Home Artikel Populer Penyerangan Novel adalah Penyerangan Seluruh Warga Indonesia

351

Masyarakat Indonesia dikagetkan dengan berita mengenai penyerangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Selasa (11/4). Novel dikenal berani mengungkap kasus korupsi besar seperti seperti kasus simulator SIM tahun 2012, dugaan suap proses perizinan kebun sawit, korupsi Wisma Atlet Hambalang, dan suap pemilihan Dewan Gubernur Senior Bank Indonesia.

Novel dikenal sebagai penyidik yang berbahaya bagi para “tikus berdasi” yang menggerogoti negara. Ketegasannya bersama penyidik KPK lainnya menjadi ujung tombak negara untuk menghabisi keserakahan dan keegoisan tokoh-tokoh penguasa, demi kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya, kebenaran menjadi suatu hal yang mahal dan perlu pengorbanan di negeri ini. Sebelum penyerangan, upaya melemahkan Novel terjadi beberapa kali. Salah satu yang terungkap adalah penyerangan kelompok Bupati Buol, yang saat itu Amran Batalipu. Novel berupaya menangkap Arman pada Juli 2012, namun sepeda motor Novel ringsek karena ditabrak para “centeng” bayaran.

Novel adalah pejuang sejati. Dia bersama KPK tetap terus menunjukkan ketajamannya dalam memberantas korupsi. Kebenaran merupakan hal yang mutlak demi mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana dijelaskan dalam pancasila.

Korupsi sudah menjadi fenomena yang terus terjadi di negeri ini. Berdasarkan data Indeks Persepsi Korupsi 2016 yang dilansir Transparency International, Indonesia merupakan negara terkorup pada peringkat 90 dari 176 negara. Sangat mengkhawatirkan dan perlu tindakan tegas dan nyata.

Banyak yang beranggapan korupsi terjadi akibat dari warisan budaya penjajah, kesenjangan ekonomi atau mentalitas fast way yang dimiliki masyarakat Indonesia. Hal tersebut memang benar menjadi penyebab kecenderungan seseorang melakukan korupsi. Tetapi sebenarnya korupsi sudah menjadi penyakit lama dalam kehidupan berpolitik. Bahkan korupsi sudah dibahas oleh pemikir-pemikir politik, seperti  Plato, Aristoteles dan Rosseau.

Menurut Rosseau, korupsi merupakan proses disfungsi dan konsekuensi dari perjuangan akan kekuasaan. Jadi seseorang telah dirusak oleh kehidupan sosial dan politik yang buruk. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan preventif dan represif untuk melindungi negara dari oknum-oknum yang telah terpengaruhi cara hidup yang korup. Kemunculan KPK menjadi pelindung negara dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab dan penjamin kesejahteraan masyarakat.

Namun, KPK sering mengalami serangan dari oknum yang tidak ingin cara hidup kotor mereka dimusnahkan. Sekarang saatnya kita khususnya para pemuda, harus memberikan dukungan kepada pelindung negara KPK dengan menunjukkan bahwa KPK tidak sendiri menghadapi panjahat-penjahat kerah putih.

Hal yang bisa dilakukan pemuda adalah sebagai berikut:

1. Gunakan media untuk mengawasi kasus penyerangan dan mega korupsi E-KTP

Media menjadi salah satu jalan untuk mengawasi berjalannya kasus penyerangan ini dan mega korupsi E-KTP. Dengan menjadikannya berita ini tetap aktual, kita dapat menunjukkan bahwa oknum-oknum tersebut tidak dapat memperoleh ketenangan dalam gaya hidup dan cara hidup yang salah.

2. Buat kampanye online di media sosial atau turun ke jalan

Kita dapat memberikan dukungan langsung dengan membuat kampanye online di media sosial atau memberikan dukungan dengan turun ke jalan. Intinya adalah kita harus melindungi keberlangsungan dan penyelesaian kasus penyerangan dan mega korupsi E-KTP.

Penyerangan Novel adalah penyerangan seluruh warga Indonesia. Mari kita awasi bersama dan tunjukkan bahwa korupsi adalah penyakit yang harus disembuhkan melalui berbagai pergerakan.

 

Rizki Prahaya Putra adalah alumni mahasiswa S-1 Bahasa Jerman Universitas Indonesia yang saat ini memiliki kesibukan menjadi guru. Ketertarikannya pada dunia tulis menulis membuatnya bergabung dengan TurunTangan sebagai Content Writer Internship.

Komentar