Home Artikel Populer Untuk Apa Gerakan Ini Lahir?

Teman-teman, barangkali kita sama-sama tahu dan merasa semenjak paska pemilihan presiden ritme kegiatan Turun Tangan Jogja mulai menurun. Kita dihadapkan pada tantangan, tujuan, dan fokus baru yang sama-sama belum terlalu jelas. Kita ditantang untuk mendefinisikan kembali arah perjuangan gerakan ini.

Semenjak gerakan ini “resmi” terbentuk di Yogyakarta 20 Desember 2013, gerakan ini memiliki arah dan fokus yang jelas untuk mendukung orang-orang baik, Anies Baswedan dalam kontestasi konvensi Partai Demokrat. Saat itu kita memiliki sasaran dan fokus yang jelas yaitu relawan di seluruh Indonesia berpeluh keringat, bekerja bersama-sama mengenalkan gagasan-gagasan Anies Baswedan ke masyarakat. Dibarengi dengan kampanye untuk tak golput dalam pemilu. Kita diikat dalam satu semangat yang sama bahwa berpolitik itu adalah kegiatan yang mulia. Dan tak melulu transaksional.

Paska konvensi dan Pileg kita dituntut untuk mendefinisikan kembali bagiamana peran Turun Tangan dalam kontestasi politik pemilihan presiden di Indonesia. Saat itu kita berdebat dengan sangat cerdas, menentukan apakah kita akan memihak kepada salah satu calon ataukah kita independen. Kita memilih pilihan yang kedua. Kita memilih kerja pencerdasan politik di masyarakat dengan berbagai kegiatan.

Di manapun pesta itu selalu gaduh, ramai, penuh sorot lampu, menyedot perhatian. Tak terkecuali Konvensi, Pileg, dan Pilpres. Pesta-pesta itu menyedot perhatian banyak khalayak. Turun Tangan menjadi begitu populer di tengah-tengah masyarakat saat berlangsungnya pesta. Semua orang semangat, semua orang senang, semua orang bergembira dalam pesta. Begitu pesta selesai tentu saja diikuti dengan selesainya kegaduhan, keramaian, dan sorot perhatian pada pesta termasuk yang terlibat di dalamnya. Para peserta pesta tak lagi terlalu mendapat perhatian.

Layaknya usai pesta, orang-orang segera berbondong-bondong untuk pergi meninggalkan arena pesta karena tak ada lagi perayaan yang bisa dirayakan. Barangkali ada yang segera pergi untuk mencari pesta di tempat lain. Hanya sedikit yang bertahan setelah pesta usai.

Pesta sudah kita tinggalkan di belakang. Di sinilah Turun Tangan menemukan satu lagi tantangan dan pertanyaan. Apakah memang gerakan ini lahir untuk pesta itu? Tentu yang bisa menjawab adalah para relawannya.

Relawan TurunTangan Yogyakarta.

Komentar