Home Tags Posts tagged with "turuntangan"

102

Bagi yang mengikuti Gathering Nasional (Gathnas) TurunTangan 2017 di Banjarmasin, pasti tak asing dengan perempuan satu ini. Dia adalah Latifah Hanim Lubis, koordinator TurunTangan Binjai yang sempat mendapatkan gelar Galuh di Gathnas TurunTangan 2017 lalu.

Siapa sangka di balik tingkahnya yang konyol, Hanim – begitu ia disapa – adalah pendiri gerakan TurunTangan Binjai. Keprihatinannya terhadap anak-anak muda Binjai yang dinilainya pasif, membuatnya tergerak untuk mendirikan TurunTangan Binjai pada 28 Oktober 2016. Hanim menilai TurunTangan adalah gerakan positif, baik, dan tempat untuk mengajak orang banyak terlibat aktif dalam sebuah perubahan.

Sebelum di gerakan TurunTangan, Hanim sudah berkecimpung di kegiatan sosial. Kurang lebih 12 tahun lamanya. Ia sangat concern dengan masalah pendidikan, kesehatan dan perempuan. Maka, di bawah kepemimpinannya, TurunTangan Binjai sangat gencar melakukan edukasi deteksi dini penyakit kanker serta pelatihan menggosok gigi dan cuci tangan yang baik. Di pendidikan, TurunTangan Binjai pernah melaksanakan kegiatan Passioniversity yaitu kelas untuk membangun minat dan bakat anak-anak serta pernah menggelar Pagelaran Seni (Peran) Binjai 2017.

Hanim juga pernah menggagas project Creative Women yaitu pelatihan bagi perempuan untuk menjadi ibu hebat bagi anak-anaknya. “Pelatihan ini, sebelumnya diperuntukkan bagi ibu-ibu kelurahan dan sekarang beranjak ke ibu-ibu wali murid di salah satu SD,” ujar perempuan yang saat ini memiliki kesibukan menjadi seorang istri dan mengelola panti rehabilitasi narkoba di bawah Kementrian Sosial (Kemensos).

Untuk project yang dijalankan di sekolah tersebut telah di jalankan pada awal tahun ajaran baru 2018. Para relawan memberikan pemahaman kepada orang tua murid tentang pola asuh yang sesuai dengan fase perkembangan setiap anak. Selain itu, project  ini juga memberikan metode komunikasi kreatif yang bisa dibangun dalam keluarga dan membangun kreativitas entrepreneur buat si ibu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mandiri.

Hanim menjelaskan alasannya kenapa sekolah yang dipilih. Menurutnya jika pelaksanaanya dilakukan di sekolah dapat memudahkan mereka dalam menghimpun orang tua melalui komunitas komite sekolah. Dengan adanya kekuatan instruksi arahan dari Kepala Sekolah, memudahkan dalam mengundang ibu-ibu wali murid untuk hadir dan berkumpul. “Project ini kedepannya akan menjadi program sekolah yang berkelanjutan,” katanya.

Di Hari Kartini ini, Hanim berpesan kepada semua perempuan Indonesia untuk menyudahi sikap ‘powerless’ atas label ketidakberdayaan gender perempuan, karena perempuan enggak melulu soal lemah hati namun sudah saatnya berkarya!

115

Rizka Amalia Shofa, perempuan kelahiran 25 September 1993 ini telah bergabung dengan TurunTangan sejak akhir 2013. Pertama kali Rizka aktif di TurunTangan Yogyakarta dan saat ini aktif di tataran nasional.

Tentu saja, Rizka telah menjadi saksi sejarah bagaimana gerakan TurunTangan hidup dari fase ke fase. Melewati berbagai dinamika TurunTangan yang kadang naik turun. Namun, ia tak pernah berhenti karena meyakini TurunTangan bukanlah sekadar program, tetapi riil pergerakan yang akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di gerakan TurunTangan, Rizka pernah terlibat dalam project sosial dan edukasi politik seperti reresik pantai, ngonthel tombo tresno, Diskusi Asyik Sosial dan Politik (Diskotik) dan Gerakan Sarapan Pagi (GSP).

Setelah menyelesaikan pendidikan magister manajemen dan kebijakan pendidikan islam di Universitas Islam Negeri Kalijaga Yogyakarta, Rizka menggagas ide buku Kolabora(k)si. Buku tersebut menceritakan 13 relawan TurunTangan dari berbagai daerah. Mereka menemukan nilai-nilai kebaikan di gerakan ini yang kemudian mengubah hidupnya masing-masing. “Ada hal yang ditemukan ketika menjadi relawan, dan hal itu mendarah daging sampai sekarang. Nah, dengan buku Kolabora(k)si ini kami ingin berbagi bagaimana kami menemukan nilai-nilai itu. Dan bagaimana nilai-nilai itu masih terpakai sampai sekarang,” ujar penulis novel Hot Chocolate dan Mooncake ini.

Rizka berharap siapapun yang membaca buku tersebut, tak hanya terinspirasi tapi juga menemukan tumpukan semangat untuk terus bergerak. Bukan hanya untuk relawan TurunTangan saja, tetapi relawan di gerakan apapun dan di mana pun, yang sering merasa bergerak di jalan yang sepi. Merasa sendirian. “Enggak kok, Guys. Sebetulnya kita sedang gerak ramai-ramai untuk negeri yang kita pijak hari ini. Jangan berhenti, ya!,” pesannya yang kini juga sibuk menjalani profesi sebagai Pembicara Publik.

