Home Ayo Bergerak! Gerakan Kerelawanan dalam Bingkai Kemerdekaan

424

Rabu (17/8) Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan-nya yang ke-71. Jalan By Pass Rawamangun yang biasanya padat dengan kendaraan mendadak lengang. Riuh suara klakson berganti dengan sorak sorai warga yang menyaksikan perlombaan.

Beberapa meter dari tempat perlombaan itu ada kolong jembatan yang tak kalah ramainya. Wajah riang anak-anak berseliweran. Ditemani para kakak-kakak relawan dari berbagai komunitas, mereka mendekorasi langit-langit kolong jembatan yang berjelaga akibat asap bakaran sampah warga yang mayoritas pemulung dan buruh cuci pakaian itu dengan balon merah putih.

Para relawan yang baru datang langsung berinisiatif mengambil tugas apapun yang bisa dikerjakan. Mulai dari menyusun agenda acara, menghitung jumlah hadiah, hingga meniup balon. Kegiatan hari ini mungkin sederhana, namun penuh makna. Kibaran sang dwi warna yang ditarik anak-anak hingga ke ujung tiangnya mengirimkan pesan bahwa mereka siap jadi bagian dari Indonesia ketika 100 tahun merdeka.

Pesan yang sama dikirimkan dari belasan tempat lain dimana relawan TurunTangan beraktivitas. Bandung bersama para penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak. Medan bersama para veteran dan budayawan, Ambon di tempat pengolahan sampah. Dan kota-kota lainnya yang tak kalah khidmatnya.

Memang demikian adanya, republik ini dibangun dan dipertahankan melalui “iuran kolosal” seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang Bung Karno ceritakan dalam biografinya, “Aku melihat pemimpin-pemimpin, ribuan, puluhan ribu, meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita, aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang di rel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan. Bahkan aku pernah menerima surat daripada seorang Indonesia yang keesokan harinya akan naik tiang penggantungan. Dalam surat itu dia mengamanatkan kepada saya sebagai berikut: ‘Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini’.”

Iuran waktu, tenaga, bahkan nyawa diberikan karena rasa percaya yang mengikat mereka erat-erat dan menggerakkan mereka untuk bergotong royong mewujudkan cita-cita bersama. Saat itu Indonesia menjadi sebuah gerakan, semua ikut merasa memiliki dan bertanggungjawab mempertahankannya. Tidak hanya saat merebut kemerdekaan, Republik yang masih ‘bayi’ ini pun dipertahankan dengan semangat gotong royong segenap komponen bangsa yang dikenal dengan sishankamrata (sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta). Sistem yang dijadikan strategi resmi di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman ini menitikberatkan kemanunggalan antara Tentara Nasional Indonesia dengan rakyatnya sehingga persenjataan modern dan tentara terlatih Belanda pun dibuat kewalahan. Kemudian kita tahu pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya lewat konferensi Meja Bundar.

Pernahkah terlintas apa yang terjadi jika seluruh rakyat Indonesia mencukupkan diri untuk menyerahkan segala ihwal kemerdekaan pada Bung Karno dan Bung Hatta? Atau membiarkan Pak Dirman bergerilya hanya dengan satu paru-paru yang tersisa? Yang terjadi justru sebaliknya, segenap komponen bangsa ikut merasa memiliki masalah dan turun tangan secara sukarela dengan semua bidang keahlian mereka. Pejuang angkat senjata, petani menyumbangkan hasil buminya, guru menanamkan jiwa kebangsaannya hingga para ibu yang melepas dengan doanya.

Lantas bagaimana pengejawantahan semangat tersebut di era kiwari ini? Semangat pengorbanan yang kadang tak dapat dicerna akal logika seringkali kita temukan dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan.

Barangkali kita baru akan memahami semangat gotong royong generasi pendiri bangsa, jika dan hanya jika, kita menjauh dari urun angan di dunia maya lalu mendekat pada kerja-kerja nyata.

Kita semua pernah menjadi saksinya. Dalam gerakan TurunTangan ini kita pernah terkagum-kagum dengan semangat seorang pemuda yang harus menempuh lebih dari 4 jam perjalanan setiap minggu hanya untuk berbincang dengan kepala desa perihal ekonomi warga pasca-bencana. Dalam kegiatan TurunTangan ini kita terheran-heran mengapa ada seorang kepala sekolah yang rela “turun jabatan” melakukan edukasi politik bersama anak-anak muda yang bahkan seumuran anak pertamanya. Dalam gerakan TurunTangan ini kita mungkin sering bertanya-tanya darimana asalnya para mahasiswa yang hanya makan Indomie saat berjibaku bersama skripsi di akhir bulan, bisa ikut urunan dana untuk mempersiapkan upacara 17-an. Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir!

“Jikalau saya peras Pancasila yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!”, tegas Bung Karno dalam Pidato kelahiran Pancasilanya yang monumental 1 Juni 1945.

Ya, alangkah hebatnya mereka yang mampu menghayati nilai inti Indonesia hingga 71 tahun kemerdekaan ini. Memilih secara sadar untuk menjadi bagian dari meninggi-kuatkan sendi-sendi kehidupan bangsa, bukan bagian dari yang membuatnya keropos. Melihat apa yang pernah dan akan dilakukan oleh para relawan TurunTangan,

kita patut bersyukur & optimis bahwa bangsa ini masih memiliki pejuang-pejuang berhati tulus yang berusaha menjadi bagian dari solusi, bukan sekedar mencaci maki.

Kita tahu masalah di bangsa ini demikian banyak. Tentu tidak bisa berharap satu atau dua orang menyelesaikan semua masalah itu. Mari jadikan perayaan kemerdekaan ini bukan sekadar pengingat gelora perjuangan. Tidak pantas rasanya terus menerus merayakan kemerdekaan sambil berbisik memohon maaf bagi mereka yang belum sejahtera hidup di bawah kolong jembatan, belum tercerdaskan karena hidup termarjinalkan. Mari bangun kesadaran baru bahwa kita akan terus berusaha memenuhi janji dan ikut melunasinya bersama-sama!

Pria kelahiran Jakarta, 13 November 1988 ini bergabung dengan TurunTangan pada Januari 2014. Di TurunTangan pernah mengemban amanah sebagai poject management officer bidang politik, fasilitator relawan DKI Jakarta dan Jawa Barat hingga akhirnya dipercaya menjadi program manager pada awal 2016 sampai sekarang.

Komentar