Home Catatan Relawan Cuti Panjang di Indonesia Mengajar

1643

Saya ambil cuti panjang tiga bulan, hendak bantu-bantu Indonesia Mengajar, yang didirikan Anies Baswedan sejak 2009. Terhitung mulai awal Januari 2013, saya off dari CSIS, menurut rencana hingga April 2013 (Walaupun cuti, toh ada beberapa penelitian CSIS yang tetap saya jalankan)

Keputusan saya ambil setelah kontemplasi beberapa waktu, mempertimbangkan banyak hal. Paling pertama yang harus dilakukan adalah securing approval dari istri, which is easy because she knows me well.

Kenapa Indonesia Mengajar? Dua hal: pertama tentang Anies Baswedan, dan kedua, tentang Indonesia Mengajar (IM) sendiri yang sebagai sebuah ide, dan pelan-pelan sudah menjadi gerakan sosial, menurut saya wajib didukung semua orang yang peduli pada masa depan anak-anak kita. Saya rasa IM adalah bukan sekedar tentang masa kini, tetapi tentang menanamkan semangat voluntarisme dan kebajikan pendidikan untuk anak-anak di masa depan.

Tentang Anies Baswedan

Saya mulai kenal Anies tahun 1993. Tahun-tahun itu, Suharto berkuasa penuh. Mahasiswa dibungkam. Tetapi, ada sedikit angin segar. SK 0457 dari Mendikbud keluar awal tahun 1990-an, membolehkan mahasiswa membuat kembali senat mahasiswa, yang tadinya dilarang sejak 1978. Kampus-kampus bergerak, menimbang-nimbang apakah akan menerima gesture reformasi, walaupun kecil, dari rezim Orde Baru itu. Pangkal penolakannya: format senat mahasiswa yang diizinkan berbeda dari Dewan Mahasiswa yang dikenal sebelumnya, yang berdiri sejajar dengan Rektor. “Kekuasaan” Dewan Mahasiswa konkrit, sementara senat mahasiswa yang diperkenankan melalui SK 0457 berada dibawah Rektor.

Beberapa kampus menolak, diantaranya ITB. UGM menerima, mengadakan pemilu raya, dan Anies Baswedan menjadi ketua senat mahasiswa UGM. Unpad kampus saya menunggu hingga 1992 sebelum akhirnya menerima dan menyelenggarakan pemilihan langsung 1993.

Kawan baik saya, Kus, yang ketua senat Fisip waktu itu, terpilih dalam pemilu langsung dan menjadi ketua senat Unpad (waktu itu namanya Ketua Pengurus Harian Senat Mahasiswa Unpad, kalau sekarang ekuivalen dengan BEM). Kami semangat, ide-ide digelar, siap bekerja.

Kus menawarkan saya bergabung menjadi pengurus di Senat Unpad itu, saya menolak. Saya bilang saya akan meneruskan membangun majalah mahasiswa Fisip yang waktu itu sedang kami rintis juga. Alias, saya memilih tinggal di Fakultas saja, tidak “naik kelas” ke tingkat universitas. Mengelola majalah mahasiswa waktu itu buat saya terasa menantang sekali, karena Fisip Unpad waktu itu sama sekali tidak memiliki tradisi pers mahasiswa. Kus OK, tetapi menyarankan saya satu hal (tepatnya memerintahkan): “pergilah ke Jogja, belajar dari majalah-majalah mahasiswa UGM, ada Balairung di tingkat universitas, ada Sintesa di Fisipol, cari orang-orangnya, kenalan, bikin network. Lalu cari juga Anies Baswedan, cari tahu bagaimana teman-teman UGM mengelola Senat Mahasiswa.”

Maka berangkatlah saya bersama dua teman sesama pengelola majalah mahasiswa Fisip Unpad, namanya Sinta (sekarang jadi istri) dan Yopi, ke Jogja. Tidak tahu siapa yang akan ditemui, apalagi alamatnya. Yang kami tahu, pergi ke UGM. Sampai di UGM, sedang ada demo di Boulevard UGM yang terkenal.