Rizka adalah gambaran perempuan Indonesia yang kini telah setara dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama untuk berkontribusi. Perempuan menjadi penentu sebesar apa kontribusi rakyat kepada bangsanya. Sebab, perempuan merupakan ‘sekolah’ pertama bagi anaknya. “Kalau mau menumbuhkan generasi penerus yang kontributif, perempuan harus mau ikut berkontribusi. Bagaimana bisa punya anak powerful dan kontributif kalau ibunya hanya diam saja. Jadi mari berkontribusi,” katanya.

134

Keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di daerah tempat tinggalnya yang terjerat narkoba, tawuran dan free sex , menggerakkan Fenty Asnath mendirikan Rumah Belajar Rawamangun (Rumbelraw). Berbekal ilmu yang ia dapat ketika mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, Fenty memulai misinya menjauhkan anak-anak dari aktivitas negatif tersebut dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih positif.

“Aku pernah aktif di Rumah Belajar di daerah Kalibata. Setiap hendak ke sana, anak-anak di sekitar rumah menyapaku. Mereka hanya sibuk bermain. Aku bertanya pada diri sendiri, apa ini adil? Aku kontribusi di tempat lain padahal anak-anak di sini perlu dibantu,” papar perempuan berdarah Ambon yang resmi menjadi relawan TurunTangan pada 2014 ini.

Suatu hari Fenty membaca informasi program Muda Membangun di laman TurunTangan.org. Ia kemudan tertarik dan menyampaikan idenya mendirikan rumah belajar bagi anak-anak Rawamangun. Kala itu, Darul Syahdanul sebagai project leader Muda Membangun menyarankan Fenty berbicara kepada ketua RT, RW dan warga. Ternyata mereka mendukung niat baik ini, bahkan memberikan tempat untuk kegiatan belajar mengajar Rumbelraw.

Rumah belajar yang terletak di Gang Pemuda 3A, Rawamangun, Jakarta Timur itu, kini telah berusia empat tahun. Bahkan telah memiliki puluhan relawan pengajar dan ratusan murid yang menorehkan prestasi. Dua bulan lalu, anak-anak Rumbelraw memborong piala pada perlombaan yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Deputi Bidang Perlindungan Anak bekerja sama dengan USDOJ/ICITAP Indonesia pada kegiatan “Perlindungan Anak dan Masalah Sosial”.

Fenty telah memberikan contoh, lewat impian yang sederhana, perempuan bisa menyalakan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Untuk itu, ia berpesan kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk terus bermimpi, belajar dan bertanggung jawab sehingga bisa melahirkan generasi Indonesia yang hebat.

125

Sebagai bentuk kepedulian dan simpati terhadap korban bencana erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, TurunTangan Medan menggelar kegiatan “Peduli Sinabung”. Donasi yang dikumpulkan sejak 22 Februari lalu, telah diberikan secara langsung oleh relawan TurunTangan Medan kepada masyarakat Desa Temburun, Kecamatan Tiga Nderket, Minggu (11/3).

Desa Temburun terletak di radius 3,4 kilometer dari Gunung Sinabung, sehingga terkena dampak erupsi. Masyarakat Desa Temburun pun sangat membutuhkan bantuan sebab erupsi yang terus terjadi merusak ladang mereka. Sementara itu bantuan yang masuk ke Desa Temburun masih sedikit karena banyak yang tidak tahu tentang desa ini. “Makanya kami bersyukur bisa menemukan desa yang benar-benar membutuhkan,” ujar Hubungan Masyarakat TurunTangan Medan Cut Maisarah.

Kegiatan yang dilakukan oleh 16 relawan TurunTangan Medan tersebut adalah trauma healing untuk anak-anak  serta menyerahkan donasi dalam bentuk obat-obatan, pakaian laik pakai dan peralatan mandi.

Bantuan tersebut, lanjut Cut, merupakan hasil penggalangan donasi di media sosial, bantuan dari TurunTangan Banjarmasin, TurunTangan Aceh, FIS Malang, dan CAC Medan. “Semoga kegiatannya bermanfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak Desa Temburun agar mereka terhibur dan tidak sedih menghadapi bencana tersebut,” kata mahasiswa semester akhir Universitas Negeri Medan jurusan Pendidikan Matematika ini.

535

Setelah sukses mengadakan diskusi Generasi Melek Politik  (GMP) satu bulan lalu, TurunTangan kembali mengadakan diskusi GMP, Sabtu (27/5) di @america, Mal Pacific Place Lantai 3, Jakarta.

18767611_673021159561653_7326896231473366073_n

Mengusung tema “Ready to Get Political: Why Does It Matter for the Youth”,  acara tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, Ekonom dan Politikus Faisal Basri, Pengamat Hubungan Internasional Suzie Sudarman, dan Social Media Influencer Marco Ivanos.

18700117_673021162894986_1378653838307997554_n

Diskusi GMP bertujuan untuk membuat generasi milenial tidak lagi apatis terhadap politik. “Apatisme politik milenial terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman politik,” ujar Social Media and Campaigner Neildeva Despendya.

