Home Profil Relawan
Profil relawan TurunTangan

241

Mengabdikan diri untuk masyarakat tidak hanya soal membantu individu di dalamnya keluar dari masalah. Namun juga soal mempersiapkan amunisi untuk membangun negeri. Inilah yang ada dalam benak Agung Hardi, relawan penggerak aktif di project lingkungan ‘Bangun Jakarta’. Agung dan idealismenya yakin, bahwa untuk menjadikan Indonesia bangsa yang kuat, sektor agrarisnya perlu diperbaiki.

Makanan bukan hanya soal rasa, namun juga Indonesia

Kemampuan memimpin Agung sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP. Agung dipercaya untuk menjadi ketua Karang Taruna di lingkungan tempat tinggalnya, Lenteng Agung. Pecinta buku-buku sosialis ini juga gemar memasak, bahkan ia bertekad untuk serius dalam bidang tata boga dengan masuk SMK di jurusan yang sama.

Belajar soal lika-liku makanan dan proses pembuatannya membuka mata Agung tentang Indonesia. Lewat makanan, Agung tahu bahwa citarasa nusantara begitu mewah. Ya, makanan Indonesia begitu kaya akan rasa dan sejarah. Agung menjelaskan hubungan antara memasak dan mencintai Indonesia. “Dengan memasak, kita belajar proses. Mengolah bahan baku, jenis bahan baku, asal bahan baku itu dari mana…  Sebagai warga negara Indonesia, kita jadi tahu Andaliman (sejenis cabai) dari Medan, di Maluku itu penghasil merica, orang Papua itu unik karena makanan pokoknya sagu. Ketika kita mengolah bahan baku, kita akan tahu budaya asli daerah tersebut. Pulau Jawa terkenal dengan makanan manis, Pulau Sumatera kaya akan rempah. Esensi dalam satu piring itu beragam, membuka wawasan,” tukasnya bersemangat.

Jangan manja, mulai mandiri pangan!

Agung sadar akan kekayaan Indonesia ini saat ia mengikuti seminar di mana pembicara tersebut seorang petani. Pelajaran yang Agung dapat banyak, bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang kuat bila rakyatnya memiliki ketahanan pangan.

“Kenapa Cina dan Korea bisa hits banget sekarang? Jawabannya simpel: ketahanan pangan! Indonesia bukan negara hi-tech, nenek moyang kita telah mewariskan budaya agraris. Kenapa tidak kita teruskan?”

Agung menjelaskan ia menjadi relawan aktif di Bangun Jakarta karena visinya sama: mewujudkan ketahanan pangan. Baginya, inilah yang mahal. Contohnya, Jakarta masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan karena sumber daya manusianya fokus pada okupasi lain, jarang ada yang sadar pentingnya menanam.

“Jika kita terus-terusan mengandalkan pemerintah dari impor pangan, kita hanya akan menjadi bangsa yang manja. Padahal, nenek moyang kita mewariskan budaya agraris dan maritim. Urban farming setidaknya memberikan life skill untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ketahanan pangan jelas menjadi indikator terpenting.”

Agung ingin ada perubahan di masyarakat, di mana masyarakat menjadi sadar akan pentingnya menanam di kota. “Saya paling takut ketika rakyat miskin diperbudak untuk kerja keras hanya untuk makan. Harga pangan tinggi, kita disuruh kerja dalam keadaan seperti itu. Padahal solusinya itu ya… Menanam!”

“Kalau mau kita maju, yuk kita mandiri di segala macam hal. Misalnya mandiri pangan, menanam sendiri. Harapan kedepan kita jangan naif, jujur aja kalau ada masalah disekitar kita dan jangan bergantung sama pemerintah. Kita bisa kerjain sendiri kok, ini esensi dari turun tangan bukan?” tegasnya.

 

254

Kabar Relawan edisi lalu mendapat pujian dari pembaca. “Design Kabar Relawannya bagus”, begitu kata mereka. Media Sosial TurunTangan pun tak luput dari komentar positif. Sejumlah poster dan video dengan karakter kartun lucu dan unik meramaikan facebook, instagram, line, dan youtube TurunTangan akhir-akhir ini. Ratusan akun juga memberikan like lantaran poster dan video yang diunggah itu dinilai kreatif dan menggugah.

