Home Profil Relawan
Profil relawan TurunTangan

521

Muhammad Arsyad Siregar bergabung dengan TurunTangan sejak Januari 2014. Pada 23 Januari kemarin, dia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Medan.

Arsyad tidak pernah menyangka akan mendapatkan amanah ini. Ada perasaan bahagia bercampur sedih. Mengingat koordinator sebelumnya cukup baik dalam membawa TurunTangan Medan hingga sekarang. “Ada beban berat dikarenakan harus menjaga gerakan ini tetap berkembang maju,” katanya.

Arsyad lahir di Medan, 15 Desember 1990. Merupakan alumni Teknik Industri, Universitas Sumatera Utara (USU) dan kini telah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Medan. Meskipun kini tengah sibuk bekerja, dia sangat bersemangat memajukan TurunTangan Medan.

Banyak rencana yang telah disiapkan yaitu menjalankan project yang belum terlaksana pada periode sebelumnya dan menjaga Gerakan TurunTangan Medan tetap konsisten di rel edukasi politik dan sosial. “Ada lebih dari 20 project yang rencananya bakal dilaksanakan dan saat ini masih dalam tahap seleksi,” tuturnya.

Untuk edukasi internal relawan sendiri, lanjut Arsyad, TurunTangan Medan berencana mengadakan diskusi internal secara berkelanjutan. Setidaknya sebulan sekali dengan materi dan pembicara yang berbeda-beda. “Rencananya mau diberi nama project “Rumah Negarawan”. Misalnya bulan ini mengenai korupsi dan transparansi anggaran. Bulan depan mengenai isu HAM, dan lain-lain,” ujarnya.

Arsyad menilai, TurunTangan Medan cukup dikenal di Kota Medan. Bahkan, semakin hari jumlah relawannya semakin banyak. Total jumlah relawan TurunTangan saat ini telah mencapai 120 orang. Sayangnya, jumlah project masih sedikit dan banyak project yang tidak tepat sasaran. “Ke depannya perlu dievalusi mengenai pematangan konsep sebuah project, tidak hanya asal eksekusi, tetapi harus memiliki indikator kesuksesan sebuah project sebelum project tersebut dijalankan,” ungkapnya.

Dia sangat berharap semakin banyak pemuda di Kota Medan yang bergerak dan bergabung dengan TurunTangan Medan. Semantara untuk TurunTangan sendiri, dia berharap semakin berkembang di berbagai kota di seluruh Indonesia. “Semoga dapat terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik antar TurunTangan di setiap kota. Sehingga muncul project-project atau aksi mengenai isu nasional yang dapat dikerjakan secara bersama sama  seperti aksi “Indonesia untuk KPK” kemarin,” tutupnya.

 

423

Wiwit Tri Rahayu atau sering disapa Wiwit, menjadi satu-satunya Koordinator TurunTangan daerah perempuan saat ini. Perjalanan Wiwit menuju puncak di TurunTangan Surabaya bisa dibilang cukup singkat. Dia baru saja bergabung dengan TurunTangan pertengahan 2015 lalu dan terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya pada November 2015.

Pada pemilihan Koordinator TurunTangan Surabaya saat itu, Wiwit bersaing dengan dua calon lainnya. Semua calon diminta untuk berkampanye. Perempuan kelahiran Trenggalek, 8 Juni 1995 ini, mengusung visi, “Terwujudnya relawan yang solid sebagai penguat dalam kontrol perubahan, pengenalan, dan pemberdayaan Surabaya.” Dan misi, “Menumbuhkan kapabilitas dan solidaritas melalui kaderisasi relawan, memberikan memberikan kajian yang berhubungan dengan arah gerakan (sosial, pendidikan, politik), mengadakan agenda berorientasi Surabaya, dan membangun hubungan internal dan eksternal ntuk memenuhi kepentingan.”

Visi dan misi itu berhasil mengantarkan Wiwit pada tampuk kepemimpinan. Berdasarkan hasil musyawarah mufakat anggota TurunTangan Surabaya, ia terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Surabaya selama satu tahun kedepan.