18765982_673020036228432_7445834100156985141_n

GMP sendiri merupakan gerakan edukasi politik untuk anak muda. Kegiatannya diawali dengan diskusi-diskusi santai yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga, salah satunya yaitu QLUE, sebuah platform untuk masyarakat agar dapat memberikan laporan apapun secara langsung kepada pemerintah maupun swasta.

WhatsApp Image 2017-05-27 at 22.21.25

“Semoga anak muda semakin melek politik. Memahami mengapa peran mereka dibutuhkan, kenapa harus bergerak dan berkontribusi dalam gerakan di sekitarnya,” kata Neildeva, berharap.

1068

Sekarang ini, sistem politik hampir semua negara adalah sistem demokrasi yang merupakan titik terbaik dan terstabil dari suatu sistem pemerintahan. Setiap individu memiliki hak untuk menentukkan pemimpin yang akan mengatur masa depan negaranya dan setiap individu juga memiliki hak untuk memberikan aspirasinya ke pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu, demokrasi adalah sistem politik kerakyatan dan tanpa adanya patisipasi rakyat, demokrasi tidak akan berjalan dengan baik.

Masyarakat sebagai penggerak jalannya demokrasi tentunya harus sadar akan hak istimewa yang mereka miliki, khususnya kaum muda yang merupakan partisipan penggerak awal demokrasi. Sikap pasif kaum muda akan menjadi suatu proses pelemahan demokrasi, karena kaum muda merupakan individu yang sangat kritis dalam menganalisis regulasi dan peka akan pemimpin yang tepat untuk kemajuan negaranya. Generasi muda pun merupakan penerus bangsa memang dituntut untuk aktif dalam kehidupan sosial dan politik. UNDP (United Nations Development Programme) pun menguatkan pendapat ini, mereka memandang bahwa anak muda menjadi pasukan positif dalam perubahan sosial transformatif, sehingga partisipasi anak muda dalam kehidupan politik patut diperhitungkan, bukan hanya masuk hitungan (dalam Enhancing Youth Political Participation Throughout The Electoral Cycle, UNDP, 2012).

Namun, fenomena yang muncul pada saat ini adalah minat akan tema politik di antara anak-anak muda tampak tidak terlalu disukai. Berdasarkan laporan Lembaga Survei Indonesia pada tahun 2012, ketertarikan anak muda Indonesia akan persoalan politik hanya berkisar 21 % dari 64 % potensi generasi muda. Hal ini terjadi mungkin dikarenakan turunnya kepercayaan masyarakat akan politisi-politisi yang merupakan perwakilan rakyat, sehingga mereka menjadikan tema politik sebagai prioritas tak utama, dibawah masalah kesejahteraan, pekerjaan, kesehatan dan prioritas-prioritas lainnya. Sesungguhnya prioritas-prioritas tersebut sebenarnya diatur dan ditentukan oleh masalah politik bangsa dan negara.

Lalu sebenarnya apa makna politik yang dapat mengatur harkat dan martabat masyarakat suatu negara? Menurut artikel online http://www.kindersache.de, politik tidak hanya berkaitan erat dengan para politisi-politisi, tetapi masyarakat pun menentukan. Semua hal yang tidak terjadi di dalam rumah merupakan politik. Jadi semua hal yang terjadi di masyarakat umum pasti diatur oleh politik, contohnya tempat bermain, lalu lintas, sekolah, dan tempat umum lainnya. Berdasarkan etimologinya, Kata “politik” berasal dari bahasa Yunani, yakni polis atau kota dan memiliki makna, yakni hak seluruh masyarakat suatu kota dalam menentukkan takdir di masa yang akan datang.

Kemudian sebagai generasi muda kontribusi seperti apa yang dapat kita lakukan disamping memberikan suara untuk pemimpin yang tepat. Berdasarkan studi yang dilakukan Yayasan Friedrich Ebert atau Fredrich Ebert Stiftung (FES) bekerjasama dengan Deutschen Jugend-Institut (DJI), kontribusi generasi muda di Jerman menurut Johann de Rijke terdiri dari dua, yaitu partisipasi konvensional dan tidak konventional. Bekerja dan aktif dalam partai, serikat pekerja dan organisasi pemuda (kerelawanan) merupakan hal yang termasuk ke dalam partisipasi konvensional. Di samping itu, contoh dari partisipasi tidak konvensional adalah keikutsertaan dalam demonstrasi, petisi dan juga media sosial, seperti  diskusi-diskusi online atau aksi protes media sosial. Kedua kriteria partisipasi tersebut berdasarkan studi dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni ketidakmampuan seseorang, karena tidak memiliki waktu, uang atau kompetensi yang memadai, ketidakinginan karena tidak adanya motivasi serta pandangan yang sesuai, serta tidak adanya dorongan dari luar untuk aktif dalam kehidupan sosial politik.