Daerah Boulevard dan Gelanggang Mahasiswa UGM dipenuhi mahasiswa. Adrenalin saya kontan naik. Bukan apa-apa, di Bandung hingga hari itu tidak pernah saya lihat demo sebesar itu, sementara di UGM mahasiswa kelihatan biasa melakukannya. Di atas mimbar Jamaluddin Ancok, dosen Psikologi UGM sedang berorasi. Lagi-lagi saya merasa ditampar. Di Bandung, hampir tidak mungkin dosen ikut demo, apalagi ikutan orasi.

Berikutnya, korlap memanggil Anies Baswedan ke mimbar (ketika itu dia sudah bukan ketua senat lagi). Semua diam mendengarkan dan hanyut dalam orasinya, saya juga. Saya pikir, “ini orang eloquent sekali”. Maka, begitu ia turun mimbar, saya hampiri dan langsung memperkenalkan diri. Saya bilang saya dari Unpad di Bandung, diminta ketua senat Unpad yang baru terpilih untuk bertemu dan tanya-tanya tentang senat mahasiswa UGM.

Responnya sangat baik, mengundang saya ke rumahnya keesokan paginya untuk bicara lebih serius tentang pengalaman senat mahasiswa UGM. Saya mengiyakan. Keesokan paginya, kami bertiga terkejut ketika sampai di rumahnya. Ternyata, Anies mengundang pengurus senatnya untuk berbincang-bincang, yang saya ingat diantaranya ada Elan Satriawan (yang jadi ketua senat UGM setelah Anies) dan seorang pengurusnya bernama Salman. Jadi ramai sekali.

Saya tersadar, Anies adalah tipe orang yang menghargai tamu, bahkan yang sama sekali baru dikenalnya. Apalagi, saya adalah mahasiswa semester 4 yang culun, sementara UGM ketika itu menjadi semacam ‘kiblat’ aktifisme mahasiswa.

Setelah itu saya tidak pernah lagi bertemu Anies. Hingga musim panas, bulan Juli 2005 di Amerika. Saya tiba di Dekalb, memulai studi doktoral saya di Northern Illinois University (NIU). Anies juga studi di NIU, sedang dalam tahap akhir disertasi. Sikapnya masih sama seperti pertama kali saya kenal tahun 1993.

Pengalaman interaksi langsung dengan Anies ini memberi saya sebuah kesimpulan bahwa ada kualitas personal yang unik dan ada leadership potential dari dirinya.

Semasa di Amerika itu salah satu jurnal/majalah yang saya langgan adalah Foreign Policy. Suatu pagi di tahun 2008, Arya teman CSIS yang juga sedang studi doktoral bidang ekonomi di California kirim pesan: “lu periksa deh Foreign Policy yang baru, ada Anies Baswedan”.

Saya buka websitenya, benar ada link ke edisi terbaru yang dibuat available ke non-subscribers. Laporan utamanya berjudul “100 Top Public Intellectuals in the World”. Anies masuk dalam list. Saya kirim sms ke Anies di Jakarta, mengabarkan soal itu. Dia replied: “masak iya? nanti saya cari majalahnya”.

(sila periksa Wikipedia entry : http://id.wikipedia.org/wiki/Anies_Baswedan )

Dengan background sedemikian rupa, saya tidak berpikir dua kali untuk cuti panjang dan hang out di Indonesia Mengajar.

Tentang Indonesia Mengajar (IM)

IM sendiri sebagai sebuah ide amat menarik dan inspiratif. Setelah beberapa minggu belakangan saya meeting dengan beberapa pengelola IM, sebetulnya saya agak ragu apa yang bisa saya bantu. Para pengelola IM adalah anak-anak muda yang sangat profesional, committed, fast-learner, dan tahu betul apa yang mereka lakukan. Jangan-jangan saya malah akan merecoki. Sekarang saya malah memposisikan diri bahwa saya ingin betul belajar dari mereka semua.

Dengan beberapa pengelola IM saya sudah kenal cukup lama. Bersama Direktur Eksekutifnya, Hikmat Hardono, dan beberapa teman lain kami mendirikan sebuah kelompok diskusi Rebo’an di Jakarta yang diikuti banyak mantan aktifis mahasiswa lintas kota, lintas profesi, lintas ideologi. Seperti Luky Djani yang dikenal sebagai aktifis anti korupsi, Bima Arya yang barusan terpilih jadi walikota Bogor, Martin Manurung yang sekarang aktif di Nasdem, Indra Piliang yang sekarang politisi Golkar, Coen Pontoh pendiri Indoprogress yang berhaluan kiri, Ridaya La Ode mantan ketua senat UGM tahun 1998, dan banyak nama lainnya yang sekarang meramaikan panggung sosial politik kita.

