Home Tags Posts tagged with "ridwan kamil"

706

TurunTangan merilis sembilan orang yang masuk kategori #9OrangBaik di Indonesia. Orang-orang ini berkarya sekaligus berkontribusi untuk bangsanya. Ada yang berani menyuarakan hak-hak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada pertemuan parlemen ASEAN, memberikan beasiswa bagi anak bangsa yang ingin kuliah di universitas ternama baik dalam negeri maupun luar negeri, membuat gerakan sosial, memerangi kekerasan perempuan dan anak di Indonesia, dan berbagai program untuk membangun fasilitas publik.

Dalam jajaran #9OrangBaik tersebut, terdapat walikota nyentrik yang pernah dinobatkan sebagai salah satu walikota terbaik di Indonesia. Berikut kesembilan orang baik versi TurunTangan yang dijamin akan menginspirasi kamu membuat inovasi untuk Indonesia yang lebih baik.

MEUTYA HAFID

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

1. Meutya Hafid

Meutya Hafid telah ikut mengharumkan dunia pers Indonesia. Beliau meraih penghargaan alumni Australia 2008 dalam kategori Jurnalisme dan media serta Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O’Neill. Tahun 2012, Meutya terpilih menjadi satu-satunya perempuan dalam lima Tokoh Pers Inspiratif versi Mizan karena telah ikut berkontribusi pada perkembangan pers Indonesia bersamaan dengan Tirto Adhi Soerjo (perintis surat kabar pertama Indonesia “Medan Prijaji”), Andy F. Noya, dan Goenawan Mohamad (pendiri Majalah Tempo).

Mantan jurnalis dan presenter ini sempat melambung namanya karena pada 18 Februari 2005, Meutya dan rekan juru kameranya, Budiyanto, diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak. Meutya menyadarkan kita bahwa profesi wartawan tidak hanya membutuhkan intelektualitas dan wawasan yang luas, namun juga keberanian.

Setelah meninggalkan karier jurnalistiknya, Meutya aktif berpolitik. Saat ini ia duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I (Komisi Luar Negeri) DPR RI. Beliau dengan keras menyuarakan hak para TKI Indonesia di Malaysia. Sebagai anggota legislatif, Meutya dengan keras melontarkan pendapatnya pada pertemuan tahunan Parlemen ASEAN 2012. Dia mengkritisi delegasi parlemen Malaysia yang tidak kunjung meratifikasi berbagai konvensi internasional yang memberikan kewajiban negara ratifikatornya untuk lebih peduli terhadap nasib buruh migran. Dia juga mendesak parlemen Malaysia untuk lebih aktif menekan pemerintah Malaysia agar memperlakukan TKI Indonesia secara manusiawi.

BUDIMAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

2. Budiman Sudjatmiko

Budiman merupakan seorang aktivis yang kini menduduki kursi senayan sebagai Anggota Legislatif dari dapil Jawa Tengah VIII. Dia menyelesaikan studinya di jurusan Political Science, University of London, dan Master of International Relation, Cambridge University.

Namanya naik di era Orde Baru, karena Budiman dikenal begitu vokal dalam menyuarakan pendapatnya. Karena hal ini, Budiman dianggap sebagai “The Most Dangerous Person In This Country” dan memperoleh stigma sebagai “The Public Enemy Number One”.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Budiman kerap dianggap mengancam dan mengganggu jalannya pemerintahan rezim Orde Baru. Dia bahkan dituduh mendalangi gerakan menentang Orde Baru dan dinilai bertanggung jawab dalam peristiwa 27 Juli 1996 dalam penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia. Karena hal itu ia divonis dengan hukuman 13 tahun penjara.

Jejak Budiman bisa dilihat sejak ia duduk di bangku kuliah. Selama empat tahun ia menjadi community organizer yang bertugas melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan semua rekam jejak yang Budiman miliki, ia dengan mudah melenggang menduduki “kursi Senayan”.