Faktor-faktor penentu partisipasi politik menunjukkan bahwa selain alasan dan motivasi dalam diri anak muda untuk berkontribusi, terdapat juga faktor dorongan luar yang juga penting. Ketidakmampuan dan ketidakinginan dapat berubah menjadi kemampuan dan keinginan yang berpotensi, jika anak muda paham pentingnya dan berharganya kontribusi mereka dalam proses perkembangan demokrasi Indonesia. Pasti suatu awal akan diawali dari perubahan dalam dirinya. Pada proses perubahan ini, faktor luar menjadi penentu dan juga sarana dalam memahami dan menampung ide dan gagasan yang berharga untuk pembangunan Negara. Pemerintah pun telah mengambil beberapa kebijakan untuk mendorong anak muda agar nantinya aktif dalam perkembangan politik, seperti kegiatan edukasi di sekolah melalui mata pelajaran kewarganegaraan atau kegiatan kunjungan ke beberapa institusi pemerintahan. Sayangnya, setelah kegiatan belajar-mengajar, ketertarikan anak muda akan terkikis oleh rutinitas, kepentingan sendiri dan gaya hidup. Pada kasus ini, peran gerakan edukasi menjadi penting untuk mengajak aktif dalam berpolitik dan sharing gagasan. Saat ini, gerakan edukasi politik di Indonesia masih terbilang kurang dibandingkan jumlah anak muda yang ingin memahami dan ikut aktif dalam kegiatan politik.

Untuk menyadarkan anak muda mengenai hak istimewa dan manfaat dari pengetahuan politik, Turun Tangan di bulan April ini mengadakan kegiatan diskusi yang terbuka untuk kamu, seluruh generasi muda baik yang masih bersekolah, kuliah atau sudah bekerja, yang ingin menjadi pemimpin dan penggerak untuk Indonesia. Dengan tema ”Ready to Get Political — Why Is It Matters for the Youth?”, segala pertanyaan dan perspektif kamu akan berubah mengenai hal yang berkaitan dengan politik. Kegiatan diskusi ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 April 2017 Pukul 10.00-13.00 WIB di  QLUE Headquarter, Jakarta Selatan dan dihadiri oleh tokoh-tokoh yang berkompeten di bidangnya seperti Founder Limitless dan Pegiat Pendidikan Rene Suhardono.

Acara diskusi ini adalah acara kita semua sebagai generasi muda. Untuk itu mari kita sadari pentingnya hak dan kontribusi kita terhadap bangsa dan negara. Tidak ada kata “tunggu” untuk suatu perubahan baik! #GenerasiMelekPolitik, Progressively Move!

348

Nama TurunTangan sebenarnya merupakan ajakan kepada mereka semua yang percaya akan nilai/semangat ambil bagian untuk menciptakan dampak nyata terhadap lingkungan sekitarnya. Namun memang selama ini saat kita bicara mengenai dampak nyata, yang ada di benak kita selalu berbicara masalah-masalah yang besar dan makro ketimbang berbicara masalah yang sederhana dan mengena langsung di masyarakat.

Kali ini saya akan berbagi bagaimana sih caranya kita untuk TurunTangan langsung tanpa perlu menunggu-nunggu orang banyak, atau dalam istilah TurunTangan bagaimana caranya kita buat project sosial sederhana?

Lihat Masalah Disekitarmu

Sebelum memulai sesuatu hal tentunya kita harus melihat dan mencari tahu terlebih dahulu ada masalah apa disekitar kita? Caranya dengan bertanya dengan anggota keluarga, teman sebaya, ataupun mungkin tokoh masyarakat seperti RT/RW di sekitar lingkungan rumahmu, catatkan semua insight yang kamu dapatkan dan kumpulkan menjadi poin-poin utama yang mungkin dapat kamu selesaikan. Dari pengetahuan kita terhadap masalah inilah seringkali muncul ide-ide yang dapat menjadi solusi dan berbuah menjadi sebuah project sederhana.

Mulai dengan yang Paling Sederhana

Setelah kamu memiliki daftar masalah di lingkungan sekitar, coba kamu cari masalah apa yang paling sederhana dan mungkin cukup kamu seorang saja masalah itu sebenarnya bisa diselesaikan, dari masalah paling sederhana inilah biasanya kita mulai bisa memetakan solusi-solusi apa saja sih yang sebenarnya dibutuhkan? Atau peran apa saja yang sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Catatkan idemu dan jangan sampai menguap begitu saja!

Atur Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat menjadi hal yang paling penting! Kenapa? Karena project yang kamu inisiasi akan berjalan sukses jika diadakan di tempat yang tepat dalam waktu yang pas. Mengatur waktu juga akan membuat kamu dapat bersiap-siap terlebih dahulu.

Ajak Orang di Sekitarmu untuk Bergerak

Rangkul kanan dan kirimu. Kenapa? Karena bergerak sendirian itu kadang kurang asyik. Yakinlah bahwa orang-orang disekitar mu akan tertarik untuk bergabung dengan project yang kamu inisiasi, jangan pernah ragu untuk bercerita mengenai gagasan dan project yang akan kamu lakukan, karena dari berbagi cerita inilah akan menemukan banyak masukan dan atau mungkin menemukan makin banyak orang yang ingin terlibat.

Pelajaran penting untuk membuat kamu berhasil menginisiasi dan menjalankan project-mu adalah jangan pernah menyerah meskipun pada akhirnya hanya kamu seorang yang bergerak, teruslah bergerak dan sebarkan kabar baiknya, karena pada akhirnya orang lain akan membaca ceritamu dan ikut tergerakan.

