Home Profil Relawan Ramdani, Pembelajar Seumur Hidup

358

Di Indonesia, menjadi relawan bagai sebuah trend beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang yang mulai menyadari bahwa permasalahan yang ada di Indonesia itu milik setiap warga negara, di mana setiap orang bisa menjadi bagian dari solusi. Cara mereka terlibat untuk menemukan solusi tersebut adalah dengan menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial. Seperti halnya dilakukan A. Ramdani (43), Kepala Sekolah SDIT Citra Nuansa Cileungsi yang aktif di TurunTangan Jakarta.

Ayah empat anak itu telah memberi inspirasi kepada anak muda. Dengan segala kesibukannya menjadi kepala keluarga dan pimpinan sekolah, ia masih mau membagi waktunya untuk kegiatan sosial.

Ramdani tentu tidak dibayar. Dia adalah relawan nol rupiah yang layak disebut ‘pahlawan’ masa kini. Entah sudah berapa kali ia terjun ke masyarakat. Bahkan pernah jauh-jauh pergi ke Majane, Sulawesi Barat, untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru di daerah tersebut. “Tahun 2015 saya ikut RUBI (Ruang Berbagi Ilmu Indonesia Mengajar) di Majene,” ungkapnya usai mengikuti pelatihan relawan TurunTangan Jakarta di Rumah Relawan TurunTangan, Minggu (14/8).

Di kalangan relawan, Ramdani dikenal sebagai sosok orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seringkali bertanya meskipun banyak pengalaman dan wawasan yang dimiliki. “Awalnya ingin belajar, lama-kelamaan keluar fakta-fakta yang tidak kami tahu,” ujar Herry Dharmawan, penggagas salah satu project TurunTangan Jakarta, Kelas Negarawan Muda (KNM).

Tidak bisa melanjutkan kuliah usai menamatkan pendidikannya di pondok pesantren, membuat Ramdani menjadi pembelajar seumur hidup. Baginya, belajar dilakukan di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Entah dengan membaca buku, ikut organisasi, hadir di seminar-seminar gratis, sampai ikut pengajian.

Sejak kecil Ramdani senang membaca buku. Saat SD, ia sering pergi ke Pasar Senen untuk mencari buku, majalah, dan koran bekas untuk dibaca. Ketika SMA, ia menjadi pengurus organisasi di bidang komunikasi, tugasnya menyampaikan informasi melalui sound system dan majalah dinding. Ini membuat bahasa Arab dan Inggris Ramdani terasah, sekaligus ia juga mendapatkan ilmu baru ketika membuat mading.

Lulus dari pesantren, ia tidak bisa melanjutkan kuliah lantaran tak ada biaya. Namun semangat untuk belajar tak pernah padam. Untuk menggantikan rasa ingin kuliah dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar gratis dan pengajian. “Untuk mengerti sesuatu enggak harus kuliah. Misalnya punya passion, sekedar ingin tahu dan mendalami bisa belajar dari seminar-seminar,” katanya.

Ramdani bergabung dengan TurunTangan Jakarta sejak akhir 2014. Setelah itu bergabung dengan KNM, project ini bermanfaat untuk mendukung proses belajar mengajar PPKn di sekolah yang ia pimpin. “Yang namanya guru itu harus belajar. Apa yang saya dapat di TurunTangan dan KNM selalu saya bagikan ke para guru di sekolah,” ujar orang yang sudah 25 tahun menjadi pendidik ini.

Prinsip belajar bagi Ramdani adalah bisa menggali ilmu di mana saja dan tidak dibatasi. Semua sudah tersedia di alam. Tuhan memberikan kelebihan pada tiap-tiap makhluk hidup. Semua saling bersinergi dan memberi manfaat satu sama lain. “Belajar bisa dari siapa pun. Di TurunTangan misalnya, saya bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Ada dari teknik, ekonomi dan lain-lain. Saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari mereka dan itu bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Beberapa kali, ia membawa anak dan istrinya mengikuti kegiatan TurunTangan. Seperti pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional dan rapat kerja KNM. Sebab TurunTangan dinilai sebagai tempat yang berisi kegiatan dan orang-orang positif. “Saya ingin anak-anak dan istri juga bisa belajar sesuatu di TurunTangan,” pungkasnya.

Selain pembelajar, Ramdani juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Selalu datang tepat waktu setiap kegiatan apapun. Pendidikan yang didapat di pesantren untuk menghargai waktu menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang muda-muda ini jadi malu setiap Pak Ram jadi orang pertama di tiap kegiatan,” timpal Herry menutup wawancara.

Ayo TurunTangan untuk Indonesia! Kirimkan karyamu ke blog@turuntangan.org!

Komentar