Home Artikel Populer “Kita butuh pemimpin yang bisa kerja, bukan hanya jago pidato!”

Kerap kali komentar di atas ditujukan ke Mas Anies setelah mendengar salah satu pidato beliau yang memang hampir selalu menggugah mereka yang mendengarnya.

Jujur saya selalu bingung jika mendengar kalimat tersebut.

Bukannya inisiatif Gerakan Indonesia Mengajar didirikan karena beliau ‘geram’ dengan sikap publik dan pemerintah yang hanya kaya wacana tapi lamban untuk melakukan apa-apa.

“Berhenti mengutuk kegelapan. Mari kita nyalakan lilin.” Kalimat ini hampir seperti slogan untuk Gerakan Indonesia Mengajar yang didirikan di tahun 2010, karena begitu sering beliau ucapkan berulang-kali dalam berbagai kesempatan.

Saya pernah sebulan ditempatkan di daerah pelosok, hidup bersama para pengajar muda di Halmahera Selatan, dan saya akan benar-benar marah jika dikatakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak disebut sebagai ‘tindakan nyata’, ‘kerja’ atau ‘membawa perubahan’.

Gerakan Indonesia Mengajar begitu membakar pemuda-pemudi Indonesia untuk meninggalkan sikap ‘cuma bisa kritik’ dan ambil bagian dan langsung bekerja. Puluhan ribu mendaftar, ratusan sedang berada di daerah penempatan dan ratusan sudah kembali untuk bekerja membawa integritas dan optimisme di sektor swasta dan publik.

Begitu banyaknya karya nyata yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Mulai dari hal-hal terkecil seperti murid-murid yang akhirnya bisa mengerjakan soal-soal perkalian sederhana, sampai hal-hal masif yang mengubah sebuah desa seperti pekatnya optimisme warga karena murid-murid mereka pulang membawa piala-piala di lomba-lomba kabupaten. Tak terhitung pula berapa banyak pejabat publik di daerah yang tertular hawa perubahan yang dibawa pengajar-pengajar muda ini, mengurangi korupsi dan menambah program-program nyata.

Belum lagi dalam lingkar terkecil, bagaimana orang-orang tua berhenti menggunakan kekerasan terhadap anak-anaknya dan mulai melihat mereka sebagai anak-anak yang ternyata punya masa depan dan bukan ditakdirkan untuk miskin dan terbelakang seumur hidup mereka.

Kalau itu bukan kerja, saya ga tau lagi deh.

Lihat saja acara akbar Gerakan Indonesia Mengajar selanjutnya: Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Slogan mereka, “Ayo Kerja, Kerja Bakti!” dan “Segera Berbuat, Serentak Bergerak.” Konsepnya adalah mereka yang datang dan bersimpati pada gerakan ini ikut ‘berprakarya’ – selama tiga hari membuat puluhan ribu alat-alat peraga yang akan dikirim ke seluruh sekolah-sekolah di Indonesia.

I mean, how cool-creative-effective is that.

Seluruh semangat Indonesia Mengajar adalah tentang kerja dan bertindak dan sekarang dan hayo turun daripada “nyinyirrrr terusss sobb capeeee dengerrnyee sobbb…” Sudah tiga tahun berlalu dari kepergian saya, namun hingga saat ini hati ini selalu bergetar setiap bertemu keluarga baru saya ini. Saya kagum bahwa mereka itu bekerja. Dan kerja. Dan kerja. Dan kerja.

Jadi, bisa mengerti dong mengapa saya bingung setiap mendengar kalimat di awal tulisan ini.

Jangan pernah berkata Anies Baswedan tidak bisa bekerja kawan.

Bukankah membawa visi, menyebarkan optimisme, memimpin perubahan, menembus birokrasi, menantang status quo, memasang badan, menerima tanggung-jawab, mengambil keputusan-keputusan sulit, menarik mereka-mereka yang peduli, menginspirasi mereka yang mau bergerak, membakar mereka yang mau bekerja, semuanya itu adalah ‘kerja seorang pemimpin’?

Jika bukan, apa definisi ‘kerja seorang pemimpin’ yang akan memuaskan kalian?

Mencangkul membersihkan selokan? Atau memukul-mukulkan palu di sebuah situs konstruksi sambil berpeluh hebat? Mungkin kalian sedang membayangkan iklan Extra Joss.

Pernahkah kalian lihat jadwal keseharian dia? Apakah dia sulit sekali ditemui karena dia selalu ada di dalam kamar tidur-tiduran di ranjang sambil bermain Candy Crush Saga?

Banyak hal tentang Mas Anies yang saya tidak tahu, tapi satu hal yang saya tahu pasti, dia bisa dan sudah bekerja banyak untuk bangsa ini.

Edward Suhadi

Storyteller. Memilih untuk turun tangan.

Komentar