 

 

706

TurunTangan merilis sembilan orang yang masuk kategori #9OrangBaik di Indonesia. Orang-orang ini berkarya sekaligus berkontribusi untuk bangsanya. Ada yang berani menyuarakan hak-hak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada pertemuan parlemen ASEAN, memberikan beasiswa bagi anak bangsa yang ingin kuliah di universitas ternama baik dalam negeri maupun luar negeri, membuat gerakan sosial, memerangi kekerasan perempuan dan anak di Indonesia, dan berbagai program untuk membangun fasilitas publik.

Dalam jajaran #9OrangBaik tersebut, terdapat walikota nyentrik yang pernah dinobatkan sebagai salah satu walikota terbaik di Indonesia. Berikut kesembilan orang baik versi TurunTangan yang dijamin akan menginspirasi kamu membuat inovasi untuk Indonesia yang lebih baik.

MEUTYA HAFID

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

1. Meutya Hafid

Meutya Hafid telah ikut mengharumkan dunia pers Indonesia. Beliau meraih penghargaan alumni Australia 2008 dalam kategori Jurnalisme dan media serta Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O’Neill. Tahun 2012, Meutya terpilih menjadi satu-satunya perempuan dalam lima Tokoh Pers Inspiratif versi Mizan karena telah ikut berkontribusi pada perkembangan pers Indonesia bersamaan dengan Tirto Adhi Soerjo (perintis surat kabar pertama Indonesia “Medan Prijaji”), Andy F. Noya, dan Goenawan Mohamad (pendiri Majalah Tempo).

Mantan jurnalis dan presenter ini sempat melambung namanya karena pada 18 Februari 2005, Meutya dan rekan juru kameranya, Budiyanto, diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak. Meutya menyadarkan kita bahwa profesi wartawan tidak hanya membutuhkan intelektualitas dan wawasan yang luas, namun juga keberanian.

Setelah meninggalkan karier jurnalistiknya, Meutya aktif berpolitik. Saat ini ia duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I (Komisi Luar Negeri) DPR RI. Beliau dengan keras menyuarakan hak para TKI Indonesia di Malaysia. Sebagai anggota legislatif, Meutya dengan keras melontarkan pendapatnya pada pertemuan tahunan Parlemen ASEAN 2012. Dia mengkritisi delegasi parlemen Malaysia yang tidak kunjung meratifikasi berbagai konvensi internasional yang memberikan kewajiban negara ratifikatornya untuk lebih peduli terhadap nasib buruh migran. Dia juga mendesak parlemen Malaysia untuk lebih aktif menekan pemerintah Malaysia agar memperlakukan TKI Indonesia secara manusiawi.

BUDIMAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

2. Budiman Sudjatmiko

Budiman merupakan seorang aktivis yang kini menduduki kursi senayan sebagai Anggota Legislatif dari dapil Jawa Tengah VIII. Dia menyelesaikan studinya di jurusan Political Science, University of London, dan Master of International Relation, Cambridge University.

Namanya naik di era Orde Baru, karena Budiman dikenal begitu vokal dalam menyuarakan pendapatnya. Karena hal ini, Budiman dianggap sebagai “The Most Dangerous Person In This Country” dan memperoleh stigma sebagai “The Public Enemy Number One”.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Budiman kerap dianggap mengancam dan mengganggu jalannya pemerintahan rezim Orde Baru. Dia bahkan dituduh mendalangi gerakan menentang Orde Baru dan dinilai bertanggung jawab dalam peristiwa 27 Juli 1996 dalam penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia. Karena hal itu ia divonis dengan hukuman 13 tahun penjara.

Jejak Budiman bisa dilihat sejak ia duduk di bangku kuliah. Selama empat tahun ia menjadi community organizer yang bertugas melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan semua rekam jejak yang Budiman miliki, ia dengan mudah melenggang menduduki “kursi Senayan”.

Di masa kampanye, Budiman menyuarakan pentingnya RUU Desa dan berjanji akan memperjuangkan janjinya. Beliau berhasil membuktikan dan merealisasikan janjinya dengan menembuskan UU Desa pada tahun 2013 saat duduk sebagai Wakil Ketua Pansus RUU Desa.

GITA WIRJAWAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

3. Gita Wirjawan

Gita Wirjawan merupakan seorang pengusaha, bankir, dan pegiat sosial. Lulusan Harvard University ini pernah menjabat sebagai menteri perdagangan di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pencapaian besarnya di ranah birokrasi adalah berhasil membuat UU Perdagangan. Dengan adanya UU ini, Indonesia bisa dikatakan telah menunjukkan kemajuan di bidang perdagangan. Karena sebelumnya, selama lebih dari 80 tahun Indonesia masih menggunakan UU Perdagangan milik Belanda, Bedfrijfsreglementerings Ordonnantie (BO) — yang telah digunakan sejak zaman penjajahan Belanda sebagai dasar hukum perdagangan Indonesia. Kenapa isi UU Perdagangan ini penting? Karena peraturan di dalamnya diharapkan mampu menyinkronkan kebijakan perdagangan secara menyeluruh. Sehingga kedepannya, Indonesia siap menghadapi perkembangan situasi perdagangan era globalisasi. Di dalam UU tersebut, ada dasar hukum soal perdagangan domestik (dalam negeri) dan internasional, standardisasi barang dan jasa, pengembangan usaha kerjasama, skala kecil, mikro dan menengah, dan perdagangan melalui sistem elektronik — apalagi saat ini sudah berkembang banyak e-commerce dan fintech di Indonesia.