Di masa kampanye, Budiman menyuarakan pentingnya RUU Desa dan berjanji akan memperjuangkan janjinya. Beliau berhasil membuktikan dan merealisasikan janjinya dengan menembuskan UU Desa pada tahun 2013 saat duduk sebagai Wakil Ketua Pansus RUU Desa.

GITA WIRJAWAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

3. Gita Wirjawan

Gita Wirjawan merupakan seorang pengusaha, bankir, dan pegiat sosial. Lulusan Harvard University ini pernah menjabat sebagai menteri perdagangan di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pencapaian besarnya di ranah birokrasi adalah berhasil membuat UU Perdagangan. Dengan adanya UU ini, Indonesia bisa dikatakan telah menunjukkan kemajuan di bidang perdagangan. Karena sebelumnya, selama lebih dari 80 tahun Indonesia masih menggunakan UU Perdagangan milik Belanda, Bedfrijfsreglementerings Ordonnantie (BO) — yang telah digunakan sejak zaman penjajahan Belanda sebagai dasar hukum perdagangan Indonesia. Kenapa isi UU Perdagangan ini penting? Karena peraturan di dalamnya diharapkan mampu menyinkronkan kebijakan perdagangan secara menyeluruh. Sehingga kedepannya, Indonesia siap menghadapi perkembangan situasi perdagangan era globalisasi. Di dalam UU tersebut, ada dasar hukum soal perdagangan domestik (dalam negeri) dan internasional, standardisasi barang dan jasa, pengembangan usaha kerjasama, skala kecil, mikro dan menengah, dan perdagangan melalui sistem elektronik — apalagi saat ini sudah berkembang banyak e-commerce dan fintech di Indonesia.

Sepak terjang Gita dalam ranah kebijakan perdagangan tidak hanya itu. Sebelum menjadi menteri beliau diangkat menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Selama dua tahun kepemimpinannya (2009-2011), penanaman modal langsung di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dari US $11 milyar (2009) menjadi US $19 milyar pada (2011).

Gita juga pernah menjadi Ketua Sidang dalam World Trade Organization Ministerial Conference of 2013. Tidak hanya berkarya untuk memajukan ekonomi, Gita juga berkontribusi untuk menyelesaikan permasalahan sosial Indonesia. Dengan mendirikan Ancora Foundation, sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan khususnya pendidikan. Ancora Foundation memfokuskan diri pada donasi pendidikan untuk pemuda Indonesia dengan membuat beberapa program beasiswa bagi anak bangsa yang ingin meneruskan kuliah di beberapa universitas ternama di dalam maupun luar negeri.

ANGGA DWIMAS SASONGKO

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

4. Angga Dwimas Sasongko

Berawal dari mimpi besar, Angga Dwimas Sasongko (32) berhasil diakui sebagai salah satu sutradara film paling berpengaruh di Indonesia. Meskipun ia bukan lulusan sekolah film, Angga tidak berhenti berkarya karena film merupakan passion-nya. Angga mendapatkan pengakuan akan bakat yang dimiliki saat filmnya memenangkan kompetisi film pendek antar pelajar SMA. Padahal, film tersebut “hanya” bermodalkan handycam dan tempat editing film pernikahan di Mangga Dua. Angga mempelajari keterampilan editing secara otodidak, ia bahkan merelakan diri untuk mengedit film di rumah temannya.

Debut Angga sebagai sutradara di mulai dari film Foto, Kotak, dan Jendela (2006) saat usianya masih 20 tahun. Karyanya terus diapresiasi dan merebut perhatian dari para penikmat film. Ia sempat dipercaya menjadi asisten sutradara film Catatan Akhir Sekolah (2004) di bawah arahan Hanung Bramantyo. Tahun 2010, nama Angga berhasil masuk ke dalam nominasi Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) untuk film Hari Untuk Amanda. Puncak keberhasilan Angga adalah ketika film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) mendapatkan penghargaan sebagai Film Terbaik di FFI 2014. Tahun berikutnya, Film Filosofi Kopi berhasil menjadi film Box Office Indonesia.

