Home Artikel Populer Kepemimpinan Yang Menggerakkan

Pemimpin Orchestra

Saya dan teman saya Lisa sedang menunggu di boarding room menuju Bali ketika saya ingat bahwa saya membawa sebuah buku edaran kecil yang berisi gagasan-gagasan Anies Baswedan tentang Pancasila yang dibagikan kemarin ke kawan-kawan pers di Deklarasi Konvensi Partai Demokrat.

“Baca deh, bagus dan ringan,” ujar saya.

Sambil dia membaca, saya juga meneruskan bacaan saya.

Setelah waktu berselang cukup lama, saya sudah berpikir bahwa dia akan bosan dan akan mengembalikan buku itu. Tiba-tiba dia mengangguk-angguk, “Bener banget nih ko.”

Dia menunjuk ke satu bagian dari buku itu. Di sana Mas Anies menulis:

“Kepemimpinan ideal, dalam imajinasi saya, seperti sebuah konduktor dalam sebuah orkestra. Coba kita tanya kepada pemain biola: Bisakah main tanpa konduktor? Bisa! Tanya pemain piano: Bisakah main tanpa konduktor? Bisa! Tanya2 seluruh pemain orkestra. Semua bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan tanpa kehadiran seorang konduktor.

Tapi kehadiran konduktor itu memberikan nyawa, menyajikan nuansa, menyodorkan perasan tujuan yang sama. Dia hadir dan menggerakkan, membuat semua merasa punya tujuan, membuat semua mau bergerak. Dia menggugah untuk semua mau turun tangan. Konduktor tak perlu jadi pemain idola, bas, atau piano. Setiap orang memainkan perannya, tapi konduktor merancang, menyiapkan, dan mendorong semua untuk bergerak menuju ke tujuan yang sama.

Sekali lagi, problem di bangsa ini demikian banyak. Tidak bisa kita berharap satu atau dua orang menyelesaikan semua masalah itu. Semua orang harus bergerak sesuai sektor, bidang dan kemajuan masing-masing sebagaimana telah ditunjukkan secara amat anggun oleh pendiri Republik dan telah secara eksplisit dikatakan Bung Karno: Gotong Royong!”

Lisa ini selain menjadi salah satu fotografer di tempat kami, dia juga adalah anggota dari salah satu paduan suara terbaik di Indonesia. Dia pernah terbang ke Itali bersama paduan suaranya untuk membawa pulang piala juara dunia. So she knows what she’s talking about.

“Dulu waktu awal-awal ikut paduan suara aku juga nggak ngerti ko, apa gunanya sih konduktor. Tapi sekarang sudah sangat mengerti, dan beda sekali hasilnya.”

Mungkin seperti Lisa dulu, sampai sekarang pun saya tidak terlalu mengerti dan paham peran konduktor. Saya sering menganggap bahwa dia hanya ‘nice to look at’ oleh penonton. Berguna hanya untuk membuat orang ‘tergugah’ saja dengan hentakan-hentakan tangannya. Maksud saya, para pemain masing-masing sudah punya kertas partitur (nada musik) di hadapan mereka kan? Tanpa konduktor pun harusnya mereka bisa bermain sendiri kan? Tapi mendengar Lisa berbicara, sepertinya banyak yang harus saya pelajari.

Dia itu kasih nyawa dalam sebuah karya. Ibaratnya lagu itu seperti roti tawar. Mau dibawa kemana roti ini. Kasih topping coklat, strawberry, atau mungkin rubah rotinya, itu tergantung konduktornya.”

“Di kepala dia itu sudah ada nada yang dia mau bawakan. Komposisi di dalam otak dia sudah ada. Dan dia bisa bawa kita menciptakan rasa itu. Persis seperti pelukis, dia lihat kurang awan di sini, warna biru di sana, merah di sini. Sampai akhirnya ‘jadi’.”

Kita sangat percaya kepada konduktor kita. Kadang malahan dia membuat perubahan tiba-tiba di tengah-tengah pertunjukan, tapi kita semua serentak mengikuti dia tanpa sedikitpun ragu, karena kita percaya penuh bahwa dia berbuat demikian karena hasilnya akan baik.”

Lanjutnya lagi, “Banyak bagian di lagu-lagu tertentu itu sepertinya mustahil untuk dilewati dengan baik, tapi dengan adanya konduktor yang handal, dia bisa bawa kita semua melewati itu dengan mulus.”

“Betul banget bahwa konduktor itu ga harus bisa main alat musik, tapi dia bisa memimpin para pemainnya, membawa penjiwaan permainan kita semua searah.”

“Dia harus bisa mengayomi, bukan menyuruh. Merangkul semua anggota paduan suara jadi nggak individualistis lagi. Kita menyanyi buat semua, bukan menunjukkan suara kita hebat.”

Paduan suara yang jelek, mereka ga peduli siapa yang berdiri di depan. Semua menyanyi untuk dirinya sendiri. Jadinya yah berantakan, dan keliatan sangat individualistis. Ancur deh pokoknya.”

“Waktu kita baru mulai dulu, anak-anaknya semua masih sombong, egonya pada tinggi, dan ga peduli. Jadi kalau kita menyanyi ya jelek banget. Trus kita pernah ikut satu workshop, ketemu konduktor yang bisa dibilang sudah level maestro lah. Kita ya takut juga, terkesima juga dengan pembawaannya, jadi waktu kita menyanyi kita dirangkul oleh kepiawaian dia, dan jadinya bagus banget. Yah saya jadi percaya bahwa paduan suara yang jelek jika terus dibawakan oleh konduktor yang jago pasti akan terkikis individualismenya dan pelan-pelan berubah.”

Bukan kebetulan ketika sambil saya menulis ini saya membaca dari akun Twitternya Mas Addie Ms bahwa albumnya ‘The Sounds Of Indonesia’ sedang bertengger di puncak iTunes Store Chart.

Langsung saya download dan saya putar menemani saya menulis tulisan ini. Dan untuk sejenak, saya mulai mengerti tentang apa yang Lisa ceritakan dari tadi.

Storyteller. Memilih untuk turun tangan.

Komentar