Sepak terjang Gita dalam ranah kebijakan perdagangan tidak hanya itu. Sebelum menjadi menteri beliau diangkat menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Selama dua tahun kepemimpinannya (2009-2011), penanaman modal langsung di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dari US $11 milyar (2009) menjadi US $19 milyar pada (2011).

Gita juga pernah menjadi Ketua Sidang dalam World Trade Organization Ministerial Conference of 2013. Tidak hanya berkarya untuk memajukan ekonomi, Gita juga berkontribusi untuk menyelesaikan permasalahan sosial Indonesia. Dengan mendirikan Ancora Foundation, sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan khususnya pendidikan. Ancora Foundation memfokuskan diri pada donasi pendidikan untuk pemuda Indonesia dengan membuat beberapa program beasiswa bagi anak bangsa yang ingin meneruskan kuliah di beberapa universitas ternama di dalam maupun luar negeri.

ANGGA DWIMAS SASONGKO

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

4. Angga Dwimas Sasongko

Berawal dari mimpi besar, Angga Dwimas Sasongko (32) berhasil diakui sebagai salah satu sutradara film paling berpengaruh di Indonesia. Meskipun ia bukan lulusan sekolah film, Angga tidak berhenti berkarya karena film merupakan passion-nya. Angga mendapatkan pengakuan akan bakat yang dimiliki saat filmnya memenangkan kompetisi film pendek antar pelajar SMA. Padahal, film tersebut “hanya” bermodalkan handycam dan tempat editing film pernikahan di Mangga Dua. Angga mempelajari keterampilan editing secara otodidak, ia bahkan merelakan diri untuk mengedit film di rumah temannya.

Debut Angga sebagai sutradara di mulai dari film Foto, Kotak, dan Jendela (2006) saat usianya masih 20 tahun. Karyanya terus diapresiasi dan merebut perhatian dari para penikmat film. Ia sempat dipercaya menjadi asisten sutradara film Catatan Akhir Sekolah (2004) di bawah arahan Hanung Bramantyo. Tahun 2010, nama Angga berhasil masuk ke dalam nominasi Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) untuk film Hari Untuk Amanda. Puncak keberhasilan Angga adalah ketika film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) mendapatkan penghargaan sebagai Film Terbaik di FFI 2014. Tahun berikutnya, Film Filosofi Kopi berhasil menjadi film Box Office Indonesia.

Bagi Angga, ia adalah seorang manusia politik. Setiap karya yang ia kerjakan mau tidak mau ada muatan politik — ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Penggemar sutradara Hirozaku Koreda dan Cameron Crowe ini tidak hanya berkarya lewat film, namun berkontribusi bagi Indonesia dengan menjadi aktivis kemanusiaan di Green Music Foundation yang ia kelola bersama Glenn Fredly. Lewat yayasan tersebut, Angga membuat gerakan sosial “Save Mentawai” untuk merespon bencana tsunami Mentawai tahun 2010 silam. Ia juga berperan sebagai inisiator Pondok Cerdas Indonesia (PONDASI), community learning center berbasis perpustakaan yang dibangun di komunitas-komunitas masyarakat pulau. PONDASI didirikan pertama kali di Desa Mapinang Selatan dan Desa Pasapuat, Mentawai.

Wahyu Aditya

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

5. Wahyu Aditya

Wahyu Aditya adalah seorang animator asal Indonesia. Wahyu juga mendeskripsikan dirinya sebagai seorang “aktivis animasi dan desain”. Ia merupakan founder HelloMotion Academy School of Animation and Creativity yang telah berdiri sejak tahun 2004 dan telah mencetak lebih dari 2000 lulusan. Tujuan mendirikan HelloMotion sangat jelas di benak Wahyu. HelloMotion diharapkan membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas animator Indonesia. Ia ingin agar akademi yang didirikannya itu menjadi bagian penting dalam pembangunan industri kreatif Indonesia.

Passion Wahyu di dunia animasi sudah terlihat sejak ia kecil. Ia memulai kiprahnya dengan mengikuti kejuaraan menggambar di Malang, kota kelahirannya. Selepas SMA, Wahyu melanjutkan studinya ke KvB Institute of Technology, Sydney, Australia, jurusan Interactive Multimedia. Wahyu bahkan menjadi lulusan terbaik se-angkatan. Saat kuliah, Wahyu membuat film animasi berdurasi dua menit berjudul Dapupu Project yang memperoleh juara utama dalam Pekan Komik dan Animasi oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Tahun 2007, Wahyu juga dinobatkan sebagai International Young Creative Entrepreneur of The Year untuk kategori film dari British Council.

Selain mendirikan HelloMotion, Wahyu menjadi orang yang mengarahkan HelloFest, festival film pendek dan animasi terbesar di Indonesia. HelloFest berhasil membuka 300 kesempatan kerja baru di industri animasi. Melalui HelloFest, Wahyu ingin menyuarakan bahwa animasi Indonesia masih terus bisa berkembang. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia merupakan negara modern dan kreatif, bukan negara korup.

Wahyu tidak hanya fokus untuk berkarya lewat animasi saja. Ia mengembangkan toko baju online bernama KDRI (Kementerian Desain Republik Indonesia) — yang menjual t-shirt bertema nasionalisme namun dipadu oleh unsur modern dengan sentuhan apik khas Indonesia. Lewat situs kdri.web.id, Wahyu juga memberikan motivasi kepada anak muda Indonesia untuk menanamkan jiwa nasionalisme.

