Home Tags Posts tagged with "anak muda"

90

Jakarta, TurunTangan – Setiap 24 April diperingati Hari Angkutan Nasional. Peringatan tersebut sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa transportasi sangat penting bagi kehidupan. Transportasi berpengaruh dalam perekonomian dan pembangunan wilayah suatu negara.

Mayoritas masyarakat Indonesia masih mengandalkan transportasi umum untuk membantu mobilitasnya sehari-hari. Tak terkecuali dengan anak-anak muda. Beberapa harapan datang dari anak muda di hari Angkutan Nasional ini.

1.  Angkutan Umum Bebas dari Asap Rokok

http://nyarinama.blogspot.co.id

http://nyarinama.blogspot.co.id

Salah satu penyebab masyarakat enggan menggunakan transportasi publik dan memilih transportasi pribadi adalah angkutan umum tidak ramah lingkungan. Banyak penumpang yang merokok dan tentu hal tersebut membahayakan penumpang lain, khususnya anak-anak.

“Kalah harapan saya simpel. Tidak ada lagi yang merokok di angkutan umum. Kalau Bus Rapid Trans dan Kereta Rel Listrik (KRL)  sudah bebas asap rokok ya, tapi kalau di Angkutan Kota (Angkot) dan Kopaja masih banyak yang merokok. Jadi, semoga kedepannya tidak ada lagi yang merokok di angkutan umum baik penumpang maupun supir,” ujar Rizky Nur Amalia.

 

2.  Tidak Ngetem

https://www.liputan6.com

https://www.liputan6.com

Kebiasaan ngetem-nya angkot seringkali membuat sejumlah penumpang kesal. Biasanya angkutan umum akan ngetem cukup lama hingga angkot penuh.

“Harapannya sederhana, bagaimana caranya angkot jalan terus tidak ngetem kecuali di terminal,” ujar Afifa Ukhtiy.

Kebiasaan angkot ngetem juga berakibat pada kemacetan lalu lintas. “Setiap sore, stasiun Pasar Minggu macet. Karena mikrolet dan ojek memenuhi bahu-bahu jalan,” kata Anastasia.

 

 3.  Transportasi Umum yang Terintegrasi

IMG_3401

Tidak terintegrasinya transportasi umum menimbulkan kemacetan di sejumlah kota di Indonesia. Sehingga masyarakat enggan menggunakan transportasi umum dan memilih menggunakan transportasi pribadi. 

“Angkutan umum dapat terintegrasi oleh seluruh moda transportasi di kota agar semakin nyaman dan aman,” ungkap Andi Angger Sutawijaya.

 

 4.  Tidak Ugal-Ugalan dan Bebas Pengamen

https://megapolitan.kompas.com

https://megapolitan.kompas.com

Kasus ugal-ugalan angkot seringkali terjadi di berbagai wilayah. Bahkan tak jarang menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sebaiknya, pemerintah membuat peraturan kepada semua supir angkot untuk memperlakukan dengan baik para penumpang, salah satunya dengan mengendarai angkot dengan hati-hati.

“Di Kota Binjai dan sekitarnya, sikap supir angkot mayoritas brutal, ugal-ugalan dan tidak memikirkan pelayanan yang baik kepada penumpang. Untuk itu, saya berharap pemerintah bisa lebih peduli dan memberikan semacam training atau pelatihan kepada para supir angkot tentang bagaimana cara mereka memperlakukan penumpang,” ucap Sara.

Saat angkot melaju kencang, penumpang juga kerap dibuat tidak nyaman dengan penumpang jalanan yang memaksa bernyanyi walau dengan suara yang pas-pasan.

“Kalau naik angkot seperti Kopaja, aku enggak nyaman karena ugal-ugalan dan pengamen jalanan. Jadi harapannya angkot bisa tertib dan tidak ada pengamen jalanan lagi,” kata Ika Kartika.

 

 5.  Pemerintah Mengatur Jalur Khusus Angkutan Umum

http://www.itdp-indonesia.org

http://www.itdp-indonesia.org

Jumlah angkot yang cukup banyak dan belum memiliki trayek khusus mengakibatkan jalanan semakin sesak. Karena mengejar sewa, jalanan bertambah semrawut sehingga membuat penumpang semakin tidak nyaman.