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Airlangga ini, menceritakan awal mula bergabung dengan TurunTangan. Dimatanya, TurunTangan adalah komunitas yang memiliki concern menyelesaikan masalah yang sesuai dengan minatnya. Selain itu, TurunTangan adalah komunitas yang terbuka untuk siapapun yang ingin menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“TurunTangan membuat saya bisa bergerak lebih luas dalam membantu menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitar,”

katanya.

Sehingga saat terpilih menjadi koordinator, Wiwit langsung menyiapkan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Poin pengenalannya, TurunTangan Surabaya mampu menumbuhkan rasa cinta dan mengangkat Surabaya sebagai kota yang layak untuk dikunjungi. “Nanti Insya Allah akan ada sambang Surabaya, yaitu kegiatan yang mengajak relawan dan beberapa anak jalanan untuk mengunjungi beberapa tempat penting atau bersejarah di Surabaya. Mirip dengan edu wisata,” jelasnya yang memiliki motto “every star has its own light.”

Agar rencananya terlaksana, banyak hal yang mesti dibenahi. Menurutnya, saat ini TurunTangan Surabaya butuh pelatihan tentang leadership, personal branding relawan, dan team work. Solusinya, setiap tahun minimal sekali akan mengadakan workshop terkait hal tersebut. “Ini penting banget karena banyak sekali sebenernya relawan yang ingin gabung dan kami TurunTangan Surabaya ingin memberikan bekal-bekal substansial kepada para relawan agar tidak hanya gabung namun juga turut berkontribusi,” paparnya.

 

481

Seperti yang kita ketahui, TurunTangan Aceh fokus bergerak di bidang pendidikan. Mayoritas kegiatannya yakni mengajar ke sekolah-sekolah. Justru karena ini, membuat Maisal Rahmadi Aka, bisa bergabung dengan TurunTangan Aceh. Maisal, demikian biasanya dia dipanggil, bergabung dengan TurunTangan Aceh tepatnya pada pertengahan 2014 lalu saat TurunTangan Aceh membuka Program TurunTangan Aceh Mengajar.

“Saat dicari tenaga pengajar pada program TurunTangan Aceh Mengajar 1, saya ikut interview untuk menjadi pengajar bahasa inggris,” tutur Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UNIAR) ini.

Selama ini Maisal juga aktif di sanggar tari dan musik tradisi di Sanggar Geunaseh, Aceh, sehingga TurunTangan Aceh meluluskannya sebagai pengajar budaya. Kecintaannya terhadap dunia mengajar, pria yang gemar membaca ini, tidak mempermasalahkan tidak diterima menjadi pengajar bahasa inggris.

“Saya ingin mengajar. Mau dibayar atau pun tidak yang penting mengajar,”

katanya.

Pria kelahiran, Banda Aceh, 28 Mei 1996 ini mengaku belajar banyak hal ketika bergabung dengan TurunTangan. Seperti mengerti arti kepedulian dan tidak diam begitu saja melihat permasalahan di sekitar.

“Kepedulian itu soal aksi, sekecil apapun aksi itu. Dan itu yang selalu para relawan TurunTangan lakukan,”

ujarnya. Satu kalimat yang sangat memotivasinya, “Jangankan tanyakan apa yang bisa saya dapat dari tanah kelahiran saya, tapi tanyakan apa yang dapat saya berikan untuk tanah kelahiran saya.”

Pada November lalu, Maisal terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Aceh menggantikan Rahmad Hidayat Munandar. Anak keempat dari empat bersaudara ini bercerita, sebelumnya, dia sudah dipercaya untuk meng-handle beberapa acara sampai diberi amanah untuk menjadi Ketua Divisi SDM. Hingga kemudian diutus menghadiri Gathering Nasional (Gathnas) di Jogja tahun lalu. Di acara tahunan ini, dia bertemu dengan orang-orang hebat dan merasa minder. Sehingga ketika ditunjuk menjadi koordinator TurunTangan Aceh, dirinya sempat menolak. Salah seorang sahabatnya mengatakan, “Jangan pernah menolak saat ditunjuk sebagai pemimpin, yang membuat seorang pemimpin itu hebat bukan karena dia hebat, tapi orang-orang dibelakangnya.”