ANNIESA HASIBUAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

6. Anniesa Hasibuan

Anniesa Hasibua, fashion designer asal Indonesia pertama yang berhasil menonjolkan hijab sebagai koleksi utama di New York Fashion Week 2016. Koleksi busana Anniesa terinspirasi dari kecintaannya pada keunikan yang dimiliki Indonesia, karena Indonesia terdiri dari orang-orang dengan bermacam-macam latar belakang. Kemudian Anniesa menggabungkannya dengan sentuhan dunia dongeng karena ia suka berimajinasi.

Setelah itu, Anniesa mengikuti New York Couture Week pada tahun 2015 dan New York Fashion Week Spring/Summer pada September 2016. Bahkan Anniesa juga memenangkan penghargaan di 2016 Cannes Red Carpet Fashion & Film Awards sebagai Best Fashion Designer karena koleksi couture fashion-nya dianggap paling artistik, kreatif, dan rumit. Meskipun koleksinya dianggap sebagai political statement pasca terpilihnya Donald Trump, Anniesa mengatakan bahwa ini merupakan murni seruan fashion khususnya bagi perempuan muslim.

Dengan membawakan koleksi hijabnya ke ranah internasional ia dapat menekankan nilai bahwa: Fashion is for everybody. Anniesa Hasibuan dan koleksi hijabnya menyadarkan kita bahwa ada keindahan dalam perbedaan dan keberagaman, dan kita tidak perlu takut akan hal-hal tersebut. Lewat fashion, Anniesa ingin bahwa semua orang di dunia bisa menerima latar belakang masing-masing, bahwa fashion tidak hanya terbatas bagi kaum tertentu. Kamu bisa melihat koleksi-koleksi busana hijab Anniesa di: http://nyfw.com/anniesa-hasibuan.

KANG YOTO

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

7. Kang Yoto

Sosok politik ini berhasil mengubah wajah kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dalam mengurangi kemiskinan. Di bawah pimpinannya, Bojonegoro berhasil menjadi salah satu dari 10 kabupaten di Jawa Timur dengan kemampuan tercepat dalam mengurangi kemiskinan versi World Bank.

Nama Kang Yoto — sapaan akrab bupati Bojonegoro Suyoto saat ini — cukup mencuat menarik perhatian publik. Ia membuat terobosan baru bagi Bojonegoro dengan enam pilar pembangunan berkelanjutan sebagai program utamanya. Enam pilar tersebut diantaranya dari segi ekonomi, lingkungan hidup, pembentukan modal sosial, peningkatan kapasitas fiskal, pengolahan pemerintah yang bersih dan tepat, dan kepemimpinan yang transformatif.

Tahun 2015, Bojonegoro berhasil memproduksi 907,000 ton gabah, meningkat di banding tahun sebelumnya. Di tahun yang sama, blok minyak Cepu Lapangan Banyu Urip mencapai puncak produksi sebanyak 170 ribu barrel per hari. Suksesnya industri migas juga tidak lepas dari human approach, di mana pengelolaan DBH Migas dilakukan lewat investasi jangka panjang sehingga mampu memberi manfaat ekonomi bagi generasi selanjutnya melalui penyertaan modal bank. Bojonegoro terpilih menjadi pilot project atau kota percontohan open government dunia mewakili Indonesia berdampingan dengan Seoul, Korea Selatan.

Kang Yoto juga dianggap berhasil membangun Bojonegoro sebagai kabupaten yang ramah dan peduli terhadap perlindungan hak asasi manusia. Keberhasilan beliau mengelola Local Governance diakui secara internasional. Dari segi kepemimpinan, Kang Yoto selalu fleksibel dan mengupayakan keterbukaan komunikasi yang luas dengan warga Bojonegoro. Ia juga mengajak agar masyarakat ikut terlibat dalam mengelola bencana — mengingat Bojonegoro merupakan daerah rawan banjir.

Bagi Kang Yoto, “Pemimpin adalah mereka yang bersama kita merumuskan mimpi menjadi visi, mengubah kepahitan masa lalu menjadi kearifan dan energi hidup, lalu memastikan hari ini kita mampu saling melengkapi karya untuk keberlanjutan kesejahteraan dan kebahagiaan sesama.”

NETY HERYAWAN

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

8. Netty Prasetiani Heryawan

Netty Heryawan, aktivis Indonesia yang memerangi perdagangan manusia (human trafficking) khususnya perempuan Beliau juga menjabat sebagai Ketua Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Netty dinobatkan sebagai Local Hero yang memerangi praktik perdangan manusia.

Lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran dan S2 Kajian Gender Universitas Indonesia ini mengajak agar kita semua bahu-membahu untuk aktif memerangi perdagangan manusia. Bagi Netty, perdagangan manusia adalah potret perbudakan modern. Itu merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diberantas mulai dari hulu sampai hilir. Ini bukan kerja ringan, namun dia yakin akan ada hasilnya jika kita semua konsisten melakukannya.

Melalui program-program P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) seluruh Jawa Barat, Netty berhasil membantu ratusan korban perdagangan manusia di Indonesia. Beliau tidak setengah-setengah memerangi isu perdagangan manusia. Ia menjemput langsung 14 anak-anak di bawah umur asal Jawa Barat yang menjadi korban perdagangan manusia di Batam.

