Home Profil Relawan
Profil relawan TurunTangan

73

Bagi yang mengikuti Gathering Nasional (Gathnas) TurunTangan 2017 di Banjarmasin, pasti tak asing dengan perempuan satu ini. Dia adalah Latifah Hanim Lubis, koordinator TurunTangan Binjai yang sempat mendapatkan gelar Galuh di Gathnas TurunTangan 2017 lalu.

Siapa sangka di balik tingkahnya yang konyol, Hanim – begitu ia disapa – adalah pendiri gerakan TurunTangan Binjai. Keprihatinannya terhadap anak-anak muda Binjai yang dinilainya pasif, membuatnya tergerak untuk mendirikan TurunTangan Binjai pada 28 Oktober 2016. Hanim menilai TurunTangan adalah gerakan positif, baik, dan tempat untuk mengajak orang banyak terlibat aktif dalam sebuah perubahan.

Sebelum di gerakan TurunTangan, Hanim sudah berkecimpung di kegiatan sosial. Kurang lebih 12 tahun lamanya. Ia sangat concern dengan masalah pendidikan, kesehatan dan perempuan. Maka, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Binjai sangat gencar melakukan edukasi deteksi dini penyakit kanker serta pelatihan menggosok gigi dan cuci tangan yang baik. Di pendidikan, TurunTangan Binjai pernah melaksanakan kegiatan Passioniversity yaitu kelas untuk membangun minat dan bakat anak-anak serta pernah menggelar Pagelaran Seni (Peran) Binjai 2017.

Hanim juga pernah menggagas project Creative Women yaitu pelatihan bagi perempuan untuk menjadi ibu hebat bagi anak-anaknya. “Pelatihan ini, sebelumnya diperuntukkan bagi ibu-ibu kelurahan dan sekarang beranjak ke ibu-ibu wali murid di salah satu SD,” ujar perempuan yang saat ini memiliki kesibukan menjadi seorang istri dan mengelola panti rehabilitasi narkoba di bawah Kementrian Sosial (Kemensos).

Untuk project yang dijalankan di sekolah tersebut telah di jalankan pada awal tahun ajaran baru 2018. Para relawan memberikan pemahaman kepada orang tua murid tentang pola asuh yang sesuai dengan fase perkembangan setiap anak. Selain itu, project  ini juga memberikan metode komunikasi kreatif yang bisa dibangun dalam keluarga dan membangun kreativitas entrepreneur buat si ibu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mandiri.

Hanim menjelaskan alasannya kenapa sekolah yang dipilih. Menurutnya jika pelaksanaanya dilakukan di sekolah dapat memudahkan mereka dalam menghimpun orang tua melalui komunitas komite sekolah. Dengan adanya kekuatan instruksi arahan dari Kepala Sekolah, memudahkan dalam mengundang ibu-ibu wali murid untuk hadir dan berkumpul. “Project ini kedepannya akan menjadi program sekolah yang berkelanjutan,” katanya.

Di Hari Kartini ini, Hanim berpesan kepada semua perempuan Indonesia untuk menyudahi sikap ‘powerless’ atas label ketidakberdayaan gender perempuan, karena perempuan enggak melulu soal lemah hati namun sudah saatnya berkarya!

85

Rizka Amalia Shofa, perempuan kelahiran 25 September 1993 ini telah bergabung dengan TurunTangan sejak akhir 2013. Pertama kali Rizka aktif di TurunTangan Yogyakarta dan saat ini aktif di tataran nasional.

Tentu saja, Rizka telah menjadi saksi sejarah bagaimana gerakan TurunTangan hidup dari fase ke fase. Melewati berbagai dinamika TurunTangan yang kadang naik turun. Namun, ia tak pernah berhenti karena meyakini TurunTangan bukanlah sekadar program, tetapi riil pergerakan yang akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di gerakan TurunTangan, Rizka pernah terlibat dalam project sosial dan edukasi politik seperti reresik pantai, ngonthel tombo tresno, Diskusi Asyik Sosial dan Politik (Diskotik) dan Gerakan Sarapan Pagi (GSP).