“Harapanku, pemerintah membuat aturan-aturan atau membuat jalur khusus bagi angkutan umum, agar lebih rapi seperti jalur trans jakarta,” Herman Pane.

 

 

 

535

Setelah sukses mengadakan diskusi Generasi Melek Politik  (GMP) satu bulan lalu, TurunTangan kembali mengadakan diskusi GMP, Sabtu (27/5) di @america, Mal Pacific Place Lantai 3, Jakarta.

18767611_673021159561653_7326896231473366073_n

Mengusung tema “Ready to Get Political: Why Does It Matter for the Youth”,  acara tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, Ekonom dan Politikus Faisal Basri, Pengamat Hubungan Internasional Suzie Sudarman, dan Social Media Influencer Marco Ivanos.

18700117_673021162894986_1378653838307997554_n

Diskusi GMP bertujuan untuk membuat generasi milenial tidak lagi apatis terhadap politik. “Apatisme politik milenial terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman politik,” ujar Social Media and Campaigner Neildeva Despendya.

18765982_673020036228432_7445834100156985141_n

GMP sendiri merupakan gerakan edukasi politik untuk anak muda. Kegiatannya diawali dengan diskusi-diskusi santai yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga, salah satunya yaitu QLUE, sebuah platform untuk masyarakat agar dapat memberikan laporan apapun secara langsung kepada pemerintah maupun swasta.

WhatsApp Image 2017-05-27 at 22.21.25

“Semoga anak muda semakin melek politik. Memahami mengapa peran mereka dibutuhkan, kenapa harus bergerak dan berkontribusi dalam gerakan di sekitarnya,” kata Neildeva, berharap.

1068

Sekarang ini, sistem politik hampir semua negara adalah sistem demokrasi yang merupakan titik terbaik dan terstabil dari suatu sistem pemerintahan. Setiap individu memiliki hak untuk menentukkan pemimpin yang akan mengatur masa depan negaranya dan setiap individu juga memiliki hak untuk memberikan aspirasinya ke pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu, demokrasi adalah sistem politik kerakyatan dan tanpa adanya patisipasi rakyat, demokrasi tidak akan berjalan dengan baik.

Masyarakat sebagai penggerak jalannya demokrasi tentunya harus sadar akan hak istimewa yang mereka miliki, khususnya kaum muda yang merupakan partisipan penggerak awal demokrasi. Sikap pasif kaum muda akan menjadi suatu proses pelemahan demokrasi, karena kaum muda merupakan individu yang sangat kritis dalam menganalisis regulasi dan peka akan pemimpin yang tepat untuk kemajuan negaranya. Generasi muda pun merupakan penerus bangsa memang dituntut untuk aktif dalam kehidupan sosial dan politik. UNDP (United Nations Development Programme) pun menguatkan pendapat ini, mereka memandang bahwa anak muda menjadi pasukan positif dalam perubahan sosial transformatif, sehingga partisipasi anak muda dalam kehidupan politik patut diperhitungkan, bukan hanya masuk hitungan (dalam Enhancing Youth Political Participation Throughout The Electoral Cycle, UNDP, 2012).

Namun, fenomena yang muncul pada saat ini adalah minat akan tema politik di antara anak-anak muda tampak tidak terlalu disukai. Berdasarkan laporan Lembaga Survei Indonesia pada tahun 2012, ketertarikan anak muda Indonesia akan persoalan politik hanya berkisar 21 % dari 64 % potensi generasi muda. Hal ini terjadi mungkin dikarenakan turunnya kepercayaan masyarakat akan politisi-politisi yang merupakan perwakilan rakyat, sehingga mereka menjadikan tema politik sebagai prioritas tak utama, dibawah masalah kesejahteraan, pekerjaan, kesehatan dan prioritas-prioritas lainnya. Sesungguhnya prioritas-prioritas tersebut sebenarnya diatur dan ditentukan oleh masalah politik bangsa dan negara.