Nama kelompok diskusi kami itu adalah Kelas Indonesia Alternatif. Dulu aktif tahun 2001 hingga 2005. Sekarang sudah berhenti, mungkin sudah waktunya dihidupkan kembali.

Forum itu menjadi oasis bagi kami yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan, ketemu seminggu sekali berdiskusi dan refleksi. Kami berkumpul rutin di sebuah rumah di Jalan Proklamasi Jakarta, yang direlakan pemiliknya yang dikenal sebagai seorang filantropis, untuk kami gunakan. Pemiliknya dulu sekali dua kali datang ketika kami diskusi tiap hari Rabu malam.

Saya sudah meeting langsung dengan beberapa dari pengelola IM. Di setiap diskusi saya belajar banyak hal baru dan saya merasa tidak tahu apa-apa di hadapan mereka ini. Yang menjadi misteri besar bagi saya adalah bagaimana mereka bisa menggabungkan antara voluntarisme dan filantropisme? Voluntarisme adalah menyediakan diri untuk devoting some time dari diri tiap orang untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, sementara filantropisme adalah kesediaan menyumbangkan sesuatu yang konkrit (uang terutama) untuk membantu orang lain berbuat kebajikan.

Dalam literatur ilmu politik yang saya tekuni, Mancur Olson menguraikan betapa rumitnya mendorong aksi kolektif, ia menyebutnya the problem of collective action. Karena itu, IM mungkin sedikit banyak “telah menemukan jalan” mengatasi problem yang disebut oleh Mancur Olson itu. Dan saya sangat ingin memahaminya.

Sejak dimulai tahun 2009, pendaftar IM sudah ribuan orang. Padahal, di setiap periode perekrutan (dua kali setahun) hanya diambil kurang lebih 50 orang. Setiap periode pendaftaran, IM melakukan roadshow ke kota-kota/kampus-kampus untuk sosialisasi. Acara road shows itu juga dihadiri ribuan orang mahasiswa.

Saya rasa, di tengah membusuknya politik kita, anak-anak muda ini adalah angin segar. Mereka bersemangat untuk berbuat baik, dikirim mengajar ke pelosok setahun lamanya, menunda peluang kerja dan hidup nyaman (pada beberapa kasus, mereka meninggalkan pekerjaan dan memilih melamar IM untuk dikirim mengajar ke pelosok). Para Pengajar Muda (ini sebutan bagi mereka yang terpilih, dilatih dan kemudian dikirim) adalah bukti bahwa kita tidak pernah kehabisan orang berdedikasi, siap turun tangan memberi yang terbaik.

Catatan-catatan personal dari para PM (yang mereka tulis ketika sedang di daerah tempat mereka mengabdi) sudah diterbitkan menjadi buku. Kisah-kisah mereka dalam buku itu banyak membuat saya tercekat menahan haru. Betapa mereka menginspirasi banyak anak di daerah pelosok dan membuka cakrawala dan imaginasi. Kebaikan mereka akan tertanam dan pastinya akan berbuah kebaikan yang lain.

Dua hari lalu saya bertemu seorang kawan. Saat dia tahu saya sedang cuti dan sekarang membantu IM, dia menceritakan sesuatu yang saya rasa terjadi pada ribuan orang lain. Kisah tentang adik iparnya, yang baru saja lulus kuliah dan ditawari sebuah pekerjaan di tempat yang sangat baik. Adiknya itu menolak dan menjawab singkat: “saya mau melamar ke Indonesia Mengajar aja”. Kata kawan saya itu, adik iparnya sedang melamar dan sudah lulus seleksi awal (Tapi saya tidak akan sebut namanya, siapa tahu ada anggota tim seleksi baca notes ini dan terpengaruh).

Begitulah, IM memberi orang sesuatu yang membuat voluntarisme diantara anak-anak muda kita membuncah. Karena itulah, saya ingin membantu walaupun sedikit. Kalaupun ternyata tidak membantu, saya berharap paling tidak saya belajar sesuatu dari IM. Yang jelas, something is brewing.

*tulisan ini adalah notes Facebook yang diposting pada 5 Januari 2013 lalu, pendapat pribadi.

Ketua Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS

Komentar