Home Profil Relawan Maisal Cinta Mengajar

483

Seperti yang kita ketahui, TurunTangan Aceh fokus bergerak di bidang pendidikan. Mayoritas kegiatannya yakni mengajar ke sekolah-sekolah. Justru karena ini, membuat Maisal Rahmadi Aka, bisa bergabung dengan TurunTangan Aceh. Maisal, demikian biasanya dia dipanggil, bergabung dengan TurunTangan Aceh tepatnya pada pertengahan 2014 lalu saat TurunTangan Aceh membuka Program TurunTangan Aceh Mengajar.

“Saat dicari tenaga pengajar pada program TurunTangan Aceh Mengajar 1, saya ikut interview untuk menjadi pengajar bahasa inggris,” tutur Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UNIAR) ini.

Selama ini Maisal juga aktif di sanggar tari dan musik tradisi di Sanggar Geunaseh, Aceh, sehingga TurunTangan Aceh meluluskannya sebagai pengajar budaya. Kecintaannya terhadap dunia mengajar, pria yang gemar membaca ini, tidak mempermasalahkan tidak diterima menjadi pengajar bahasa inggris.

“Saya ingin mengajar. Mau dibayar atau pun tidak yang penting mengajar,”

katanya.

Pria kelahiran, Banda Aceh, 28 Mei 1996 ini mengaku belajar banyak hal ketika bergabung dengan TurunTangan. Seperti mengerti arti kepedulian dan tidak diam begitu saja melihat permasalahan di sekitar.

“Kepedulian itu soal aksi, sekecil apapun aksi itu. Dan itu yang selalu para relawan TurunTangan lakukan,”

ujarnya. Satu kalimat yang sangat memotivasinya, “Jangankan tanyakan apa yang bisa saya dapat dari tanah kelahiran saya, tapi tanyakan apa yang dapat saya berikan untuk tanah kelahiran saya.”

Pada November lalu, Maisal terpilih menjadi Koordinator TurunTangan Aceh menggantikan Rahmad Hidayat Munandar. Anak keempat dari empat bersaudara ini bercerita, sebelumnya, dia sudah dipercaya untuk meng-handle beberapa acara sampai diberi amanah untuk menjadi Ketua Divisi SDM. Hingga kemudian diutus menghadiri Gathering Nasional (Gathnas) di Jogja tahun lalu. Di acara tahunan ini, dia bertemu dengan orang-orang hebat dan merasa minder. Sehingga ketika ditunjuk menjadi koordinator TurunTangan Aceh, dirinya sempat menolak. Salah seorang sahabatnya mengatakan, “Jangan pernah menolak saat ditunjuk sebagai pemimpin, yang membuat seorang pemimpin itu hebat bukan karena dia hebat, tapi orang-orang dibelakangnya.”

“Akhirnya saya menerima amanah ini dan terus membenahi diri untuk menjadi pemimpin yang berintegritas,” tuturnya.

Maisal mempunyai banyak rencana, agara TurunTangan Aceh semakin maju. Dia akan meningkatkan SDM melalui capacity building, menampung ide-ide relawan dan menjadwalkan untuk dilaksanakan setiap rinci. Sehingga, kegiatan TurunTangan Aceh akan lebih terstruktur dalam pelaksanaannya. “Sebelumnya TurunTangan Aceh tidak ada sistem divisi. Jadi, pembagian kepanitian diatur saat aksi. Sekarang ini sudah ada divisi SDM, sekretariat, humas, dan tim kreatif. Sehingga, segala tugas lebih terstruktur,” paparnya.

 

Yus bergabung dengan TurunTangan sejak 2013. Sarjana Matematika lulusan Universitas Lampung ini memiliki minat besar di bidang jurnalistik dan sempat bekerja di salah satu media lokal di Lampung sebagai jurnalis. Untuk itu ia dipercaya menjadi Staf Hubungan Masyarakat dan mengelola buletin TurunTangan, Kabar Relawan.

Komentar