Home Catatan Relawan Liputan Khusus Gathnas TurunTangan 2016: Kolaborasi untuk Negeri

365

Sejak 2014, setiap tahun, TurunTangan mengadakan Gathering Nasional (Gathnas), acara akbar yang bertujuan mempertemukan relawan TurunTangan se-Indonesia untuk menularkan semangat, ide, dan pergerakan di setiap daerah. Tahun ini Medan menjadi tuan rumah. Itu sesuai kesepakatan pada Gathnas relawan TurunTangan di Yogyakarta tahun lalu.

Gathnas 2016  dilaksanakan di LPMP Medan, Jalan Bunga Raya No. 96 Asam Kumbang. Selama empat hari dari 23-27 November. Mengangkat tema, “Semangat Kolaborasi, Sehati untuk Negeri”,  acara ini terbuka untuk umum dan terdiri dari diskusi panel dan pengabdian masyarakat.

Kamis, 24 November

Hari ini adalah hari kedatangan para relawan. Informasi dari media sosial, relawan TurunTangan Aceh dan Lhokseumawe berangkat pada Rabu malam menggunakan bus. Jumlah mereka cukup banyak, ada puluhan. Setelah menempuh perjalanan semalaman, mereka tiba pada Kamis siang dan langsung digiring oleh panitia menuju Wisma LPMP. Selama tiga hari mereka akan menginap di sini. Sementara itu relawan dari luar Medan lainnya menggunakan jalur udara dengan waktu tiba yang beragam. Ada yang sehari sebelum acara, Kamis pagi, siang dan malam, bahkan keesokan harinya.

Malam hari, relawan yang sudah datang dikumpulkan di aula. Acara pun dimulai dengan sesi perkenalan antar relawan dengan cara unik.  Sebuah games yang diiringi dengan dentuman musik. Semua tampak menikmati dan gembira. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai agenda kegiatan dan tata tertib Gathnas.

Jum’at, 25 November

Kira-kira satu jam setelah sholat subuh, panitia membangunkan peserta satu per satu. Mereka bawa sarapan sembari mengingatkan untuk segera bersiap-siap karena acara segera dimulai. Pagi itu ada kelas wawasan lingkungan dari Antonio Sipayung SP, seorang research and advocacy staff for foresty and plantation sector Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Pukul 8.00 WIB kelas dimulai. Antonio menjelaskan tentang kebijakan pemerintah yang harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Dia tidak sepakat dengan konsep pembangunan yang merusak ekosistem, seperti reklamasi di Jakarta dan Bali. “Pembangunan yang merusak lingkungan sebenarnya pembangunan untuk siapa, pemerintah berpihak kepada siapa. Para pemuda khususnya mahasiswa, seharusnya sadar kepada siapa kita harus berpihak,” ujar Antonio.

Lalu dia mengutip pendapat Tan Malaka tentang pemuda. “Bila kaum muda yang belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita cita sederhana, maka pendidikan itu lebih baik tidak diberikan sama sekali.”

Bersamaan dengan kelas itu, Head of Programme TurunTangan Chozin Amirullah memberi wawasan mengenai peran pemuda sebagai agen perubahan sosial, untuk ikut ambil bagian, terlibat menyelesaikan masalah yang ada di negaranya.

Usai kelas itu, dilanjutkan dengan seminar “Barat Timur Tetap Bergerak”. Pada sesi ini perwakilan dari lima daerah memaparkan project-nya. Ditambah pemaparan project dari TurunTangan pusat. Adapun project-project itu adalah Kelas Negarawan Muda (TurunTangan Jakarta), Swara DPR (TurunTangan Bandung), Olimpiade Sekolah Rakyat (TurunTangan Surabaya), Banjarmasin City Scale Mapping (TurunTangan Banjarmasin), Ruang Sinau (TurunTangan Malang), dan Science, Technology, Engineering and Mathematic, disingkat STEM (TurunTangan Pusat) .