Setelah menyelesaikan pendidikan magister manajemen dan kebijakan pendidikan islam di Universitas Islam Negeri Kalijaga Yogyakarta, Rizka menggagas ide buku Kolabora(k)si. Buku tersebut menceritakan 13 relawan TurunTangan dari berbagai daerah. Mereka menemukan nilai-nilai kebaikan di gerakan ini yang kemudian mengubah hidupnya masing-masing. “Ada hal yang ditemukan ketika menjadi relawan, dan hal itu mendarah daging sampai sekarang. Nah, dengan buku Kolabora(k)si ini kami ingin berbagi bagaimana kami menemukan nilai-nilai itu. Dan bagaimana nilai-nilai itu masih terpakai sampai sekarang,” ujar penulis novel Hot Chocolate dan Mooncake ini.

Rizka berharap siapapun yang membaca buku tersebut, tak hanya terinspirasi tapi juga menemukan tumpukan semangat untuk terus bergerak. Bukan hanya untuk relawan TurunTangan saja, tetapi relawan di gerakan apapun dan di mana pun, yang sering merasa bergerak di jalan yang sepi. Merasa sendirian. “Enggak kok, Guys. Sebetulnya kita sedang gerak ramai-ramai untuk negeri yang kita pijak hari ini. Jangan berhenti, ya!,” pesannya yang kini juga sibuk menjalani profesi sebagai Pembicara Publik.

Rizka adalah gambaran perempuan Indonesia yang kini telah setara dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama untuk berkontribusi. Perempuan menjadi penentu sebesar apa kontribusi rakyat kepada bangsanya. Sebab, perempuan merupakan ‘sekolah’ pertama bagi anaknya. “Kalau mau menumbuhkan generasi penerus yang kontributif, perempuan harus mau ikut berkontribusi. Bagaimana bisa punya anak powerful dan kontributif kalau ibunya hanya diam saja. Jadi mari berkontribusi,” katanya.

101

Keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di daerah tempat tinggalnya yang terjerat narkoba, tawuran dan free sex , menggerakkan Fenty Asnath mendirikan Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw). Berbekal ilmu yang ia dapat ketika mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, Fenty memulai misinya menjauhkan anak-anak dari aktivitas negatif tersebut dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih positif.

“Aku pernah aktif di Rumah Belajar di daerah Kalibata. Setiap hendak ke sana, anak-anak di sekitar rumah menyapaku. Mereka hanya sibuk bermain. Aku bertanya pada diri sendiri, apa ini adil? Aku kontribusi di tempat lain padahal anak-anak di sini perlu dibantu,” papar perempuan berdarah Ambon yang resmi menjadi relawan TurunTangan pada 2014 ini.

Suatu hari Fenty membaca informasi program Muda Membangun di laman TurunTangan.org. Ia kemudan tertarik dan menyampaikan idenya mendirikan rumah belajar bagi anak-anak Rawamangun. Kala itu, Darul Syahdanul sebagai project leader Muda Membangun menyarankan Fenty berbicara kepada ketua RT, RW dan warga. Ternyata mereka mendukung niat baik ini, bahkan memberikan tempat untuk kegiatan belajar mengajar Rumbelraw.

Rumah belajar yang terletak di Gang Pemuda 3A, Rawamangun, Jakarta Timur itu, kini telah berusia empat tahun. Bahkan telah memiliki puluhan relawan pengajar dan ratusan murid yang menorehkan prestasi. Dua bulan lalu, anak-anak Rumbelraw memborong piala pada perlombaan yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Deputi Bidang Perlindungan Anak bekerja sama dengan USDOJ/ICITAP Indonesia pada kegiatan “Perlindungan Anak dan Masalah Sosial”.

Fenty telah memberikan contoh, lewat impian yang sederhana, perempuan bisa menyalakan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Untuk itu, ia berpesan kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk terus bermimpi, belajar dan bertanggung jawab sehingga bisa melahirkan generasi Indonesia yang hebat.

294

Perkembangan teknologi yang terus melesat, tidak menjamin mempengaruhi budaya masyarakat secara keseluruhan. Walau budaya sifatnya dinamis, masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya di daerahnya masing-masing. Salah satunya Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Di Provinsi Banten yang tak jauh dari ibukota, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki jamban. Mereka memilih BAB di sungai dan kebun secara turun temurun. Menyadari BAB sembarangan akan berdampak pada kesehatan, Aina Fisabila membuat EMCEKAQU, program yang fokus pada pemberantasan pembuangan air besar di area terbuka di Banten.

