Home Catatan Relawan Sinabung yang Terlupakan

330

Sabtu, 26 November 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi saya. Pada hari itu ratusan relawan TurunTangan dari seluruh Indonesia menuju Desa Terong Peren, Kecamatan Tiga Inderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Mereka bersatu untuk melakukan kegiatan bakti sosial peduli korban Sinabung. Saya menjadi bagian dari ratusan relawan itu.

Kegiatan bakti sosial peduli korban Sinabung adalah serangkaian acara Gathering Nasional TurunTangan 2016. Di mana seluruh relawan TurunTangan seluruh Indonesia berkumpul dalam satu tempat, di TurunTangan regional yang telah disepakati satu tahun sebelumnya.

Perjalanan menuju kamp pengungsian Gunung Sinabung dilakukan dengan menggunakan mini bus selama lebih dari dua jam.  Dari kaca bus kami melihat betapa angkuhnya Gunung Sinabung. Info dari panitia, Gunung Sinabung pada saat itu sedang awas. Meskipun begitu tak menyurutkan semangat para relawan TurunTangan untuk peduli terhadap sesama.

Sesampainya di lokasi, para relawan dibagi menjadi tiga tim: medik, trauma healing anak – anak dan trauma healing orangtua. Tim medik bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (USU) mempersiapakan obat obatan dan peralatan kesehatan guna memastikan para korban Sinabung sehat dan terobati sakitnya. Tim trauma healing anak – anak berinisiatif bermain, bernyanyi dan bergembira bersama anak-anak. Para relawan antusias memberikan semangat dan memotivasi anak-anak, bahwa mereka berhak mendapatkan masa depan yang cerah sebagaimana anak-anak lainnya di seluruh Indonesia. Tim trauma healing orangtua santai duduk bersama beralaskan terpal, sesekali memijat kaki dan tangan, sedikit mendekatkan telinga, berempati dan mendengar keluh para orang tua yang merasakan sakit baik fisik maupun psikis.

Saya sempat memijit salah satu dari orang tua. Nenek Laitsiah Sembiring namanya. Usianya kini 80 tahun. Mengeluh sakit pinggang, batuk dan pusing kepala. Lebih dari satu tahun tinggal di pengusian, ia bercerita bahwa bupati Kabupaten Karo baru sekali datang. Sempat berjanji, korban erupsi Gunung Sinabung akan diberi hunian, tapi hingga kini tak jua nampak pembangunan. Gubernur dan presiden pun belum datang, ternyata lokasi yang kami datangi saat itu adalah lokasi yang terpencil dan pengungsi adalah warga Desa Mardinding yang memiliki radius 2,4 km dari Gunung Sinabung.

Keluh Nenek Laitsiah juga keluh semua pengungsi. Di sini bantuan jarang sekali datang. Sungguh sedih melihat kenyataan yang terjadi. Sinabung terlupakan. Kabarnya seolah selesai, padahal masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

Saat itu kami membawa bantuan berupa beras, mie instan, dan bahan sembako. Namun rupanya itu belum cukup. Pengungsi butuh lebih dari sekedar bantuan yaitu kepastian. Kepastian akan adanya hunian baru yang laik untuk mereka tempati, pekerjaan untuk para orang tua dan pendidikan untuk anak anak mereka di masa depan.

Hubungan antara masyarakat Sumut dengan pemimpin daerahnya memang belum baik. Pemimpin daerah seolah tak peduli dengan kondisi warganya. Pun dengan warganya seolah tak peduli siapa pemimpin yang memimpin daerahnya. Saya dapat informasi dari relawan TurunTangan Medan, Azhar, angka partisipasi politik di Sumut sangat rendah. Bahkan berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2015, di Medan angka partisipasi politik hanya 26,88 persen saja. Padahal saya yakin, kalau saja masyarakat mau memilih, niscaya akan hadir pemimpin daerah yang peduli akan kesejahteraan warganya. Terlebih kalau masyarakat memilih dari track record-nya.

Dalam kasus Sinabung, sebaiknya relawan TurunTangan Medan mau bergerak lebih aktif lagi. Tak hanya gerakan sosial dengan memberikan bantuan kepada korban Sinabung, tetapi juga melakukan gerakan vertikal advokasi ke pemerintahan.

Perjuangan ini harus dilakukan secara bersamaan, ajak semua stake holder Medan bergerak. Sekarang saatnya berkolaborasi, tak zaman hanya bergerak sendiri – sendiri. Sambil terus berupaya melakukan perubahan untuk korban Sinabung, relawan TurunTangan daerah lain bisa membantu dengan dana dan propaganda sebanyak-banyaknya. Kita perlihatkan kepada dunia, kalau Sinabung belum selesai, masih butuh bantuan, seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Sinabung terus dilindungi dan dirahmati. Aamiin.

 

Komentar