Home Artikel Populer Pemuda: Bergerak, atau Digantikan?

159

“28 Oktober 1928 adalah saksi bisu bergemanya ikrar Sumpah Pemuda sebagai momentum penting terwujudnya kemerdekaan. Setiap tahun sekali, momentum tersebut selalu di gaungkan demi membakar semangat nasionalisme bagi segenap Bangsa Indonesia.” 

Dewasa ini, urgensi nilai – nilai kebangsaan sedang berada dalam hal yang mengkhawatirkan. Terlepas dari hal – hal yang memacu rusaknya persatuan bangsa, maraknya permasalahan korupsi, berbagai kasus kriminal, etnis, dan kepentingan didalamnya sudah seharusnya menjadi aib bagi kita bersama. Bukan hanya sekedar tanggung jawab kelompok terentu, ataupun instansi tertentu pula lalu kita lepas tangan serta acuh akan hal tersebut. Indonesia, membutuhkan wawasan critical analysis thinking yang harusnya tertanam disegenap bangsa, ikut perduli, dan bersama memberikan solusi yang cerdas. Tentu bukan hanya sekedar menuntut kebijakan serta menyalahkan aturan hukum yang telah berjalan pasca kemerdekaan. Lebih penting dari itu bahwa saat ini, Indonesia sedang membutuhkan jiwa – jiwa yang mampu memainkan peran agent of change tersebut seapik mungkin. Maka hal ini lah yang menjadi hal ihwal dari proses penentuan masa depan Indonesia yang lebih baik, hal yang menjadi dasar permasalahan kita bersama: ialah Pemuda.

Pentingnya peran pemuda tersebut, telah terbukti berpengaruh besar bagi Indonesia. Kita tidak perlu ragu bahwasanya kekuatan dari sebuah peran kepemudaan begitu besar dampaknya, terutama terhadap kemerdekaan Indonesia – apalagi sejak gaung Sumpah Pemuda 89 tahun yang lalu terbentuk. Kita bisa  berkaca pada sejarah yang telah mencatat bahwa 28 Oktober 1928 lalu, langit bumi pertiwi telah bergema oleh suara semangat juang pemuda Indonesia, sebuah ikrar yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Sebuah momentum dimana tonggak – tonggak sejarah bangsa ini telah dibangun. Sebuah momentum, dimana persatuan bangsa Indonesia tidaklah dibentuk dengan sia – sia, melainkan terdapat perjuangan guna menghimpun para pemuda untuk menyadari betapa pentingnya rasa persatuan bangsa Indonesia ini.

Namun dewasa ini, hadirnya pemuda justru tidak memberikan dampak yang nyata bagi kemajuan Indonesia. Degradasi moral, menjadi hal yang sudah tidak asing lagi terjadi disekitar kita. Tindakan anarkis dimana – mana, murid yang kurang ajar terhadap gurunya, tawuran antarpelajar bahkan antarmahasiswa merupakan bukti sederhana menurunnya nilai – nilai persatuan bangsa. Begitu banyak peristiwa dan masalah yang terjadi disekitar kita namun para pemuda hanya cenderung acuh begitu saja. Bahkan pemuda yang acap kali diharapkan membawa perubahan tersebut kini menjadi masalah dalam kehidpuan masyarakat itu sendiri. Lantas, dengan momentum Sumpah Pemuda – yang setiap setahun sekali kita peringati –  apakah hanya dijadikan sekedar sebuah peringatan angin lalu saja? Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai pemuda yang memikul tanggung jawab sebagai agent of change dalam memaknai hari Sumpah Pemuda?

 “Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.” – Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia.

Maka, dalam menata masa depan kita tidak bisa melupakan sejarah. Bangsa Indonesia harus merancancang & membangun, masa kontruktivistik ini dengan memberikan jaminan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Kita harus begerak. Layaknya penyair, yang dikenang karena tulisannya. Maka pemuda haruslah meninggalkan sesuatu demi eksistensinya: pemuda haruslah bergerak. Setidaknya, dengan adanya hari Sumpah Pemuda, pemuda haruslah memiliki pemahaman yang kompeherensif terhadap makna persatuan. Pertama, keharusan kontinuitas demi nasionalisme yang meredam etnis, agama, daerah. Kedua, tekad ke arah kemerdekaan sebagai tujuan yang otentik. Ketiga, “sumpah pemuda” teridentifikasi secara konseptual dan menghimpun aspirasi dan perjuangan pemuda demi kepentingan Indonesia bersama. Keempat, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa persatuan. Kelima, sebagai runtutan langkah proklamasi dari perwujudan gerakan kepemudaan pra kemerdekaan.

Selain itu, penanaman kesadaran sejak dini terhadap momentum Sumpah Pemuda harusnya diperingati secara sakral. Esensi semangat menghargai jasa para pahlawan hendaknya dipetik sebagai asumsi emosional terhadap jiwa nasionalime. Meskipun terlihat sederhana, namun ini menjadi tamparan yang nyata teruntuk kita semua, terutama pemuda agar menjadi cermin dan intropeksi bagaimana pemuda seharusnya bergerak, pemuda yang membawa perubahan. Indonesia membutuhkan pemuda yang baik budi pekertinya, pemuda yang mau menghargai jasa pahlawannya, pemuda yang memegang prinsip persatuan bangsa, pemuda yang tidak malu akan budaya asli Indonesia, dan pemuda yang rela berkorban memajukan bangsa Indonesia.

Apalagi jika dikaitkan keadaan kondisi penduduk Indonesia mengenai bonus demografi di masa yang akan datang. Seharusnya ini akan menjadi peluang yang luar biasa dimana para pemuda akan memuncak pada jumlah usia produktif lebih banyak dibanding usia tua. Hal ini seharusnya dimanfaatkan sebagai keuntungan besar bagi perubahan Indonesia di masa depan, tentu saja dengan syarat jika pemuda yang dimaksud tersebut adalah pemuda yang berani membawa perubahan sebagai  agent of change.

“Anak muda itu memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tidak menawarkan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan.” – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Dengan demikian, sudah seharusnya momentum Sumpah Pemuda ini dijadikan sebagai reaktualisasi sedari dini sebagai semangat nasionalisme ke perubahan yang berarti, menjadi pemuda yang berarti bagi bangsa dan negara. Bergerak atau digantikan, bahwa pemuda sebagai agent of change menawarkan sebuah optimise masa depan Indonesia yang lebih baik, dengan tekad, dedikasi, dan nasionalisme untuk setulus hati mengontrol jalannya roda pemerintahan secara bersama.

 

Komentar