Home Catatan Relawan Dirgahayu Republik Indonesia

71 tahun Indonesia Merdeka dan tiap tahun pula pada tanggal 17 agustus kita terus merayakannya.

Media sosial pasti penuh dengan hashtag kemerdekaan dan sebagainya, tapi semua ini tidak berlangsung lama,

tak jarang setelah perayaan 17 Agustusan, rasa nasionalisme kita semakin menurun dengan sikap pesimis akan negeri ini yang dapat kita lihat melalui berbagai komentar negatif dan keluh kesah akan Indonesia,

dimana semua ini dapat kita jumpai dengan mudahnya dikarenakan kecenderungan kita untuk meneruskan berita-berita buruk tentang Indonesia tanpa menelaah fakta yang ada. Ditambah lagi semakin banyaknya buzzer media sosial yang menyebar berita-berita hoax yang terkadang kita juga mengikutinya, semua itu tanpa sadar  membuat kita menjadi para “penyebar pesimisme”.

Tidak ada yang salah dengan kritik ataupun berkeluh kesah, memang tugas rakyatlah untuk terus mengkritisi dan menjadi watchdog terhadap pemerintahannya, tetapi sebuah masalah tak akan selesai dengan hanya kritisi dan menghancurkan semangat bangsa ini dengan menyebar rasa pesimis, seharusnya sikap tersebut dibarengi dengan solusi dan kerja nyata untuk negeri ini.

Tetapi sayangnya,

seringkali kita berkeluh kesah tanpa menyadari bahwa kita belum memberikan kontribusi apapun bagi negeri ini,

berkeluh kesah mulai dari hal-hal sederhana seperti kemacetan lalu lintas dan panas teriknya jalanan ketika kita pergi bekerja atau sekolah, kondisi jalan raya yang penuh lubang, mahalnya kebutuhan yang harus kita keluarkan untuk mengikuti gaya hidup, kritik dan keluh kesah tsb membuat seolah-olah hanya kita lah yang merasakan kesulitan di negeri ini  yang tanpa sadar kita terus menyebarkan rasa pesimis  melalui media sosial yang kita miliki.

Tak pernah kah kita memikirkan nasib saudara kita di desa-desa perbatasan Indonesia yang jauh dari perhatian pemerintah? Misalnya  nelayan Indonesia dari berbagai daerah terpencil  yang harus mencari ikan dengan merasakan teriknya panas matahari di tengah lautan. Lalu, pernahkah kita memikirkan nasib petani-petani Indonesia yang menuai hasil panen melimpah namun kehidupan mereka tidak makmur? Pernahkah kita membayangkan beratnya perjuangan para TKI di luar negeri yang terus bekerja keras meningkatkan devisa negeri ini dengan memendam rindu sanak  famili di bumi pertiwi? Nereka sedang berjuang untuk cita-cita merdeka dari kemiskinan, dan mungkin posisi seperti mereka lah yang layak untuk berkeluh kesah.

Melihat hal tersebut seharusnya kita seharusnya bersyukur karena kita masih diberi kesejahteraan dan keluangan waktu untuk lebih semangat lagi  melunasi janji kemerdekaan di negeri ini.

Ada puluhan  kekurangan di Indonesia, tetapi sebenarnya ada ratusan berita baik dari Indonesia yang dapat membangkitkan rasa optimis kita untuk melunasi janji kemerdekaan.

Pernahkan kita mendengar kekayaan hutan Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia selain Brazil dan Zaire?

Potensi sumber daya kelautan Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, menghasilkan potensi sumber daya kelautan triliunan rupiah, atau potensi sumber daya mineral & tambang yang terhampar dari sabang hingga merauke seperti  cadangan bijih besi, tembaga, bauksit, bijih timah yang nilai potensialnya mencapai ratusan triliunan rupiah lebih, bahkan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi 68% dari wilayah negeri ini yang mencakup daerah seluas hampir 1,3 juta kilometer persegi diperkirakan menyimpan 81,2% cadangan bahan tambang Indonesia (Koesnaryo dalam PERHAPI, 2002: 1).

Kekayaan SDM Indonesia juga tak kalah hebatnya. Di masa depan  dengan adanya bonus demografi yang diperdiksi pada tahun 2020-2030, 70% penduduk Indonesia adalah penduduk dengan jumlah usia produktif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia juga merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia, terdapat lebih dari 750 suku bangsa atau etnis.

Indonesia merupakan negara ke 13 dengan militer terbaik di dunia dan berbagai prestasi militer lainnya.

Indonesia memiliki banyak sosok inspiratif muda Indonesia yang membuang rasa pesimisnya. Misalnya kisah seorang Butet Manurung, seorang sarjana yang menghabiskan waktunya untuk mendidik suku anak-anak pedalaman di Jambi tanpa berkeluh kesah akan belum meratanya infrastuktur pendidikan di Indonesia. Dr Gamal Albinsaid yang mendedikasikan ilmu kedokterannya untuk warga miskin di kota Malang dengan asuransi sampah miliknya tanpa sekedar mengkritisi pelayanan kesehatan di Indonesia.

Jika hanya segelintir berita memilukan dari Indonesia dapat dengan gampang nya membuat kita menjadi para penyebar rasa pesimis yang hanya bisa mengkritik melalui media sosial di layar smartphone, maka sudah seharusnya kita optimis  mendengar berita-berita mengenai fakta potensi negeri ini diatas..

Atau kita bisa belajar dari para pejuang puluhan tahun lalu yang telah berjuang tanpa rasa pesimis didalam dirinya. Bung karno yang beberapa kali dipenjara dan diasingkan, Hatta dengan diplomasinya mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dari tangan penjajah, perjuangan Jenderal Soedirman bergerilya di hutan belantara sambil menahan sakit yang dideritanya, Tan Malaka  berulang kali berganti nama dan berpindah pindah tempat demi berjuang dari kejaran para penjajah.

Bayangkan setiap masalah dan rintangan  yang dihadapi mereka, dalam setiap perjuangan mereka, mereka  tidak tahu apakah setiap tetes keringat dan darah  yang mereka perjuangkan  akan berbuah kemerdekaan atau tidak, tetapi mereka memilih untuk tetap optimis dan berjuang, bayangkan jikalau  ditengah perjuangan mereka muncul rasa pesimis dan mengambil langkah untuk mundur pada saat itu, tentu kita tak bisa menikmati nikmat nya kemerdekaan saat ini.

Jika mereka para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan dahulu selalu optimis, sudah selayaknya kita para pemuda yang meneruskan janji kemerdekaan ini membuang rasa pesimis.

Anggapan bahwa kita belum sepenuhnya  merdeka dapat dimaklumi, hal itu dapat dilihat mulai dari sumber daya alam kita yang sebagian besar masih dikuasai asing, kesejahteraan dan pendidikan yang belum merata, SDM kita yang dengan mudahnya di propaganda media hingga korupsi yang merajalela.

Walau kita belum sepenuhnya MERDEKA secara utuh, setidaknya kita MERDEKA dari rasa pesimis dan putus asa. Mari terus berjuang karena negeri ini dibangun oleh semangat OPTIMISME!

 

Pejuang Bukan ?? Hadapi !!

#Dirgahayu R171

 

Ayo TurunTangan untuk Indonesia! Kirimkan karyamu ke blog@turuntangan.org!

Komentar