Home Tags Posts tagged with "kartinituruntangan"

59

Rizka Amalia Shofa, perempuan kelahiran 25 September 1993 ini telah bergabung dengan TurunTangan sejak akhir 2013. Pertama kali Rizka aktif di TurunTangan Yogyakarta dan saat ini aktif di tataran nasional.

Tentu saja, Rizka telah menjadi saksi sejarah bagaimana gerakan TurunTangan hidup dari fase ke fase. Melewati berbagai dinamika TurunTangan yang kadang naik turun. Namun, ia tak pernah berhenti karena meyakini TurunTangan bukanlah sekadar program, tetapi riil pergerakan yang akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di gerakan TurunTangan, Rizka pernah terlibat dalam project sosial dan edukasi politik seperti reresik pantai, ngonthel tombo tresno, Diskusi Asyik Sosial dan Politik (Diskotik) dan Gerakan Sarapan Pagi (GSP).

Setelah menyelesaikan pendidikan magister manajemen dan kebijakan pendidikan islam di Universitas Islam Negeri Kalijaga Yogyakarta, Rizka menggagas ide buku Kolabora(k)si. Buku tersebut menceritakan 13 relawan TurunTangan dari berbagai daerah. Mereka menemukan nilai-nilai kebaikan di gerakan ini yang kemudian mengubah hidupnya masing-masing. “Ada hal yang ditemukan ketika menjadi relawan, dan hal itu mendarah daging sampai sekarang. Nah, dengan buku Kolabora(k)si ini kami ingin berbagi bagaimana kami menemukan nilai-nilai itu. Dan bagaimana nilai-nilai itu masih terpakai sampai sekarang,” ujar penulis novel Hot Chocolate dan Mooncake ini.

Rizka berharap siapapun yang membaca buku tersebut, tak hanya terinspirasi tapi juga menemukan tumpukan semangat untuk terus bergerak. Bukan hanya untuk relawan TurunTangan saja, tetapi relawan di gerakan apapun dan di mana pun, yang sering merasa bergerak di jalan yang sepi. Merasa sendirian. “Enggak kok, Guys. Sebetulnya kita sedang gerak ramai-ramai untuk negeri yang kita pijak hari ini. Jangan berhenti, ya!,” pesannya yang kini juga sibuk menjalani profesi sebagai Pembicara Publik.

Rizka adalah gambaran perempuan Indonesia yang kini telah setara dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama untuk berkontribusi. Perempuan menjadi penentu sebesar apa kontribusi rakyat kepada bangsanya. Sebab, perempuan merupakan ‘sekolah’ pertama bagi anaknya. “Kalau mau menumbuhkan generasi penerus yang kontributif, perempuan harus mau ikut berkontribusi. Bagaimana bisa punya anak powerful dan kontributif kalau ibunya hanya diam saja. Jadi mari berkontribusi,” katanya.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]