Bagi Angga, ia adalah seorang manusia politik. Setiap karya yang ia kerjakan mau tidak mau ada muatan politik — ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Penggemar sutradara Hirozaku Koreda dan Cameron Crowe ini tidak hanya berkarya lewat film, namun berkontribusi bagi Indonesia dengan menjadi aktivis kemanusiaan di Green Music Foundation yang ia kelola bersama Glenn Fredly. Lewat yayasan tersebut, Angga membuat gerakan sosial “Save Mentawai” untuk merespon bencana tsunami Mentawai tahun 2010 silam. Ia juga berperan sebagai inisiator Pondok Cerdas Indonesia (PONDASI), community learning center berbasis perpustakaan yang dibangun di komunitas-komunitas masyarakat pulau. PONDASI didirikan pertama kali di Desa Mapinang Selatan dan Desa Pasapuat, Mentawai.

Wahyu Aditya

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

5. Wahyu Aditya

Wahyu Aditya adalah seorang animator asal Indonesia. Wahyu juga mendeskripsikan dirinya sebagai seorang “aktivis animasi dan desain”. Ia merupakan founder HelloMotion Academy School of Animation and Creativity yang telah berdiri sejak tahun 2004 dan telah mencetak lebih dari 2000 lulusan. Tujuan mendirikan HelloMotion sangat jelas di benak Wahyu. HelloMotion diharapkan membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas animator Indonesia. Ia ingin agar akademi yang didirikannya itu menjadi bagian penting dalam pembangunan industri kreatif Indonesia.

Passion Wahyu di dunia animasi sudah terlihat sejak ia kecil. Ia memulai kiprahnya dengan mengikuti kejuaraan menggambar di Malang, kota kelahirannya. Selepas SMA, Wahyu melanjutkan studinya ke KvB Institute of Technology, Sydney, Australia, jurusan Interactive Multimedia. Wahyu bahkan menjadi lulusan terbaik se-angkatan. Saat kuliah, Wahyu membuat film animasi berdurasi dua menit berjudul Dapupu Project yang memperoleh juara utama dalam Pekan Komik dan Animasi oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Tahun 2007, Wahyu juga dinobatkan sebagai International Young Creative Entrepreneur of The Year untuk kategori film dari British Council.

Selain mendirikan HelloMotion, Wahyu menjadi orang yang mengarahkan HelloFest, festival film pendek dan animasi terbesar di Indonesia. HelloFest berhasil membuka 300 kesempatan kerja baru di industri animasi. Melalui HelloFest, Wahyu ingin menyuarakan bahwa animasi Indonesia masih terus bisa berkembang. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia merupakan negara modern dan kreatif, bukan negara korup.

Wahyu tidak hanya fokus untuk berkarya lewat animasi saja. Ia mengembangkan toko baju online bernama KDRI (Kementerian Desain Republik Indonesia) — yang menjual t-shirt bertema nasionalisme namun dipadu oleh unsur modern dengan sentuhan apik khas Indonesia. Lewat situs kdri.web.id, Wahyu juga memberikan motivasi kepada anak muda Indonesia untuk menanamkan jiwa nasionalisme.

ANNIESA HASIBUAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

6. Anniesa Hasibuan

Anniesa Hasibua, fashion designer asal Indonesia pertama yang berhasil menonjolkan hijab sebagai koleksi utama di New York Fashion Week 2016. Koleksi busana Anniesa terinspirasi dari kecintaannya pada keunikan yang dimiliki Indonesia, karena Indonesia terdiri dari orang-orang dengan bermacam-macam latar belakang. Kemudian Anniesa menggabungkannya dengan sentuhan dunia dongeng karena ia suka berimajinasi.

