Home Ayo Bergerak! Sudahkah Kita ‘Memanusiakan’ Manusia?

421

Sebagai makhluk sosial, kerap kali kita dihadapi oleh berbagai problematika kemanusiaan yang ada di Indonesia. Mulai dari pencemaran lingkungan, rendahnya kualitas guru, minimnya jumlah sekolah, kekerasan dan ketidakadilan sosial, sampai pelanggaran HAM. Memang sudah mulai banyak anak muda yang peka akan masalah kemanusiaan ini, namun kedepannya kebutuhan akan partisipasi unsur Civil Society Organization (CSO) akan sangat dibutuhkan. Masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan isu kemanusiaan. Masyarakat menjadi first responder yang mengatasi fase awal krisis kemanusiaan (Humanitarian Forum Indonesia, 2016).

Semangat kerelawanan menjadi modal sosial kita untuk mencegah dan menyelesaikan krisis kemanusiaan, karena ini merupakan gerakan ‘dari rakyat untuk rakyat’.

Di Indonesia sendiri, masalah kemanusiaan masih menjadi isu yang patut diperhatikan. Menurut Human Rights Watch selama masa pemerintahan Presiden Jokowi belum ada peningkatan penegakkan HAM yang kuat. Kaum minoritas agama Indonesia masih diviktimisasi oleh kelompok Islam yang ekstremis dan hukum yang diskriminatif. Kita sebagai warga negara Indonesia menghadapi tantangan: menguatnya potensi intoleransi sosial keagamaan di antara warga Indonesia. Jika dibiarkan, potensi ini akan menciptakan aksi radikalisme atas nama agama — yang tentu, mengecam nilai kemanusiaan bangsa.

Berdasarkan data dari Setara Institute, sampai November 2015, ada 194 insiden kekerasan pada kaum minoritas agama yang terjadi di Indonesia. Angka tersebut sama dengan total kekerasan agama yang terjadi sepanjang 2014. Ini menunjukkan bahwa kekerasan agama merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia dan menjadi konsentrasi yang perlu kita perhatikan sebagai manusia yang ingin berbuat baik kepada sesama.

Tahun 2016, Amnesty International mencatat adanya serangan di gereja oleh sebuah kelompok berjumlah sekitar 200 orang di Aceh Singkil setelah pemerintah setempat memerintahkan pembongkaran 10 gereja di wilayah tersebut pada bulan Oktober. Kurang lebih 4,000 umat Kristiani melarikan diri ke Sumatera Utara, sementara pemerintah Aceh Singkil tetap melanjutkan pembongkaran rumah-rumah ibadah Kristen di sana. Ironisnya, kaum Muslim Syiah di Madura mengalami situasi yang lebih parah. Sejak 2012 mereka diserang oleh lebih dari 1000 militan Sunni yang menyerang desa mereka. Ratusan warga termasuk anak-anak terpaksa mengungsi di gelanggang olahraga karena kelompok militan Sunni.

Sistem pendidikan Indonesia juga tidak luput dari masalah. Padahal, kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Data menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah kualitasnya. Penelitian dari Boston Consultant Group tahun 2014 mengemukakan bahwa dari 100 anak yang bersekolah, hanya 25 yang berhasil mencapai standar minimum berhitung dan kecakapan aksara internasional. Anak-anak umur 15 tahun Indonesia empat tahun tertinggal dalam bidang sains dan matematika dari anakanak Singapura. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kuatitas dan kualitas guru, serta mental anak-anak yang masih seringkali mencontek — bahkan sampai membeli kunci jawaban UN.

Untuk menanggulangi masalah pendidikan, pola pikir pendidik juga perlu di ubah. Kita tidak lagi berbicara jam kerja pendidik, seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri Pendidikan RI, Anies Baswedan, bahwa seorang pendidik dikatakan berhasil bukan dari seberapa banyak ia telah mengajar, namun seberapa bagus performa seorang murid. Krisis kemanusiaan dalam bidang pendidikan bisa diatasi lewat kualitas performa pendidik di kelas untuk mendorong murid berpikir kritis.

Laporan World Bank (2015) memperkuat pemikiran tersebut. Bahwa bukan sertifikasi guru yang menjadi standar keberhasilan pendidik, namun indikator keberhasilan pendidik harus dilihat dari seberapa banyak hal yang dipelajari seorang murid di sekolah.

Kepekaan kita sebagai manusia atas isu-isu kemanusiaan seperti di atas jelas dibutuhkan oleh Indonesia dan juga dunia. Namun, apakah ‘sekedar’ tahu dan peka saja perlu? Kita masih memiliki tenaga dan waktu, potensi kita untuk membantu menyelesaikan semua masalah kemanusiaan agar semua orang mendapatkan porsi yang setara dan adil tentang kualitas hidup sangat besar.

Organisasi masyarakat sipil atau seringkali di sebut sebagai Non-Government Organization (NGO), bisa menjadi tempat kita untuk berkarya lewat gerakan kerelawanan. NGO adalah ruang publik yang menjadi salah satu organ vital dalam pelembagaan dan gerakan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, banyak NGO telah menginisiasi sekaligus memberi energi dalam rangka pemenuhan dan perlindungan HAM oleh institusi-institusi negara.

Menjadi relawan di berbagai organisasi yang bergerak untuk menyelesaikan masalah sosial merupakan salah satu bentuk kontribusi kita sebagai manusia yang memanusiakan.

Posisi kita yang ‘hanya’ berstatus masyarakat sipil inilah yang justru memudahkan kita untuk melakukan pendekatan kemanusiaan. Salah satunya adalah dengan melakukan dialog yang bersifat grass root (dari akar rumput). Pendekatan ala rakyat ini menjadi pendekatan utama untuk memahami masalah apa yang terjadi di masyarakat, apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Pemetaan ini perlu agar kegiatan sosial yang kita lakukan tepat sasaran dan membawa dampak nyata.

Dengan begitu, kita tidak melulu mengandalkan aparatur atau institusi legal negara karena pendekatan elitis (top to down) seperti itu hanya melibatkan tokoh-tokoh elit. Akibatnya, tidak ada keterlibatan masyarakat sipil di sana dan hanya akan menelurkan solusi parsial dan sesaat saja. Konsensus perdamaian hanya terjadi pada level elitis dan tidak menyentuh level akar rumput yaitu masyarakat itu sendiri. Kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia harus berpartisipasi aktif dalam menciptakan dan membangun perdamaian. Inilah kontribusi yang bisa kita lakukan dengan ikut ambil bagian dengan terlibat di berbagai kegiatan sosial. Produktif dengan aksi sosial; mungkin ini yang bisa dijadikan filosofi hidup milenial di masa depan. Menjadi agen perubahan untuk menyelesaikan masalah krisis kemanusiaan.

Untuk kita, untuk Indonesia.

 

Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini sejak Agustus bergabung dengan TurunTangan sebagai Social Media and Campaigner.

Komentar