Home Catatan Relawan Ini 11 Cerita Unik dan Kesan Relawan TurunTangan Ikut Kegiatan Kerelawanan

1317

Hari Relawan Sedunia atau International Volunteer Day (IVD) dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations pada 5 Desember 1985, sebagai ucapan terima kasih kepada relawan atas usaha mereka. Peringatan Hari Relawan Sedunia kemudian diperingati oleh mayoritas penduduk dunia, termasuk Indonesia. Menyambut hari penting bagi relawan tersebut, beberapa waktu lalu TurunTangan Jakarta membuat tantangan untuk para relawan: berbagi cerita unik dan kesannya ketika menjadi relawan di Instagram.

Yuk, simak cerita mereka. Yang belum pernah ikut kegiatan kerelawanan, habis baca dijamin tertarik ikut kegiatan kerelawanan. Yang sudah ikut, makin cinta sama dunia kerelawanan.

Adini Aprilia, TurunTangan Binjai: Banyak Hal Positif yang Didapat

P1100963 copy

Sudah dua tahun aku menggeluti dunia kerelawanan, dunia partisipasi nol rupiah ini. Dan sekarang aku ditanya “bagaimana kesan selama menjadi relawan?”

Jadi relawan itu, sesuatu. Banyak banget manfaat yang bisa didapatkan. Susah untuk dijelaskan. Kalau bahasanya orang karo sih ‘laterkataken’ atau ‘payah bilang lah’. Soalnya banyak banget hal-hal positif yang aku dapat selama jadi relawan. Bisa dapat ilmu baru apalagi tentang sosial, lebih tahu kondisi sosial masyarakat Indonesia, meningkatkan rasa simpati, bisa kemana-mana, dan dapat teman baru. Hal-hal itu, bikin hati jadi lebih bahagia. Dan yang terpenting, mengajarkan aku untuk lebih bersyukur dan bertanggung jawab dengan kewajiban sendiri.

Enggak tahu ya, jadi relawan itu kan banyak memberi, baik materi, tenaga, bahkan waktu. Tapi kalau dirasakan, sepertinya malah aku yang banyak menerima. Senang rasanya saat melihat orang lain tertawa karena kita.

Ada pengalaman paling berkesan saat menjadi relawan. Saat mengunjungi pengungsi bencana Sinabung, ketemu anak umur 4 tahun namanya Desti. Melihat dia ketawa dan dia memelukku erat di gendongan, membuat aku terharu sekali. Jadi sebenarnya pepatah “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah” itu benar. Dan aku sudah membuktikannya.

Jadi, giliran kamu kapan? Yuk, jadi relawan. Karena relawan tidak dibayar bukan karena tidak bernilai, namun karena tak ternilai.

Christian Herlando, TurunTangan Malang: Belajar Bersyukur

1b180d144e8844aea4c6d82679e1125d_16113013Menjadi relawan merupakan salah satu cara bagaimana kita dapat bersyukur. Melalui kegiatan- kegiatan positif kerelawanan salah satunya menolong orang lain. Kita dapat belajar, bahwa hidup tidak sekedar untuk membahagiakan diri sendiri.

Bergabung dengan teman – teman TurunTangan Malang menyadarkan saya bahwa masih banyak orang baik yang mau peduli terhadap sesamanya. Menjadi relawan bukan suatu hal yang mudah, tetapi dengan bersama – sama, kita dapat membuat sebuah perubahan besar. Karena kami generasi yang tidak tinggal diam dan mendiamkan adanya sebuah permasalahan.

Ini kami, pemuda yang terus TurunTangan, bergerak dan berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.

Lia Maisarah, TurunTangan Lhokseumawe: Jadi Lebih Bersemangat dan Punya Tujuan

9cd06ff3fd035a11fc8f232ce9e4fde3_16122706

Berawal dari keisengan dan rasa penasaran, saya mencoba mendaftar menjadi relawan, yang saat itu memang sedang open recruitment.  Awalnya saya berfikir untuk apa saya bersusah payah hanya demi jadi seorang relawan yang hanya buang-buang waktu saya saja. Namun, seiring waktu bersama dengan relawan yang lain bahwa menjadi relawan adalah pilihan bukan paksaan.