Karena terbuka untuk umum, seminar Barat Timur Tetap Bergerak dihadiri oleh puluhan pemuda dari berbagai komunitas yang ada di Medan. Dan seluruh peserta merasakan banyak manfaat mengikuti seminar ini sebab mereka jadi tahu bahwa banyak cara untuk berkontribusi bagi negeri salah satunya membuat gerakan sederhana untuk menyelesiakan permasalahan di sekitarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan kelas tranparansi dan gerakan media online. Kelas transparansi disampaikan oleh Lia Toriana yang menjabat sebagai Manajer Youth Department Transparency International Indonesia. Lia mengatakan kasus korupsi di Indonesia cukup memprihatinkan. Harus banyak orang yang mau turun tangan untuk memberantasnya. “Kalau korupsinya berjemaah, melawannya tidak bisa sendiri. Untuk itu butuh komunitas,” kata Lia.

Kelas media online disampaikan oleh Alfatih Timur. Ia sempat menjadi relawan TurunTangan, kemudian menggagas crowdfunding platform KitaBisa.com. Relawan belajar mengenai bagaimana menggerakkan orang melalui media online. Dalam membuat campaign gerakan diperlukan pengetahuan yang baik agar bisa menggerakkan orang.

Dari Alfatih relawan tahu, hal yang menarik donatur untuk berdonasi adalah kasus di bidang kesehatan seperti orang sakit dan perlu segera dilakukan pengobatan atau operasi.  Serta kasus pendidikan seperti mahasiswa yang terancam DO karena tidak mampu membayar uang SPP lantaran tidak ada biaya.

Bidang kerelawanan yang bersifat sosial memang kurang menarik donator. Diperlukan strategi dalam membuat campaign: membuat narasi gerakan semenarik mungkin, singkat, padat dan jelas. “Jangan terlalu panjang, gunakan gambar dan video yang menarik simpati para donator. Cantumkan gerakan sosial tersebut ditujukan kepada siapa, lebih baik tertuju jelas seperti alumni kampus, warga kota Jakarta, alumni himpunan mahasiswa, atau lembaga yang terafiliasi dengan gerakan kita,” papar Alfatih.

Siapa penyelenggara kegiatan pun menjadi penting, maka nama baik komunitas harus dijaga agar donatur percaya dan mau tergerak untuk mendonasikan dananya disetiap kegaitan sosial relawan.

Menjelang sholat maghrib, kelas selesai. Peserta dipersilahkan kembali ke kamarnya masing-masing. Acara kemudian dilanjutkan dengan refleksi TurunTangan 2016. Setiap relawan diberi kesempatan untuk menyampaikan kritik dan sarannya kepada TurunTangan pusat untuk kemajuan TurunTangan selanjutnya.

Sabtu, 26 November

Pagi ini seluruh relawan melakukan senam pagi. Melenturkan otot-otot yang kaku sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Sinabung. Sesuai jadwal, peserta akan dibawa ke lokasi kamp pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung untuk melakukan pengabdian masyarakat.

Gunung Sinabung adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo. Memiliki ketinggian 2.451 meter. Gunung ini tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada 2010. Letusan terakhir terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sampai sekarang masih menetapkan status siaga terhadap Sinabung. Pemerintah menghimbau warga untuk meninggalkan zona merah dalam radius 4 km dari kawah yang dinyatakan sebagai wilayah tertutup. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi di beberapa lokasi kamp pengungsian. Salah satunya warga Desa Mardinding yang mengungsi di kamp pengungsian di Desa Terong Peren, Kecamatan Inderket, Kabupaten Karo.

Dua tahun lalu, relawan TurunTangan Medan sempat melakukan aksi sosial di Desa Mardinding. Tidak hanya menyalurkan bantuan berupa sembako, mereka juga membuat rumah belajar dan rumah jamur untuk membantu perekonomian warga. Kegiatan tersebut akhirnya berhenti. Pemerintah merelokasi Desa Madinding lantaran Gunung Sinabung terus batuk-batuk.

Pengabdian masyarakat ini menjadi contoh bagi relawan TurunTangan lainnya untuk ikut terlibat aktif menyelesaikan masalah yang ada di daerahnya seperti yang dilakukan oleh relawan TurunTangan Medan.

