Home Catatan Relawan Saya, Relawan dan TurunTangan

516

Tulisan ini dibuat untuk seorang apatis yang mempertanyakan arti sebuah kerelawanan kepada saya beberapa minggu lalu. Saat diberondong beberapa pertanyaan, saya sengaja hanya menjawab simpel-simpel saja atau sesepele “Memang hidup gue kurang kegiatan, jadi bawaannya pengen ini itu, bikin banyak hal.”

Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu, kalau si apatis ini menilai banyak orang diuntungkan dengan kegiatan yang saya tekuni dan nilai-nilai yang saya perjuangkan. Maka kebalikannya bagi saya, justru saya banyak diuntungkan di sini.

Izinkan saya bercerita tentang satu wadah kerelawanan di mana saya mendapat banyak keuntungan di dalamnya: TurunTangan. Dari ribuan relawan yang ada, mungkin bukan hanya saya satu-satunya yang merasa berhutang ilmu di sini, semoga bukan hanya saya.

November 2013 saya mendaftar via website.
Maret 2014 pertama kali saya berkegiatan di TurunTangan bekasi.

Pertama kali berkegiatan I dont expect TurunTangan is a political movement. Tapi tanpa diduga justru saya belajar dari salah satu relawan TurunTangan Bekasi Aditya Ryan mengenai perpolitikan Indonesia.

Bersama dia, Risa, Okky, Mas Tommy, Kak Dessy, dan Kak Zakky, kami membuat rekomendasi rekam jejak calon-calon anggota DPR dan DPRD Kota Bekasi. Hal yang tidak masuk ke dalam wish list hidup saya. Satu yang menantang saat itu adalah bahwasanya politik di negeri ini belum cukup diurus oleh orang-orang yang bersih dan berkompeten.

Skill baru yang saya dapat – sepele tapi penting yaitu ‘kepo-in’ pejabat publik.

Mei 2014 Bagus Handoko merekomendasikan saya untuk menjadi tim creative di TurunTangan Pusat, ingat betul orang pertama yang meng-interview saya adalah Mas Ardi Wilda, baru setelahnya Mba Hani Fibianti. Maka saat itu saya resmi magang di TurunTangan Pusat.

Satu hal yang paling membekas di jantung, kepala, dan kuping adalah teguran dari seorang Monika Halim mengenai desain stiker ucapan Idul Fitri, “Kalau loe tempel di kaca rumah, loe mau enggak kira-kira?” Berkat supervisi beliau, mulai hari itu perlahan hasil-hasil desain saya menjadi lebih baik, bernilai, dan layak tampil.

Agustus 2014 selesai masa magang, saya kembali menjadi zombie kapitalis dan relawan biasa yang sebisa mungkin tetap aktif berkontribusi bukan hanya jempol dan mulut.

Desember 2014 sebuah project bertajuk Kelas Negarawan Muda diinisiasi di TurunTangan Jakarta, saya turut aktif membuat kebutuhan-kebutuhan desainnya.

Di saat-saat ini lah proses kerasnya kehidupan menjadi relawan dimulai. Bersama Kak Tika, Kak Andres, Kak Herry, Kak Masrha, dan Kak Angga, saya belajar berdialektika, berdebat, mengadu ide dan gagasan untuk KNM ke depan. Berkali-kali kami rapat hingga larut, paling cepat selesai jam sebelas malam.

Karena mereka cara berpikir saya mulai terbentuk, yang selalu diingatkan kepada saya adalah agar tetap berpikir dengan struktur yang jelas, Kak Angga selalu bilang, “Kritis boleh tapi jangan sampai logikanya jadi cocoklogi.”

Juli 2015 Herry Dharmawan membuka pintu untuk saya kembali bergabung, kali ini menjadi officer di TurunTangan Pusat.

Rekrutmen yang ditawarkan kepada saya adalah untuk menjadi designer officer. Berjalannya waktu justru Head of Office TurunTangan Mba Aida Fitri banyak memberi kesempatan kepada saya belajar mengerjakan hal-hal di luar desain.

Pertama, belajar menjadi fasilitator relawan. Bukan hal yang mudah, seperti menjadi HR (Human Resources) kalau di perusahaan swasta. Belum lagi kalau relawannya demanding, paling menyenangkan kalau relawannya juga inisiatif. Susahnya menjadi fasilitator relawan adalah tidak boleh mengarahkan hanya memfasilitasi. Nah, teknik fasilitasi sendiri ada banyak dan mudah dipelajari juga menantang untuk dipraktikan, patron saya dalam hal fasilitasi adalah Kak Herry dan Kak Darul.

Beberapa bulan pasca Temu Nasional TurunTangan, saya harus menggantikan Kak Anggun yang kala itu sedang cuti melahirkan menjadi PMO bidang Pendidikan. Ini yang paling menantang dan menyenangkan karena harus membuat konsep satu Project STEM (Sains, Technology, Engineering, and Mathematics) Based Method dengan minim referensi, semuanya dari nol. Tapi Mba Aida yang super baik hati mengenalkan kami dengan Mas Kiki, mentor di TurunTangan untuk teknik Management Project, Pitching Donor, dan how to think effectively.

Menjelang pergantian tahun, Kepala Yayasan TurunTangan Mas Ananda Siregar dengan murah hati membuat pelatihan untuk officer TurunTangan. Kami diberi serangkaian materi leadership, bukan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Tapi technically how the leader work and build a team. Membagikan kami ke beberapa kuadran dan menjelaskan kelemahan juga kelebihannya. Hal yang paling saya ingat dari Mas Nanda adalah perkataannya tentang sebuah tim, “A chain is only as strong as its weakness link.”

Februari 2016 saya mengundurkan diri menjadi officer dan mendapat kesempatan berkarier di lembaga internasional, dan saya masih tetap menjadi relawan di Gerakan TurunTangan.

Juli 2016 dengan kesepakatan bersama relawan lainnya saya didapuk menjadi Project Leader Kelas Negarawan Muda menggantikan seseorang yang konon tidak mungkin tergantikan. Berat rasanya.

Dari menjadi relawan, lalu officer, relawan lagi, officer lagi, dan sekarang masih menjadi relawan lagi. Almost 3 years, arti kerelawanan di TurunTangan bagi saya bukan lagi sekedar menjadi manfaat untuk orang lain, tapi justru banyak hal yang telah dibekali kepada saya untuk tetap disumbangsihkan kepada relawan itu sendiri.

TurunTangan membuktikan bahwa pemuda yang pernah tidak naik kelas sekalipun bisa membuat perubahan jika diberi kesempatan. Menjadi Relawan TurunTangan melampaui limitasi yang pernah saya buat sendiri.

Jika malam ini seseorang yang sangat apatis bertanya (lagi) kepada saya masih kah akan menjadi relawan di TurunTangan?

Menurutmu?

Bergabung dengan TurunTangan sejak 2014. Sebelum aktif di TurunTangan Jakarta dan Project Kelas Negarawan muda (KNM), Dinda pernah aktif di TurunTangan Bekasi. Sekarang ia dipercaya menjadi Project Leader KNM.

Komentar