Di saat saya dalam kesusahan mereka mampu merangkul saya untuk terus semangat dan pantang menyerah. Selalu sesuai dengan semboyan TurunTangan, pejuang bukan? Hadapi! Saya sadar, bahwa di luar sana banyak anak-anak yang mengalami keterbatasan dalam pendidikan, namun tak pernah mengeluh dan padam semangatnya. Mereka selalu terlihat ceria dan gembira dan dengan bangga menceritakan cita-citanya.

Dengan semangat mereka jadi pembelajaran saya untuk bisa tetap semangat. Sehingga, niat awal saya yang cuma-cuma kini bisa menjadi berguna dan terarah. Saya punya tujuan dan punya mimpi untuk bisa membantu adik-adik yang memiliki keterbatasan pendidikan, untuk terus berjuang. Saat ini, demi bisa berbagi dengan adik-adik hujan badai dan panas terik sekalipun bahkan tak lagi menyurutkan semangat saya.

Relawan adalah mereka yang dengan sukarela membantu orang tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Dengan pengalaman yang luar biasa, yang bahkan belum tentu mampu kita dapatkan di bangku perkuliahan ataupun ketika kehidupan sehari-hari. Karena bagi relawan mampu mendapatkan senyum saja dan doa dari orang yang mereka bantu adalah hal yang sangat luar biasa, yang bahkan takkan mampu jika kita menilainya dalam bentuk rupiah.

Al-Maidah, TurunTangan Medan: Mendapatkan Inspirasi Baru

1518350_388385734691865_3330943133149814893_n

Pengalamanku ketika menjadi relawan Kelas Inspirasi Deli Serdang.  Awalnya tidak pernah menyangka bahwa sekolah yang akan menjadi target Hari Inspirasi adalah sekolah “marginal” yang jaraknya lumayan jauh dari kota Medan. Yakni, SDN 106156 Klumpang Kebun, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Perjalanan menuju sekolah benar-benar butuh perjuangan, kondisi hujan rintik-rintik sehingga mengakibatkan jalanan licin dan sebagian banjir. Setelah beberapa waktu sempat salah jalan sehingga beberapa relawan nyasar di perkebunan tebu-tebu tak berpenghuni. Hingga akhirnya menemukan beberapa rumah kemudian bertanya kepada warga. Pertama sekali sampai di sekolah, pandangan kami dikejutkan dengan halaman sekolah yang banjir. Siswa-siswi sekolah itu banyak yang tidak hadir. Bahkan guru-guru juga bingung dengan kedatangan kami di sekolah mereka.

Walau situasi dan kondisi tidak mendukung, tetapi kami tetap bersemangat untuk masuk kelas, berbagi cerita, pengalaman, inspirasi untuk mewujudkan mimpi anak negri. Mirisnya, ketika ditanya banyak dari anak-anak yang tidak tahu apa cita-cita mereka, tugas kami hanya memberikan pemahaman serta penjelasan mengenai cita-cita yang sesuai dengan diri anak-anak. Sampai di penghujung Hari Inspirasi, kami memberikan kertas kecil untuk anak-anak menuliskan cita-cita mereka yang kemudian ditempelkan di pohon cita-cita yang telah kami sediakan. Hingga akhir acara, diisi dengan menerbangkan balon sebagai simbolis bahwa cita-cita mereka setinggi langit.

Hari Inspirasi “Sehari mengajar, seumur hidup menginspirasi” adalah momen yang tak akan pernah terlupakan karena sepertinya bukan anak-anak yang terinspirasi tetapi kami para relawan yang sangat terinspirasi dan terharu dengan kondisi anak-anak di sekolah tersebut. Bahkan, jika diberi kesempatan untuk kembali diamanahkan pada Hari Inspirasi, kami para relawan akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Karena pengalaman dan cita-cita itu ditumbuhkan bukan dicari. Pejuang bukan? Hadapi!

Fauzan Martak, TurunTangan Jakarta: Kaya Pengalaman

IMG-20161128-WA0032

Tulisan ini enggak ada hubungannya sama anak muda yang merasa dirinya menjadi relawan saat momen untuk mendukung sosok. Tulisan saya ini tertuju untuk para anak muda yang sabtu dan minggunya dihabiskan untuk peduli dan berkontribusi nyata akan permasalahan bangsanya.

Berbicara mengenai relawan hari ini, menurut saya, relevan dengan gaya hidup anak muda Indonesia masa kini. Kenapa? Karena banyak anak muda Indonesia yang mulai sadar akan cerita perjuangan para pahlawan yang dulu memperjuangkan bangsanya, yaitu Indonesia.