Aina – begitu ia akrab disapa – merupakan relawan Gerakan Banten Mengajar (GBM) bacth 1. GBM sendiri adalah salah satu project TurunTangan Banten yang mengajak semua pihak untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Banten. Relawan pengajar yang lolos seleksi ditempatkan di Desa Lebak dan Pandeglang selama dua minggu. Di tahun 2015, Aina mendapatkan tugas untuk mengajar di Desa Cibitung, Pandeglang. Saat penempatan, Aina menginap di salah satu rumah warga yang tidak memiliki jamban. Untuk buar air kecil dan BAB, Aina terpaksa menumpang di puskesmas yang lokasinya cukup jauh dari rumah tersebut.

Setelah mengajar, Aina bersama relawan GBM lainnya melakukan assesment dari rumah ke rumah. Betapa terkejutnya, Aina mendapatkan fakta, tidak ada satupun masyarakat di desa tersebut yang memiliki jamban. Sejak dulu, masyarakat BAB sembarangan di sungai dan kebun. “Alasan warga tidak punya jamban karena berpenghasilan rendah,” ujar mahasiswa keperawatan Universitas Indonesia ini.

Di Cibitung, masyarakat tinggal di rumah-rumah panggung. Dengan penghasilan perharinya, rata-rata Rp50.000. Meskipun begitu, warga mampu memenuhi kebutuhan tersiernya seperti kendaraan bermotor, handphone, televisi, dan parabola. Pemerintah juga pernah membangunkan toilet umum. Namun hanya bertahan dua tahun, setelah itu tidak pernah terpakai lagi. “Kesimpulannya bukan karena penghasilan rendah dan tidak ada fasilitas, tapi karena kebiasaan,” katanya.

Sejak saat itu, Aina berpikir untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Penting bagi mereka memiliki jamban karena BAB sembarangan bisa menimbulkan berbagai penyakit, khususnya diare, penyakit pembunuh nomor satu pada anak-anak. Aina juga membaca-baca informasi dan jurnal di internet, ia mendapatkan fakta bahwa  Indonesia berada diurutan kedua setelah India sebagai negara yang memiliki sanitasi buruk.

Dia kemudian mendapatkan ide untuk membuat EMCEKAQU. Program ini bergerak untuk membangun sanitasi dan kebersihan di daerah terpencil yang belum memiliki MCK, khususnya di Banten. “Gerakan ini akan fokus pada sosial dan edukasi. Jadi harapannya nanti warga punya keinginan memiliki jamban dari diri mereka sendiri,” kata Aina yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan kampus ini, seperti project officer Istana Belajar Anak Banten dan Wakil Kepala Departemen Kajian Aksi dan Strategis BEM FIK UI.

Program ini sudah berjalan selama satu tahun. Aina dibantu oleh empat temannya yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatannya mereka menggunakan modul pemerintah yaitu sanitasi total berbasis masyarakat dengan datang  langsung berbicara pada masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Serta datang ke forum-forum kecil seperti majelis taklim, arisan, pengajian dan posyandu. Setelah masuk ke forum-forum kecil baru mengadakan pertemuan desa. “Kami pernah menggunakan teknik pemicuan. Masyarakat dikumpulkan di lapangan, lalu ada simulasi. Dari situ mereka sadar telah menumpuk kotoran  mereka di sekitar rumahnya,” tuturnya.

Selama satu tahun, Aina merasa, program ini belum terlihat impact-nya. Tapi setidaknya sudah ada satu warga yang membuat cubluk, sebuah lubang untuk buang air kecil dan BAB dengan kedalaman dua meter. “Cubluk adalah alat untuk melokalisasi BAB. Warga bisa BAB di sana dan tak ke mana-mana,” katanya.

Selain itu, setelah adanya Gerakan EMCEKAQU, masyarakat punya kesadaran mempunyai air bersih. Sebelumnya dari 50 kepala keluarga (kk) hanya lima pompa air sendiri menjadi 12 kk yang memiliki pompa air.

Aina dan tim pernah menyempatkan melakukan brainstorming dan observasi potensi desa tersebut. Hasilnya, mereka menemukan para ibu-ibu suka sekali membuat rengginang. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk memfasilitasi para ibu-ibu untuk memproduksi rengginang dan membantu menjualnya. Hasil penjualan rengginang ditabung untuk membuat jamban. “Kita tak hanya menyuruh tapi membantu fasilitasi. Dananya digunakan untuk membuat jamban,” katanya.