“Majalahnya bagus. Tapi layout-nya masih belum nyaman dibaca,” ujar Muhammad Arkan Risadian, di Rumah Relawan TurunTangan, Jalan Aup Barat 2 No. 24 Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/8). Sambil membaca e-magazine karya salah satu komunitas di Indonesia, designer muda lulusan International Design School (IDS) Jakarta itu berceloteh lagi, “Layout majalah yang bagus itu yang ada tempat buat mata istirahat. Enggak banyak teks dan gambar maksudnya. Ini ramai sekali.”

Arkan – panggilan akrabnya – adalah orang di balik cerita sukses Kabar Relawan dan media sosial itu. Dia baru dua bulan bergabung dengan TurunTangan, tapi karyanya tak dapat diragukan. Hari itu dia mendapat tugas me-layout Kabar Relawan edisi Agustus. Seniornya di divisi Hubungan Masyarakat menyodorkan e-magazine sebagai contoh. Alih-alih agar Arkan terinspirasi, ternyata design-nya tak cukup baik untuk ditiru.

“Saya sok tahu saja sih. Karena baru pertama kali layout majalah di TurunTangan,” kata Arkan tertawa – merendah. “Kemarin sebelum me-layout observasi dulu sama Kabar Relawan yang sebelumnya. Kok enggak enak dibaca ya? Ternyata banyak teksnya, persis seperti e-magazine tadi.”

Dua jam sebelum itu, Arkan baru saja mempersentasikan video animasi #turuntangan17an kepada pengurus TurunTangan pusat. Video itu berdurasi 1 menit 90 detik dan mengajak generasi muda memaknai kemerdekaan dengan cara melunasi janji kemerdekaan. Tepuk tangan dan sorak sorai membuat ruang 3 x 4 meter itu terdengar gaduh. Mereka terpukau dan senang. “TurunTangan bangkit lagi,” celetuk salah satu pengurus.

Di IDS, pria kelahiran Yogyakarta, 28 november 1993 ini mengambil jurusan Digital Animation. Wajar jika mayoritas karyanya berupa kartun dengan karakter yang sangat khas. Tokoh-tokoh kartun seperti Batman, Dragon Ball, Doraemon, Power Rangers dan Scoobydoo adalah inspirasinya selama ini. “Kartun sewaktu kecil saya tonton semua. Malah saya punya koleksi komik Dragon Ball lengkap di rumah.”

Sejak kecil, Arkan suka menggambar. Hobi itu menjadi cara untuk menyalurkan ekspresi dan pendapat. “Alasan masuk Digital Animation simpel. Ingin karakter yang saya buat bisa gerak.”

Setelah lulus, ia kemudian bekerja di perusahaan televisi swasta. Merasa jenuh ia memutuskan resign dan menerima tawaran bekerja di TurunTangan. Menurutnya ada perbedaan bekerja di perusahaan dan organisasi masyarakat. Bekerja di organisasi lebih merdeka ketika berkarya dibanding perusahaan yang biasanya sudah ada rule-nya. “Di sini (TurunTangan) diberi kesempatan dan dukungan kalau membuat sesuatu, contohnya video animasi tadi.”

Dengan keterampilan dan minat yang dimiliki, Arkan ingin membuat TurunTangan menjadi bank ide bagi anak-anak muda di Indonesia untuk memecahkan masalah di daerahnya. Caranya dengan mengemas TurunTangan menarik secara visual dan konten. “Harapan awal kalau saya ditanya kerja di mana dan saya jawab TurunTangan, orang langsung respon “Oooh… Yang menginisiasi project keren-keren itu ya?” tutupnya.

 

220

Di Indonesia, menjadi relawan bagai sebuah trend beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang yang mulai menyadari bahwa permasalahan yang ada di Indonesia itu milik setiap warga negara, di mana setiap orang bisa menjadi bagian dari solusi. Cara mereka terlibat untuk menemukan solusi tersebut adalah dengan menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial. Seperti halnya dilakukan A. Ramdani (43), Kepala Sekolah SDIT Citra Nuansa Cileungsi yang aktif di TurunTangan Jakarta.