Sejak SMA, Netty sudah aktif berkecimpung di dunia aktivis, khususnya di bidang sosial dan perempuan. Perjuangan Netty di isu ini berlanjut sampai perguruan tinggi. Setelah suaminya menjadi Gubernur Jawa Barat pada tahun 2008, Netty menerima penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka 2011 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia karena dianggap berhasil mengembangkan budaya gemar membaca, khususnya di provinsi tersebut.

Saat ini, konsentrasi Netty masih sama yaitu berupaya memerangi kekerasan perempuan dan anak. Di Jawa Barat sendiri, tercatat 1.189 kasus kekerasan perempuan dan anak. Setiap tahun, angka kekerasan di provinsi tersebut terus meningkat, bertambah sebanyak 15 orang.

Ridwan Kamil

Ilustrasi: Ahmad Syauqi, Layout: Puji Rahajeng

9. Ridwan Kamil

Sosok Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung periode 2013-2018, tidak memiliki pengalaman birokrasi sebelumnya. Lulus dari ITB, ia magang di Amerika Serikat (AS). Saat krisis moneter melanda, Kang Emil — sapaan akrabnya — memaksa untuk menetap di AS dan berusaha mencari pekerjaan di sana sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Berkeley. Selagi mengambil S2 di universitas tersebut Kang Emil bekerja paruh waktu di Departemen Perancanaan Kota Berkeley. Saat ia pulang ke Indonesia tahun 2004, Kang Emil mendirikan Urbane (akronim dari ‘Urban Evolution’ atau ‘Urang Bandung Euy’) firma arsitektur skala internasional yang terdiri dari para profesional muda kreatif yang berpikir idealis untuk mencari dan menciptakan solusi mengenai masalah desain lingkungan dan perkotaan.

Kang Emil membangun Bandung dengan latar belakang tata kota-nya. Ia berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat miskin perkotaan. Kolaborasi merupakan nilai utama yang beliau bawa dalam memimpin Bandung. Beliau percaya bahwa masalah masyarakat yang ada bisa diselesaikan dengan gotong royong — nilai asli bangsa Indonesia. Dalam perspektif Kang Emil, Indonesia masih bisa terus maju jika pemimpinnya mampu menggerakkan dari “tengah”. Mendorong yang sudah maju, dan menarik yang belum maju agar bisa berjalan bersamaan mencapai tujuan. Pemimpin harus mampu memberi contoh yang baik agar bisa menginspirasi. Jika ingin kotanya bersih, harus turun ke jalan membersihkan sampah bersama dinas kebersihan seperti yang dilakukan Kang Emil.

Untuk membangun kota, Kang Emil meninggalkan cara konvensional seperti menggunakan anggaran daerah. Kang Emil menjadikan pihak swasta untuk mengelola fasilitas publik yang ia ingin bangun, cara pembayarannya dicicil dengan anggaran daerah dalam periode tertentu. Baginya, “good design is good business”. Tidak hanya membangun infrastruktur, namun Kang Emil berhasil menerapkan gaya kepemimpinan yang menggerakkan.

Selama menjabat sebagai Wali Kota, Kang Emil menginisiasi gerakan Rebo Nyunda, Program Jaga Lembur, Jumat Bersepeda, Selasa Tanpa Rokok, Gerakan Sejuta Biopori, dan Kamis Inggris.

Ayo #JadiRelawanTT

Caranya adalah :

  1. Isi Form bit.ly/JadiRelawanTT –> Setelah mengisi email di link ini, Kamu akan mendapatkan Profile TurunTangan.
  2. Daftar di http://www.turuntangan.org/daftar. Dalam tautan ini, Kamu perlu mengisi form yang cukup banyak, jadi sediakan waktu yang agak panjang untuk mendaftar ya.
  3. Cari komunitas TurunTangan di daerahmu. Ikut bergabung bersama mereka untuk bergerak. Jika daerahmu belum ada Komunitas TurunTangan di daerahmu. Kamu dan teman-temanmu bisa jadi pendirinya. Tata Caranya klik di tautan di sini
  4. Ikuti Project yang ada di bawah TurunTangan atau bisa juga inisiasi project serupa di Project TurunTangan
  5. Jangan lupa untuk Ikuti akun media sosial TurunTangan. Twitter,Instagram : @turuntangan . Facebook di http://facebook.com/TurunTanganorg

jadirelawan-01

 

Ayo jadi Relawan !!

 

Ayo #BikinKomunitasTT

Untuk mendirikan Komunitas TurunTangan, tata caranya adalah :

  1. Cari minimal 5 orang yang bersepakat untuk mendirikan TurunTangan
  2. Buat media sosial komunitas mu, (Twitter, Facebook, Instagram) dengan username : turuntangan_(Kota/Kab)
  3. Buat Kegiatan Sederhana sebagai peringatan hari lahir komunitasmu
  4. Mention Akun TurunTangan pusat dan kirim dokumentasi ke relawan@turuntangan.org

Jangan lupa untuk daftarkan dirimu dan teman-temanmu di http://bit.ly/JadiRelawanTT

 

bikinkomunitas-02

'+
1
'+
2 - 3
4 - 5
6 - 7
8 - 9
10 - 11
12 - 13
13 - 14
[x]