Berkat EMCEKAQU, Aina mendapatkan banyak penghargaan. Program ini diikutsertakan pada berbagai ajang perlombaan, konferensi dan beasiswa. EMCEKAQU pernah mendapatkan anugerah tiga besar best social project oleh Indonesia Filantropis di Indonesia Filantropis Festival, hibah kewirausahaan mahasiswa dari Universitas Indonesia, juara tiga dari Ayamin Plus-Nama Foundation, diikutsertakan pada ASEAN Youth Iniciative Conference, dan menjadi delegasi local leader pada forum Indonesia lokal muda. Aina juga menjadi Duta Sanitasi Internasional perwakilan Indonesia satu-satunya di Belgia pada 17 November lalu. Dia bersama pemuda-pemudi dari sembilan negara di antaranya Rwanda, Pakistan, Uganda, Kenya, Nigeria, El Salvador, India, Peru dan Guetamala mempersentasikan project-nya, mengikuti workshop peningkatan sanitasi, community engagement, dan social enterprise.

Menutup wawancara, Aina berharap melalui program EMCEKAQU bisa membuat Indonesia bebas BAB sembarang di tahun 2030. Serta makin banyak anak muda yang fokus di bidang sanitas dan air bersih. “Saat ini mayoritas anak muda fokus di bidang pendidikan. Sedikit sekali anak muda yang terlibat di sanitasi, padahal sanitasi dan air bersih itu penting dan masuk SDGs,” tutupnya.

 

436

Mengabdikan diri untuk masyarakat tidak hanya soal membantu individu di dalamnya keluar dari masalah. Namun juga soal mempersiapkan amunisi untuk membangun negeri. Inilah yang ada dalam benak Agung Hardi, relawan penggerak aktif di project lingkungan ‘Bangun Jakarta’. Agung dan idealismenya yakin, bahwa untuk menjadikan Indonesia bangsa yang kuat, sektor agrarisnya perlu diperbaiki.

Makanan bukan hanya soal rasa, namun juga Indonesia

Kemampuan memimpin Agung sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. Agung dipercaya untuk menjadi ketua Karang Taruna di lingkungan tempat tinggalnya, Lenteng Agung. Pecinta buku-buku sosialis ini juga gemar memasak, bahkan ia bertekad untuk serius dalam bidang tata boga dengan masuk SMK di jurusan yang sama.

Belajar soal lika-liku makanan dan proses pembuatannya membuka mata Agung tentang Indonesia. Lewat makanan, Agung tahu bahwa citarasa nusantara begitu mewah. Ya, makanan Indonesia begitu kaya akan rasa dan sejarah. Agung menjelaskan hubungan antara memasak dan mencintai Indonesia. “Dengan memasak, kita belajar proses. Mengolah bahan baku, jenis bahan baku, asal bahan baku itu dari mana…  Sebagai warga negara Indonesia, kita jadi tahu Andaliman (sejenis cabai) dari Medan, di Maluku itu penghasil merica, orang Papua itu unik karena makanan pokoknya sagu. Ketika kita mengolah bahan baku, kita akan tahu budaya asli daerah tersebut. Pulau Jawa terkenal dengan makanan manis, Pulau Sumatera kaya akan rempah. Esensi dalam satu piring itu beragam, membuka wawasan,” tukasnya bersemangat.

Jangan manja, mulai mandiri pangan!

Agung sadar akan kekayaan Indonesia ini saat ia mengikuti seminar di mana pembicara tersebut seorang petani. Pelajaran yang Agung dapat banyak, bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang kuat bila rakyatnya memiliki ketahanan pangan.

“Kenapa Cina dan Korea bisa hits banget sekarang? Jawabannya simpel: ketahanan pangan! Indonesia bukan negara hi-tech, nenek moyang kita telah mewariskan budaya agraris. Kenapa tidak kita teruskan?”

Agung menjelaskan ia menjadi relawan aktif di Bangun Jakarta karena visinya sama: mewujudkan ketahanan pangan. Baginya, inilah yang mahal. Contohnya, Jakarta masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan karena sumber daya manusianya fokus pada okupasi lain, jarang ada yang sadar pentingnya menanam.

“Jika kita terus-terusan mengandalkan pemerintah dari impor pangan, kita hanya akan menjadi bangsa yang manja. Padahal, nenek moyang kita mewariskan budaya agraris dan maritim. Urban farming setidaknya memberikan life skill untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ketahanan pangan jelas menjadi indikator terpenting.”

Agung ingin ada perubahan di masyarakat, di mana masyarakat menjadi sadar akan pentingnya menanam di kota. “Saya paling takut ketika rakyat miskin diperbudak untuk kerja keras hanya untuk makan. Harga pangan tinggi, kita disuruh kerja dalam keadaan seperti itu. Padahal solusinya itu ya… Menanam!”