Ayah empat anak itu telah memberi inspirasi kepada anak muda. Dengan segala kesibukannya menjadi kepala keluarga dan pimpinan sekolah, ia masih mau membagi waktunya untuk kegiatan sosial.

Ramdani tentu tidak dibayar. Dia adalah relawan nol rupiah yang layak disebut ‘pahlawan’ masa kini. Entah sudah berapa kali ia terjun ke masyarakat. Bahkan pernah jauh-jauh pergi ke Majane, Sulawesi Barat, untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru di daerah tersebut. “Tahun 2015 saya ikut RUBI (Ruang Berbagi Ilmu Indonesia Mengajar) di Majene,” ungkapnya usai mengikuti pelatihan relawan TurunTangan Jakarta di Rumah Relawan TurunTangan, Minggu (14/8).

Di kalangan relawan, Ramdani dikenal sebagai sosok orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seringkali bertanya meskipun banyak pengalaman dan wawasan yang dimiliki. “Awalnya ingin belajar, lama-kelamaan keluar fakta-fakta yang tidak kami tahu,” ujar Herry Dharmawan, penggagas salah satu project TurunTangan Jakarta, Kelas Negarawan Muda (KNM).

Tidak bisa melanjutkan kuliah usai menamatkan pendidikannya di pondok pesantren, membuat Ramdani menjadi pembelajar seumur hidup. Baginya, belajar dilakukan di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Entah dengan membaca buku, ikut organisasi, hadir di seminar-seminar gratis, sampai ikut pengajian.

Sejak kecil Ramdani senang membaca buku. Saat SD, ia sering pergi ke Pasar Senen untuk mencari buku, majalah, dan koran bekas untuk dibaca. Ketika SMA, ia menjadi pengurus organisasi di bidang komunikasi, tugasnya menyampaikan informasi melalui sound system dan majalah dinding. Ini membuat bahasa Arab dan Inggris Ramdani terasah, sekaligus ia juga mendapatkan ilmu baru ketika membuat mading.

Lulus dari pesantren, ia tidak bisa melanjutkan kuliah lantaran tak ada biaya. Namun semangat untuk belajar tak pernah padam. Untuk menggantikan rasa ingin kuliah dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar gratis dan pengajian. “Untuk mengerti sesuatu enggak harus kuliah. Misalnya punya passion, sekedar ingin tahu dan mendalami bisa belajar dari seminar-seminar,” katanya.

Ramdani bergabung dengan TurunTangan Jakarta sejak akhir 2014. Setelah itu bergabung dengan KNM, project ini bermanfaat untuk mendukung proses belajar mengajar PPKn di sekolah yang ia pimpin. “Yang namanya guru itu harus belajar. Apa yang saya dapat di TurunTangan dan KNM selalu saya bagikan ke para guru di sekolah,” ujar orang yang sudah 25 tahun menjadi pendidik ini.

Prinsip belajar bagi Ramdani adalah bisa menggali ilmu di mana saja dan tidak dibatasi. Semua sudah tersedia di alam. Tuhan memberikan kelebihan pada tiap-tiap makhluk hidup. Semua saling bersinergi dan memberi manfaat satu sama lain. “Belajar bisa dari siapa pun. Di TurunTangan misalnya, saya bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Ada dari teknik, ekonomi dan lain-lain. Saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari mereka dan itu bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Beberapa kali, ia membawa anak dan istrinya mengikuti kegiatan TurunTangan. Seperti pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional dan rapat kerja KNM. Sebab TurunTangan dinilai sebagai tempat yang berisi kegiatan dan orang-orang positif. “Saya ingin anak-anak dan istri juga bisa belajar sesuatu di TurunTangan,” pungkasnya.

Selain pembelajar, Ramdani juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Selalu datang tepat waktu setiap kegiatan apapun. Pendidikan yang didapat di pesantren untuk menghargai waktu menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang muda-muda ini jadi malu setiap Pak Ram jadi orang pertama di tiap kegiatan,” timpal Herry menutup wawancara.