Setelah itu, Anniesa mengikuti New York Couture Week pada tahun 2015 dan New York Fashion Week Spring/Summer pada September 2016. Bahkan Anniesa juga memenangkan penghargaan di 2016 Cannes Red Carpet Fashion & Film Awards sebagai Best Fashion Designer karena koleksi couture fashion-nya dianggap paling artistik, kreatif, dan rumit. Meskipun koleksinya dianggap sebagai political statement pasca terpilihnya Donald Trump, Anniesa mengatakan bahwa ini merupakan murni seruan fashion khususnya bagi perempuan muslim.

Dengan membawakan koleksi hijabnya ke ranah internasional ia dapat menekankan nilai bahwa: Fashion is for everybody. Anniesa Hasibuan dan koleksi hijabnya menyadarkan kita bahwa ada keindahan dalam perbedaan dan keberagaman, dan kita tidak perlu takut akan hal-hal tersebut. Lewat fashion, Anniesa ingin bahwa semua orang di dunia bisa menerima latar belakang masing-masing, bahwa fashion tidak hanya terbatas bagi kaum tertentu. Kamu bisa melihat koleksi-koleksi busana hijab Anniesa di: http://nyfw.com/anniesa-hasibuan.

KANG YOTO

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

7. Kang Yoto

Sosok politik ini berhasil mengubah wajah kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dalam mengurangi kemiskinan. Di bawah pimpinannya, Bojonegoro berhasil menjadi salah satu dari 10 kabupaten di Jawa Timur dengan kemampuan tercepat dalam mengurangi kemiskinan versi World Bank.

Nama Kang Yoto — sapaan akrab bupati Bojonegoro Suyoto saat ini — cukup mencuat menarik perhatian publik. Ia membuat terobosan baru bagi Bojonegoro dengan enam pilar pembangunan berkelanjutan sebagai program utamanya. Enam pilar tersebut diantaranya dari segi ekonomi, lingkungan hidup, pembentukan modal sosial, peningkatan kapasitas fiskal, pengolahan pemerintah yang bersih dan tepat, dan kepemimpinan yang transformatif.

Tahun 2015, Bojonegoro berhasil memproduksi 907,000 ton gabah, meningkat di banding tahun sebelumnya. Di tahun yang sama, blok minyak Cepu Lapangan Banyu Urip mencapai puncak produksi sebanyak 170 ribu barrel per hari. Suksesnya industri migas juga tidak lepas dari human approach, di mana pengelolaan DBH Migas dilakukan lewat investasi jangka panjang sehingga mampu memberi manfaat ekonomi bagi generasi selanjutnya melalui penyertaan modal bank. Bojonegoro terpilih menjadi pilot project atau kota percontohan open government dunia mewakili Indonesia berdampingan dengan Seoul, Korea Selatan.

Kang Yoto juga dianggap berhasil membangun Bojonegoro sebagai kabupaten yang ramah dan peduli terhadap perlindungan hak asasi manusia. Keberhasilan beliau mengelola Local Governance diakui secara internasional. Dari segi kepemimpinan, Kang Yoto selalu fleksibel dan mengupayakan keterbukaan komunikasi yang luas dengan warga Bojonegoro. Ia juga mengajak agar masyarakat ikut terlibat dalam mengelola bencana — mengingat Bojonegoro merupakan daerah rawan banjir.

Bagi Kang Yoto, “Pemimpin adalah mereka yang bersama kita merumuskan mimpi menjadi visi, mengubah kepahitan masa lalu menjadi kearifan dan energi hidup, lalu memastikan hari ini kita mampu saling melengkapi karya untuk keberlanjutan kesejahteraan dan kebahagiaan sesama.”

NETY HERYAWAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

8. Netty Prasetiani Heryawan

Netty Heryawan, aktivis Indonesia yang memerangi perdagangan manusia (human trafficking) khususnya perempuan Beliau juga menjabat sebagai Ketua Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Netty dinobatkan sebagai Local Hero yang memerangi praktik perdangan manusia.

Lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran dan S2 Kajian Gender Universitas Indonesia ini mengajak agar kita semua bahu-membahu untuk aktif memerangi perdagangan manusia. Bagi Netty, perdagangan manusia adalah potret perbudakan modern. Itu merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diberantas mulai dari hulu sampai hilir. Ini bukan kerja ringan, namun dia yakin akan ada hasilnya jika kita semua konsisten melakukannya.

Melalui program-program P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) seluruh Jawa Barat, Netty berhasil membantu ratusan korban perdagangan manusia di Indonesia. Beliau tidak setengah-setengah memerangi isu perdagangan manusia. Ia menjemput langsung 14 anak-anak di bawah umur asal Jawa Barat yang menjadi korban perdagangan manusia di Batam.

Sejak SMA, Netty sudah aktif berkecimpung di dunia aktivis, khususnya di bidang sosial dan perempuan. Perjuangan Netty di isu ini berlanjut sampai perguruan tinggi. Setelah suaminya menjadi Gubernur Jawa Barat pada tahun 2008, Netty menerima penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka 2011 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia karena dianggap berhasil mengembangkan budaya gemar membaca, khususnya di provinsi tersebut.

Saat ini, konsentrasi Netty masih sama yaitu berupaya memerangi kekerasan perempuan dan anak. Di Jawa Barat sendiri, tercatat 1.189 kasus kekerasan perempuan dan anak. Setiap tahun, angka kekerasan di provinsi tersebut terus meningkat, bertambah sebanyak 15 orang.

Ridwan Kamil

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

9. Ridwan Kamil

Sosok Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung periode 2013-2018, tidak memiliki pengalaman birokrasi sebelumnya. Lulus dari ITB, ia magang di Amerika Serikat (AS). Saat krisis moneter melanda, Kang Emil — sapaan akrabnya — memaksa untuk menetap di AS dan berusaha mencari pekerjaan di sana sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Berkeley. Selagi mengambil S2 di universitas tersebut Kang Emil bekerja paruh waktu di Departemen Perancanaan Kota Berkeley. Saat ia pulang ke Indonesia tahun 2004, Kang Emil mendirikan Urbane (akronim dari ‘Urban Evolution’ atau ‘Urang Bandung Euy’) firma arsitektur skala internasional yang terdiri dari para profesional muda kreatif yang berpikir idealis untuk mencari dan menciptakan solusi mengenai masalah desain lingkungan dan perkotaan.

Kang Emil membangun Bandung dengan latar belakang tata kota-nya. Ia berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat miskin perkotaan. Kolaborasi merupakan nilai utama yang beliau bawa dalam memimpin Bandung. Beliau percaya bahwa masalah masyarakat yang ada bisa diselesaikan dengan gotong royong — nilai asli bangsa Indonesia. Dalam perspektif Kang Emil, Indonesia masih bisa terus maju jika pemimpinnya mampu menggerakkan dari “tengah”. Mendorong yang sudah maju, dan menarik yang belum maju agar bisa berjalan bersamaan mencapai tujuan. Pemimpin harus mampu memberi contoh yang baik agar bisa menginspirasi. Jika ingin kotanya bersih, harus turun ke jalan membersihkan sampah bersama dinas kebersihan seperti yang dilakukan Kang Emil.

Untuk membangun kota, Kang Emil meninggalkan cara konvensional seperti menggunakan anggaran daerah. Kang Emil menjadikan pihak swasta untuk mengelola fasilitas publik yang ia ingin bangun, cara pembayarannya dicicil dengan anggaran daerah dalam periode tertentu. Baginya, “good design is good business”. Tidak hanya membangun infrastruktur, namun Kang Emil berhasil menerapkan gaya kepemimpinan yang menggerakkan.

Selama menjabat sebagai Wali Kota, Kang Emil menginisiasi gerakan Rebo Nyunda, Program Jaga Lembur, Jumat Bersepeda, Selasa Tanpa Rokok, Gerakan Sejuta Biopori, dan Kamis Inggris.

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]