“Kalau mau kita maju, yuk kita mandiri di segala macam hal. Misalnya mandiri pangan, menanam sendiri. Harapan kedepan kita jangan naif, jujur aja kalau ada masalah disekitar kita dan jangan bergantung sama pemerintah. Kita bisa kerjain sendiri kok, ini esensi dari turun tangan bukan?” tegasnya.

 

422

Kabar Relawan edisi lalu mendapat pujian dari pembaca. “Design Kabar Relawannya bagus”, begitu kata mereka. Media Sosial TurunTangan pun tak luput dari komentar positif. Sejumlah poster dan video dengan karakter kartun lucu dan unik meramaikan facebook, instagram, line, dan youtube TurunTangan akhir-akhir ini. Ratusan akun juga memberikan like lantaran poster dan video yang diunggah itu dinilai kreatif dan menggugah.

“Majalahnya bagus. Tapi layout-nya masih belum nyaman dibaca,” ujar Muhammad Arkan Risadian, di Rumah Relawan TurunTangan, Jalan Aup Barat 2 No. 24 Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/8). Sambil membaca e-magazine karya salah satu komunitas di Indonesia, designer muda lulusan International Design School (IDS) Jakarta itu berceloteh lagi, “Layout majalah yang bagus itu yang ada tempat buat mata istirahat. Enggak banyak teks dan gambar maksudnya. Ini ramai sekali.”

Arkan – panggilan akrabnya – adalah orang di balik cerita sukses Kabar Relawan dan media sosial itu. Dia baru dua bulan bergabung dengan TurunTangan, tapi karyanya tak dapat diragukan. Hari itu dia mendapat tugas me-layout Kabar Relawan edisi Agustus. Seniornya di divisi Hubungan Masyarakat menyodorkan e-magazine sebagai contoh. Alih-alih agar Arkan terinspirasi, ternyata design-nya tak cukup baik untuk ditiru.

“Saya sok tahu saja sih. Karena baru pertama kali layout majalah di TurunTangan,” kata Arkan tertawa – merendah. “Kemarin sebelum me-layout observasi dulu sama Kabar Relawan yang sebelumnya. Kok enggak enak dibaca ya? Ternyata banyak teksnya, persis seperti e-magazine tadi.”

Dua jam sebelum itu, Arkan baru saja mempersentasikan video animasi #turuntangan17an kepada pengurus TurunTangan pusat. Video itu berdurasi 1 menit 90 detik dan mengajak generasi muda memaknai kemerdekaan dengan cara melunasi janji kemerdekaan. Tepuk tangan dan sorak sorai membuat ruang 3 x 4 meter itu terdengar gaduh. Mereka terpukau dan senang. “TurunTangan bangkit lagi,” celetuk salah satu pengurus.

Di IDS, pria kelahiran Yogyakarta, 28 november 1993 ini mengambil jurusan Digital Animation. Wajar jika mayoritas karyanya berupa kartun dengan karakter yang sangat khas. Tokoh-tokoh kartun seperti Batman, Dragon Ball, Doraemon, Power Rangers dan Scoobydoo adalah inspirasinya selama ini. “Kartun sewaktu kecil saya tonton semua. Malah saya punya koleksi komik Dragon Ball lengkap di rumah.”

Sejak kecil, Arkan suka menggambar. Hobi itu menjadi cara untuk menyalurkan ekspresi dan pendapat. “Alasan masuk Digital Animation simpel. Ingin karakter yang saya buat bisa gerak.”

Setelah lulus, ia kemudian bekerja di perusahaan televisi swasta. Merasa jenuh ia memutuskan resign dan menerima tawaran bekerja di TurunTangan. Menurutnya ada perbedaan bekerja di perusahaan dan organisasi masyarakat. Bekerja di organisasi lebih merdeka ketika berkarya dibanding perusahaan yang biasanya sudah ada rule-nya. “Di sini (TurunTangan) diberi kesempatan dan dukungan kalau membuat sesuatu, contohnya video animasi tadi.”

Dengan keterampilan dan minat yang dimiliki, Arkan ingin membuat TurunTangan menjadi bank ide bagi anak-anak muda di Indonesia untuk memecahkan masalah di daerahnya. Caranya dengan mengemas TurunTangan menarik secara visual dan konten. “Harapan awal kalau saya ditanya kerja di mana dan saya jawab TurunTangan, orang langsung respon “Oooh… Yang menginisiasi project keren-keren itu ya?” tutupnya.