330

TurunTangan Bandung melakukan Pemilihan Koordinator Umum (Kordum) baru pada 10 sampai 13 Mei lalu. Dua relawan yaitu Hikamul Haq Ridwan dan Ramli Yana maju mencalonkan diri menjadi kordum. Pemilihan kordum dilakukan secara online. Hasilnya Hikamul Haq Ridwan memperoleh 79 suara sedangkan Ramli Yana hanya memperoleh 21 suara.

Sejak 13 Mei sampai setahun kedepan, TurunTangan Bandung resmi dipimpin oleh Hikamul Haq Ridwan. Berikut petikan wawancara dengan Kordum TurunTangan Bandung yang baru tersebut:

Bagaimana perasaanmu ketika terpilih menjadi koordinator?

Senang pastinya. Hampir tujuh bulan, TurunTangan Bandung bergerak tanpa koordinator. Otomatis kegiatan TurunTangan Bandung saat itu sangat sedikit. Kegiatan menghilang, relawanpun ikut menghilang.

Rencana yang disiapkan untuk TurunTangan Bandung setahun kedepan?

Rencana awal, saya akan “blusukan” ke anggota, baik lama maupun baru.  Mendengarkan keluhan dan saran mereka Mengenai TurunTangan Bandung. Dari banyaknya saran dan keluhan, saya merasa TurunTangan Bandung belum memiliki identitas yang memiliki image yang melekat di masyarakat. Oleh karena itu rencananya, saya akan membuat dan menginisiasi project TurunTangan Bandung yang fokus pada impact. Jadi, fokus pada bagaimana dampak kegiatannya, bukan pada apa jenis kegiatannya.

Beberapa project yang sudah berjalan seperti SWARA DPR, JALAN KITA yang bekerja sama dengan RRI, dan KAMANAWE juga perlu adanya inovasi dan kesinambungan agar masyarakat terus aware dengan project kami.

Kapan kamu mulai bergabung dengan TurunTangan?

Saya bergabung dengan TurunTangan pada akhir 2013.

Alasan bergabung saat itu?

Saya melihat Gerakan TurunTangan adalah sekumpulan orang yang tidak hanya berwacana dan mengkritik pemerintah. Mereka turun tangan menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia tulus, tanpa imbalan.

TurunTangan juga wadah orang-orang kreatif, peduli, dan mau bergerak mengurangi masalah di negeri ini. Tidak tunjuk sana, tunjuk sini untuk melakukan perubahan, tetapi dirinya sendiri melakukan perubahan.

Saya terharu ketika melihat video kopaja yang dibuat oleh relawan TurunTangan. Ada quote menarik, “Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam mendiamkan”.

Quote itu saya pegang teguh sampai sekarang. Daripada saya urun angan, lebih baik turun tangan.

Menurut kamu apa arti turun tangan?

Turun tangan adalah saat dimana kita terlibat. Terlibat berarti bukan hanya melihat, tetapi merasakan dan aktif berkontribusi untuk peduli dan ambil bagian dari masalah yang ada di negeri ini.

Apa pesanmu untuk relawan TurunTangan di seluruh Indonesia?

Untuk relawan di seluruh Indonesia, teruslah berjuang melunasi janji kemerdekaan. Fokus pada kegiatan-kegiatan yang berdampak pada masyarakat. Dan teruslah menginspirasi orang lain untuk bersama-sama ikut turun tangan menyelesaikan masalah. Pejuang, bukan? Hadapi!

Biodata

Nama: Hikamul Haq Ridwan

Tempat, tanggal lahir: Cimahi, 11 Juni 1991

Aktivitas: Mahasiswa semester akhir di Univesritas Padjajaran Jurusan Ilmu Komunikasi

Hobi: Membaca

Moto: Almuhafazatul ‘alal Qodimis salih Wal Akhzu bijadidil Aslah. Artinya, memelihara yang baik dari tradisi lama dan mengambil yang lebih baik dari yang baru.

362

Sama seperti Lina, Dini Rahmafathi juga telah berbung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. Alasan bergabung saat itu, ingin mencari kegiatan di luar organisasi kampus. Saat mencari informasi di twitter, wanita yang akrab disapa Dini ini mendapati informasi oprec TurunTangan Malang. Tak menunggu lama, Dini segera mendaftarkan diri.