Lalu sebenarnya apa makna politik yang dapat mengatur harkat dan martabat masyarakat suatu negara? Menurut artikel online http://www.kindersache.de, politik tidak hanya berkaitan erat dengan para politisi-politisi, tetapi masyarakat pun menentukan. Semua hal yang tidak terjadi di dalam rumah merupakan politik. Jadi semua hal yang terjadi di masyarakat umum pasti diatur oleh politik, contohnya tempat bermain, lalu lintas, sekolah, dan tempat umum lainnya. Berdasarkan etimologinya, Kata “politik” berasal dari bahasa Yunani, yakni polis atau kota dan memiliki makna, yakni hak seluruh masyarakat suatu kota dalam menentukkan takdir di masa yang akan datang.

Kemudian sebagai generasi muda kontribusi seperti apa yang dapat kita lakukan disamping memberikan suara untuk pemimpin yang tepat. Berdasarkan studi yang dilakukan Yayasan Friedrich Ebert atau Fredrich Ebert Stiftung (FES) bekerjasama dengan Deutschen Jugend-Institut (DJI), kontribusi generasi muda di Jerman menurut Johann de Rijke terdiri dari dua, yaitu partisipasi konvensional dan tidak konventional. Bekerja dan aktif dalam partai, serikat pekerja dan organisasi pemuda (kerelawanan) merupakan hal yang termasuk ke dalam partisipasi konvensional. Di samping itu, contoh dari partisipasi tidak konvensional adalah keikutsertaan dalam demonstrasi, petisi dan juga media sosial, seperti  diskusi-diskusi online atau aksi protes media sosial. Kedua kriteria partisipasi tersebut berdasarkan studi dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni ketidakmampuan seseorang, karena tidak memiliki waktu, uang atau kompetensi yang memadai, ketidakinginan karena tidak adanya motivasi serta pandangan yang sesuai, serta tidak adanya dorongan dari luar untuk aktif dalam kehidupan sosial politik.

Faktor-faktor penentu partisipasi politik menunjukkan bahwa selain alasan dan motivasi dalam diri anak muda untuk berkontribusi, terdapat juga faktor dorongan luar yang juga penting. Ketidakmampuan dan ketidakinginan dapat berubah menjadi kemampuan dan keinginan yang berpotensi, jika anak muda paham pentingnya dan berharganya kontribusi mereka dalam proses perkembangan demokrasi Indonesia. Pasti suatu awal akan diawali dari perubahan dalam dirinya. Pada proses perubahan ini, faktor luar menjadi penentu dan juga sarana dalam memahami dan menampung ide dan gagasan yang berharga untuk pembangunan Negara. Pemerintah pun telah mengambil beberapa kebijakan untuk mendorong anak muda agar nantinya aktif dalam perkembangan politik, seperti kegiatan edukasi di sekolah melalui mata pelajaran kewarganegaraan atau kegiatan kunjungan ke beberapa institusi pemerintahan. Sayangnya, setelah kegiatan belajar-mengajar, ketertarikan anak muda akan terkikis oleh rutinitas, kepentingan sendiri dan gaya hidup. Pada kasus ini, peran gerakan edukasi menjadi penting untuk mengajak aktif dalam berpolitik dan sharing gagasan. Saat ini, gerakan edukasi politik di Indonesia masih terbilang kurang dibandingkan jumlah anak muda yang ingin memahami dan ikut aktif dalam kegiatan politik.

Untuk menyadarkan anak muda mengenai hak istimewa dan manfaat dari pengetahuan politik, Turun Tangan di bulan April ini mengadakan kegiatan diskusi yang terbuka untuk kamu, seluruh generasi muda baik yang masih bersekolah, kuliah atau sudah bekerja, yang ingin menjadi pemimpin dan penggerak untuk Indonesia. Dengan tema ”Ready to Get Political — Why Is It Matters for the Youth?”, segala pertanyaan dan perspektif kamu akan berubah mengenai hal yang berkaitan dengan politik. Kegiatan diskusi ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 April 2017 Pukul 10.00-13.00 WIB di  QLUE Headquarter, Jakarta Selatan dan dihadiri oleh tokoh-tokoh yang berkompeten di bidangnya seperti Founder Limitless dan Pegiat Pendidikan Rene Suhardono.

Acara diskusi ini adalah acara kita semua sebagai generasi muda. Untuk itu mari kita sadari pentingnya hak dan kontribusi kita terhadap bangsa dan negara. Tidak ada kata “tunggu” untuk suatu perubahan baik! #GenerasiMelekPolitik, Progressively Move!

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]