 

375

Di Indonesia, menjadi relawan bagai sebuah trend beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang yang mulai menyadari bahwa permasalahan yang ada di Indonesia itu milik setiap warga negara, di mana setiap orang bisa menjadi bagian dari solusi. Cara mereka terlibat untuk menemukan solusi tersebut adalah dengan menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial. Seperti halnya dilakukan A. Ramdani (43), Kepala Sekolah SDIT Citra Nuansa Cileungsi yang aktif di TurunTangan Jakarta.

Ayah empat anak itu telah memberi inspirasi kepada anak muda. Dengan segala kesibukannya menjadi kepala keluarga dan pimpinan sekolah, ia masih mau membagi waktunya untuk kegiatan sosial.

Ramdani tentu tidak dibayar. Dia adalah relawan nol rupiah yang layak disebut ‘pahlawan’ masa kini. Entah sudah berapa kali ia terjun ke masyarakat. Bahkan pernah jauh-jauh pergi ke Majane, Sulawesi Barat, untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru di daerah tersebut. “Tahun 2015 saya ikut RUBI (Ruang Berbagi Ilmu Indonesia Mengajar) di Majene,” ungkapnya usai mengikuti pelatihan relawan TurunTangan Jakarta di Rumah Relawan TurunTangan, Minggu (14/8).

Di kalangan relawan, Ramdani dikenal sebagai sosok orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seringkali bertanya meskipun banyak pengalaman dan wawasan yang dimiliki. “Awalnya ingin belajar, lama-kelamaan keluar fakta-fakta yang tidak kami tahu,” ujar Herry Dharmawan, penggagas salah satu project TurunTangan Jakarta, Kelas Negarawan Muda (KNM).

Tidak bisa melanjutkan kuliah usai menamatkan pendidikannya di pondok pesantren, membuat Ramdani menjadi pembelajar seumur hidup. Baginya, belajar dilakukan di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Entah dengan membaca buku, ikut organisasi, hadir di seminar-seminar gratis, sampai ikut pengajian.

Sejak kecil Ramdani senang membaca buku. Saat SD, ia sering pergi ke Pasar Senen untuk mencari buku, majalah, dan koran bekas untuk dibaca. Ketika SMA, ia menjadi pengurus organisasi di bidang komunikasi, tugasnya menyampaikan informasi melalui sound system dan majalah dinding. Ini membuat bahasa Arab dan Inggris Ramdani terasah, sekaligus ia juga mendapatkan ilmu baru ketika membuat mading.

Lulus dari pesantren, ia tidak bisa melanjutkan kuliah lantaran tak ada biaya. Namun semangat untuk belajar tak pernah padam. Untuk menggantikan rasa ingin kuliah dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar gratis dan pengajian. “Untuk mengerti sesuatu enggak harus kuliah. Misalnya punya passion, sekedar ingin tahu dan mendalami bisa belajar dari seminar-seminar,” katanya.

Ramdani bergabung dengan TurunTangan Jakarta sejak akhir 2014. Setelah itu bergabung dengan KNM, project ini bermanfaat untuk mendukung proses belajar mengajar PPKn di sekolah yang ia pimpin. “Yang namanya guru itu harus belajar. Apa yang saya dapat di TurunTangan dan KNM selalu saya bagikan ke para guru di sekolah,” ujar orang yang sudah 25 tahun menjadi pendidik ini.

Prinsip belajar bagi Ramdani adalah bisa menggali ilmu di mana saja dan tidak dibatasi. Semua sudah tersedia di alam. Tuhan memberikan kelebihan pada tiap-tiap makhluk hidup. Semua saling bersinergi dan memberi manfaat satu sama lain. “Belajar bisa dari siapa pun. Di TurunTangan misalnya, saya bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Ada dari teknik, ekonomi dan lain-lain. Saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari mereka dan itu bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Beberapa kali, ia membawa anak dan istrinya mengikuti kegiatan TurunTangan. Seperti pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional dan rapat kerja KNM. Sebab TurunTangan dinilai sebagai tempat yang berisi kegiatan dan orang-orang positif. “Saya ingin anak-anak dan istri juga bisa belajar sesuatu di TurunTangan,” pungkasnya.