First impression TurunTangan itu social movement dan enggak nyangka kalau dilatar belakangi tokoh yang saya kagumi, Pak Anies Baswedan. Maka saya tertarik,” ungkapnya.

Beberapa kegiatan TurunTangan Malang yang pernah diikuti yakni Pustaka Tamasya, Jelajah Ngalam, Buku untuk Ranupane, Ruang Sinau dan Ambalwarsa. Tapi baginya, hanya Ruang Sinau dan Jelajah Ngalam yang sangat berkesan.

Jelajah Ngalam adalah kunjungan wisata di sekitar Kota Malang, dimana setiap peserta diharuskan membuat deskripsi tempat wisata yang dikunjungi. Dari kegiatan ini, peserta mengetahui bahwa Malang mempunyai wisata edukasi yang bagus dan belum banyak diketahui masyarakat. Selain itu juga belajar sejarah mengenai candi-candi yang ada di Malang. “Ternyata masing-masing candi punya cerita sendiri,” katanya.

Sementara Ruang Sinau, meskipun tidak ikut secara intens, tapi sangat berkesan karena bisa membuat siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Roudhatul Jannah Jobung, Malang juara lomba menari di acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Malang. “Yang bikin haru lagi, saat penutupan Ruang Sinau, mereka berinisiatif membuat penampilan buat kami,” ujarnya.

Terpilih sebagai Wakorum TurunTangan Malang, Dini mengaku senang. Meskipun sedang sibuk menyusun skripsi dia ingin tetap berkontribusi di TurunTangan Malang. Rencananya, Dini ingin membuat gerakan baru lagi dan mempertahankan gerakan yang sudah ada. Untuk itu, ia berharap relawan memiliki komitmen untuk terus bergerak. “Meski judulnya ‘relawan’ tapi mereka harus komitmen untuk terus bergerak,” katanya.

Biodata

Nama lengkap : Dini Rahmafathi

Nama Panggilan : Dini

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 23 Juni 1994

Kuliah : Universitas Brawijaya

Kegiatan : Volunteer di Pusat Studi Layanan Disabilitas UB, Volunteer Sosialisasi

Ruang Berbagi Ilmu, Sekertaris Eksternal Forum Mahasiswa Peduli Inklusi

UB, Wakorum TurunTangan

 

364

Bryansa Bilina, akrab dipanggil Lina, telah bergabung dengan TurunTangan Malang sejak satu tahun lalu. TurunTangan Malang yang terlihat sebagai komunitas yang aktif bergerak dengan beragam latar belakang anggotanya, menjadi daya tarik bagi Lina. Maka, Desember akhir 2014 Lina segera mendaftarkan diri menjadi relawan TurunTangan Malang.

Ada banyak kegiatan yang telah diikuti. Antara lain, Ruang Sinau, diskusi malam hari, Ambalwarsa, Jelajah Ngalam, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak kegiatan yang diikuti, Ruang Sinau yang paling berkesan. “Ruang Sinau adalah pengalaman mengajarku. Jadi sangat berkesan,” ujar mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi PGSD ini.

Lina mengaku tidak menyangka akan terpilih sebagai Korum TurunTangan Malang. Pasalnya banyak relawan yang lebih senior dibandingkan dia. Kini, ia mulai berpikir bagaimana membuat TurunTangan Malang menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Saya sedang berpikir bagaimana caranya TurunTangan Malang menjadi komunitas yang bukan menunggu tetapi memulai untuk bergerak. Bukan butuh kuantitas tapi kualitas relawannya,” paparnya.

Untuk menjalankan tujuannya, Lina sudah membuat rencana untuk manajemen relawan-relawan yang mempunyai bakat khusus untuk mengembangkan TurunTangan Malang dan membuat mereka nyaman di TurunTangan Malang. “Rencana project-nya masih abu-abu. Intinya mau membenahi internal dulu,” jelasnya.

Lina berharap, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Malang dapat semakin turun tangan khususnya di Kota Malang dan bisa membawa perubahan meskipun perubahan kecil.

