat saya sadar dan yakin bahwa Indonesia masih punya harapan untuk bangkit menjadi bangsa yang besar. Tak hanya semangat kebersamaan tetapi lebih dari perjuangan pemuda menuju perubahan Indonesia menuju kejayaan.”

375

Bangsa ini  sesungguhnya dibangun atas imajinasi. Tak  ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa puluhan ribu pulau dengan beragam suku dan bahasa bisa menyatu di bawah sebuah bendera yang sama.

Namun tak hanya berhenti berangan-angan, imajinasi itu tak kenal henti untuk diperjuangkan. Perang fisik yang semula bersifat kedaerahan digantikan dengan perang gagasan. Kemudian kita tahu para pemimpin besar politik pergerakan mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan.

Dan kini setelah 71 tahun usai masa revolusi, kami, sekumpulan anak muda kembali berimajinasi. Kami bermimpi agar politik dimaknai kembali sebagai arena perjuangan terhormat di mana orang-orang di dalamnya berjiwa dan berperilaku negarawan.

Kelas Negarawan Muda (KNM) diinisiasi sebagai edukasi politik melalui pelajaran kewarganegaraan dengan cara yang lebih asyik : diskusi, bedah film, simulasi demonstrasi, kunjungan tokoh dan sebagainya.

Kami menikmati setiap proses di KNM sembari terus menanamkan nilai-nilai karakter negarawan dalam diri kami. Belajar berpikir terbuka melalui diskusi rutin yang kami lakukan setiap rabu dan menumbuhkan nasionalisme dalam diri dengan membahas tokoh-tokoh negarawan. Tak ketinggalan, semangat kerelawanan mengajarkan kami pentingnya berintegritas.

Dalam proses ini pula, semangat optimis kami muncul. Kami percaya, bangsa ini akan (kembali) dipimpin oleh negarawan yang cinta pada tanah tempat kelahirannya.

Belum lama upaya yang kami jalankan, belum besar dampak yang mereka hasilkan. Namun kami akan tetap bertahan. Karena sudah terlalu banyak orang yang menginginkan perubahan, tapi terlalu sedikit yang mau memulainya.

Dirgahayu Ke-71 Republik Indonesia!

398

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memaknai Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. Gerakan TurunTangan memaknainya dengan membuat video #TurunTangan17an Melunasi Janji Kemerdekaan, https://www.youtube.com/watch?v=wbcrVoIaRVg.

Dalam video youtube TurunTangan yang berdurasi 1 menit 20 detik itu dijelaskan Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun. Itu berkat perjuangan para pahlawan yang telah iuran kemerdekaan yakni iuran tenaga, pikiran nyawa dan darah.

Indonesia hadir dengan janji melunasi kemerdekaan. Untuk itu, pemuda harus tetap bergerak, tak hanya sekedar melakukan demonstrasi tanpa arti. Tetapi turun tangan dengan menyelesaikan masalah-masalah di sekitarnya.

Ada tiga cara untuk melunasi janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap bangsa Indonesia, menjaga ketertiban dunia, dan memajukan kesejahteraan umum.

Dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, pemuda bisa mengajar di sekolah marjinal, menumbuhkan minat baca anak-anak dengan mendirikan rumah baca dan mendongeng. Untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, pemuda bisa melakukannya dengan taat pada lalu lintas dan menjaga keamanan lingkungan sekitar. Berpartisipasi dalam menjaga ketertiban dunia, pemuda bisa menjaga lingkungannya dengan membuang sampah pada tempatnya. Sementara memajukan kesejahteraan umum, pemuda dapat mengadakan kegiatan sosial, mengatasi kemacetan dengan membuat aplikasi, ikut dalam membangun infrastruktur dan lain-lain.

Selain membuat video, TurunTangan juga mengadakan upacara bendera. Kegiatan upacara dilaksanakan di 14 daerah yaitu Aceh, Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Palembang, Banten, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Malang, Surabaya, Kendari dan Ambon. Tak hanya upacara, beberapa daerah juga mengadakan aneka perlombaan, diskusi, dan kegiatan sosial. Seluruh informasi dirangkum dalam website http://turuntangan.xyz/, sehingga memudahkan masyarakat untuk ikut bergabung dengan kegiatan sesuai daerahnya masing-masing.

Kepala Hubungan Masyarakat TurunTangan Angga Putra Fidrian mengatakan tujuan TurunTangan 17-an ini untuk mengajak masyarakat bersama-sama melakukan upacara bendera. “Tergerak upacara dan bergerak melunasi janji kemerdekaan,” katanya.

 

 

 

451

Mengusut tema “Gotong Royong”, TT Surabaya mengadakan kegiatan Upacara 17an dengan mengundang 70 orang adik-adik Rumah Belajar yang tinggal di stren kali Jagir, sebuah wilayah pinggiran kali yang letaknya dekat dengan daerah prostitusi. Mayoritas anak-anak ini tidak bersekolah formal, tidak merasakan kegiatan di sekolah pada umumnya seperti upacara bendera. Selain itu, mereka kekurangan lahan bermain terbuka. Maka teman-teman mengadakan lomba-lomba kolektif ala 17an (sepak bola grup, memecahkan balon berdua, memasukkan paku ke botol dalam grup, dll).

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]