Selain pembelajar, Ramdani juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Selalu datang tepat waktu setiap kegiatan apapun. Pendidikan yang didapat di pesantren untuk menghargai waktu menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang muda-muda ini jadi malu setiap Pak Ram jadi orang pertama di tiap kegiatan,” timpal Herry menutup wawancara.

527

TurunTangan Bandung melakukan Pemilihan Koordinator Umum (Kordum) baru pada 10 sampai 13 Mei lalu. Dua relawan yaitu Hikamul Haq Ridwan dan Ramli Yana maju mencalonkan diri menjadi kordum. Pemilihan kordum dilakukan secara online. Hasilnya Hikamul Haq Ridwan memperoleh 79 suara sedangkan Ramli Yana hanya memperoleh 21 suara.

Sejak 13 Mei sampai setahun kedepan, TurunTangan Bandung resmi dipimpin oleh Hikamul Haq Ridwan. Berikut petikan wawancara dengan Kordum TurunTangan Bandung yang baru tersebut:

Bagaimana perasaanmu ketika terpilih menjadi koordinator?

Senang pastinya. Hampir tujuh bulan, TurunTangan Bandung bergerak tanpa koordinator. Otomatis kegiatan TurunTangan Bandung saat itu sangat sedikit. Kegiatan menghilang, relawanpun ikut menghilang.

Rencana yang disiapkan untuk TurunTangan Bandung setahun kedepan?

Rencana awal, saya akan “blusukan” ke anggota, baik lama maupun baru.  Mendengarkan keluhan dan saran mereka Mengenai TurunTangan Bandung. Dari banyaknya saran dan keluhan, saya merasa TurunTangan Bandung belum memiliki identitas yang memiliki image yang melekat di masyarakat. Oleh karena itu rencananya, saya akan membuat dan menginisiasi project TurunTangan Bandung yang fokus pada impact. Jadi, fokus pada bagaimana dampak kegiatannya, bukan pada apa jenis kegiatannya.

Beberapa project yang sudah berjalan seperti SWARA DPR, JALAN KITA yang bekerja sama dengan RRI, dan KAMANAWE juga perlu adanya inovasi dan kesinambungan agar masyarakat terus aware dengan project kami.

Kapan kamu mulai bergabung dengan TurunTangan?

Saya bergabung dengan TurunTangan pada akhir 2013.

Alasan bergabung saat itu?

Saya melihat Gerakan TurunTangan adalah sekumpulan orang yang tidak hanya berwacana dan mengkritik pemerintah. Mereka turun tangan menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia tulus, tanpa imbalan.

TurunTangan juga wadah orang-orang kreatif, peduli, dan mau bergerak mengurangi masalah di negeri ini. Tidak tunjuk sana, tunjuk sini untuk melakukan perubahan, tetapi dirinya sendiri melakukan perubahan.

Saya terharu ketika melihat video kopaja yang dibuat oleh relawan TurunTangan. Ada quote menarik, “Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam mendiamkan”.

Quote itu saya pegang teguh sampai sekarang. Daripada saya urun angan, lebih baik turun tangan.

Menurut kamu apa arti turun tangan?

Turun tangan adalah saat dimana kita terlibat. Terlibat berarti bukan hanya melihat, tetapi merasakan dan aktif berkontribusi untuk peduli dan ambil bagian dari masalah yang ada di negeri ini.

Apa pesanmu untuk relawan TurunTangan di seluruh Indonesia?

Untuk relawan di seluruh Indonesia, teruslah berjuang melunasi janji kemerdekaan. Fokus pada kegiatan-kegiatan yang berdampak pada masyarakat. Dan teruslah menginspirasi orang lain untuk bersama-sama ikut turun tangan menyelesaikan masalah. Pejuang, bukan? Hadapi!

Biodata

Nama: Hikamul Haq Ridwan

Tempat, tanggal lahir: Cimahi, 11 Juni 1991

Aktivitas: Mahasiswa semester akhir di Univesritas Padjajaran Jurusan Ilmu Komunikasi

Hobi: Membaca

Moto: Almuhafazatul ‘alal Qodimis salih Wal Akhzu bijadidil Aslah. Artinya, memelihara yang baik dari tradisi lama dan mengambil yang lebih baik dari yang baru.

536

Sama seperti Lina, Dini Rahmafathi juga telah berbung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. Alasan bergabung saat itu, ingin mencari kegiatan di luar organisasi kampus. Saat mencari informasi di twitter, wanita yang akrab disapa Dini ini mendapati informasi oprec TurunTangan Malang. Tak menunggu lama, Dini segera mendaftarkan diri.

