Home Artikel Populer Satu Tahun Berkarya TurunTangan Malang

Sudah setahun lamanya Gerakan TurunTangan beridiri. Berbagai macam kisah dari berbagai penjuru di Indonesia telah menjadi catatan tersendiri bagi para relawan. Banyaknya kegiatan yang relawan TurunTangan lakukan adalah bukti bahwa masih ada banyak orang yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya, dan mau turun tangan langsung.

Di mata saya seluruh relawan TurunTangan sama hebatnya. Salah satunya para relawan TurunTangan Malang. Mereka melakukan banyak sekali kegiatan yang sifatnya positif dan memiliki dampak yang cukup baik bagi lingkungan sekitarnya. Kebetulan, hari ini mereka merayakan hari jadinya yang pertama– meski dimajukan sebelum tanggal mereka terbentuk. Wawancara santai saya dengan Raka– relawan TurunTangan Malang– berikut ini diharapkan mampu memacu semangat relawan lainnya agar tetap berkarya.

**

Bisa diceritakan bagaimana cerita terbentuknya TurunTangan Malang?

Pertama dibentuk awalnya lewat akun twitter TurunTangan Malang. Lalu kita mengadakan kopdar dan bergabung tanggal 14 Desember 2013. Waktu itu kita kumpulnya pertama kali di depan kampus Politeknik Negeri Malang. Tapi ternyata tidak memungkinkan tempatnya. Akhirnya kita mencoba mencari kafe, dan waktu itu kita dapat di Warung Susu. Di situ baru kita semua kenalan dan berdiskusi arah Gerakan TurunTangan Malang. Di sana kita tentukan struktur koordinator dan lain sebagainya. Ketua koordinator kita waktu itu Mas Sandy.

Waktu itu politik masih menjadi barang aneh bagi sebagian orang. Bagaimana cara menyiasati komunikasi kepada mereka agar mereka tertarik?

Waktu itu kita memang menyepakati arah gerakan kita lebih ke sosial. Tapi tidak dipungkiri relawan gerakan ini makin banyak karena diinisiasi oleh Mas Anies Baswedan. Mulai muncul relawan dari mulai jumlahnya hingga 40 relawan yang aktif dan ikut mendukung Mas Anies pada saat konvensi kemarin.

Apa kegiatan pertama dari TurunTangan Malang?

Waktu itu kita merayakan Hari Ibu—yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Kita mengadakan acara di Car Free Day. Ada dua kegiatan, yang pertama acara teaterikal. Kita bekerja sama dengan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa dari salah satu kampus. Lalu acara kedua mengadakan Gerak Bersih. Jadi setelah Car Free Day selesai kita melakukan aksi bersih-bersih lingkungan.

TurunTangan Malang terbilang aktif dalam melakukan kegiatan. Apa saja yang biasanya dipersiapkan sebelum mengadakan acara-acara tersebut?

Saat masa konvensi dulu, kita melakukan kegiatan dengan kemampuan apa adanya. Jadi kita kebut semuanya. Kalau ada ide, langsung kita eksekusi. Beda halnya dengan kegiatan Djadoelympic, cukup lama persiapannya. 3-2 bulan kita mempersiapkannya.

Tapi waktu pasca pilpres kita lebih selalu bersuha mempersiapkannya dengan lebih matang. Kebetulan kegiatan pasca pilpres ini kita lebih ke movement. Setiap selesai kegiatan kita selalu evaluasi supaya ke depannya menjadi lebih baik.

Saat ada bencana erupsi Gunung Kelud, bagaimana cerita TurunTangan Malang bisa ikut serta membantu daerah sekitar yang terkena dampaknya?

Saat bencana erupsi Gunung Kelud semua yang kami kerjakan serba mendadak. Jadi setelah ada berita Gunung Kelud meletus, beberapa relawan TurunTangan Malang langsung bergabung ke sebuah posko di daerah Pujon.

Waktu itu kita belum merencanakan akan turun langsung ke sana. Ide pertama kali muncul dari teman kami, Indah. Dia nge-Whatsapp saya “Rak, TurunTangan Malang nggak mau terjun ke sana?”. Memang kita sudah gerak tapi masih berkoordinasi dengan relawan sekitar sana (Gunung Kelud). Terlebih kondisi saat itu masih belum bisa dikendalikan.