Selama saya sekolah dan belajar sejarah enggak ada cerita, para pahlawan yang memilih berjuang dengan alasan karena perjuangan lagi jadi tren di luar negeri, lagi viral di negara A, dan lagi booming di negara B.

Alasan para pejuang memilih untuk berjuang, karena mereka sadar, bahwa bangsanya lagi dijajah. Hanya, mereka enggak memilih untuk berdiam diri atas permasalahan bangsanya. Mereka memilih untuk menjadi relawan tanpa pamrih dan ikhlas untuk menjadi bagian sejarah perubahan untuk memerdekan bangsanya.

Dua tahun sudah saya menjadi relawan. Keluarga, saudara, teman banyak yang menanyakan, “Alasan apa yang membuat saya jadi relawan? Kenapa mau menghabiskan waktu kamu, cuma buat aktifitas 0 rupiah?” Sulit menjelaskan, kalo mereka enggak ikut berpatisipasi dan merasakan langsung aktivitas kerelawanan. Paling jawaban simpelnya, “Biar masa muda enggak dihabiskan buat gabut, pacaran atau kenikmatan dunia semata seperti dugem, nge-mall, nge-bigo, dan lain-lain.”

Kalau anak muda sudah berikhtiar untuk menjadi bagian dari solusi dengan niat tulus, komitmen enggak akan jadi murah, waktu enggak ada yang enggak produktif, dan kelak akan menjadi orang yang kaya bukan dari segi materi melainkan pengalaman dan cerita yang dapat dibagikan ke para anak dan cucu kita. Yuk, menjadi bagian anak muda dengan sensasi rakyat asli Indonesia terdahulu. Yang siap berjuang untuk bangsa dan negaranya … Pejuang bukan? Hadapi!

Tika We, KNM: Belajar Kerja Tim

KNM Tingkatkan Wawasan Kebangsaan 1

Kelas Negarawan Muda (KNM) pernah melakukan kunjungan ke kediaman Agum Gumelar. Dari Beliau kami belajar tentang kerja tim dan menghormati keputusan pemimpin tapi enggak ABS (Asal Bapak Senang). Teorinya gampang, waktu dipraktikin di komunitas kerelawanan… Ngeri-ngeri sedap!

Itulah kenapa aku betah di dunia kerelawanan, ya biar terus belajar kerja tim yang bener-bener tanpa pamrih. Kerasa banget, kerja sama relawan nol rupiah enggak bisa pakai iming-iming jabatan apalagi uang, karena mereka hadir untuk mendukung gagasan positif.  Jadi kalau mau survive otak musti diputer terus!

Alvi Kusuma, KNM: Ketemu Jodoh Baik

Belajar PPKN Asyik bersama Kelas Negarawan Muda (1)

Awalnya gabung di kegiatan kerelawanan cuman sesederhana “gue musti cari kesibukan, biar bisa secepatnya move on dari mantan.” Kata “kerelawanan” emang jauh dari dunia gue yang notabene mahasiswi farmasi dengan rute kelas-laboratorium-indekos, kelas-laboratorium-indekos. Tapi, setelah menerjunkan diri ke dunia ini, gue merasa diri “gue kemana aja selama ini?”

Manfaat jadi relawan yang gue rasain banyak banget. Kegiatan kerelawanan memberikan gue banyak hal. Ya ilmu baru, teman baru, keluarga baru. Di sini gue tahu bahwa ternyata masih banyak orang yang mau peduli sama orang lain. Di kala banyak pemuda lain yang hanya mikirin dirinya sendiri “asal gue happy“, putus asa sama bangsanya lalu memaki, di dunia kerelawanan gue menemukan orang-orang luar biasa yang mau repot-repot mikirin dan bertindak sesuatu untuk memperbaiki nasib orang lain pun mencerahkan masa depan bangsanya.  Satu nilai yang gue petik dari dunia kerelawanan ini, bahwasanya ketika lo bikin orang lain bahagia, lo juga akan bahagia atas kebahagiaan orang itu!

Dan di dunia kerelawanan, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik pula. Termasuk jodoh yang baik.

Dini Rahmafathi, TurunTangan Malang: Terhindar dari Depresi

TurunTangan Malang (2)

Relawan? Volunteer?

Konsep relawan bagi saya itu bukanlah se-RELA-nya ataupun se-SUKA-nya melainkan ia yang RELA waktu,tenaga,pikiran maupun materinya diberikan secara utuh karena ada rasa memiliki dan kesamaan visi di dalamnya.