“Akhirnya saya menerima amanah ini dan terus membenahi diri untuk menjadi pemimpin yang berintegritas,” tuturnya.

Maisal mempunyai banyak rencana, agara TurunTangan Aceh semakin maju. Dia akan meningkatkan SDM melalui capacity building, menampung ide-ide relawan dan menjadwalkan untuk dilaksanakan setiap rinci. Sehingga, kegiatan TurunTangan Aceh akan lebih terstruktur dalam pelaksanaannya. “Sebelumnya TurunTangan Aceh tidak ada sistem divisi. Jadi, pembagian kepanitian diatur saat aksi. Sekarang ini sudah ada divisi SDM, sekretariat, humas, dan tim kreatif. Sehingga, segala tugas lebih terstruktur,” paparnya.

 

490

Heru Tesar Ichsan adalah Koordinator Lhokseumawe. Lahir di Lhokseumawe, 4 November 1994, dia bergabung dengan TurunTangan pada saat mengikuti “Travelling dan Berbagi” yang diadakan oleh TurunTangan Aceh, 2 Mei 2015 lalu. Heru, demikianlah dia biasa dipanggil, merasakan kedamaian ketika mengikuti kegiatan tersebut. Seperti motonya “Berguna bagi orang banyak”,  dia senang bisa berbagi dengan orang banyak.

“Ada rasa bahagia ketika berbagi dengan orang banyak,”

kata finalis Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Aceh 2015 ini.

Setelah kegiatan itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh ini, masuk ke dalam kepengurusan TurunTangan Aceh. Karena terkendala jarak yang cukup jauh, dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, tepat 17 Agustus 2015, dia memberanikan diri membentuk TurunTangan Lhokseumawe.  “Saya tidak pernah mengira bisa membentuk TurunTangan Lhokseumawe. Usaha saya mengajak dan merangkul teman-teman terdekat saya berbuah hasil,” kata Delegasi Aceh untuk Dream Maker Youth Camp 2015 ini.

Saat itu, TurunTangan Lhokseumawe memiliki komite yang jumlahnya 10 orang. Ke-10 orang ini langsung memilihnya menjadi Koordinator TurunTangan Lhokseumawe. Kini, TurunTangan Lhokseumawe memiliki empat divisi yakni Divisi SDM, Divisi ADM, Divisi PUBDOK, dan Divisi Humas, dengan dibantu oleh tiga Project Officer (PO), yakni PO Lhokseumawe Cerdas, PO Lhokseumawe Sehat, dan PO Lhokseumawe Bergegas. “Sampai saat ini jumlah anggota TurunTangan Lhokseumae ada 40 relawan dan beberapa simpatisan,” ujarnya.

Di bawah kepemimpinan Heru, TurunTangan Lhokseumawe sudah menjalankan berbagai program. Diantaranya Lhokseumawe Berbagi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Pidie yang pada saat itu terkena musibah banjir, Lhokseumawe Cerdas di SDN 9 Kota Lhokseumawe, Lhokseumawe Sehat di MTS Muhammadiyah, dan Lhokseumawe Bergegas yang nantinya akan ke SMA sederajat untuk mempromosikan budaya. “Kami punya program prioritas, mengunjungi kediaman salah satu relawan untuk mempererat. Program itu kami beri nama Sawee Relawan dan akan jadi program rutin bulanan,” papar Heru.

Meskipun sudah banyak program yang dibuat, Heru mengatakan masih banyak yang harus diperbaiki. Mulai dari sistem kepengurusan, administrasi relawan, dan pembenahan kapasitas relawan. “Di tahun 2016, Insya Allah TurunTangan Lhokseumawe akan lebih giat lagi berbuat kebaikan untuk orang banyak,” demikian Heru berharap.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]