Home Artikel Populer Cinta Pandangan Pertama

Saya tidak pernah lupa percakapan dengan Ayah saat setelah menghadiri upacara wisuda sarjana Universitas Indonesia tahun 2011.

Ayah : “Apa rencanamu setelah ini?’ *pertanyaan sederhana namun terkadang menjadi sulit untuk dijawab

Saya  : “Mau melanjutkan mengajar dulu Pa di Pantara, masih penasaran dan kepingin berkecimpung di pendidikan”

Ayah : “Nggak tertarik masuk politik? Papa saranin kamu masuk partai aja”

Peryataan Ayah saya barusan bukan hanya mengejutkan tetapi lalu membuat percakapan berhenti dan mengalihkan dengan yang lain. Dalam hati saya nggak habis pikir, ya kok bisa-bisanya Ayah saya -kasarnya- nyeret anaknya ke politik. Bahkan saya nggak tahu soal politik, jangankan tahu, saya sudah terlanjur antipati, cuma karena mikirnya politik itu kotor, banyak orang jahat dan koruptor. Jadi buat apa saya capek-capek mikirin Negara, mikirin diri sendiri saja masih jatuh bangun.

Sarjana menjadi salah satu persayaratan khusus untuk bisa menjadi seorang Pengajar Muda. Kepalang sudah jatuh cinta sama anak-anak dan pendidikan, saya tertantang untuk ikut -jadinya- mau mikirin Negara. Ya dengan ikut melunasi janji kemerdekaan mencerdaskan kehidupan bangsa. Soal Gerakan Indonesia Mengajar saya tahu pertama kali dari seorang teman yang sudah terlebih dahulu menjadi Pengajar Muda angkatan I. Saya anggap sebagai momentum, tepat ketika saya sudah memenuhi persyaratan menyandang gelar Sarjana , di waktu yang berdekatan pendaftaran Pengajar Muda angkatan IV dibuka. Semangat mengalahkan logika pada waktu itu. Sayapun mendaftar.

Gerakan Indonesia Mengajar tidak pernah tahu siapa inisiatornya. Nama Anies Baswedan saya dengar baru ketika ikut seleksi Direct Assessment. Wajahnya pun saya tidak tahu. Sebatas beliau adalah Rektor dari Universitas Paramadina.

“Cinta pada pandangan pertama” kalimat ini seperti tepat untuk mendeskripsikan pertemuan pertama saya dengan Anies Baswedan. Beliau berbicara di depan 72 Calon Pengajar Muda (CPM) angkatan IV aula Wisma Handayani di opening ceremony CPM IV. Saat beliau mulai berbicara, terasa energi positif memenuhi diri saya, seperti ter-hipnotis dengan kesantunan dan ucapan yang beliau sampaikan. Yang disampaikannya begitu “mengena”, seperti ingin terus-menerus mendengarkan beliau berbicara.

IMG_0460

Setahun saya melewati sekolah kehidupan di Kabupaten Rote Ndao. Yang selalu teringat dari perkataan beliau adalah “anak muda harus membuat sejarah”. Ketika saya kembali ke Jakarta, pertanyaan yang sama muncul dari Ayah saya, “Setelah ini mau ngapain?” kali ini sungguh menjadi pertanyaan tersulit. Apa yang sudah saya pelajari dan dapatkan selama setahun membikin segalanya berubah. Jawabannya “belum tahu, pinginnya sih tetap di dunia pendidikan dan anak-anak”.

Pengajar Muda yang sudah purna tugas sebelum kembali kerumah masing-masing terlebih dahulu harus melewati yang namanya Orientasi Pasca Penugasan (OPP). Selain evaluasi, seolah-olah diberi kesempatan untuk kontemplasi. seperti biasa Pak Anies Baswedan hadir dan berbicara banyak hal. Yang menjadi catatan dan paling saya ingat betul adalah Pak Anies berkata seperti ini:

1. Don’t plan it (your future) as a single human being, plan it as a unit.

2. Network is extremely important, manage your network not only with your brain but also with your heart.

3. Be an elite, but don’t be an exclusive.

Ketika pulang saya lalu mulai mengambil karton putih yang masih kosong. Mulailah saya merancangnya (my future) berdasarkan catatan penting yang saya ambil dari Pak Anies Baswedan. Alhasil saya mendapatkan karton putih tadi penuh dengan coretan.

First step: cari kerja yang sesuai dengan minat dan yang menunjang untuk bisa sekolah lagi.

Ketika sudah melamar  disebuah NGO International yang begerak di bidang anak dan pendidikan (pas banget sama fokus saya) dan tentunya berharap dipanggil. Saya malah ditawari menjadi tim -yang lagi-lagi- inisiatornya Pak Anies Baswedan, turuntangan.org. Sebuah platform online yang mewadahi seluruh masyarakat untuk bisa berbuat sesuatu bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun yaitu ‘think big”. Pekerjaan ini tentunya tidak sesuai dengan rencana saya. Tapi telah kembali menantang saya untuk ikut didalamnya. Turuntangan.org yang saya ketahui pada saat itu adalah sebuah palatform social movement. Saya pastikan tidak ada tujuan politik. Memang tidak ada, hanya saja Tuhan berkehendak lain. Pak Anies Baswedan DIUNDANG oleh salah satu partai yang dikenal dengan track record yang tidak baik. UNDANGAN bukan sebagai komite tetapi menjadi PESERTA konvensi calon presiden dari partai tersebut.

Kegelisahan muncul ketika Pak Anies mulai menceritakan UNDANGANnya tersebut. “why Demokrat, why?” adalah pertanyaan yang seketika muncul. Dan juga menjadi pertanyaan semua orang tentunya. Tapi saya selalu suka jawaban dari Pak Anies saat menjawab pertanyaan undangan, beliau mengatakan begini “Etikanya kalau diundang itu datang toh? Ya saya menghargai undangan tersebut”. 

Saya merasa sungguh tidak siap kalau harus beneran terlibat di dunia politik, saya tidak siap. Bahkan terlintas ingin mundur. Ketidaksiapan ini adalah karena rasa takut. Seperti seorang anak yang akan ditinggalkan perang oleh Bapaknya. Tidak siap kalau orang baik seperti Pak Anies harus dicibir sana-sini, diberitakan negatif. Termasuk tidak siap dengan tanggapan orang karena saya bagian dari tim tersebut.

Setiap hari saya terus mencari untuk menemukan keyakinan. Keyakinan yang saya kumpulkan dari setiap cerita yang beliau sampaikan yang kemudian dirangkum disini http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0. Keyakinan yang pada akhirnya hanya ada satu pilihannya: “Yes I”ll help you, Sir.

Percaya dan Yakin adalah kunci yang hanya bisa saya pegang saat ini. Bahwa orang baik  harus masuk politik, bahwa sekarang sudah saatnya, saya rindu memiliki pemimpin seperti beliau, bahwa saya percaya ketika PERCAYA adalah jawaban dari segala bentuk pertanyaan. Pertanyaan dari dalam diri dan bagi orang-orang diluar sana. “Kenapa kamu mau turun tangan?” “karena saya Percaya” Titik.

Persis ketika saat cinta pandangan pertama di aula Wisma Handayani, Pak Anies kembali mengingatkan saya untuk optimis bagi kehidupan saya dan bagi Republik tercinta Indonesia. :)

 

lifetime learner. let's do it the right way!

Komentar