Home Artikel Populer Cerita Lucu Yang Sebenarnya Nggak Lucu

Penjabat negara

Di Kanada, saya punya beberapa teman mahasiswa Indonesia. Latar belakang mereka berbeda-beda, banyak orang asing yang berkenalan dengan saya dan teman-teman saya selalu berkata “you Indonesian people don’t look the same with each other!

Suatu hari, saya dan tiga teman saya pergi ke restoran Vietnam dekat rumah saya untuk makan siang. Jujur saya masih merasa kurang dekat dengan tiga teman ini. Jadi saya merasa agak janggal saat hang out dengan mereka. Saat kita sedang menyeruput pho Vietnam, saya pun memulai diskusi yang lumayan standar dengan ketiga teman ini.

Saya: “lo pada pengen jadi apa sih kalo udah selesai kuliah?”

Saya mempertanyakan ini karena saya sendiri sudah selesai kuliah, dan saya sangat tertarik dengan motivasi orang kuliah dan apa yang ingin mereka lakukan di masing-masing hidupnya.

Teman saya, sebut saja Nia: “Gw sih kayaknya ngurusin usaha keluarga gw. Nyokap gw udah nyuruh gw.”

Teman saya sebut saja Tomi: “Gw kan kuliah film — gw pastinya mau kerja di industri film.”

Teman saya sebut saja Joni: “Gw sih pengen kerja di pemerintahan, jadi pejabat negara.”

Jawaban Joni menurut saya sangatlah menarik. Kata-kata ‘pejabat negara’ itu bukan suatu cita-cita seorang mahasiswa yang sering saya dengar.

Saya: “Kenapa lo pengen jadi pejabat negara? Maksud lo pejabat negara apa?”

Joni: “Gw pengen jadi gubernur Jakarta sih aim ujungnya.”

Saya: “Oh ya? Kok lo bisa punya kemauan kayak gitu?”

Joni: “Iya, gw udah pasti banget. Gw dari dulu tuh udah dikelilingin sama keluarga gw yang kebanyakan nyemplung di dunia politik. Lo liat aja, di dunia politik tuh nggak boleh nindik, makanya gw nggak pernah nindik kuping gw. Berarti gw tuh udah niat banget.”

Teman-teman saya yang lain pun mengangguk-ngangguk mendengarkan Joni menceritakan tentang aksi dia yang melambangkan komitmennya. Tapi saya malah merasa agak shock mendengar ceritanya. Saya berfikir untuk beberapa detik, dan saya bertanya lagi…

Saya: “Kalo lo jadi gubernur Jakarta, visi lo apa?”

Joni: “Yah gw nggak tau lah, yang penting gw jadi pejabat negara”

Saya: “Lo mau mulai gimana caranya?”

Joni: “Paling masuk DPD dulu. Yah, pokoknya gampang lah, gw banyak koneksi dari keluarga soalnya”

Pembicaraan di atas mungkin akan ditertawakan oleh orang-orang yang membacanya, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, pembicaraan ini tidak ada lucu-lucunya. Saya mulai merinding berfikir “jangan-jangan semua politisi di Indonesia asal muasalnya kayak temen gw ini?”

Beberapa hari setelah mendengarkan “cita-cita” teman saya, kolega kerja saya membagikan video Anies Baswedan tentang pilihannya untuk ikut konvensi.

Anies berkomentar:
“Hari ini melihat wilayah politik, kita sering menyaksikan, rasanya disana bagi-bagi kue saja. Ada kekhawatiran. Dan coba cek orang-orang tua… berapa yang meminta anaknya, coba lihat tonton talk show di tv, [dan berkata] “nanti tolong ya jadi seperti itu”. Rasanya jarang hari ini.”

“Di sisi lain, urusan pangan, urusan pendidikan, kesehatan, perumahan, kesehatan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah politik. Jadi di satu sisi tempat ini adalah tempat yang menentukan kita, dan mereka semua yang berada di wilayah politik ini mewakili kita dan bertindak atas nama kita. Segala yang mereka katakan, yang mereka lakukan adalah atas nama seluruh bangsa Indonesia.”

Waktu awal tahu tentang Anies Baswedan, saya sempat mempertanyakan apa bisa seseorang yang tidak begitu aktif di dunia politik selamat di dunia tersebut? Tapi saya pikir-pikir lagi, sekurang-kurangnya pengalaman seseorang di dunia politik, saya kira yang bahaya adalah memilih orang yang tidak punya alasan konkret mengapa ia ingin bergabung dengan dunia politik. Apalagi yang tujuan akhirnya adalah jadi “pejabat negara”.

Pencinta Produk & UX. Mengeluh tanpa turun tangan = mandek.

Komentar