Biodata

Nama Lengkap : Bryansa Billina

Nama Panggilan : Lina

Tempat, tanggal lahir : Semarang, 31 Agustus 1995

Kuliah : Universitas Negeri Malang Jursan KSDP Program Studi PGSD

Organisasi yang diikuti : TurunTangan Malang dan Tabrak Warna Malang

Hobi : Mencari kebahagiaan

Moto : Yang mendengar belum tentu memahami, tapi yang memahami pasti mendengar

 

383

Muhammad Arsyad Siregar bergabung dengan TurunTangan sejak Januari 2014. Pada 23 Januari kemarin, dia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Medan.

Arsyad tidak pernah menyangka akan mendapatkan amanah ini. Ada perasaan bahagia bercampur sedih. Mengingat koordinator sebelumnya cukup baik dalam membawa TurunTangan Medan hingga sekarang. “Ada beban berat dikarenakan harus menjaga gerakan ini tetap berkembang maju,” katanya.

Arsyad lahir di Medan, 15 Desember 1990. Merupakan alumni Teknik Industri, Universitas Sumatera Utara (USU) dan kini telah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Medan. Meskipun kini tengah sibuk bekerja, dia sangat bersemangat memajukan TurunTangan Medan.

Banyak rencana yang telah disiapkan yaitu menjalankan project yang belum terlaksana pada periode sebelumnya dan menjaga Gerakan TurunTangan Medan tetap konsisten di rel edukasi politik dan sosial. “Ada lebih dari 20 project yang rencananya bakal dilaksanakan dan saat ini masih dalam tahap seleksi,” tuturnya.

Untuk edukasi internal relawan sendiri, lanjut Arsyad, TurunTangan Medan berencana mengadakan diskusi internal secara berkelanjutan. Setidaknya sebulan sekali dengan materi dan pembicara yang berbeda-beda. “Rencananya mau diberi nama project “Rumah Negarawan”. Misalnya bulan ini mengenai korupsi dan transparansi anggaran. Bulan depan mengenai isu HAM, dan lain-lain,” ujarnya.

Arsyad menilai, TurunTangan Medan cukup dikenal di Kota Medan. Bahkan, semakin hari jumlah relawannya semakin banyak. Total jumlah relawan TurunTangan saat ini telah mencapai 120 orang. Sayangnya, jumlah project masih sedikit dan banyak project yang tidak tepat sasaran. “Ke depannya perlu dievalusi mengenai pematangan konsep sebuah project, tidak hanya asal eksekusi, tetapi harus memiliki indikator kesuksesan sebuah project sebelum project tersebut dijalankan,” ungkapnya.

Dia sangat berharap semakin banyak pemuda di Kota Medan yang bergerak dan bergabung dengan TurunTangan Medan. Semantara untuk TurunTangan sendiri, dia berharap semakin berkembang di berbagai kota di seluruh Indonesia. “Semoga dapat terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik antar TurunTangan di setiap kota. Sehingga muncul project-project atau aksi mengenai isu nasional yang dapat dikerjakan secara bersama sama  seperti aksi “Indonesia untuk KPK” kemarin,” tutupnya.

 

299

Wiwit Tri Rahayu atau sering disapa Wiwit, menjadi satu-satunya Koordinator TurunTangan daerah perempuan saat ini. Perjalanan Wiwit menuju puncak di TurunTangan Surabaya bisa dibilang cukup singkat. Dia baru saja bergabung dengan TurunTangan pertengahan 2015 lalu dan terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya pada November 2015.

Pada pemilihan Koordinator TurunTangan Surabaya saat itu, Wiwit bersaing dengan dua calon lainnya. Semua calon diminta untuk berkampanye. Perempuan kelahiran Trenggalek, 8 Juni 1995 ini, mengusung visi, “Terwujudnya relawan yang solid sebagai penguat dalam kontrol perubahan, pengenalan, dan pemberdayaan Surabaya.” Dan misi, “Menumbuhkan kapabilitas dan solidaritas melalui kaderisasi relawan, memberikan memberikan kajian yang berhubungan dengan arah gerakan (sosial, pendidikan, politik), mengadakan agenda berorientasi Surabaya, dan membangun hubungan internal dan eksternal ntuk memenuhi kepentingan.”