First impression TurunTangan itu social movement dan enggak nyangka kalau dilatar belakangi tokoh yang saya kagumi, Pak Anies Baswedan. Maka saya tertarik,” ungkapnya.

Beberapa kegiatan TurunTangan Malang yang pernah diikuti yakni Pustaka Tamasya, Jelajah Ngalam, Buku untuk Ranupane, Ruang Sinau dan Ambalwarsa. Tapi baginya, hanya Ruang Sinau dan Jelajah Ngalam yang sangat berkesan.

Jelajah Ngalam adalah kunjungan wisata di sekitar Kota Malang, dimana setiap peserta diharuskan membuat deskripsi tempat wisata yang dikunjungi. Dari kegiatan ini, peserta mengetahui bahwa Malang mempunyai wisata edukasi yang bagus dan belum banyak diketahui masyarakat. Selain itu juga belajar sejarah mengenai candi-candi yang ada di Malang. “Ternyata masing-masing candi punya cerita sendiri,” katanya.

Sementara Ruang Sinau, meskipun tidak ikut secara intens, tapi sangat berkesan karena bisa membuat siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Roudhatul Jannah Jobung, Malang juara lomba menari di acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Malang. “Yang bikin haru lagi, saat penutupan Ruang Sinau, mereka berinisiatif membuat penampilan buat kami,” ujarnya.

Terpilih sebagai Wakorum TurunTangan Malang, Dini mengaku senang. Meskipun sedang sibuk menyusun skripsi dia ingin tetap berkontribusi di TurunTangan Malang. Rencananya, Dini ingin membuat gerakan baru lagi dan mempertahankan gerakan yang sudah ada. Untuk itu, ia berharap relawan memiliki komitmen untuk terus bergerak. “Meski judulnya ‘relawan’ tapi mereka harus komitmen untuk terus bergerak,” katanya.

Biodata

Nama lengkap : Dini Rahmafathi

Nama Panggilan : Dini

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 23 Juni 1994

Kuliah : Universitas Brawijaya

Kegiatan : Volunteer di Pusat Studi Layanan Disabilitas UB, Volunteer Sosialisasi

Ruang Berbagi Ilmu, Sekertaris Eksternal Forum Mahasiswa Peduli Inklusi

UB, Wakorum TurunTangan

 

512

Bryansa Bilina, akrab dipanggil Lina, telah bergabung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. TurunTangan Malang yang terlihat sebagai komunitas yang aktif bergerak dengan beragam latar belakang anggotanya, menjadi daya tarik bagi Lina. Maka, Desember akhir 2014 Lina segera mendaftarkan diri menjadi relawan TurunTangan Malang.

Ada banyak kegiatan yang telah diikuti. Antara lain, Ruang Sinau, diskusi malam hari, Ambalwarsa, Jelajah Ngalam, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak kegiatan yang diikuti, Ruang Sinau yang paling berkesan. “Ruang Sinau adalah pengalaman mengajarku. Jadi sangat berkesan,” ujar mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi PGSD ini.

Lina mengaku tidak menyangka akan terpilih sebagai Korum TurunTangan Malang. Pasalnya banyak relawan yang lebih senior dibandingkan dia. Kini, ia mulai berpikir bagaimana membuat TurunTangan Malang menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Saya sedang berpikir bagaimana caranya TurunTangan Malang menjadi komunitas yang bukan menunggu tetapi memulai untuk bergerak. Bukan butuh kuantitas tapi kualitas relawannya,” paparnya.

Untuk menjalankan tujuannya, Lina sudah membuat rencana untuk manajemen relawan-relawan yang mempunyai bakat khusus untuk mengembangkan TurunTangan Malang dan membuat mereka nyaman di TurunTangan Malang. “Rencana project-nya masih abu-abu. Intinya mau membenahi internal dulu,” jelasnya.

Lina berharap, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Malang dapat semakin turun tangan khususnya di Kota Malang dan bisa membawa perubahan meskipun perubahan kecil.

Biodata

Nama Lengkap : Bryansa Billina

Nama Panggilan : Lina

Tempat, tanggal lahir : Semarang, 31 Agustus 1995

Kuliah : Universitas Negeri Malang Jursan KSDP Program Studi PGSD

Organisasi yang diikuti : TurunTangan Malang dan Tabrak Warna Malang

Hobi : Mencari kebahagiaan

Moto : Yang mendengar belum tentu memahami, tapi yang memahami pasti mendengar

 

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]