Tiga tahun tergabung diberbagai kegiatan sosial kerelawanan mengajarkan pada saya bahwa bukan mereka yang butuh kita, tetapi kitalah yang membutuhkan mereka. Percaya enggak percaya, menjadi relawan menghindarkanmu dari depresi loh.

Ada yang pernah mengatakan “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang telah kau berikan pada negara.” Relawan? ia haruslah hadir di tengah-tengah permasalahan yang sejatinya belum mampu di selesaikan pemerintah kita. Sosial, Pendidikan, lingkungan, budaya, anak jalanan. Apapun itu, semoga menjadi ladang amal bagimu kawan.

Indah Putri, Rumbelraw: Hidup Lebih Bahagia

IMG-20150707-WA0003

Di Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw) aku bertemu dengan banyak anak-anak. Mengenal mereka dapat vitamin B lho! Vitamin apa itu? Bahagia.

Dari mereka aku belajar bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana melihat senyum dan tawa mereka yang semangat datang pagi untuk belajar meski hari minggu. Sesederhana sapaan mereka, sesederhana salam mereka dan hormat mereka. Tawa mereka itu candu yang mendorong datang disetiap minggunya.

Mengenal Relawan yang lain adalah pelajaran. Pelajaran yang tak ternilai harganya dan pengalaman yang terus bertambah tanpa biaya sepersen pun. Datang dan pergi dalam hal kerelawanan adalah hal wajar. Tapi Relawan selalu punya ruang saat kembali dan berbagi ilmunya ketika kembali datang.

Anindya Dyah, KNM: Keluarga Baru       

18 copy

Kelas Negarawan Muda pernah ada yang membuat Olimpiade Negarawan Muda (OSM). Ide OSM muncul dari seorang relawan yang memiliki keresahan melihat krisis negarawan di Indonesia. Tercetuslah untuk membuat miniatur project yg mampu diaplikasikan oleh adik-adik SMA, dan akhirnya didukung oleh seluruh teman-teman yang lain atas idenya.

Ada yang rela menginap di lokasi atau menumpang rumah kawan. Ada pula yang datang pagi buta hingga mengagetkan yang sedang tertidur, padahal baru tidur barangkali satu jam dua jam. Ada yang rela mondar-mandir mencari peralatan yang jauh dari pinggir kota ke tengah kota. Bahkan ada yang rela mencutikan diri dari kegiatannya.

Canda tawa tangis marah, kesal, repot, lelah, bahagia, dan lega menghiasi perencanaan juga saat kegiatan ini berlangsung. Kesempatan berharga dan tak ternilai seperti ini, bisa aku dapatkan karena berkumpul dengan mereka.

Mereka, yang bahkan sering tak mau disebut-sebut, sebab mereka melakukan semua karena hati yang tergerak, pakai hati dan memang senang melakukannya tanpa pamrih. Tapi mereka itulah, yang sering kalian sebut relawan.

“Relawan yang tidak ternilai bukan karena tidak berharga, tapi karena memang tidak ternilai.” Sebutan relawan itu tidak bisa dibeli, kalian harus melewati dan merasakannya langsung dan itu luar biasa!

Ada kepuasan tersendiri saat kalian bisa melakukan kegiatan positif di luar kegiatan rutinitas yang beragam latar belakangnya yang terkadang membuat jengah. Kegiatan yang independen tanpa lembaga kantor atau kampus, bebas, asik, seru, penuh kreasi dan yang paling penting … ada manfaatnya!

Falin Nur Alisa, Rumbelraw: Obat Lelah

Rumah Belajar Rawamangun

Anak-anak itu ajaib. Bisa di bayangkan gimana capek, lelah dan payahnya badan habis naik turun gunung. Waktu itu habis dari Gunung Guntur, baru sampai indekos jam 1 pagi lebih, tidur baru jam 2-an pagi.

Capeknya nauzubillah. Pagi bangun sudah berasa remah-remah badannya. Berhubung mau tidur lagi sudah enggak bisa, ya sudah saya nekat naik Go-Jek buat ke Rumbelraw. Padahal awalnya sudah minta Lizin buat enggak ikut ngajar dan istirahat. Tapi saat ketemu adik-adik Rumbelraw, sejenak bener-bener lupa sama rasa capek, pegal, dan remuknya badan. Bener-bener lupa!

Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

Komentar