Visi dan misi itu berhasil mengantarkan Wiwit pada tampuk kepemimpinan. Berdasarkan hasil musyawarah mufakat anggota TurunTangan Surabaya, ia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya selama satu tahun kedepan.

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Airlangga ini, menceritakan awal mula bergabung dengan TurunTangan. Dimatanya, TurunTangan adalah komunitas yang memiliki concern menyelesaikan masalah yang sesuai dengan minatnya. Selain itu, TurunTangan adalah komunitas yang terbuka untuk siapapun yang ingin menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“TurunTangan membuat saya bisa bergerak lebih luas dalam membantu menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitar,”

katanya.

Sehingga saat terpilih menjadi koordinator, Wiwit langsung menyiapkan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Poin pengenalannya, TurunTangan Surabaya mampu menumbuhkan rasa cinta dan mengangkat Surabaya sebagai kota yang layak untuk dikunjungi. “Nanti Insya Allah akan ada sambang Surabaya, yaitu kegiatan yang mengajak relawan dan beberapa anak jalanan untuk mengunjungi beberapa tempat penting atau bersejarah di Surabaya. Mirip dengan edu wisata,” jelasnya yang memiliki motto “every star has its own light.”

Agar rencananya terlaksana, banyak hal yang mesti dibenahi. Menurutnya, saat ini TurunTangan Surabaya butuh pelatihan tentang leadership, personal branding relawan, dan team work. Solusinya, setiap tahun minimal sekali akan mengadakan workshop terkait hal tersebut. “Ini penting banget karena banyak sekali sebenernya relawan yang ingin gabung dan kami TurunTangan Surabaya ingin memberikan bekal-bekal substansial kepada para relawan agar tidak hanya gabung namun juga turut berkontribusi,” paparnya.

 

342

Seperti yang kita ketahui, TurunTangan Aceh fokus bergerak di bidang pendidikan. Mayoritas kegiatannya yakni mengajar ke sekolah-sekolah. Justru karena ini, membuat Maisal Rahmadi Aka, bisa bergabung dengan TurunTangan Aceh. Maisal, demikian biasanya dia dipanggil, bergabung dengan TurunTangan Aceh tepatnya pada pertengahan 2014 lalu saat TurunTangan Aceh membuka Program TurunTangan Aceh Mengajar.

“Saat dicari tenaga pengajar pada program TurunTangan Aceh Mengajar 1, saya ikut interview untuk menjadi pengajar bahasa inggris,” tutur Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UNIAR) ini.

Selama ini Maisal juga aktif di sanggar tari dan musik tradisi di Sanggar Geunaseh, Aceh, sehingga TurunTangan Aceh meluluskannya sebagai pengajar budaya. Kecintaannya terhadap dunia mengajar, pria yang gemar membaca ini, tidak mempermasalahkan tidak diterima menjadi pengajar bahasa inggris.

“Saya ingin mengajar. Mau dibayar atau pun tidak yang penting mengajar,”

katanya.

Pria kelahiran, Banda Aceh, 28 Mei 1996 ini mengaku belajar banyak hal ketika bergabung dengan TurunTangan. Seperti mengerti arti kepedulian dan tidak diam begitu saja melihat permasalahan di sekitar.

“Kepedulian itu soal aksi, sekecil apapun aksi itu. Dan itu yang selalu para relawan TurunTangan lakukan,”

ujarnya. Satu kalimat yang sangat memotivasinya, “Jangankan tanyakan apa yang bisa saya dapat dari tanah kelahiran saya, tapi tanyakan apa yang dapat saya berikan untuk tanah kelahiran saya.”

Pada November lalu, Maisal terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Aceh menggantikan Rahmad Hidayat Munandar. Anak keempat dari empat bersaudara ini bercerita, sebelumnya, dia sudah dipercaya untuk meng-handle beberapa acara sampai diberi amanah untuk menjadi Ketua Divisi SDM. Hingga kemudian diutus menghadiri Gathering Nasional (Gathnas) di Jogja tahun lalu. Di acara tahunan ini, dia bertemu dengan orang-orang hebat dan merasa minder. Sehingga ketika ditunjuk menjadi koordinator TurunTangan Aceh, dirinya sempat menolak. Salah seorang sahabatnya mengatakan, “Jangan pernah menolak saat ditunjuk sebagai pemimpin, yang membuat seorang pemimpin itu hebat bukan karena dia hebat, tapi orang-orang dibelakangnya.”