Perjalanan menuju Gunung Sinabung cukup lancar. Kabupaten Karo menyambut peserta dengan pemandangan alam yang memukau. Hutan lebat, sungai, dan perkebunan. Angkuhnya Gunung Sinabung yang masih mengeluarkan abu vulkanik nampak dari kejauhan. Menurut, relawan TurunTangan Medan, Azhar, saat itu status Gunung Sinabung memang sedang awas.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya peserta tiba di lokasi kamp pengungsian. Anak-anak pengungsi keluar berhamburan, seolah menyambut kedatangan peserta saat itu. Rupanya, mereka sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka ke rumah belajar di desa sebelah. Setiap sore, anak-anak Desa Mardinding mengikuti les tambahan. Pendidikan menjadi nomor satu bagi warga Desa Mardinding. Meski kondisi yang sangat terbatas, tak pernah menyurutkan semangat belajar anak-anak.

Peserta dibagi ke dalam tiga tim: medik, trauma healing anak-anak dan orang tua. Seluruh relawan sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Mereka membawa niat tulus membantu pengungsi untuk bisa bangkit dari penderitaan yang mereka alami. Warga pun menyambut kedatangan mereka.

Tim medik membuka pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Tim trauma healing anak-anak, mengajak anak-anak bermain games dan bernyanyi bersama. Tim trauma healing orang tua berbaur dengan para orangtua, mendengar keluhnya, sesekali memijat kaki dan tangannya.

Dari mengobrol dengan warga, terkuak masyarakat mulai stres dalam menjalani kehidupan di kamp pengungsian. Satu tahun lebih, mereka tinggal di barak-barak seadanya. Pemerintah daerah pernah menjanjikan Hunian Sementara (Huntara). Namun, sampai saat ini pembangunan Huntara belum juga dimulai. “Sosialisasinya sudah lama, tapi sampai sekarang Huntara belum juga dimulai,” ujar Devianti Boru Sembiring. Kepala Desa Mardinding Jepri Sangat berharap segera mendapat kabar soal hunian tersebut.

Jepri mengatakan jumlah warga Desa Mardinding yang mengungsi ada sebanyak 940 jiwa yang terdiri dari 268 kepala keluarga. Selain hunian, warga Desa Mardinding membutuhkan dermawan yang bersedia menjadi orangtua asuh bagi anak-anak mereka agar tidak putus sekolah. “Semangat belajar anak-anak di sini tinggi. Kami sangat mendukung tapi kami tidak ada biaya, sehingga kami berharap ada orang yang bersedia menjadi orangtua asuh agar mereka bisa sekolah tinggi,” kata Jepri.

Cuaca Karo sore itu sedang tidak baik. Langit tertutup awan tebal dan gerimis. Sahdu dan haru, itu kesan yang dirasakan. Pengabdian masyarakat membekas di hati relawan. Mereka pun pulang dengan membawa rasa syukur dan tergerak untuk terus turun tangan membantu sesama.

Sekembalinya dari Karo, acara dilanjutkan dengan pentas seni, pemilihan tuan rumah Gathnas 2017 dan api unggun.

Minggu, 27 November

Di hari penutupan Gathnas 2016, Founder Nyvara Foundation Adri, datang dan berbagi cerita kepada seluruh peserta tentang bagaimana membuat dan menjalankan gerakan yang pernah ia inisiasi.

Setelah itu, ada pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dan penyerahan sertifikat kepada perwakilan relawan dari setiap daerah. Relawan juga diminta mengungkapkan kesan-kesannya ikut Gathnas selama empat hari.

“Sebelum ke sini, di perjalanan benar-benar ingin cari ilmu dan pengalaman dari teman-teman relawan. Sepanjang perjalanan berdiskusi apa yang harus terjawab di sini. Pertanyaan kami harus terjawab. Karena kami merintis sehingga perlu. Di Gathnas ini, saya dapat hampir 90 persen jawaban atas pertanyaan itu seperti media sosial. Sampai ketemu di Gathnas 2017,” kesan relawan TurunTangan Binjai, Andini Aprilia.

 

Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

Komentar