Kita kumpul di daerah Batu jam 11. Lalu melakukan survey jam 1 pagi dengan menggunakan 8 motor, kurang lebih 16 orang, ke beberapa titik hingga ke kota Kediri. Sekitar jam 6 pagi kita menemukan desa yang belum mendapatkan bantuan. Kita berniat membuat dapur umum karena di desa tersebut ada lima posko yang masih kekurangan bantuan. Akhirnya kegiatan ini berkelanjutan karena koordinasi yang baik dengan Pak Ahmad, kepala desa setempat, hingga kondisi semakin membaik.

Sore harinya kita rapat dan berniat untuk membuat pengumpulan dana secara nasional. Kalau tidak salah terkumpul dana sebesar Rp 8-9 juta. Uang tersebut kita pakai untuk membeli peralatan bantuan, makanan dan obat-obatan yang terbilang sangat diperlukan. Bantuan tersebut datang dari Kalimatan, Sumatera, Sulawesi dan bahkan dari Ambon juga ada.

Apa yang membuat TurunTangan Malang cukup baik dalam bekerja sama secara tim?

Dulu kita memang sempat menanamkan:

Kalau kita mau membuat sebuah perubahan, tapi dari diri kita sendiri belum berubah, ya malu juga.

Akhirnya pelan-pelan kita bikin iklim itu, terlebih setelah pasca pilpres.

Kita sepakat untuk membentuk TurunTangan Malang sebagai komunitas yang independen di kota Malang. Dari situ kita berpikir apa yang bisa membedakan kita dari komunitas lain. Dan ternyata yang pertama membedakannya adalah iklim dalam organisasi itu sendiri.

Memang secara tidak langsung hal-hal seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas itu menjadi nilai plus dari relawan kita sendiri.

Saya juga merasakan dampaknya semenjak bergabung dengan TurunTangan Malang. Saya merasa malu ketika membuang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas.

Waktu itu ada kejadian unik ketika ada rapat kerjasama dengan komunitas lain. Mereka membuat janji bertemu jam 2 siang, tapi setengah jam sebelumnya kita semua sudah dilokasi. Kita tunggu sampai jam setengah 3 mereka tidak ada, maka kita tinggal pulang. Lalu mereka sms, “kita sudah di sini”. Tapi sudah jam 3, akhirnya kerja samanya batal karena hal tersebut.

Terkadang kita mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu karena tidak punya jumlah massa yang memadai, ada kiat yang bisa dibagikan kepada teman-teman relawan lain?

Jujur saja, sebenarnya kita juga tidak pernah luput dari kesulitan dalam melakukan sesuatu. Secara jumlah, relawan yang aktif biasa saja, tidak terlalu banyak. Karena banyak relawan TurunTangan Malang yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, seperti saya. Tapi pada intinya kita dalam melakukan suatu hal bukan semata-mata ingin membangun sebuah komunitas, tapi juga membangun sebuah kepedulian. Jadi tidak selalu membutuhkan massa dan acara yang besar untuk sekedar turun tangan.

Kita bisa turun tangan dengan diawali dari diri kita sendiri dengan datang tepat waktu, tidak membuang sampah sembarangan dan patuh peraturan lalu lintas.

Dari situ bisa dilihat orang “wah anak TurunTangan ternyata perilakunya baik”. Orang akan tertarik dengan sendirinya untuk bergabung. Intinya harus dibentuk disiplin berorganisasi agar organisasinya punya nilai.

 

Pesan-pesan untuk relawan TurunTangan di daerah lain?

Saya selalu bilang ke teman-teman:

“Kalau mau melakukan sesuatu, lakukan saja. Jangan terlalu banyak pertanyaan”

Karena pertanyaan itu yang kadang bisa menghambat kegiatan itu. Kita selalu bertanya “kita bisa atau tidak, ya?”.  Akhirnya ketika pertanyaan itu menghantui pemikiran kita, kegiatan-kegiatan itu tidak berjalan.

Saya ingat kata Mas Anies yang kurang lebih seperti ini: jika ada masalah jangan tunggu orang lain untuk menyelesaikannya. Harusnya kita sendiri yang turun tangan.

**

Apresiasi saya berikan kepada teman-teman TurunTangan Malang. Semoga relawan TurunTangan di daerah lain terinspirasi dan semangat untuk terus berkarya. Selamat hari jadinya yang pertama!

Pernah punya mimpi mau jadi Power Ranger Merah.

Komentar