“Akhirnya saya menerima amanah ini dan terus membenahi diri untuk menjadi pemimpin yang berintegritas,” tuturnya.

Maisal mempunyai banyak rencana, agara TurunTangan Aceh semakin maju. Dia akan meningkatkan SDM melalui capacity building, menampung ide-ide relawan dan menjadwalkan untuk dilaksanakan setiap rinci. Sehingga, kegiatan TurunTangan Aceh akan lebih terstruktur dalam pelaksanaannya. “Sebelumnya TurunTangan Aceh tidak ada sistem divisi. Jadi, pembagian kepanitian diatur saat aksi. Sekarang ini sudah ada divisi SDM, sekretariat, humas, dan tim kreatif. Sehingga, segala tugas lebih terstruktur,” paparnya.

 

312

Heru Tesar Ichsan adalah Koordinator Lhokseumawe. Lahir di Lhokseumawe, 4 November 1994, dia bergabung dengan TurunTangan pada saat mengikuti “Travelling dan Berbagi” yang diadakan oleh TurunTangan Aceh, 2 Mei 2015 lalu. Heru, demikianlah dia biasa dipanggil, merasakan kedamaian ketika mengikuti kegiatan tersebut. Seperti motonya “Berguna bagi orang banyak”,  dia senang bisa berbagi dengan orang banyak.

“Ada rasa bahagia ketika berbagi dengan orang banyak,”

kata finalis Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Aceh 2015 ini.

Setelah kegiatan itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh ini, masuk ke dalam kepengurusan TurunTangan Aceh. Karena terkendala jarak yang cukup jauh, dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, tepat 17 Agustus 2015, dia memberanikan diri membentuk TurunTangan Lhokseumawe.  “Saya tidak pernah mengira bisa membentuk TurunTangan Lhokseumawe. Usaha saya mengajak dan merangkul teman-teman terdekat saya berbuah hasil,” kata Delegasi Aceh untuk Dream Maker Youth Camp 2015 ini.

Saat itu, TurunTangan Lhokseumawe memiliki komite yang jumlahnya 10 orang. Ke-10 orang ini langsung memilihnya menjadi Koordinator TurunTangan Lhokseumawe. Kini, TurunTangan Lhokseumawe memiliki empat divisi yakni Divisi SDM, Divisi ADM, Divisi PUBDOK, dan Divisi Humas, dengan dibantu oleh tiga Project Officer (PO), yakni PO Lhokseumawe Cerdas, PO Lhokseumawe Sehat, dan PO Lhokseumawe Bergegas. “Sampai saat ini jumlah anggota TurunTangan Lhokseumae ada 40 relawan dan beberapa simpatisan,” ujarnya.

Di bawah kepemimpinan Heru, TurunTangan Lhokseumawe sudah menjalankan berbagai program. Diantaranya Lhokseumawe Berbagi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Pidie yang pada saat itu terkena musibah banjir, Lhokseumawe Cerdas di SDN 9 Kota Lhokseumawe, Lhokseumawe Sehat di MTS Muhammadiyah, dan Lhokseumawe Bergegas yang nantinya akan ke SMA sederajat untuk mempromosikan budaya. “Kami punya program prioritas, mengunjungi kediaman salah satu relawan untuk mempererat. Program itu kami beri nama Sawee Relawan dan akan jadi program rutin bulanan,” papar Heru.

Meskipun sudah banyak program yang dibuat, Heru mengatakan masih banyak yang harus diperbaiki. Mulai dari sistem kepengurusan, administrasi relawan, dan pembenahan kapasitas relawan. “Di tahun 2016, Insya Allah TurunTangan Lhokseumawe akan lebih giat lagi berbuat kebaikan untuk orang banyak,” demikian Heru berharap.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]